I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
30. Selamat Tinggal



"Hmm.. sepertinya ini sudah cukup"kata Liu Wen yang sedang merapikan pakaiannya dan kebutuhan lainnya seperti yang dia katakan tadi. Malam ini saatnya melakukan rencananya untuk 'kabur' dari istana hampir tiga bulan disini rasanya sudah cukup.


"Lebih baik ditaruh di bawah ranjang dulu! Jangan sampai Meng lihat!"gumam Liu Wen, ia memindahkan barangnya ke bawah ranjang.


"Yang Mulia Permaisuri! Apa yang sedang anda lakukan?"tanya Meng dari belakang, ia baru saja masuk ke kamar dan melihat dari belakang Liu Wen sepertinya sedang sibuk sekali.


"Ahhh!!!"teriak Liu Wen, ia terkejut Meng tiba tiba ada dibelakangnya.


"Maafkan saya Yang Mulia! Saya jadi mengagetkan anda"kata Meng sambil menggaruk pipinya. Ia tak kaku seperti dulu, sekarang bersama Liu Wen ia bersikap biasa saja layaknya teman.


"Tidak... tidak apa!"kata Liu Wen, ia memegang perutnya dan mengatur nafasnya.


"Saya dengar Tuan Muda Liu datang kemari?"kata Meng dengan wajah merah, sosok Liu Yichen tentu saja ia sangat mengenalnya bahkan sebelum menjadi seorang pelayan.


"Ya begitulah! Yichen tadi datang bawa bebek panggang buatan ibuku"kata Liu Wen, ia melirik kebelakang dan mendorong barangnya menggunakan kaki.


"Ada.. apa... emmm? Meng! Kau menyukai anak sialan itu?"goda Liu Wen yang melihat wajah Meng yang merah.


"Eh... ti..tidak Yang Mulia! Saya tidak berani"kata Meng dengan cepat sambil mengibaskan tangannya.


"Siapa yang akan kau pilih? Anak sialan itu atau tabib kaleng kaleng itu"kata Liu Wen melihat reaksi Meng, ia jadi ingin menggoda Meng dengan membandingkan adiknya dan Pangeran Keempat.


"Apa yang anda katakan Yang Mulia? Saya cuma mengagumi Tuan Muda Liu, beliau tampan dan jago bela diri. Pangeran Keempat juga sangat tampan dan ahli pengobatan. Saya beruntung bisa bertemu mereka"kata Meng sebagai orang normal tentu saja dimatanya kedua orang itu sangat tampan dan memiliki kharismanya masing masing.


"Kau wanita yang serakah"kata Liu Wen mencubit hidung Meng.


"Oh iya saya lupa! Ini tanaman obat yang anda minta, saya sudah beli banyak sekali sesuai kata anda!"kata Meng menunjuk kotak lumayan besar disampingnya.


"Bagus Meng"senyum Liu Wen mengelus pucuk kepala Meng.


"Pelayan"teriak Liu Wen, ia memikirkan ide lebih baik agar Meng tak curiga dengan apa yang sedang dilakukannya.


"Ya,Yang Mulia"kata beberapa pelayan masuk kedalam kamar Liu Wen.


"Siapkan air untuk mandi"kata Liu Wen disambut anggukan oleh para pelayan, sebenarnya banyak pelayan di kediaman Phoenix hanya saja Liu Wen cuma mau dilayani oleh Meng saja.


"Biar saya saja Yang Mulia"kata Meng yang hendak mengikuti para pelayan tetapi dicekal oleh Liu Wen.


"Kau disini saja! Aku juga mau kau mandi bersamaku, jangan menolak! Aku kan kakakmu"kata Liu Wen hanya anggukan yang bisa dilakukan Meng.


*Hadiah perpisahanku buruk sekali ya... soalnya jika kukasih emas atau semacamnya Meng tak pernah menerimanya-batin Liu Wen sampai malam hari tiba mereka mandi karena keasikan ngobrol saat perut Liu Wen kram mereka baru menyudahi sesi mandi bersama ini.


