I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Tetap Hidup Dalam Diriku



Istana


"Buka gerbangnya!!" teriak Penjaga Gerbang Istana. Raut wajah semua orang berubah ketika melihat Woo Rin, ekspresi yang tak bisa dijelaskan antara kasihan dan marah.


*Ada apa dengan mereka?-batin Woo Rin, keadaan istana sangat hening para Pejabat tak ada yang menyapa dan memberinya hormat seperti biasa.


*Ckk!! Terserahlah! Aku harus berpikir cepat! Untuk menemukan alasan yang bagus atas kematian kakakku itu! Dan membebaskan Keluarga Hwang!-batin Woo Rin, baru saja sampai didepan halaman Istana, ia melihat kakek dan ibunya berada didepan rakyat dengan tangan terikat serta didepan mereka sudah terpasang tali gantung untuk hukuman eksekusi.


"Rakyat Joseon!!! Jadilah saksi untuk pengeksekusian Ratu Lim Hari dan Penasehat Lim!!" teriak Kaisar Ryuji, ia terlihat sangat marah entah apa alasannya. Ini masih subuh, matahari belum muncul tetapi Kaisar Ryuji seperti terburu buru ingin menghabisi kedua orang itu.


"A...ap...apa yang terjadi!" teriak Woo Rin ia berlari menuju ibu dan kakeknya untuk membebaskan mereka.


"Tahan dia!" kata Kaisar Ryuji, ia menatap tajam Woo Rin. Wajahnya tersimpan amarah yang besar ia sudah tahu kalau sekarang Ri Won sudah tiada.


Beberapa jam sebelumnya


"Ada apa dengannya? Apa otaknya jadi miring karena dituduh sebagai pemberontak" gumam Kaisar Ryuji wajahnya membeku karena binggung dengan sikap Ri Won. Ia melanjutkan langkahnya ke Balai Kemiliteran untuk bertemu Yong karena mendiskusikan masalah kejahatan Penasehat Lim dengan Ri Won sama dengan tidak melakukan apa apa.


"Yong! Ayo lanjutkan pem.... Hei! Kenapa kau menangis!" baru saja ingin berdiskusi dengan Yong, ia malah melihat bawahan Ri Won itu menangis membuatnya terkejut.


"Pangeran sudah memilih jalannya. Yang Mulia..."


"Ja...jalan? Jalan apa?" tanya Kaisar Ryuji, ia merasa ada yang tak beres. Firasatnya mengatakan apa yang akan dikatakan Yong bukan sesuatu yang baik.


"Beliau meminta kita menangkap Penasehat Lim dan Ratu Hari...."


"Ya? Bukannya itu bagus ya?"


"Serta menetapkannya sebagai pengkhianat yang sudah membunuh Yang Mulia Raja! Beliau menyuruh anda menjadi hakim di pengadilan dan mengumumkan bahwa Pangeran Ri Won sudah dihukum mati karena memberontak kepada Yang Mulia Raja" isak Yong matanya terus berair, ia mengusap air matanya. Saat melihat surat itu ia ingin protes dan marah tetapi Ri Won malah menyuruhnya diam dan pergi dengan cepat.


"Apa?! Apa yang dia pikirkan! Apa dia ingin mengorbankan nyawanya!" seru Kasiar Ryuji, ia membaca surat pernyataan Ri Won yang mengaku bahwa dirinya yang membunuh Raja Nam Wok demi tahta.


"Sebenarnya itu hanya alasan saja! Karena Pangeran sekarang sedang bertarung hidup dan mati dengan Pangeran Woo Rin.... "


"Anda pasti tahu hasil akhirnya kan?" Kaisar Ryuji terduduk, ia tak percaya, sekali lagi ia tak bisa melindungi sesuatu yang berharga untuknya. Baginya Ri Won sudah seperti anaknya sendiri, meski awalnya karena rasa bersalah kepada Ratu Hyunseo tetapi semakin lama ia memperhatikan Ri Won di Kekaisaran Qin dan bercengkerama dengannya, ia merasa hubungan mereka seperti ayah dan anak.


"Apa aku gagal lagi?" gumam Kaisar Ryuji, ia menatap Yong dengan tatapan senduh.


