
"Dimana Pangeran?" tanya Anna kepada para penjaga kediamannya, ia sudah mengelilingi kediaman ini tiga kali tetapi tak menemukan Ri Won.
"An..anu..." penjaga itu nampak enggan berbicara ia menyenggol lengan temannya.
"Kau saja yang bicara" bisiknya.
"Tidak... Kau saja"
"Pangeran menyuruh kita diam kan"
"Katakan!" teriak Anna ia semakin khawatir melihat reaksi kedua orang itu.
"Ukhhh...." perutnya tiba tiba sakit membuat Anna meringkuk sambil memegang perutnya.
"Yang Mulia!!"
"Cepat panggilkan tabib! Yang Mulia pingsan!" teriak dua penjaga itu dengan cepat Dayang yang berada didekat mereka menggendong Anna masuk kedalam kamar.
"Ri Won... Aku harus mencarinya" gumam Anna, ia tak tahu kenapa tiba tiba merasakan sakit dibagian perutnya. Apakah karena ia berlari kesana kemari. Atau salah makan. Sekarang tubuhnya benar benar lemas.
"Tuan Putri... Pangeran Ri Won pasti akan kembali! Anda sebaiknya istirahat dulu!" kata Kepala Dayang Dan, ia memegang tangan Anna karena ia terlihat sangat kesakitan.
"Jika Yang Mulia kesakitan begini Pangeran Ri Won pasti khawatir" lanjut Kepala Dayang Dan melihat Anna tak berhenti meringis dan memegang perutnya membuatnya sangat kebingungan sampai melihat darah membasahi gaun milik Anna.
"Darah?!"
"Maaf saya terlambat ada apa dengan Yang Mulia?" tanya tabib itu ia bergegas mendekati Anna.
"Kami tidak tahu... Putri kesakitan dibagian perut dan gaunnya dibasahi oleh darah" kata Kepala Dayang Dan, ia menjauh dan berdiri disamping ranjang.
"Darah?" Tabib itu langsung memeriksa denyut nadi Anna.
"Putri sepertinya keguguran! Cepat bawakan air panas dan beberapa kain" kata tabib itu membuat Kepala Dayang Dan dan beberapa dayang pergi mencari barang yang dibutuhkan.
*Keguguran? Apa itu artinya Putri sedang mengandung? -batin Kepala Dayang Dan ia memikirkan itu sesaat dan kembali fokus mencari barang barang yang diperlukan.
"Tubuh anda lemah dan anda jarang makan makanan bergizi membuat rahim anda juga lemah. Jika anda berlari kesana kemari itu akan menyebabkan hal yang fatal" kata tabib itu setelah mendengar cerita dari beberapa dayang ia yakin kalau penyebab keguguran Anna adalah hal itu.
"Aku harus mencari Ri Won" kata Anna, ia berusaha bangkit dari ranjangnya.
"Tidak boleh! Jika anda berjalan satu langkah lagi sekarang! Janin anda akan keluar dari perut anda!" kata tabib itu ia menahan Anna dan memberi isyarat kepada Dayang yang berada dibelakangnya agar menyalakan dupa penenang sekarang.
"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin mencari Ri Won!" teriak Anna, ia tak bisa membayangkan Ri Won dipenggal dan meninggalkan dirinya sendiri, itu adalah hal yang paling mengerikan didalam hidupnya.
"Jangan begitu Yang Mulia.... Pangeran Ri Won akan sedih jika bayinya meninggal bahkan sebelum melihat dunia ini" samar samar Anna mendengar perkataan tabib itu entah kenapa ia merasa mengantuk dan akhirnya menutup matanya.
"Haaaa.... Untung saja masih bisa diselamatkan" gumam tabib itu ia menyingsingkan keringatnya yang bercucuran deras saat melakukan pengobatan tadi. Ia sangat takut gagal menyelamatkan janin yang sudah berbentuk bayi itu.
"Tuan tabib.... Apa Putri sekarang sedang mengandung?" tanya Kepala Dayang Dan ia masih binggung dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang.
"Ehh? Apa anda tidak tahu? Bukankah anda Kepala Dayang Tuan Putri?" kata Tabib Seung ia salah satu tabib muda di Istana.
"Ahh! Apakah benar?" Kepala Dayang Dan juga tersentak ia tak menyangka Anna sekarang sedang mengandung walaupun ia yakin hal itu akan terjadi melihat hubungan Ri Won dan Anna yang harmonis.
"Rahim Putri sangat lemah tolong beri dia obat itu dan jangan sampai ia bergerak selama 24 jam" kata tabib Seung walaupun sekarang ada masalah besar yang sedang terjadi Anna tak boleh terpengaruh oleh hal ini pikirnya.
