I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
73. Kencan



"Haichuu"Liu Wen mengosok hidungnya yang gatal, ini sudah masuk bulan Desember yang artinya musim dingin sudah tiba.


"Mami... pakai mantelmu"kata Jake, ia memakaikan mantel wol berwarna putih dibahu Liu Wen, tentu saja dengan bantuan kursi.


"Mami... ada orang yang memberikan kartu namanya padaku, dia bilang aku bisa jadi aktor dengan wajah tampanku ini"lanjut Jake, ia meminta izin ibunya tak lupa dengan pupyy eys andalannya.


"Bagaimana sekolahmu? Jika kamu menjadi aktor, hmm? "kata Liu Wen, ia masih sibuk menatap layar laptop sambil meladeni putranya berbicara.


"Mami..."kata Jake, ia memegang wajah Liu Wen dan mengarahkannya kedepan wajahnya.


"Aku kan pintar jadi tenang saja"kata Jake sambil tersenyum lebar.


"Baiklah..." kata Liu Wen ia mencium wajah putranya, jika memang ini jalan yang ditempuh Jake, ia akan mendukungnya.


"Bagaimana hubungan mami dengan paman Mike"kata Jake membuat Liu Wen tersentak karena malu.


"Jake... kamu masih kecil jangan ikut campur dengan kisah percintaan mami"kata Liu Wen, ia berpura pura acuh dengan pertanyaan Jake.


"Ini sudah setahun lho mami... sebentar lagi tahun baru"kata Jake, ia menggoda ibunya yang terlihat malu malu itu.


"Tahun barunya benar tapi kita baru mengenalnya empat bulan!"seru Liu Wen digoda anak kecil membuatnya merasa aneh.


"Kakak!! Ingat persiapan untuk masuk sekolah baru"teriak Keyzee dari dalam kamar. Semua kembarannya sudah menyiapkan barang barang yang diperlukan untuk masuk sekolah sedangkan Jake, dia malah sibuk merayu ibunya agar diizinkan menjadi aktor.


"Sudah sana! Key memanggilmu"kata Liu Wen, dimalam yang dingin ini ia harus membuat dokumen resmi perjanjian kerja sama dengan Grup Su, ini semua karena Presdir Mike, semenjak ia menjadi Presdir Grup Su, ia selalu mengajak Grup Liu bekerjasama dan hal hasil pekerjaannya makin banyak, itu karena permintaan sang Presdir yang menginginkan dokumen ini dikerjakan oleh Liu Wen.


"Jika mau balas dendam tidak begini caranya"gumam Liu Wen, kantung matanya sangat tebal untung saja sebentar lagi selesai sehingga semangatnya muncul kembali.


Beberapa bulan yang lalu


"Sudah lama menunggu?"tanya Presdir Mike, ia melihat Liu Wen yang berdiri didepan pintu masuk sebuah taman hiburan.


"Ehmm lumayan..."kata Liu Wen, ia memakai baju seadanya tetapi masih elegan dengan celana pendek dan kaos bergambar wajah chubbynya.


"Apa tidak kedinginan?"tanya Presdir Mike, ia melepas jaketnya dan memakaikannya untuk Liu Wen.


"Mami!! Paman sudah selesai? Ayo masuk"kata Aiden, ia dan kembarannya sudah menunggu didalam.


"Ka...kau bawa anak anak?"tanya Presdir Mike, ia tak percaya melihat kelima anak Liu Wen sudah ada didalam taman bermain.


"Iya! Memangnya kenapa? Aku tak pernah bilang kalau kita akan kencan berdua"bisik Liu Wen, ia sangat puas melihat wajah masam Presdir Mike.


"Ayo kita bermain"kata Liu Wen kepada anak anaknya.


"Ayo pegang tanganku"kata Predir Mike, karena hanya tinggal Aiden dan Anna yang tak berada dijangkauan Liu Wen.


"Aku sudah besar"kata Aiden berjalan duluan sedangkan Anna hanya diam saja tak menyahut.


"Dua bocah ini sangat sulit didekati"gumam Predir Mike, ia menghela nafasnya dan mengejar Aiden dan Anna yang berjalan sangat cepat.


"Ya..ya kena!"teriak Liu Wen, ia memainkan sebuah permainan tembak tembakan.


"Apa itu"kata Aiden sehingga kembarannya melihat kearah yang ia tunjuk.


"Yeayyy"teriak Liu Wen, ia secara refleks mencium Presdir Mike.