"Jika aku datang dan menghentikannya. Woo Rin pasti semakin membencinya dan menyakiti banyak orang kan? Satu satunya cara membuatnya berhenti adalah kematian si bodoh itu... "


"Dia sama saja seperti ibunya" gumam Kaisar Ryuji, ia tersenyum getir. Bisa saja mengerahkan prajurit untuk mencari dan melindungi Ri Won tetapi keadaan akan semakin buruk bagi Woo Rin yang salah paham terhadap Ri Won.


"Baiklah jika begitu! Hukuman penjara seumur hidup tidak cukup untuk mereka! Mereka harus mati" seru Kaisar Ryuji saat fajar tiba, ia akan mengeksekusi dua orang penyebab semua masalah yang sedang terjadi di Joseon.


...****************...


"Apa maksud anda Kaisar Ryuji? Anda memimpin jalannya pengadilan di Kekaisaran kami dan menghukum Ratu serta Penasehat Kekaisaran kami!" teriak Woo Rin, ia menatap tajam Kaisar Ryuji yang terlihat sangat berkuasa duduk disinggasana ayahnya.


"Mereka memang pantas dihukum!"


"Ratu pezina!"


"Penasehat kerajaan korupsi!!"


"Memakan uang rakyat!"


"Hukum mati mereka!"


"Cepat lakukan!!" seru para rakyat Joseon, mereka melempari Woo Rin dengan batu karena marah. Tak ada rasa takut dimata mereka selama ini Penasehat Lim dan Woo Rin selalu semena mena bahkan tak ragu membunuh mereka.


"Ap...apa maksudnya!"


"Pangeran anda pasti terkejut. Ratu Hari tertangkap basah berzina saat suasana sedang berduka dan Penasehat Lim sudah beberapa kali menyelundupkan barang ke Kekaisaran Kou! Saya mengalami kerugian disini! Bukan hanya itu ia juga mengambil upeti dua kali lipat dari rakyat serta menyuap para pejabat untuk melawan Raja Nam Wok!"


"Dan tragedi 7 tahun lalu juga diakibatkan oleh mereka!"


"Kematian Ratu Hyunseo dan kebakaran besar di Joseon adalah hasil kerja samanya denganku!"


"A...apa....?"


"Apa yang mereka lakukan dengan Ibunda!" teriak Woo Rin yang tersentak mendengar hal itu, ia merasa asing dengan ibu kandung dan kakeknya saat Kaisar Ryuji menyebut tragedi bunuh diri Ratu Hyunseo.


"Ehh? Bukankah Ratu Hyunseo bunuh diri"


"Nahh kan! Aku sudah yakin kalau dewi perang tak mungkin bunuh diri!"


"Dia putri dari Jendral Hwang yang pernah ikut perang! Tidak mungkin dia bunuh diri karena depresi!"


"Kenapa anda bertanya? Bukankah anda senang hal itu terjadi" kata Kaisar Ryuji sambil menyeringai, ia sama sekali tak menyukai Woo Rin karena berpikir Woo Rin sama seperti Penasehat Lim ataupun Lim Hari.


"Mengancam nyawa anak anak dan suaminya! Jika tak bunuh diri maka cepat atau lambat mereka akan membunuh Pangeran Ri Won dan Raja Nam Wok serta akan membuat Pangeran Woo Rin serakah akan tahta dan salah arah dalam mengambil keputusan dalam hidupnya!"


"Baca sendiri surat yang mendiang Ratu tinggalkan untuk anda" teriak Kaisar Ryuji, ia sangat marah apa lagi saat membaca surat yang tak sengaja ditemukannya dibawah papan dikamar Ratu Hyunseo.


Surat itu untuk Woo Rin tetapi karena takut Lim Hari akan mencurigainya. Ia menaruhnya dibawah papan kayu yang menjadi pijakan kakinya. Entah sampai kapan akan dibaca oleh Woo Ri. Ratu Hyunseo hanya berharap suatu hari nanti Woo Rin melihat dan memahami keputusannya saat itu.


'Hallo putra kecilku, apa kau sudah bangun sekarang? Ahh kenapa aku menulis kata kata bodoh seperti itu?! Hahaha.... Soalnya ini surat terakhir aku tak terlalu mengerti bagaimana menulis kata perpisahan.


Woo Rin.....


