I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Jadi Ayah?



Esok Hari


"Hei kakek tua kau yakin tak membunuh ayahku kan?" tanya Ri Won sekarang ia berada dipenjara bersama kakeknya.


"Tentu saja. Jika aku ingin membunuhnya, sudah lama aku melakukannya" kata Jendral Hwang, ia duduk sambil melipat tangannya.


"Oeee oekk..." tangis bayi pecah tangisan itu berasal dari penjara sebelah.


"Maaf ya Seok In... Kamu jadi masuk penjara karenaku" kata Hwang Byun In, ia adalah paman Ri Won anak dari adik Jendral Hwang.


"Itu bukan salahmu! Aku yakin paman juga tak salah! Jika takdir kita mati hari ini. Aku dan Seok In tak akan menyalahkan kalian" kata Ae Rim, ia adalah istri Hwang Byun In.


"Kalian tenang saja. Kita tak salah. Seok In pasti hidup sampai ia besar dan tumbuh menjadi kuat seperti sepupunya" kata Jendral Hwang, ia melirik Ri Won yang sedang berpikir keras.


"Siapa yang berani melakukannya? Ayahanda... aku bahkan tak bisa menemuinya untuk meminta maaf" gumam Ri Won, ia ingat pertemuan mereka yang terakhir saat itu ia sangat marah kepada Raja Nam Wok bahkan setelah kejadian itu ia tak mau bertemu dengannya.


*Sepupuku masih kecil bahkan ada yang masih bayi. Apa mereka benar benar akan melenyapkan mereka semua-batin Ri Won, ia harus mengambil tindakan agar bisa menyelamatkan keluarganya ibunya ini.


"Semuanya dipanggil untuk menjalankan sidang! Saya harap Jendral Hwang dan keluarganya mau mengikuti saya ke sidang istana" kata pengawal itu Jendral Hwang dan keluarganya pun mengikuti kata kata mereka dan bersikap tenang seperti biasa. Mereka tak merasa takut karena tak bersalah.


"Stsss lihat itu para pembunuh!"


"Pangeran Ri Won juga?"


"Tentu saja! Dia pasti yang menyuruh kakeknya membunuh Raja Nam Wok agar naik tahta"


"Benar juga kan akhir akhir ini Raja Nam Wok sangat sayang Pangeran Woo Rin"


"Pasti dia iri dengan adiknya"


"Tidak disangka sampai tega membunuh ayahnya sendiri" kata para Pejabat Istana mereka berbisik dan menghujat Ri Won serta keluarga Hwang karena memberontak dan membunuh Raja Nam Wok dengan keji. meskipun didalam hati mereka.... mereka sangat senang dengan kematian Raja bodoh itu.


"Aku akan menjadi hakim disini" kata Lim Hari karena Raja sudah tiada maka kekuasaan sementara dipegang olehnya.


"Semua bukti dan saksi sudah mengarah kepada anda Jendral Hwang. Apakah anda tahu apa hukuman bagi seorang pengkhianat?" kata Lim Hari, ia tersenyum puas akhirnya keluarga yang paling berkuasa ini berada diambang pintu kematian.


"Tentu saja saya tahu Yang Mulia Ratu. Dibandingkan dengan anda yang seorang anak pelayan dan mantan Selir. Tentu saja pengetahuan saya lebih luas" kata Jendral Hwang, ia tak takut mengatakan hal itu karena jika ia memohon untuk dibebaskan itu akan membuat Lim Hari semakin senang.


"Ckk!! Saat pesta perayaan anda! Anda mengarahkan pedang kearah Yang Mulia! pedang yang sama ada di ruangan Yang Mulia tadi malam?! Bagaimana anda bisa mengelak lagi"


"Sesuai peraturan istana seluruh keluarga pemberontak harus dihukum mati!" teriak Lim Hari membuat semua Pejabat setuju. Para pengikut Jendral Hwang tak berani angkat bicara karena takut disangka berkomplotan dengan pemberontak.


"Tapi Pangeran Ri Won bukanlah keluarga inti Jendral Hwang" kata Kaisar Ryuji ia memasuki ruang sidang.


"Salam Yang Mulia Kaisar" kata para pejabat mereka lupa kalau Kaisar Ryuji masih menjadi tamu di Joseon. Walaupun tak sebesar dan semenakutkan Qin. Kekaisaran Kou juga salah satu Kekaisaran terkuat di dataran Nippon kala itu.


"Bagaimana kalian bisa menjelaskan kepada Putri Yiwei saat ia bangun suaminya sudah meninggal?"


"Lagi pula Pangeran Ri Won bersamaku tadi malam sebelum akhirnya kembali ke kediamannya" seru Kaisar Ryuji, ia mengepalkan tangannya karena tak bisa membela Ri Won terang terangan. Opini rakyat akan buruk memandang Ri Won yang dianggap berlindung dibawah kekuasaan Kaisar Ryuji dan Qin.