"Huh..?!"Presdir Mike terkejut dan melihat kearah Liu Wen.


"Ah... maaf... aku... ta..."belum selesai berbicara Presdir Mike langsung mencium Liu Wen dibibirnya dengan cepat.


"He...hei ada anak anak disini"kata Liu Wen, ia menjadi gugup karena ciuman itu.


"Bersikaplah normal, mereka sibuk melihat bianglala"kata Presdir Mike menunjuk kebawah nampak anak anaknya dengan penuh harapan ingin menaiki bianglala itu.


"Mau naik?"tanya Liu Wen, ia membungkukkan badannya.


"Hmm..mm mau"kata mereka dengan serempak, mereka pun menuju bianglala saat disana ternyata ada batasan orang untuk naik kesana.


"Maaf maksimal 4 orang saja"kata penjaga itu membuat mereka sedikit kecewa.


"Oke begini saja, Aiden, Jake dan El, bersama paman Mike! mami akan bersama Anna dan Key"usul Liu Wen, wajah Aiden pun menunjukan rasa tak suka tetapi tak ada pilihan lain ia ingin sekali menaiki bianglala.


"Hah?"kata Jake ia membuka lebar mulutnya itu.


"Hei"kata Liu Wen ia memberi kode menggunakan matanya agar anak anaknya itu menurut.


"Baik!"kata keduanya, pertama Liu Wen yang naik lalu giliran Presdir Mike, suasana didalam bianglala sangat canggung hanya Jake yang berbicara tetapi saat Presdir Mike menanggapinya Jake malah menjawabnya dengan dingin.


"Aku bicara sendiri paman, aku sedang berlatih menjadi aktor"kata Jake membuatnya merasa seperti diabaikan.


"Kenapa kalian tak menyukaiku?"tanya Presdir Mike, ia penasaran apa yang tak menarik didalam dirinya sehingga anak anak tak menyukainya.


"Aku suka paman kok"kata Ellson sambil tersenyum.


"Aku tak masalah denganmu paman"kata Jake, ia menatap Presdir Mike dengan ekor matanya sekilas tatapannya sangat tajam.


"Aku tak suka saja"gumam Aiden memang mulutnya yang paling pedas membuat Presdir Mike sudah terbiasa.


"Apa kau menyukai kami? Atau hanya karena kau menginginkan mami?"tanya Aiden dengan terus terang, ia sangat penasaran dengan jawaban Presdir Mike.


"Apa ini yang membuatmu khawatir?"tanya Presdir Mike, ia tersenyum dan hampir tertawa ternyata ia masih bocah, karena berpikir kalau dirinya akan mengambil ibunya.


"Aku menyukai kalian walaupun bukan anak kandungku, aku merasa memiliki ikatan batin dengan kalian"kata Presdir Mike, ia mengacak rambut Aiden sambil tertawa ringan.


"Kau tahu kita sudah mirip ayah dan anak"kata Presdir Mike membuat Aiden malu


"Kalian tahu aku memiliki beberapa koleksi buku... mau lihat?"tanya Presdir Mike sebelum melamar Liu Wen, ia mencari tahu semua kesukaan anak anaknya.


"B...boleh... jika tidak merepotkan"kata Aiden


"Jika ada buku cinta aku mau"gumam Jake, seperti biasa bacaannya terlalu berat darip pada Aiden yang membaca buku politik.


"Tentu saja"Kata Ellson sambil mengacungkan jempolnya.


*Bagus aku sudah mendapatkan empat dukungan tinggal Anna saja sekarang-batin Presdir Mike ia tersenyum puas.


Bianglala pun terus berjalan sampai pada akhirnya berhenti menurunkan para penumpang disana, tak terkecuali kelompok para pria ini.


"Bagaimana apa seru?"tanya Liu Wen dengan antusias.


"Ya lumayan"jawab Aiden dengan singkat.


"Apa paman mau main itu?"tunjuk Jake ke arena mobil mobilan.


"Tentu... Aiden, El mau ikut?"


"Ya"kata Aiden, ia berjalan terlebih dahulu.


"Kemari kalian akan kugendong"kata Presdir Mike, ia menggendong Jake di lehernya dan menaru Ellson dilengan kirinya sedangkan Aiden, ia menariknya dari belakang untuk menggendongnya dilengan kanannya.


"Heiii!! Apa!! Ini!! Paman!! Lepaskan!!"protes Aiden wajahnya memerah karena malu.