Ibunda ingin kau menjaga dirimu dengan baik! jangan terlalu sedih karena ibunda tak ada lagi disisimu. Cobalah berbaikan dengan Ibunda Hari, dia juga ibu yang baik hanya saja dia memiliki banyak urusan karena membantu ibunda menjaga istana ini.


Jika kakakmu kembali kalian harus akur ya, kau memang tak pernah bertemu dengannya tetapi kakakmu itu sangat baik kok. Dia selalu menulis kalau kau adalah adiknya yang sangat manis, itu karena Ibunda membocorkan rahasiamu yang masih tidur dengan ibunda dan makan tengah malam hahahaha.....


Hiduplah dengan baik. Terapkan ilmu pengetahuan yang ibunda ajarkan padamu untuk rakyat kita, junjunglah moral dan etikamu dan bantulah ayahanda agar dia menyadari betapa hebatnya putra bungsuku ini.


Ibunda sayang padamu.


Setelah membaca itu Woo Rin menangis hatinya terasa berdeyut, sakit. Apa selama ini dia benar benar salah dan mengabaikan ajaran Ibundanya dengan mudah hanya karena perkataan kakeknya.


"Darah lebih kental dari pada air! Woo Rin! Aku ibundamu! Apapun yang ditulis wanita ****** itu kau tak perlu mempercayainya!" teriak Lim Hari saat Woo Rin mulai membaca surat itu ekspresi wajahnya berubah. Lim Hari mulai merasa resah, satu satunya yang bisa menolongnya saat ini hanya putranya itu.


"Diam kau!" teriak Woo Rin matanya merah, ia mengeretakan giginya baru saja dia melakukan dosa besar, tidak bukan baru tetapi hampir setahun ia melakukan dosa besar. Membunuh rakyat, menyakiti istrinya, membunuh anaknya, membunuh ayahnya dan kakaknya sendiri, dosanya sudah sangat banyak. Tangannya gemetar membayangkan darah kakaknya yang bercucuran deras keluar dari tubuhnya.


"Kakak sayang padaku...."


"Ibunda juga menyayangiku... Ta... tapi aku membunuhnya. Ak..." baru saja Woo Rin ingin mengakui kalau dirinya membunuh Ri Won tetapi Kaisar Ryuji menyelanya perkataannya.


"Pangeran Ri Won sudah dieksekusi terlebih dahulu! DIia adalah pengkhianat yang telah membunuh Raja! Kemarin malam ia sudah dihukum mati!" kata Kaisar Ryuji membuat Woo Rin terkejut, ia baru saja membunuh Ri Won. Kenapa Kaisar Ryuji menutupi kesalahannya? Kenapa? Apa alasannya.


"Keluarga Hwang yang telah ditunduh akan dibebaskan dan diberikan kompensasi karena tuduhan tak mendasar ini"


"Hah?!"


"Apa! Itu tidak mungkin!"


"Pangeran sangat baik bahkan kami yang dulunya ingin membunuhnya tidak dihukum!"


Seru para rakyat mereka sama sekali tak percaya Ri Won membunuh Raja Nam Wok hanya demi tahta karena selama ini hanya Ri Won yang memperhatikan mereka para rakyat.


"Yahh... Sudah kuduga!"


"Pangeran Ri Won pasti cemburu"


"Hahahaha.... Akhirnya Pangeran Woo Rin yang menjadi Raja"


"Kedepannya kita akan berpihak kepadanya"


Berbeda dengan para rakyat, para pejabat malah menyalahkan Ri Won sambil tertawa kecil.


"Memang pantas dia mendapatkannya"


"Jangan salah paham! Ini semua kemauan Ri Won sendiri, aku tak sudi menolong mu! Jika bukan karena Ri Won sudah lama aku menggantung mu seperti dua orang itu" ia berdiri dan berjalan mendekati Woo Rin lalu membisikkan hal itu.


"Ja..jangan bercanda... " gumam Anna saat melihat Woo Rin kembali penuh darah. Ia terkejut dan berlari keluar istana mengikuti garis darah yang terbentuk ditanah.


"Ri Won ku masih hidup!" gumam Anna, ia terus mengatakan hal itu sambil tersenyum.


"Putri!!"teriak Kepala Dayang Dan melihat Anna yang tiba tiba berlari membuatnya terkejut dan berusaha mengejarnya.


"Tuan! Tuan Yong!"


