I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Kakak Sayang Padamu



Balai Keamanan


"Tidak! saya tidak mengizinkannya!" kata Yong dengan tegas. Raut wajahnya sekarang sangat mengerikan. Ia terkejut mendengar Ri Won yang mau bertarung mati matian dengan Woo Rin.


"Aku mengatakan hal ini bukan untuk meminta izinmu Yong" kata Ri Won dengan lembut, ia meminum tehnya dengan santai.


"Saya tahu hasil akhirnya! Saya tidak mau kehilangan anda" isak Yong, ia tiba tiba menangis membayangkan Ri Won mati saja tak kuat apa lagi hal itu menjadi kenyataan. Baginya Ri Won sudah seperti kakak laki lakinya.


"Hmm? Aku tidak akan kemana mana. Percayakan semua padaku. Keputusanku ini akan membawa dampak baik bagi semua orang" kata Ri Won ia meletakan cangkir tehnya dan mengganti pakaiannya.


"Pikirkan sekali lagi Pangeran! Apa anda tak memikirkan Putri? Dan apakah anda tak mau melihat bayi anda yang masih didalam kandungan Putri?" tanya Yong dengan bertubi tubi, ia ingin sebisa mungkin untuk merubah pikiran Ri Won yang gila itu.


"Yiwei... " gumam Ri Won, ia menutup matanya dan membayangkan Anna yang sedang mengendong bayi mereka dan tersenyum hangat padanya. Saat membayangkan hal itu hatinya menjadi hangat.


*Memang tidak adil bagi Yiwei tetapi demi Woo Rin aku bisa melakukan apa saja-batin Ri Won selain janjinya kepada ibunya ia juga sangat menyayangi Woo Rin. Sekarang Woo Rin sedang terpengaruh oleh perkataan penasehat Lim yang membuatnya berpikir kalau Ri Won adalah musuh terbesarnya. Jika ia mati mungkin Woo Rin akan merasa puas dan tidak membahayakan orang lain lagi.


"Pemikiran anda yang bodoh. Pangeran Woo Rin tidak akan merasa menyesal sudah membunuh anda" kata Yong sambil mengusap air matanya, ia gagal mengubah pikiran Ri Won.


"Iya aku memang bodoh" kata Ri Won, ia tersenyum dan mengelus kepala Yong.


"Jika aku sudah pergi. Berikan bukti bukti kesalahan yang dibuat oleh Penasehat Lim dan Ratu Hari. Berikan mereka hukuman penjara seumur hidup dan berikan surat ini juga" Ri Won melempar surat itu ke Yong. Yong yang penasaran melihat surat itu dan langsung berdiri karena tak percaya.


"I...ini!!" ia baru saja ingin memarahi Ri Won yang sudah benar benar gila dengan cepat Ri Won menyumpal mulut Yong dengan bakpao.


"Tidak ada penolakan yang harus kau lakukan adalah melakukan tugas yang aku berikan" kata Ri Won ia sudah siap dan hendak pergi.


"Jangan bilang apapun kepada Yiwei saat ia bangun nanti... " Ri Won tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.


"Aku harap kau selalu bahagia Yong. Kedepannya tolong lindungi Yiwei dan anakku"


*Kenapa anda mengatakan hal yang menyedihkan seakan akan anda sudah yakin dengan keputusan yang anda ambil ini-batin Yong jika Ri Won mengatakan hal itu ia merasa seperti benar benar akan berpisah dengan Ri Won.


"Hei mau kemana kau rapi begini? Matamu tak bengkak boleh juga...."


"Apa di Qin kau latihan otot mata juga?" tanya Kaisar Ryuji, ia tak sengaja berpapasan dengan Ri Won dijalan. Awalnya Kaisar Ryuji ingin ke Balai Keamanan untuk mendiskusikan jalan keluar untuk keluarga Hwang tetapi mereka sudah bertemu jalan.


"Yang mana yang harus kujawab duluan" gumam Ri Won ia menatap malas pria didepannya itu walaupun terlihat banyak bicara. Nyatanya Kaisar Ryuji tak pernah secerewet ini saat menggelar sidang di istananya.


"Aku ada urusan mendesak" kata Ri Won ia melanjutkan langkahnya.


"Bagaimana dengan jalan keluarnya? Keluarga ibumu sedang dalam bahaya tuh..."


