I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
19. Teman Lama



"Heii!! Berhentilah memperlihatkan ekspersi kagetmu itu! Aku bosan melihatnya"kata Liu Wen selama tiga puluh menit ia memandangi wajah Rong Tian terkejut kaku.


"Ini sungguh membuat hatiku terguncang..... Kukira perjakaku akan diambil pria tua"kata Rong Tian hatinya sekarang sudah tenang. Ia duduk dan melihat kearah Liu Wen yang nampak cantik menggunakan hanfu putih.


"Aku juga tak menyangka mendapatkan Pangeran sebagai gigolooku..... Hahaha"tawa Liu Wen, ia menatap wajah Rong Tian dengan seksama, kulit putih wajah mungil dan tentu saja tampan membuatnya kadang terlena menatapnya.


"Ekhmm! Jangan katakan kepada siapa siapa!"


"Lagipula kau wanita bangsawan yang aneh! Mencari gigoloo sebagai hiburan?"kata Rong Tian dengan datar. Bisa bisanya ada wanita bangsawan tak bermoral seperti Liu Wen pikirnya.


"Terserah kau saja! Sana pergi aku membebaskanmu budakku!"seru Liu Wen, ia menendang Rong Tian dari ranjangnya.


"Budakk?!"nampak tiga guratan didahinya.


"Ya pergi sana!! Dari jendela belok kiri arah utara"kata Liu Wen mengibaskan tangannya.


"Aku Pangeran!!"teriak Rong Tian, ia mengatur nafasnya karena sangat kesal.


"Ya! Ya! Pangeran...."Liu Wen menyilangkan kakinya sehingga hanfu yang ia kenakan terbuka sedikit. Bagian pahanya pun terlihat membuat Rong Tian tersentak.


"Heii!!! Tubuhmu terlihat cepatt!! Benarkan pakaianmu!!"kata Rong Tian dengan gugup.


"Mmm? Hanya paha saja? Memangnya kenapa?"Liu Wen melirik kearah pahanya dan memiringkan kepalanya di era modren, ia selalu mengenakan rok dan jeans pendek bahkan saat berenang hanya pakai bikini lalu untuk apa ia merasa malu hanya karena sedikit bagian pahanya terlihat.


"Tidak tahu malu!!! Hanya suami yang boleh melihat bagian intim seperti itu!"kata Rong Tian wajahnya memerah karena melihat hal yang tak biasa.


"Heh? Suami? Kalau begitu kau sekarang sudah menjadi suamiku karena melihatnya atau kau mau aku menganggapmu teman tidurku saja?! Bagaimana?"tanya Liu Wen melihat wajah Rong Tian membuatnya ingin menggodanya.


"Ha,hah?! Sembarangan bicara ak..aku tidak! Aku... bukan gigoloo!"Rong Tian mengibas tangannya dengan cepat takut Liu Wen mendekat.


"Aku hanya bercanda! Lagi pula aku tak tertarik dengan bocah ingusan"kata Liu Wen menatap datar bocah didepannya itu.


"Bocah??"nampak tiga guratan didahi Rong Tian.


"Aku sudah berumur 17 tahun! Lagipula aku sudah mempunyai 50 selir tahu!"Rong Tian melipat tangannya didada.


"Sana pergi jangan menganggu tidurku besok aku mau menikah"kata Liu Wen dengan wajah datar.


"Apa! Menikah! Lalu! Kenapa kau masih membeli gigoloo?"tanya Rong Tian wajahnya pucat mendengar hal itu, ia tertarik dengan Liu Wen mendengarnya akan menikah membuatnya sedikit kecewa.


"Karena aku perlu mainan saat berada di Kediaman suamiku"Liu Wen menaruh jarinya dibibirnya dan tersenyum manis.


"Pergi sana!!!"kata Liu Wen yang langsung menendang Rong Tian keluar kamarnya.


*****


Gang belakang Kediaman Perdana Mentri Liu


"Uhh! Putri pertama sungguh kejam!!"Rong Tian mengelus bokongnya yang masih sakit karena tendangan Liu Wen.


"Tapi dia sangat cantik"wajah Rong Tian memerah saat mengingat wajah Liu Wen,


sepertinya ia menyukai Liu Wen.


"Siapa kau?"tanya seorang pria dari belakang ia menghunuskan pedangnya dileher Rong Tian.


"Pa...pa..paman!! Aku hanya orang biasa"jawab Rong Tian ia melirik pedang yang berada dilehernya.


"Lalu kenapa kau keluar dari kamar Liu Wen"kata pria itu ia semakin mendekatkan bagian tajam pedang kekulit leher Rong Tian.