"Itu benar. Yang Mulia Pangeran tidak bersalah" kata Penasehat Lim, ia menyuruh Lim Hari untuk menyetujui kata katanya.


"Bebaskan Pangeran! Dia adalah anggota kerajaan. Tidak ada hubungannya dengan keluarga Hwang" kata Lim Hari, ia menatap wajah Ri Won dengan tatapan tajam.


"Karena akan diadakan pemakaman Raja hari ini! Besok kita akan melaksanakan hukuman mati! Dan hukumannya adalah hukum penggal didepan seluruh rakyat!" teriak Lim Hari, ia berdiri dan menyudahi sidang hari ini meski agak kesal dengan keputusan ayahnya ia tetap puas melihat kehancuran keluarga Hwang.


********


Balai Keamanan


"Itu mustahil! Saya yang terakhir kali bertemu dengan Yang Mulia Raja! Jadi tidak mungkin Jendral yang membunuh beliau" kata Yong ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Padahal baru beberapa menit ia meninggalkan Raja Nam Wok lalu tiba tiba berita kematian Raja menyebar luas.


"Ya itu memang benar. Tidak mungkin kakek melakukan hal ini lalu siapa dalangnya?" kata Ri Won, ia cuma bisa menebak kalau ayahnya dibunuh oleh Penasehat Lim dan mungkin Lim Hari.


"Jangan khawatir tentang penasehat Lim. Aku sudah mendapatkan data yang diperlukan untuk menjatuhkan Penasehat Lim, Ratu Hari dan Pangeran Woo Rin" kata Kaisar Ryuji, ia mendekati Ri Won yang terlihat kebinggungan.


"Kita bisa menaruh tuduhan itu sekaligus menjatuhkan mereka! Jika ini diperlihatkan disidang besok orang akan berpikir mereka membunuh Raja untuk menjadikan Pangeran Woo Rin sebagai Raja selanjutnya" seru Kaisar Ryuji.


"Buktinya bisa kita buat sendiri atau membayar orang sebagai saksi"


"Itu ide yang bagus Yang Mulia Kaisar" kata Yong, ia sudah membawa bukti kejahatan Penasehat Lim kepada Raja Nam Wok tadi malam tetapi karena ada kejadian ini. Ia tak bisa mengambil bukti itu lagi dan sepertinya bukti itu sudah tak ada lagi di Istana Raja.


"Bagaimana Pangeran? Apa kau setuju!?" tanya Kaisar Ryuji kepada Ri Won yang nampak diam saja.


"Tidak.... aku tak mau adikku dalam bahaya! Penasehat Lim dan Ratu Hari bisa dihukum penjara seumur hidup saja" kata Ri Won sebelum akhirnya pergi dari sana sebentar lagi akan dimulai upacara pemakaman ayahnya.


"Itulah alasanmu selalu kalah duluan Ri Won" kata Kaisar Ryuji.


"Cintamu kepada adikmu mengalahkan akal pikiranmu" lanjutnya karena terlalu sayang kepada Woo Rin, ia tak mau melakukan rencana yang akan menguntungkannya itu.


****


Kediaman Pangeran Pertama


"Pangeran?? Untunglah anda kembali dengan selamat!" kata Kepala Dayang Dan ia berjaga didepan pintu kamar Anna.


"Hmm... Semuanya berkat doa Kepala Dayang Dan" kata Ri Won, ia tersenyum dan hendak masuk.


"Jangan Yang Mulia! Putri sedang tidur!" cegah Kepala Dayang Dan, ia menghalangi jalan Ri Won yang hendak masuk kekamar.


"Ehh...? A..aku hanya ambil baju kok tidak akan membangunkannya" kata Ri Won, ia kaget karena tiba tiba Kepala Dayang Dan menutupi pintu dengan tubuhnya.


"Biar saya carikan baju baru untuk ke pemakaman Yang Mulia Raja" kata Kepala Dayang Dan dengan susah payah Anna tertidur lelap meski sudah memakai obat penenang, Anna sering kali terbangun dan hendak pergi mencari Ri Won.


"Ke..kenapa?" tanya Ri Won, ia merasa sedikit aneh dengan tingkah Kepala Dayang Dan yang sangat sensitif.


"Putri hampir saja keguguran jadi beliau harus lebih banyak istirahat" kata Kepala Dayang Dan dengan sedikit berbisik, ia mendengar pergerakan dari dalam mungkin Anna terganggu dengan suaranya dan Ri Won.


"Oh begitu ba..." Ri Won mengangguk dan pergi dari sana.


"Apa?" ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kepala Dayang Dan.


"Hampir keguguran? Ma..maksudnya Yiwei sedang mengandung saat ini?" tanya Ri Won dengan antusias.


"Ternyata anda juga tidak tahu ya... Haaahh... apa alasan Putri merahasiakannya ya?" gumam Kepala Dayang Dan.


"Aku akan jadi ayah!" kata Ri Won, ia melamun tak percaya sambil mengulangi kata kata itu.