"Ayah mertuaku juga ada disana" gumam Kaisar Ryuji, ia memasang raut wajah cemas yang membuat Ri Won ingin tertawa.


"Pftttt.... Sejak kapan ibuku menikah denganmu" tawa Ri Won mungkin orang tak akan percaya kalau Kaisar Ryuji adalah seorang Kaisar jika tingkahnya sekarang dilihat oleh orang lain.


"Ohh ya... Aku ingin berterima kasih"


"Tahun itu adalah tahun tersulit didalam hidupku. Pangeran manja yang tiba tiba hidup serba kekurangan" gumam Ri Won bayangan akan masa lalu terangkat kembali didalam ingatannya.


13 tahun yang lalu


Qin


"Ayo silakan dibeli! Murah! Murah! Tang Helu! 1 perunggu dapat 2"


"Biji teratai! Kue Bakpao! Siapa yang beli akan cantik dan tampan!"


"Ikan bakar! Kami ada menu baru!"


"Bebek panggang!"


"Hei bawakan aku bebek panggang itu!" kata Ri Won saat itu ia sudah menetap di Qin selama 5 tahun tetapi ia masih belum terbiasa disana dan membawa bawa kebiasaannya saat masih menjadi Pangeran.


"Siapa kau anak kumuh! Jika mau makan tunjukan uangmu!" teriak penjual itu ia melihat Ri Won dari atas kebawah. Pakaiannya memang mewah dari sutra terbaik tetapi pakaian itu sudah lusuh dan kotor tubuh Ri Won pun terlihat kotor apa lagi bekas luka bakar itu membuat penjual bebek panggang itu yakin kalau Ri Won hanya seorang pengemis yang mencuri baju bangsawan.


"Aku tidak punya uang" jawab Ri Won dengan angkuh sebagai Pangeran ia tak pernah membawa uang tunai hal seperti itu hanya para Kasim yang tahu.


"Kau mau membuatku naik darah ya! Kalau tidak ada uang pergi sana!" teriak penjual itu ia mendorong Ri Won menjauh dari kedainya.


"Beraninya kau mendorongku! Aku seorang Putra Mahkota Joseon! Pangeran Lee Ri Won!" teriak Ri Won ia menekuk alisnya dan menatap tajam penjual itu.


"Hahahahaha....Pangeran? Putra Mahkota?! Aku sudah sering bertemu pengemis yang mengaku sebagai bangsawan! Tetapi baru kali ini ada orang yang berani mengaku sebagai Putra Mahkota! Apa kau tak punya kaca?! Lihat wajah buruk rupamu itu?" jawab penjual itu membuat Ri Won mengeretakan giginya.


"Pergi! Kalau kau masih didepan kedaiku orang akan merasa jijik dan tak mau makan disini" penjual itu melempar nasi yang dibungkus oleh daun teratai kearah Ri Won.


*Apakah ini adil! Apakah ini adil! Aku seorang Pangeran! Wajah sialan ini membuatku dihinaa setiap saat!- batin Ri Won ia memukul penjual bertubuh gemuk itu.


"Dasar tidak tahu diuntung! Mati saja kau!" kata penjual itu, ia memukul Ri Won habis habisan sampai seluruh tubuh Ri Won bengkak dan mengeluarkan darah.


"Ada apa itu?"


"Wahh sepertinya pengemis itu lagi!"


"Sudah tiga tahun terakhir dia berada dipasar ini tapi masih saja bersikap angkuh!"


"Dia kan pengemis?! Kenapa tingkahnya seperti Pangeran saja. Hahahaha..."


"Baguslah akhirnya dia dapat pelajaran yang bagus!"


"Hei sudah cukup! Pergi semua!" teriak prajurit Qin yang bertugas mengawasi pasar. Mereka menghentikan penjual itu memukuli Ri Won dan membubarkan kerumunan itu.


"Kau ini bukan Pangeran lagi...." seru Kaisar Ryuji dari belakang Ri Won, ia membawa kotak berisi ikan ditangannya tak lupa memakai baju rakyat biasa agar tak menarik perhatian.


'Meski wajah tampannya sudah menarik perhatian' para gadis di sekitarnya


"Siapa kau!" bentak Ri Won, ia terkejut karena tiba tiba Kaisar Ryuji berada dibelakangnya.


"Aku?" kata Kasiar Ryuji, ia melihat bajunya dan tersenyum.