"Tolong!! Putri kabur keluar istana!"


"Bayinya bisa dalam bahaya lagi" lirih Kepala Dayang Dan matanya berkaca kaca tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Anna dan bayinya jika Anna berlarian.


"Saya masih ada urusan yang lebih penting...."


"Lagi pula mungkin ini kesempatan terakhir Putri" kata Yong sambil tersenyum hangat, ia berbalik dan pergi ke halaman istana untuk menjalankan tugasnya, baginya saat ini Ri Won adalah salah satu orang yang harus ia kenang seumur hidup.


...****************...


"Ri Wonnn...." teriak Anna dengan keras, keadaan hutan masih gelap sehingga membuatnya sedikit sulit melihat sekitarnya.


"Tidak!! Tidak!!! Jangan hujann!!" isak Anna rintik hujan tiba tiba datang membasahi tanah dan membuat garis darah itu menghilang.


"Ri Wonnn!!!!"


"Kamu dimanaa?!"


"Jangan tinggalkan aku" tangis Anna pecah ketakutannya semakin menjadi karena tak ada siapa siapa disana.


Gelap dan dingin padahal ia baru saja bangun dan meminta Kepala Dayang Dan menemaninya jalan jalan. Saat melihat Woo Rin yang berlumuran darah, dadanya sakit dan langsung teringat akan Ri Won.


"Yiweii...." tiba tiba suara teriakan Ri Won terdengar ditelinganya membuatnya yang sudah putus asa berdiri menyusuri hutan kembali dengan tuntunan suara suaminya yang semakin lama semakin lemah.


"Ri Wonnn..." lirih Anna pandangannya lurus kedepan ada lapangan besar dan seseorang tergeletak ditanah dengan genangan darah memenuhi tanah sekitarnya.


"Kau datang....?" tanya Ri Won, ia mendongkakan kepalanya ke atas, melihat Anna dari kejauhan. Wajah istrinya itu sudah penuh air mata? Apa itu mungkin? Atau karena pandangannya kabur jadi tak bisa melihat dengan jelas? Apa lagi sekarang sedang hujan deras, membuatnya sulit membedakan apakah itu air mata atau air hujan.


"Ahh! " karena terlalu cepat berlari Anna tersandung dengan cepat Ri Won berdiri dan menangkap istrinya itu.


"Ka...kau tahu?"


"Hmm..." Ri Won mengangguk, ia memejamkan matanta sebentar dan menaruh kepalanya diperut Anna.


"Anakku... jaga ibumu dengan baik ya" gumam Ri Won ia mencium perut Anna dan memeluk pinggang istrinya sebentar.


“Ibumu sangat nakal, katakan padanya untuk tidak merepotkan orang lain...”


“Ayah sangat menyayangi kalian”


"Kalau tahu kenapa kau mati!! Kenapa kau meninggalkanku!! Aku tidak mau siapapun aku cuma mau kamu saja!! " isak Anna, ia memegang pipi suaminya yang sudah membiru itu.


"Cepat ikut aku! Kita ke tabib!" kata Anna ia menghapus cepat air matanya dan hendak memapah Ri Won.


"Ti...tidak perlu... Jantungku sudah terbelah dua, darah sudah berhenti mengalir, seluruh uratku rasanya putus"


"Ja..jangan menangis" kata Ri Won, ia menghapus air mata Anna dan mendekatkan kepalanya.


"Aku mencintaimu..."


"Aku juga mencintaimu! Aku sangat mencintaimu! Aku sangat mencintaimu.., Hik.. Hik... Hik"


"Selama ini semua yang kulakukan hanya sebuah cara agar aku bisa dekat denganmu. Pernikahan kontrak itu juga! Sejak awal aku menyukaimu! Aku sangat mencintaimu.. Aku mencintaimuu... Hikss... Hiksss..." Anna memeluk Ri Won dengan erat, ia mengakui semuanya walaupun memalukan tetapi ia ingin agar Ri Won bertahan demi cintanya itu.


Ri Won tersentak mendengar pernyataan Anna, perasaannya selama ini bukan terbalaskan tetapi Anna lah yang menunggunya. Menunggunya membalas perasaan sang Putri yang terpendam itu, ia tersenyum haru. Ini adalah hal yang paling membahagiakan didalam hidupnya "Senang mendengarnya..."