"Yang Mulia mau makan malam?"tanya Meng yang sudah memakai baju dan siap siap mengambil makan malam.


"Tidak aku sudah kenyang"kata Liu Wen memegang perutnya memang benar ia tak merasa lapar setiap saat lagi, Pangeran Keempat adalah Dewanya.


"Ehmm? Apa akhirnya Yang Mulia mau diet?"tanya Meng baginya sangat aneh tiba tiba Liu Wen tak nafsu makan lagi.


"Tidak... aku sungguh tidak lapar kau kembalilah kekamarmu, istirahat oke"kata Liu Wen mendorong Meng keluar.


"Ehh...! Ini masih sangat awal untuk istirahat"kata Meng namun hasilnya nihil Liu Wen langsung menutup pintu dengan rapat saat Meng diluar.


"Fyuhh! Hadiah untuk Meng sudah, minta izin adik sudah! Sekarang tinggal melepas barang berhargaku"kata Liu Wen, ia agak berat melepasnya hanya saja kalau dia pergi siapa yang mengurus mereka.


"Amann!"Liu Wen melihat kanan dan kiri serasa sepi dia langsung pergi kekamar sebelah walaupun sebenarnya ada mata yang mengawasinya.


"Heii kalian lama tak jumpa"kata Liu Wen melambaikan tangan kepada beberapa pria didepannya.


"Permaisuri... huhuhu... saya sangat rindu belaian anda"kata Gubao, Gigoloo Liu Wen yang paling suka nempel.


"Ahhh... belaian? Sepertinya kata kata ini perlu diperbaiki"senyum kikuk Liu Wen, diakan cuma minta pijit dan disuapi makan sejak kapan dia suka membelai laki laki? Pikirnya.


"Hehehe, dia memang tak mengerti Permaisuri... sini biar saya membuat anda santai"kata Dai, gigoloo favorit Liu Wen karena yang paling pengertian.


"Hmphhh! Anda jarang mengunjungi kami... anda selalu berkencan dengan makanan"kata Si cantik, gigolo yang paling bawel dan mudah ngambek.


"Heii tenanglah kalian! Maaf aku jarang mengunjungi kalian"kata Liu Wen memegang dagu si cantik.


"Ahh... Permaisuri anda sangat tahu tempat sensitif saya"erangg Si Cantik membuat Liu Wen merinding.


"Aku mau bertanya kepada kalian!! Apa kalian tidak pernah mau bebas dan mencari pekerjaan lain?"tanya Liu Wen dengan serius.


"Sebenarnya saya ingin menjadi juru masak, sejak kecil saya suka memasak tetapi keadaan tak mendukung jadi saya hanya bisa menjadi gigoloo"


"Saya hidup untuk gigoloo ini takdir saya dari lahir"kata si cantik dengan bersemangat.


"kau bangga sekali dengan pekerjaan kotor ini"gumam Liu Wen, ia memalingkan wajahnya.


"Saya awalnya juga tak mau tapi pekerjaan ini cukup menyenangkan"seru Gubao.


"Emm... begitu... aku akan bebaskan kalian! Ini isinya 30 tael emas! Carilah pekerjaan lain kalau bisa"kata Liu Wen melempar 3 kantung berisi emas kepada mereka.


"Kenapa Permaisuri?"tanya Si cantik, ia nampak kecewa dengan keputusan Liu Wen.


"Apa Permaisuri takut Kaisar cemburu"katanya mendengus kesal.


"Emmm... mungkin... yahhh... kalian harus hidup lebih baik oke! Keretanya sudah siap"kata Liu Wen keluar dari kamar dan melambaikan tangannya.


"Akhirnya selesai!! Malam ini penjagaan longgar katanya Kaisar membawa beberapa pengawal kediaman Phoenix untuk Selir Chu!! Memang laki laki buaya"kata Liu Wen melipat tangannya didada dan berjalan cepat agar bisa mengemasi barangnya.