"Penjual ikan" jawabnya dengan bahagia.


"Aku tahu tapi kenapa kau mengatakan hal itu padaku" kata Ri Won ia melihat wajah Kaisar Ryuji dengan tajam.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Ri Won, ia tak yakin kalau Kaisar Ryuji mengenalnya sebagai Putra Mahkota karena dia hanya penjual ikan pikir Ri Won.


"Hmm... katamu kau seorang Pangeran" jawab Kaisar Ryuji membuat Ri Won jengkel.


"Dari pada kau memalaki orang orang dipasar lebih baik kau berjualan ikan denganku" kata Kaisar Ryuji sambil tersenyum.


"Kau kira aku mau! Aku seorang Putra Mahkota Joseon!"


"Tapi ini Qin bukan Joseon"


"Ughhh!"


"Pelajari lah ini Pangeran. Jika bersama orang lain kau harus tersenyum dan ramah kepada mereka. Kau tak boleh bersikap angkuh karena itu menjengkelkan. Kau seorang tawanan perang yang tak dipedulikan oleh Kekaisaran Qin ada baiknya kau mencari cara untuk bertahan hidup. Berjualan ikan bukan hal yang hina" kata Kaisar Ryuji, ia memegang pundak Ri Won dan memberinya sedikit pengertian.


Diumur Ri Won yang ke 13 tahun itu tentu ia akan paham apa yang dikatakan Kaisar Ryuji. Selama ini Ri Won hanya keras pada dirinya dan tak menerima kenyataan kalau dirinya bukan seorang Pangeran lagi.


"Kau kan sudah biasa berbohong kepada ibumu. Berbohong lagi kalau kau orang yang baik tidak masalah kan"


"Da..." baru saja Ri Won ingin menanyakan dari mana Kaisar Ryuji mengetahui isi surat yang ia tulis untuk Ratu Hyunseo. Kaisar Ryuji menutup mulutnya.


"Pakai topeng ini, mandi dua kali sehari, pakai baju ini dan cuci setelah dipakai. Bersikaplah baik maka hidupmu akan baik baik saja bahkan bukan sebagai seorang Pangeran"


*****


"Tolong kali ini jadilah guru bagi anakku Yang Mulia" kata Ri Won, ia menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat, jika mengingat kenangan itu ia merasa kalau Kaisar Ryuji adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.


"Ahhh..." Kaisar Ryuji hanya berkata 'ah' karena tak percaya bocah kasar yang ia kenal akan mengatakan hal itu.


"Aku serasa memiliki anak" gumamnya.


"Aku tak pernah punya ayah tak waras sepertimu" balas Ri Won ia pergi dari sana menuju tempat yang sudah ditentukan.


*******


Hutan


"Ohhh... akhirnya kau datang kukira kau takut dan tak datang kemari" kata Woo Rin ia duduk diatas batu besar menunggu kakaknya disana.


"Tentu saja tidak" kata Ri Won, ia tersenyum miring dan mengeluarkan pedang dari sarungnya.


"Apakah bisa dimulai?" tanya Ri Won, ia mendekati adiknya dengan pedang yang bergerak kesana kemari. Ri Won ingin melemaskan otot ototnya yang terasa sedikit kaku.


"Hmm..." balas Woo Rin, ia juga mengeluarkan pedangnya sebelum mulai pemanasan ia mencium pedang itu.


"I...itu? Itu pedang milik keluarga Hwang" kata Ri Won matanya dengan seksama memperhatikan pedang yang dibawa oleh Woo Rin. Tak salah lagi pedang dengan corak teratai dan burung elang pada bagian tengah pedang adalah ciri khas senjata Keluarga Hwang.


"Yahh.... Ibunda Hyunseo yang memberikannya padaku" kata Woo Rin, ia melirik sedikit dan melihat mata kakaknya yang sedikit terkejut.


"Jadi kau yang membunuh ayahanda?" tanya Ri Won ia asal berbicara saja karena kebetulan sekali pedang itu hanya dipegang oleh Woo Rin.


"Iya...! Memangnya kenapa" jawabnya membuat mata Ri Won membulat ia tak mengharapkan kata kata itu keluar dari mulut adiknya


"...." Ri Won tak menjawab perkataan adiknya ia berlari mendekati adiknya dan mulai mengayunkan pedangnya itu.