"Terima... Ughh! Terima kasih" dadanya terasa sangat sakit sepertinya hanya sebatas ini saja, ia bisa menahan rasa sakit itu.


"Ri Wonnn....!!!"


"Ri Wonnn... Hiksss!!!"


“Buka matamu, aku akan mengatakannya lagi. Oke? Aku menyukaimu...”


"Ri Wonnn!!!! Ahrggggg....!! Suamikuu" Anna menangis sejadi jadinya Ri Won tak bergerak lagi bahkan saat ia menguncang tubuhnya dengan kuat pun ia tak membuka matanya lagi.


*****


“Yang Mulia!!! Ahgg!!” saat melihat Anna yang membawa mayat Ri Won dibelakangnya membuat Kepala Dayang Dan teriak histeris.


“Itu.... I....itu mayat Si Pengkhianat!”


“Darahhh... Putri berlumur darah”


“Kenapa banyak luka ditubuhnya?”


“Seperrti habis melakukan pertarungan”


Bisik para pejabat mereka tertawa melihat Ri Won benar benar sudah tiada. Putri Qin itu mengangkat mayat Ri Wonn dengan tangannya sendiri.


“Putri biar kami yang membawa Pangeran” seru para pengawal, mereka hendak mengambil mayat Ri Won.


“JANGAN SENTUH SUAMIKU” kata Anna, wajah terlihat sangat mengerikan saat para pengawal itu ingin menyentuh Ri Won.


“Yiwei....” lirih Kaisar Ryuji, ia tak sanggup melihat mayat Ri Won yang bersimbah darah itu, ia menangis, apalagi saat melihat Anna yang terlihat sangat depresi itu.


“Lepaskan dia.... Lepaskan dia Yiwei...” kata Kaisar Ryuji, ia menarik Anna dan menyuruh para pengawal untuk mengambil mayat Ri Won.


“Tidak!! Kaisar Ryuji...!! Tidak!! Jangan pisahkan aku dengan suamiku....! Hiks.. Hiksss”


“Yiwei.....! Tenanglah..” ia memeluk Anna dengan erat, air matanya mengalir melihat bagaimana menderitanya Anna.


“Kuburkan segera!” perintah Kaisar Ryuji membuat Anna tersentak mendengar hal itu.


“Jangan! Apa yang kau lakukan! Dia suamiku!”


“Kakak....” lirih Woo Rin, ia merasa sangat bersalah saat melihat Anna yang begitu kehilangan kakaknya itu.


“Maafkan aku...” ia pergi dari sana meringkuk ditaman belakang kediaman Ratu.


“Lihat... Dia anak dari Ratu pezina!”


“Yang satu membunuh ayahnya dan yang satu lagi memiliki ibu dan kakek seorang penjahat!”


“Apa ini akhir dari Kekaisaran Joseon!”


“Hahahaha”


“Minta maaflah” seru Eunyeon, ia menatap Woo Rin dengan dingin.


“Aku tahu kau bersalah....”


“Minta maaflah pada Ratu Hyunseo, Raja Nam Wok, Ri Won dan Yiwei...”


“Aku yakin mereka akan memaafkanmu... Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua” Eunyeon memeluk Woo Rin, ia tahu sekarang ia pasti sangat merasa bersalah karena sudah membunuh orang orang itu.


“Aku pasti akan selalu berada disampingmu... Menangislah Woo Rin...”


“Aghrhhh!!!” tangis Woo Rin pecah ia tak bisa membendungnya lagi. Hatinya penuh dengan rasa bersalah, walau Kaisar Ryuji atau pun Anna tak memaafkannya, ia masih ingin didekat kuburan Ri Won dan meminta pengampuan pada kakaknya yang telah mati itu.


*****


17 tahun kemudian


"Dan malam itu Do Hwa menghembuskan nafas terakhirnya didalam dekapan istrinya Gaon dengan menyandang nama pengkhianat negara" kata seorang pemuda yang membaca novel yang sedang dipegangnya dengan antusias.


"Sial! Kenapa Do Hwa ini bodoh sekali! Dia kan memiliki istri dan bayi yang belum lahir! Kenapa dia malah memikirkan kakaknya!" kata pemuda itu, ia menghembaskan novel itu ketanah karena kesal.