*****


"Apakah lulutmu masih sakit?"tanya Ibu suri dengan lembut.


"Iya masih sakit Ibu suri"isak Selir Chu, padahal lututnya hanya merah karena berlutut selama satu jam sisanya digantikan oleh pelayannya tetapi berkat bantuan Ibu suri dan tabib Wu yang mengatakan bahwa sendi Selir Chu ada yang bergeser itu membuat Ibu suri memaksa Kaisar melihat keadaannya.


"Ini sudah lebih dari dua jam Ibunda! Aku sudah menjengguknya! Aku pergi dulu"kata Kaisar, ia membungkuk dan hendak pergi.


"Apa kau mau menemui Permaisuri? Dia hanya bersandiwara saja berbulan bulan ini dan kau menjengguknya hampir setiap hari sedangkan Selir Agung yang benar benar sakit tidak kau perhatikan"kata Ibu suri, ia menyindir Kaisar dengan keras membuat Kaisar mengepalkan tangannya kesal.


"Ibunda tolong ingat batasan anda! Anda Ibu suri yang Agung dibandingkan Kaisar anda adalah orang yang paling dihormati di istana walau kedudukan anda lebih rendah dari Kaisar!! Jangan membuatku mencabut gelar itu dan membuat anda harus pergi keperbatasan negara dalam pengasingan"kata Kaisar dengan senyum paksa, ibunya itu sudah bertindak kurang ajar walaupun mereka ibu dan anak tetapi didalam aturan kerajaan. Saat ini Kaisar adalah orang yang paling dihormati. Semua orang harus memakai tata krama dalam berbicara dengannya harus tetap dijaga.


"Qin Xuan! Aku ibumu... ibu yang melahirkanmu! Bagaimana bisa kau berkata begitu"bentak Ibu suri tangannya gemetar mendengar kata kata putra kandungnya itu.


"Aku tahu kau Ibuku! Jadi bersikaplah selayaknya seorang Ibu bukan penguasa"kata Kaisar dengan dingin dan pergi begitu saja.


"Ibu suri.... anda baik baik saja"tanya selir Chu, ia bangun dari tidurnya karena mendengar keributan diantara Kaisar dan Ibu suri.


"Dia... anakku tak pernah berkata begitu! Wanita bar bar itu membawa pengaruh buruk untuk anakku"kata Ibu suri, ia menatap tajam dan memegang kepalanya.


"Saya akan pergi mengejar Yang Mulia"kata Selir Chu, berjalan dengan lamban untuk membuat kesan kaki yang sakit tentunya.


****


"Wen!!"teriak Kaisar dari jauh melihat Liu Wen berjalan dikoridoor kediaman Phoenix, Liu Wen menoleh dan menghampiri Kaisar.


"Yang mulia? Kenapa anda meninggalkan saya"kata selir Chu memeluk Kaisar dari belakang.


"Apa yang kau lakukan lepaskan aku!"kata Kaisar, ia berusaha melepaskan pelukannya tetapi Selir Chu malah memperkuat pelukannya.


"Wah.. wah! Kaisar memanggilku cuma mau memamerkan kemersaan?"tanya Liu Wen, malam ini dia sangat cantik dengan dihiasi cahaya bulan yang terpantul dari air kolam.


"Sebe..."


"Iya begitulah Yang Mulia Permaisuri, saya dan Kaisar saling mencintai"potong Selir Chu membuat Liu Wen sedikit tersentak.


"Ehmm... oke! Aku pergi dulu agar tidak akan menganggu kalian"kata Liu Wen saat melewati Kaisar dan Selir Chu tanpa disangka Selir Chu menjatuhkan dirinya dan memegang tangan Liu Wen sehingga keduanya masuk kekolam.


"Yang Mulia! Tolong aku!"teriak Selir Chu, ia berlagak tenggelam awalnya Kaisar ingin membantu Liu Wen tetapi melihat selir Chu yang sakit dan hampir tenggelam ia mengurungkan niatnya.


