I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
62. Wanita Kasar



"I...ini terlalu cepat!! Dia kira siapa dirinya itu!!"gerutu Liu Wen dengan gugup, dengan cepat ia mengeringkan rambutnya.


"Wakil Presdir... maukah kau menikah denganku!!! Aishhh! Omong kosong"cibir Liu Wen ia mengikuti gaya bicara Presdir Mike.


"Lebih baik aku tidur..."Liu Wen memghempaskan tubuhnya ke kasur, berusaha memejamkan matanya dan tak lama tertidur nyenyak.


"Anna... kau masih bangun?"tanya Aiden ia terjaga mendengar ocehan Liu Wen.


"Hmmm"kata Anna tanpa berbalik.


"Kau dengar juga yang barusan?"tanya Aiden.


"Ehmm... ada yang melamar mami"kata Anna, ia sedikit kecewa jika ibunya menikah dengan pria lain.


"Apa kita harus membantu paman itu?"tanya Aiden, sebenarnya ia tak suka ada orang lain yang masuk ke lingkaran keluarga kecilnya tetapi melihat reaksi ibunya sepertinya ia menyukai pria itu dan ingin menikah dengannya.


"Entahlah! Aku masih ingin melihat papi dan mami bersama"kata Anna, ia tak berbicara lagi sesudah itu.


*Mari kita lihat dulu seperti apa orang yang berani melamar mamiku-batin Aiden, ia mengambil ponsel milik Liu Wen dan membuat janji dengan Presdir Mike.


"Selesai! Kita lihat bagaimana orang itu"kata Aiden ia menaruh ponsel Liu Wen dinakas dan melanjutkan tidurnya.


*******


Villa Keluarga Su


"Ada apa dengannya"gumam Presdir Mike, ia binggung karena Liu Wen marah padanya padahal ia benar benar serius melamarnya. Karena gelisah akhirnya Presdir Mike memutuskan untuk menelfon Lewis.


"Hallo ada apa Mike? Ini sudah tengah malam.... jangan ganggu aku"kata Lewis, ia menguap karena tidurnya terganggu oleh deringan ponsel.


"Aku ingin bertanya"kata Presdir Mike sepertinya Lewis orang yang tepat untuk ditanyai karena ia sudah menikah dan hanya Lewis teman yang Presdir Mike punya.


"Besok saja... aku ngantuk"kata Lewis, ia mematikan sambungan telfonnya, tak lama ada pesan masuk.


*Mematikan sambungan telfon atasan potong gaji 50% *tererah disitu nama Mike sang pengirim.


"Astaga.... sial sekali aku!! Dieksploitasi atasan!! "isak Lewis, ia menampar pipinya agar kesadarannya pulih dan segera menghubungi Presdir Mike.


"Hallo Presdir... ada yang bisa kubantu?"tanya Lewis dengan nada yang sangat lembut.


"Bagaimana cara melamar seorang wanita?"tanya Presdir Mike secara langsung, ia tak suka basa basi.


"Siapa yang mau kau lamar"kata Lewis memijit pelipisnya kepalanya berdenyut nyeri karena bangun ditengah malam.


"Liu Yifei"kata Presdir Mike dengan singkat.


"Hah? Secepat ini? Itu akan membuatnya terkejut!"Lewis tak percaya ternyata Liu Wen orang yang ingin dilamar Presdir Mike, apa temannya ini tak pernah tahu peraturan melamar yang baik dan benar.


"Tadi sudahku lamar dia lewat telfon tetapi dia marah"kata Presdir Mike dengan sungguh sungguh, ia benar benar ingin tahu bagaimana cara untuk menikahi Liu Wen.


"Prff.... melamar lewat telfon, bhahahaha"tawa Lewis pecah karena apa yang baru dia dengar ini sangat lucu.


"Menertawakan atasan tak digaji selama sebulan"kata Presdir Mike, alisnya berkerut karena tawa mengejek Lewis.


"Oke oke kau bossnya! Akan kuberi sebuah saran yang berguna. Ingat ini kau pasti bisa menaklukan Fei. Dia itu tipe cewek yang suka bermain tapi tak mau menjalin ikatan, pertama kau harus...."Lewis memberi semua saran yang ia lakukan dulu saat melakukan pendekatan dengan istrinya.


"Apa ini akan berhasil..."tanya Presdir Mike dengan ragu.


"Tentu saja, aku adalah bukti nyatanya"kata Lewis dengan bersemangat.


"...."Presdir Mike langsung mematikan sambungan telfonnya dan ingin menelfon Liu Wen lagi tapi siapa sangka Liu Wen mengirimnya pesan.


*Ayo bicarakan hal ini besok, cafe Gardliva.


"Hoo... dia bergerak duluan?! Apa dia menyesal menolakku tergesa gesa tadi"kata Presdir Mike, ia tersenyum miring melihat pesan itu saat pertama kali melihat Liu Wen yang sedang asik bekerja tanpa lelah membuatnya penasaran akan dirinya.


*****


Paris, 12 tahun yang lalu


Udara dingin menyelimuti kota romansa ini, membuat seorang pria yang duduk di kursi paling ujung cafe menggosok tangannya.


"Hei..hei Fei!! Apa kau akan membawa robot itu kemana mana terus"protes Lewis, mereka mendapat proyek kerjasama pembangunan jembatan pintar di Paris tetapi saat dijalan Liu Wen memungut robot rusak dikotak sampah dan berusaha memperbaikinya sepanjang jalan.