"Sejak kapan mereka jadi akrab begitu?"tanya Liu Wen ia benggong melihat mereka berempat akrab begitu.


"Hmn?"gumam Anna, ia hanya mengangkat bahunya.


********


"Padahal kemarin dia menikmatinya"gumam Liu Wen sambil tersenyum.


"Mami! Jangan buat paman Mike terlalu lama menunggu"teriak Aiden dari kamar sebelah.


"Entah apa yang ia berikan kepadanya"cibir Liu Wen mendengar putranya itu sangat bersemangat dengan hubungannya dengan Presdir Mike.


"Iya yaaa"teriak Liu Wen dengan wajah masam.


"Tapi... sepertinya dia memang menyayangi si kembar"kata Liu Wen, ia tersenyum manis melihat layar laptop mungkin karena hubungan darah itu.


"Baiklah.... jika memang begitu saat tahun baru nanti akanku beri ia sebuah jawabaan"kata Liu Wen ia mengangguk cepat dan melanjutkan pekerjaannya.


*******


Paris


"Ayo bersulang"kata Nicholas, ia sangat senang putranya datang menjengguknya sesuai dengan yang ia katakan.


"Aku sudah dapat kerja di RZX sebagai manager"kata Dei dengan bangga.


"Dei sangat hebat hanya dalam waktu empat bulan sudah naik jabatan"kata Rose membanggakan anaknya.


"Tentu aku sudah tak heran lagi"kata Presdir Mike, ia makan dengan tenang adik tirinya yang bodoh ini pasti menaiki ranjang Presdir Lavano yang terkenal mata keranjang itu.


"Dena juga dapat beasiswa di Beijing"kata Rose sambil tertawa ringan.


"Aku menyarankannya agar ia masuk disana karena ada kamu"kata Rose tersenyum manis sambil menatap Presdir Mike.


"Aku tak punya adik dan takkan mengurusnya"kata Presdir Mike dengan ketus.


"Kakak! Kau kejam!"kata Dena dengan manja, ia ingin memeluk lengan Presdir Mike tetapi ditepisnya dengan cepat.


"Jangan sentuh aku!"kata Presdir Mike, ia benci jika anak anak selingkuhan ayahnya ini sok dekat denganya.


"Ekhmm! Mike jadi kapan Dei bisa masuk kembali ke De Zure"kata Nicholas dengan gugup, dia tak bisa marah atau pun menegur putranya itu. Bagaimana jika putranya itu membuangnya. Apa lagi perusahaan ibunya jauh lebih besar dari perusahaan milikinya.


"Berapa uang yang dia keluarkan untuk ke perluan rumah?"tanya Presdir Mike, ia melihat Rose dengan tajam.


"T..tidak ada"jawab Rose dengan cepat, mengapa anak tirinya menanyakan hal itu.


"Kalau begitu tak perlu bekerja di De Zure, sampai dia bisa menghidupi keluarga ini, dia baru bisa masuk De Zure! Aku juga akan melihat kualifikasinya"kata Presdir Mike, ia menatap adik tirinya dengan tajam.


"Aku ke toilet dulu"kata Presdir Mike, ia lupa membawa ponsel miliknya.


"Aku akan membawakannya untuk kak Mike"kata Dei, ia mengambil ponsel Presdir Mike sebenarnya itu hanya agar ia bisa berduaan dengan kakak tirinya itu.


Dreet Drett


Ponsel Presdir Mike berbunyi terterah disitu istriku, membuat Dei geram.


"(*B*àoqiàn dǎrǎo nín, háizimen,


xiǎng nǐ), Maaf menganggumu, anak anak merindukanmu"kata Liu Wen dalam bahasa mandarin. Dei yang tak mengerti menyimpulkan sendiri kalau Liu Wen pasti sedang mengatakan kata kata menggoda.


Dei langsung masuk kedalam toilet yang tak ditutup dan mencium Presdir Mike dan baru selesai membasuh wajahnya.


"Hmnhh"Dei sengaja tak mematikan sambungan telfonnya dan terus mencium Presdir Mike walaupun ia sudah didorong berkali kali.


"Sial dasar cabul!!"teriak Liu Wen, ia mematikan sambungan telfonnya.


"Jalangg!! Apa yang kau lakukan"kali ini Presdir Mike membentak Dei, ia merampas ponselnya dan melihat panggilan terakhir yang berasal dari Liu Wen.