"Apa ini tiba tiba semangat sekali" kata Woo Rin, ia tertawa karena bahagia Ri Won serius bertarung dengannya.


"Dia ayahmu juga kenapa kau melakukannya?" kata Ri Won serangan Woo Rin bisa ditangkisnya dengan mudah. Seperti dugaannya kemampuan Woo Rin masih jauh dibawahnya, jika ia mau sejak awal pertarungan dimulai ia bisa membunuh Woo Rin.


"Ayah? Dia bukan ayahku! Selama ini dia tak menyayangiku! Hanya kau saja yang dia sayangi!" teriak Woo Rin pedangnya semakin ganas menyerang Ri Won amarah mulai menguasai Woo Rin.


"Ayah! Perhatian semua orang! Tahta! Bahkan Ibunda Hyunseo! Semua kau rebut dariku!" kata Woo Rin ia semakin menggila pedangnya tak berhenti menyerang titik vital Rin Won, jika tak ditangkis dengan cepat mungkin saja bisa mengenainya.


*Jadi ini yang membuatnya benci padaku- batin Ri Won melihat raut wajah adiknya yang berubah mengerikan membuatnya sadar kalau apa yang dia katakan itu sangat menyakitkan untuknya.


"Ibunda memberi nama yang mirip denganmu pun karena dia ingin menjadikanku pengganti dirimu!"


"Hahhh.... sejauh mana kau mendengar perkataan Lim Hari dan Pensehat Lim? Sampai kau berpikir Ibunda seperti itu!"


"Ibunda menyayangimu lebih dariku! Dia bahkan selalu menganggap mu sebagai anaknya menulis hal manis dan memberi perintah untuk menjagamu!"


"Sebenarnya kau tahu hal itu tetapi pikiran dangkal itu membuatmu menjadi orang bodoh!” teriak Ri Won mereka saling menahan serangan saat Woo Rin lengah Ri Woon menusuk lengan kirinya


"Bohong! Jangan menipuku lagi!"


"Aku benci padamu! Mati saja kau!" teriak Woo Rin, ia berhenti menyerang karena lelah. Darah juga terus menetes membuat tenaganya berkurang.


"Kau kira kau bisa membunuhku, Kemampuanmu yang sangat buruk takkan bisa membunuhku" kata Ri Won dengan angkuh


"Ahghhhhh!!!" Woo Rin yang tersulut amarah pun langsung berlari mengarahkan pedangnya kedepan Ri Won.


"Agrhhhh...!" teriak Ri Won, ia juga berlari kearah Woo Rin dengan pedang yang mengacu kearah adiknya itu. Mungkin jika dilihat begini mereka seperti sedang bunuh diri namun nyatanya saat jarak mereka semakin dekat Ri Won menjatuhkan pedangnya sehingga ia sendiri yang tertusuk pedang.


"Ughhh"


Darah segar mengalir dari mulutnya ketika pedang itu menembus dadanya. Pupil matanya mengecil karena menahan rasa sakit yang teramat sangat dalam.


"Ke...kenapa kau melakukannya!!" teriak Woo Rin hanya Ri Won yang tertusuk. Bukankah tadi pedang Ri Won juga tepat membidiknya.


"Ughh... Uhukk... Ke...kenapa? Kenapa ya?" kata Ri Won, ia tersenyum lebar menampilkan giginya yang sudah ternoda oleh darah segarnya.


"Sepertinya tanganku terkilir..."


"Hi...hi...hiduplah uhukk...! Dengan baik" bisik Ri Won, ia mendekati Woo Rin dan memeluknya sehingga pedang itu tertancap semakin dalam sampai menembus kebelakang tubuhnya.


"Kakak sayang padamu" bisik Ri Won, ia memeluk erat Woo Rin dan akhirnya terjatuh ke tanah karena tak berdaya menahan tubuhnya.


"Memangnya kalau kau mengalah demi diriku begini..... aku akan merasa bersalah?" gumam Woo Rin, ia menarik kasar pedangnya dari tubuh Ri Won sehingga darah mengalir deras keluar dan membuat genangan darah disekitarnya.


"....." Woo Rin pergi dari sana meninggalkan Ri Won yang sedang sekarat. Walaupun tak membunuhnya ia yakin Ri Won pasti mati karena ia menacapkan mata pedangnya tepat di jantung Ri Won.