"Paman! Kakak! Bro! Aku dibeli oleh wanita jahat itu! Huhuhu... Sial sekali hidupku!! "kata Rong Tian yang tiba tiba membalikan badan dan bersujud.


"Tian?"kata pria itu membuat Rong Tian mendongkakkan kepalanya.


"Kak Xuan? Huaaa!! Akhirnya kita bertemu setelah 10 tahun!"Rong Tian langsung memeluk pria itu yang ternyata Kaisar Qin.


"Kak Xuan! Guru merindukanmu! Kapan kau mengunjungi Perguruan Zixie lagi?"tanya Rong Tian kepada Kaisar Qin mereka adalah saudara seperguruan.


"Jika aku ada waktu. Aku sekarang seorang Kaisar"kata Kaisar Qin, ia menyimpan pedangnya itu kembali kesarungnya.


"Woahhh!!! Aku belum mendengarnya!"seru Rong Tian dengan antusias memang dari awal Qin Xuan akan ditetapkan sebagai Kaisarnya tetapi Rong Tian masih tak menyangka kalau kakak seperguruannya itu sekarang sudah menduduki jabatan tertinggi.


"Ya. Baru beberapa bulan ini"


"Apa maksudmu perkataanmu baruasan? Liu Wen membelimu?"tanya Kaisar Qin, ia penasaran kenapa Pangeran Ketiga Kekaisaran Rong mengatakan hal memalukan itu? Gigoloo? Dibeli?.


"Ekhmm...! Jangan bilang siapa siapa! Aku diculik pedagang manusia dan dijadikan gigoloo di Kekaisaran Qin!"kata Rong Tian sambil memalingkan wajahnya, ia sangat malu mengatakan hal ini.


"Pftttt.....! Hahahaha...... Seorang Pangeran Rong jadi gigoloo? Sudah berapa orang yang kau layani!"Kaisar Qin tertawa ia memegang perutnya karena tak tahan mengeluarkan suara tawanya.


"Diamlah!! Untung ada Putri Pertama yang membeliku walaupun dia menipuku dengan cara licik, ia tidak melakukan apa apa"kata Rong Tian dengan senyuman diwajahnya.


"Jadi dia sudah membeli gigoloo?"gumam Kaisar Qin nampak wajahnya berubah menjadi suram.


"Iya aku menyukainya"kata Kaisar Qin.


"Uhwukk....! Uhukk"Rong Tian terbatuk mendengar jawaban yang singkat itu.


"Sepertinya aku juga menyukainya!! Kakak Xuan mulai sekarang kita saingan cinta! Ehh.... tapi dia bilang akan menikah? Apa ini artinya kita akan kalah sebelum memulai perang?!"kata Rong Tian yang tiba tiba tersendat saat mengingat kata kata Liu Wen.


"Maaf Tian sepertinya hanya kau saja yang kalah.... Karena besok aku yang akan menikah dengannya"senyum Kaisar Qin, ia langsung pergi meninggalkan Rong Tian sendiri.


"Apaa....! Hei kak Xuan! Setidaknya kau katakan dulu apa yang terjadi! Lagipula kita sudah lama tak bertemu ngobrol ngobrol dulu lahh!"teriak Rong Tian dimalam yang dingin sudah seperti anjing yang menggonggong.


*****


Esoknya


"Nyam nyamm..... Ayam panggang"seru Liu Wen yang masih asik dengan mimpinya.


Buk Buk Buk


Suara dentuman pintu yang keras seperti ada orang yang menggetuk kasar pintu.


Brakkk


"Anak ini masih belum bangun juga ternyata"gumam Liu Whojin nampak tiga guratan didahinya, ia meminta ember berisi air yang sudah disediakan oleh pelayannya.


Byurrr


"Sial! Siapa itu bera..."umpat Liu Wen belum selesai mengumpat ia melihat ayahnya.


"Apa katamu?"wajah Liu Whojin sudah tak terekspresikan karena dia sangat marah mengetahui Liu Wen yang belum bangun.


"Tidak...tidakk... Ayahh. Aku ingin berkata selamat malam"senyum Liu Wen, ia kembali lagi tidur saat melihat hari masih gelap.


"Malam??! Wen'er!! Ini sudah pagi kau tahu para pelayan sudah menyiapkan kebutuhanmu dari jam tiga! Sedangkan kau bangun kesiangan!! Cepat bersihkan dirimu!! Satu jam lagi Kaisar akan datang!!"teriak Liu Whojin, ia menarik selimut Liu Wen agar ia cepat bangun dari tidurnya.