"Heh?! Dasar buaya pada akhirnya kau masih memilih orang lainkan bukan diriku, walaupun cuma teman ini cukup menyakitkan tahu"gumam Liu Wen didalam air sungguh airnya dangkal mungkin hanya sebatas dagu Selir Chu itu kenapa bisa tenggelam? Kaisar itu bodoh banget dikibulin mau pikir Liu Wen.


"Maaf aku tadi... lihat. "kata Kaisar, ia tersengal dan sedikit panik.


"Sudah. Aku bosan mendengar maafmu, dia pingsan kenapa kau tidak menolongnya??"kata Liu Wen tersenyum getir dan menunjuk Selir Chu yang berpura pura pingsan.


"Hmphh! Baiklah! Jika kau tidak mau biar aku yang urus"kata Liu Wen, ia tahu kalau Selir Chu hanya berpura pura.


'Plakk'


"Awww"ringis Selir Chu, ia yang berharap nafas buatan dari Kaisar namun yang didapat tamparan dari Liu Wen.


"Nah beres! Lain kali hati hati"kata Liu Wen berdiri dan pergi, ia juga tahu kalau tadi Selir Chu sengaja menariknya.


"Bereskan dirimu"kata Kaisar dengan dingin, ia langsung pergi kekediamananya.


"Hmphhh! Kau sudah melihat siapa yang unggul tadi!!"kata Selir Chu sambil memegang pipinya yang bengkak.


"Aku yakin si bar bar itu pasti marah melihat Yang Mulia lebih memilihku!!"senyum Selir Chu, ia berharap agar Liu Wen menyerah dan pergi sendiri dari istana.


*****


"Baik semua barang tadi sudahku pindahkan keluar tembok barat tinggal tunggu tengah malam, beberapa menit lagi"kata Liu Wen, ia sudah memakai pakaian pria dan menutupi wajahnya dengan cadar agar orang orang tak mengenalinya.


"Aduhh susah sekali naik keatas tembok dengan perut besar begini"kata Liu Wen, ia memanjat dengan penuh hati hati karena takut bayinya akan dalam masalah kalau ia tergesa gesa.


"Tu... tuan muda?"Kata Meng yang keluar kamarnya membawa teko dan melihat Liu Yichen dikoridoor sebelah barat.


"Hmm? Kau lihat siapa itu"kata Liu Yichen menunjuk kearah Liu Wen.


"Ahh!! Apa itu pembunuh bayaran"kata Meng sambil menutup mulutnya.


"Lihat lebih teliti"kata Liu Yichen menarik tubuh Meng didalam dekapannya.


"Deg deg"jantung Meng berdetak kencang.


*Baiklah aku harus fokus kesana bukan disini-batin Meng, ia mendongkakkan kepalanya sebentar melihat wajah Liu Yichen dari bawah.


"I..ituu Permaisuri! Apa yang beliau lakukan"kata Meng matanya terbelak saat sadar kalau itu adalah junjungannya.


"Dia mau kabur, ikuti dia dan tolong selalu kabari aku dimanapun dia berada dan apa yang dia lakukan satu bulan sekali setiap tanggal lima belas"ucap Liu Yichen tanpa melihat kearah Meng, ia terus memandangi kakaknya yang bersusah payah memanjat tembok.


"Ba... baik Tuan Muda walaupun anda tak memerintahkan saya! Saya tetap akan mengikuti Permaisuri kemanapun dia pergi"senyum Meng, ia langsung pergi menghampiri Liu Wen.


"Ayolah kakak gendutku! Perut sebesar itu masih berani beraninya panjat tembok untuk kabur"senyum Liu Yichen, dia tau maksud kata kata kakaknya tadi sore. Awalnya ia mau menghentikannya tetapi saat melihat Kaisar lebih memilih wanita lain membuatnya mendukung keputusan kakaknya.