"Young Jae!! Aku benarkan! Do Hwa ini memang pria bodoh!" tanyanya kepada pemuda disebelahnya.


"Hmm? Tidak juga...."


"Dia adalah pahlawan sejati. Melindungi kakaknya dan keluarganya dengan menyandang nama pengkhianat" seru Young Jae, ia mengambil novel itu dari tanah dan menatap wanita paruh baya didepannya.


"Benarkan Ibunda?" tanya kepada Ibunya yang sedang meminum teh, wanita itu melirik wajah anaknya dan tersenyum.


"Iya. Do Hwa pahlawan sejati...."


"Young Min... Kau harus mencoba berada diposisinya" kata Wanita paruh baya itu ia mengambil buku novel yang berada ditangan putranya.


*Dulu aku tak mengerti kenapa kau melakukannya tetapi setelah kembali ke Istana dan menyaksikan perubahan besar didiri Woo Rin serta perubahan besar Joseon membuatku merasa bangga denganmu-batin wanita itu yang tak lain adalah Anna ia mencium novel yang berjudul Pengkhianat yang dicintai, novel itu sangat populer didataran Tiong dan Joseon. Anna yang menulisnya ia ingin memperlihatkan sisi lain Ri Won didalam novel itu serta kisah cinta tragisnya yang sangat sulit ia lupakan.


"Pangeran Young Jae! Pangeran Young Min!" seru seorang pria berpakaian rapi dari belakang dari jubahnya saja mereka sudah bisa menebak siapa yang datang.


"Eh? Salam Yang Mulia Raja" kata dua Pangeran itu, mereka adalah putra kembar Anna dan Ri Won.


"Salam Yang Mulia Raja" kata Anna, ia berdiri dan memberi salam kepada Woo Rin yang sekarang menjadi Raja Joseon.


"Tidak perlu memberi salam kakak...." kata Woo Rin, ia masih merasa bersalah apa lagi saat itu Anna menyerat tubuh Ri Won sendiri bahkan menolak menguburkan Ri Won.


Pada saat itu adalah masa tersulit Anna ia terkena depresi berat. Sampai akhirnya ia melahirkan. Melihat bayi bayinya membuatnya merasa tenang dan lama kelamaan, ia bisa menerima kematian Ri Won.


"Iya itu benar... Kakak kan sudah tua" cibir Eunyeon yang tiba tiba muncul dari belakang Woo Rin.


"Lihat dulu kerutan dimukamu sebelum mengejekku" kata Anna tiga guratan muncul didahinya karena kesal dengan perkataan Eunyeon.


"Kau ini masih saja tidak sopan" kata Woo Rin ia mengelus kepala Eunyeon. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri kembali saat itu hanya Eunyeon yang berada dipihaknya walaupun seluruh orang menatapnya hina karena tindakan keji ibu dan kakeknya.


"Biarkan saja...."


"Hei kalian berdua mana pelukan untukku!" seru Eunyeon menunjuk dua kembar itu.


"Bibi,..." seru mereka berdua yang langsung memeluk erat Eunyeon baginya, Pangeran kembar ini sudah seperti putranya sendiri karena sudah 17 tahun sejak Woo Rin dan Eunyeon kembali tetapi tak ada tanda tanda kalau Eunyeon sedang mengandung. Mungkin ini karma bagi Woo Rin yang pernah membunuh bayinya sendiri.


"Ayo kita ke makam ayah kalian untuk meminta restu" kata Woo Rin sambil mengelus kepala Pangeran kembar, hari ini adalah hari peringatan kematian Ri Won serta hari penobatan Young Jae sebagai Raja selanjutnya di Joseon dan Young Min sebagai Kaisar Kao selanjutnya menggantikan Kaisar Ryuji yang sudah tua.


"Heii jangan lupa ajak aku juga" kata Kaisar Ryuji, ia tiba tiba saja datang ke Joseon yahh meski setiap satu tahun sekali ia kemari untuk melihat Ri Won dan Ratu Hyunseo.


"Kakekkk" teriak Young Min, ia berlari kearah Kaisar Ryuji dan memeluknya.


"Cucuku sayang" lirih Kaisar Ryuji, ia membalas pelukan Young Min, tubuhnya sudah tak mampu menanggung beban mengurusi negara. Ia pun tak memiliki keluarga karena tak pernah menikah. Hanya Young Jae dan Young Min lah yang membuatnya merasa hidup karena tak merasa kesepian.