"Iya baiklah ayahh"kata Liu Wen dengan wajah cemberut.


"Meng.... Siapkan airnya! Aku akan menunggu"seru Liu Wen suaranya serak karena baru bangun. Ia berharap Meng lama menyiapkan air agar waktu tidurnya bisa bertambah sedikit.


"Sudah siap dari tadi Nona"kata Meng sambil menunduk.


"Eghh? Aku datang"Liu Wen berjalan gontai kearah kamar mandinya.


"Ayah akan kembali! Entah kenapa saat ayah pulang kau tidak seperti dulu?! Patuh dan penurut serta sangat berwibawa"gumam Liu Whojin yang agak heran dengan perubahan anaknya Liu Wen yang mendengar hal itu tersentak dan berbalik menatap ayahnya.


"Apa ayah membenci diriku yang sekarang?"tanya Liu Wen memecah keheningan.


"Tidak! Ayah menyukaimu yang sekarang sangat terbuka dan penuh ekspresif"senyum Liu Whojin, ia mengelus pucuk kepala anaknya.


"Dulu aku tak mendapat kasih sayang lebih dari ayah jadi aku berusaha menjadi anak yang baik. Sekarang aku sudah memiliki ibu dan Yichen jika ayah sibuk aku masih punya mereka"kata Liu Wen dengan mengibaskan tangannya.


"Dari kata katamu.... Kau seperti membuang ayah"senyum Liu Whojin. Ia berpikir sejenak mengartikan kata kata putrinya sebagai sebuah sindiran.


"Hehehe.... Aku mandi dulu!! Ayah tidak mau sampai telatkan? Jadi ayah pergilah!!!"kata Liu Wen mendorong ayahnya keluar dari kamarnya.


"Meng siapkan makanan setelah mandi aku mau makan"kata Liu Wen, ia membuka bajunya dan masuk kedalam bak mandi.


"Nona.... Menurut tradisi pengantin perempuan tidak boleh makan sampai acara selesai"kata Meng ia sudah belajar sedikit tata krama seorang bangsawan agar bisa mengingatkan majikannya, jika majikannya itu lupa atau sengaja melalaikan tugas dan tata kramanya.


"Apa!? Mereka mau menyiksaku!!!"lirih Liu Wen tubuhnya seketika lemas, ia pasrah saja saat wajahnya dirias tebal dan ditambah riasan kepala yang sangat berat.


"Meng! Apa sudah selesai?"tanya Liu Wen kepalanya berat serasa membawa batu.


"Sudah Nona! Anda terlihat cantik"kata Meng matanya berbinar melihat betapa cantiknya Liu Wen dimatanya.


"Baiklah kau keluar dulu aku harus melakukan sesuatu"kata Liu Wen dengan serius.


"Nona mau melakukan apa?? Biar saya bantu"kata Meng dengan bersungguh sungguh.


"Tidak! Tidak perlu! Ini sangat sulit dan hanya aku yang bisa melakukannya katakan kepada semua orang jangan masuk karena berbahaya..."kata Liu wen dengan sangat serius membuat Meng sedikit takut.


"Ba..baiklah Nona saya pastikan tidak ada yang masuk!"kata Meng ia mengangguk dan langsung pergi berjaga didepan kamar.


"Huu....! Ahirnya pergi juga. Ini lepas! Terlalu berat, ini juga riasan terlalu tebal! Standar orang kuno belum berkembang yahh!? Dassar orang kuno riasan mau nikah kok begini!!! Aku malah mirip pemain opera sabunkan!! Biar aku rias diri sendiri"gumam Liu Wen ia melepas satu persatu riasan yang sangat berat menurutnya dan menghapus make up tebal itu dan merias ulang wajahnya.


"Oke selesai!!! Dan ini!! Sisa makanan semalam"kata Liu Wen dengan antusias ia mengeluarkan kantung berisi kue persik dan buah apel.


"Sedih sekali harus makan makanan sisa!!"ia meratapi nasibnya selesai makan ia melakukan hal yang paling ingin ia lakukan, hal yang bisa membuat orang kehilangan nyawa jika membantunya.


"Baiklah! Saatnya tidurr"senyum Liu Wen yang langsung merebahkan badannya.


*Kehilangan nyawa? Berbahaya?Hahahaha.... Aku cuma mau tidurr-batin Liu Wen tanpa dosa sedikit pun ia langsung terbaring diranjangnya tak berapa lama matanya yang terasa berat dari tadi menutup sepenuhnya.