"Diam! Atau kupukul kepalamu!"kata Liu Wen, ia masih sibuk dengan robot itu.


"Kasar sekali! Dasar wanita kasarr!! Dengar ya tak ada pria yang mau dengan wanita kasar"gumam Lewis, ia kesal karena menjadi pusat perhatian di cafe, ya robot yang dibawa Liu Wen sangat bau.


"Sudahku bilang diamlah, Lewis"Liu Wen memukul kepala Lewis lagi karena kesal.


"Hmhh? Orang Tiongkok"gumam Presdir Mike melihat Liu Wen mengingatkannya akan sosok ibunya yang juga berasal dari Tiongkok.


"Aku harus bekerja keras, jika tidak bekerja apa yang harus kumakan"kata Liu Wen yang masih sibuk memperbaiki robot itu.


"Heh? Nona Besar Liu, kau kan anak orang kaya! Ayolah tinggal minta uang saja jika mau makan!"


"Lagipula robot itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan"gumam Lewis diakhir kalimatnya.


"Yang kaya itu ibuku bukannya aku! Ibu memperlakukanku dengan baik selama ini tetapi apa yang aku lakukan untuknya? Aku ingin menghasilkan uang sendiri dan memberinya uang di masa tuanya, hitung hitung balas budi"kata Liu Wen, ia menatap temannya dengan serius.


"Jika robot ini? Aku cuma kasihan melihatnya sendiri dikotak sampah, dia sama sepertiku"


"Kami hanya sendiri, kesepian, tidak punya siapa pun, tapi.... aku bersyukur, karena beginilah caraku untuk bahagia dan menikmati hidup"sambung Liu Wen kata kata itu sangat melekat dihati Presdir Mike, ia yang selalu murung dan tak mau membuka diri karena masalah keluarga sampai tak mau melangkah kedepan dan menghabiskan waktu untuk merenung dicafe.


*Mengetahui kebenaran bahwa aku bukan anak kandung ibu membuatku merasa marah dan pernah jadi begitu kasar kepada ibu dan kakak-batin Liu Wen, saat itu ia masih muda mendapat berita mengejutkan seperti itu tentu saja membuatnya sempat merasa sangat asung dengan Mia Liu dan Liu Zhiwan kakaknya.


*Apa hubungannya-batin Lewis lagi lagi Liu Wen mengatakan hal yang tak ada kaitannya.


"Benar... itu benar diluar sana mungkin banyak orang yang masalahnya lebih berat dari pada masalahku! Kenapa aku begitu bodoh dan menghabiskan waktu begini"gumam Presdir Mike, ia tak mau mengambil alih perusahaan ayahnya dan malah bekerja diperusahaan lawan karena ingin balas dendam kepada ayahnya.


"Jika ada orang yang mendengar hal ini kau akan disangka biksu..."kata Lewis ia mengejek Liu Wen karena kesal Liu Wen memukul kepalanya.


"Kita di Paris siapa yang tahu, isi cafe ini bule semua"kata Liu Wen, ia menunjuk seluruh pengunjung yang ada disana.


"Sangat kasar, mirip mama"kata Presdir Mike matanya berbinar melihat tingkah Liu Wen.


Beberapa tahun kemudian Lewis mengajukan diri bekerja di De Zure saat mengetahui hal itu Presdir Mike diam diam mendekati Lewis, siapa sangka Lewis berpikir untuk menjodohkannya dengan Liu Wen, membuat pekerjaan halusnya tak diketahui.


******


Esok hari


"Ehhh... anak siapa ini"tanya Su Zheji, ia baru saja membeli kopi disamping Grup Su.


"Nyonya... bisa beritahu aku dimana Cafe Gardliva"tanya Aiden, ia membawa tas kecilnya dan mengandeng Keyzee, pagi ini Keyzee tak mau lepas darinya jadi terpaksa ia mengajaknya.


"Hoo... baik baik akan kuantar. Wajahmu ini sangat mirip putraku saat masih kecil"kata Su Zheji, ia seperti melihat putranya versi rambut hitam.


"Sungguhkah? Bearti putra Nyonya sangat tampan sama seperti kakakku"kata Keyzee tangannya bergoyang kesana kemari minta digendong oleh Su Zheji.


"Kau pintar memuji. Siapa namamu gadis kecil?"tanya Su Zheji, ia gemas melihat tingkah Keyzee.


"Keyzee Liu"jawab Keyzee sambil berteriak.


"Key gadis kecil yang pintar..."kata Su Zheji, ia mengajak Keyzee bermain disepanjang jalan.


"Sudah sampai, biarku antar sampai ke dalam"kata Su Zheji, ia mengelus kepala Aiden sambil tersenyum manis.


"Tidak perlu, terima kasih Nyonya"kata Aiden, ia menunduk hormat untuk berterima kasih.


"Key masih mau digendong"kata Keyzee mempererat pelukannya.


"Key!"Aiden memicingkan matanya membuat Keyzee takut.


"Sudah sudahhh tidak apa biar kuantar sampai kedalam ya? "kata Su Zheji, ia masuk menuju kedalam cafe bersama.


"Kakak Aiden dewasa"teriak Keyzee menunjuk seseorang.


"Xuan?"kata Su Zheji melihat putranya duduk dikursi paling pojok cafe.


"Xuan?"tanya Aiden, nama ini sepertinya pernah ia dengar disuatu tempat.