"Yiwei.... Janjimu?" kata Kaisar Ryuji kepada Anna.


"Hmm... Aku pasti menepatinya" kata Anna sambil tersenyum pria itu sudah banyak membantu suaminya dan suaminya pun mempercayakan anak anaknya kepada pria tua itu, tentu saja Anna tak ada masalah jika Young Min akan mengambil alih Kekaisaran Kou.


*Ahhh! Sudah didepan makammu saja! Hei! Aku kemari lagi! Lihat ini anakmu memanggilku kakek. Bweeee.... Aku punya cucu-batin Kaisar Ryuji, ia berada didepan gundukan besar dengan nisan bertulisan nama Ri Won, makam itu berada jauh dari pusat istana karena Ri Won dikuburkan sebagai pengkhianat.


*Kakak.... maafkan ak..., mungkin terlambat meminta maaf padamu seperti ini. Aku sudah berubah, aku kembali jadi Lee Woo Rin adikmu yang manis. Tolong jaga ayahanda dan Ibunda Hyunseo disana dan tolong restui aku untuk mengambil keputusan ini-batin Woo Rin ia selalu menangis didepan makam kakaknya itu sekeras dan berapa kali ia meminta maaf, ia tahu kakaknya itu tak akan kembali.


*Ayahanda... kami tak salah paham terhadapmu... Kami tahu kau seorang pahlawan! Istrimu yang pemalu itu sudah memberitahukan kami lewat novel yang dikarangnya. Kalau suaminya adalah pahlawan! Yah walaupun ibuku terlalu jujur menceritakan semuanya sampai aku malu membacanya. Mohon doakan aku agar bisa memimpin Josoen dengan baik-batin Young Jae, ia adalah anak tertua Anna dan Ri Won yang sekarang bergelar Putra Mahkota Joseon walaupun hidup tanpa ayah ia tak merasa kekurangan apapun karena semua orang ada untuknya.


*Ayah! Umurku sudah 17 tahun! Aku sekarang adalah Putra Mahkota Kou! Namaku Young Min ayah tidak lupakan? Aku selalu cerita panjang lebar saat hari peringatanmu. Aku benci padamu yang meninggalkanku duluan sama seperti Do Hwa yang mati demi kakaknya dan meninggalkan istri serta bayinya yang belum lahir-batin Young Min ia adalah anak kedua Anna dan Ri Won. Ia masih tak sadar kalau novel yang dibacanya adalah kisah cinta ayah dan ibunya sendiri, karena sudah berjanji kepada Kaisar Ryuji untuk menyuruh Young Min menjadi Kaisar Kou, sekarang Young Min mendapatkan gelar Putra Mahkota Kou dan sebentar lagi akan menjadi Kaisar baru Kou.


*Aku mencintaimu... Aku mencintaimu.... Aku mencintaimu Ri Won. Kau tau? Aku sudah membesarkan anak kita dengan baik. Sekarang mereka akan bersiap menduduki tahta disaat bersamaan-batin Anna air matanya berjatuhan ia merasa sangat bahagia sekarang


*Pertemuan dengan anak sombong beberapa tahun lalu membuatku menyadari satu hal! Kalau aku tak boleh menilai sesuatu dari luarnya- ia teringat ekspresi pertama Ri Won saat bertemu dengannya membuatnya terkekeh.


"Hidup Yang Mulia Kaisar Lee"


"Hidup Yang Mulia Raja Young Jae"


Seru Anna ia tersenyum dan memeluk kedua anaknya. Wajah yang mirip dengan mendiang suaminya itu membuatnya tak merasa kehilangan suaminya lagi.


Awalnya para pejabat tak menerima Young Jae tetapi berkat dukungan Young Min yang bertahta sebagai Kaisar di Kou serta Kekaisaran Qin. Akhirnya Joseon pun menerima sepenuhnya Young Jae. Putra dari seorang pengkhianat bertahta mengantikan Woo Rin pamannya.


Anna tak sedingin dulu karena waktu ia semakin sering tersenyum dan lembut kepada orang lain, walaupun kadang merindukan Ri Won dan sedikit kesepian, kenangan bersama Ri Won sudah cukup untuk membuat hatinya kembali bersemi.


End