"Sebenarnya Putri begini karena khawatir kepada Pangeran Ri Won. Mungkin karena ia mendengar rumor itu dan Pangeran... juga ditangkap saat ini" kata Kepala Dayang Dan ia melihat sendiri bagaimana Para Pejabat pengadilan datang kemari menerobos masuk Kediaman Pangeran Pertama.
Beberapa saat yang lalu
"Ahhh....! Kenapa aku tak bisa menahan diri untuk memberitahukan perasaanku padanya?" gumam Ri Won, ia mendongkakan wajahnya keatas.
"Sepertinya Yiwei membenciku! Tahu begini lebih baik kusimpan sampai mati" isaknya ia meringkuk kebawah lantai dan membenamkan wajahnya disela lututnya.
"Apa lagi saat mabuk beberapa bulan yang lalu. Aku menyentuhnya! Mati aku jika dia tahu bagaimana? Sekarang aku sudah menjadi pria brengsek karena belum memberitahukannya hal ituuu" Ri Won membenturkan kepalanya kelantai ia jadi ingat 8 bulan yang lalu disaat ada perayaan atas pemberian gelar padanya oleh Raja Nam Wok dirinya. Ia yang pulang dengan keadaan mabuk menyentuh Anna yang sedang tidur dan anehnya saat pagi hari bangun keduanya tanpa sehelai kain pun tak membuat Anna. Curiga ia hanya berkata.
"Ahh... Aku kepanasan. Sepertinya aku lupa mengikat tali bajuku..." membuat Ri Won semakin bersalah.
"Baiklah! Saatnya mengakui hal ini! Biar pun ia mau mengakhiri pernikahan kontrak ini sekarang! Aku tidak peduli! Yang penting rasa bersalah ini hilang" kata Ri Won ia berdiri dan hendak membuka pintu tetapi belum sempat membuka pintu para prajurit sudah mendobraknya duluan.
"Maaf Yang Mulia Pangeran! Anda harus ikut kami kepenjara sekarang!" kata Pejabat pengadilan itu dengan angkuh.
"Atas dasar apa aku harus ikut denganmu?" tanya Ri Won, ia menekuk alisnya. Kenapa tiba tiba mereka ingin membawanya kepenjara.
"Ck! Anda sudah berkonspirasi dengan Jendral Hwang! Membunuh Yang Mulia Raja! Apa anda masih mau berdalih?!"
"Cepat ikat dia!" teriak Pejabat Pengadilan ia tersenyum miring, misinya sudah sukses sekarang Penasehat Lim pasti akan mengangkatnya menjadi Mentri.
*Bagus... Hahahahha.... Ini lebih mudah dari yang kubayangkan! Saat Pangeran Woo Rin naik tahta aku pasti jadi Mentri!-batin Pejabat Pengadilan.
"Yang Mulia Pang..." baru saja Kepala Dayang Dan ingin memberitahukan berita kematian dan rumor mengerikan tentang Ri Won. Ia melihat Ri Won dikawal oleh para prajurit.
"Apa yang kalian lakukan! beraninya menangkap Pangeran Ri Won!" kata Kepala Dayang Dan.
"Apa kau mau mati karena menghalangi tugas Pejabat Pengadilan!" kata Pejabat Pengadilan itu.
"Sudah cukup! Kepala Dayang Dan!"
"Jika Yiwei kembali... Tolong katakan padanya aku baik baik saja! Jangan cemaskan aku" kata Ri Won walaupun ia yakin Anna tak akan peduli lagi dengannya. Entah kenapa ia masih berharap kalau Anna akan mengkhawatirkannya.
******
"Saya tidak yakin Pangeran bisa melakukan hal itu" kata tabib Seung, ia terbawa emosi karena ada yang memfitnah Ri Won
"Saya mengenal Pangeran sejak kecil! Beliau orang yang baik tidak mungkin membunuh ayahnya sendiri dengan kejam begitu!" lanjut tabib Seung dibalas anggukan oleh Kepala Dayang Dan.
"Sebenarnya siapa yang membunuh Yang Mulia dengan sadis seperti itu? Dan kenapa para Penjaga dan Dayang hanya menyebut nama Jendral Hwang?" seru Kepala Dayang Dan meskipun memang pelakunya Jendral Hwang tidak mungkinkan ia menyuruh para Dayang itu menyebutkan namanya dengan begitu mudah.
Tes tes
Bunyi darah yang jatuh dari pedangnya. Kepala Raja Nam Wok menggelinding kebawah cipratan darah tersebar di seluruh ruangan.
"Haahh.... Haaahhhh.... Haaaa..." deru nafas seorang pria, ia menyapu darah yang menempel diwajahnya.
"Aku...aku membunuhnya. Hahahaha...." tawanya dengan lantang. semua Dayang dan Kasim yang berada diluar gemetar saat mendengar tawa pria itu.