I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
37. Pria Tua itu Istriku



Istana Utama


"Selir Chu, malam ini anda berdandan? Apa Yang Mulia Kaisar akan bermalam disini?"tanya Selir Hui, ia melihat Selir Chu sedang duduk ditaman istana utama sambil merapikan rambutnya.


"Tentu saja, sekarang aku adalah satu satunya Selir Agung yang bermalam dengan Kaisar! Xiao Ju Hee masih kecil Yang Mulia Kaisar tak mau menyentuhnya saat berusia 17 tahun baru ia akan bermalam dengan Kaisar"ujar Selir Chu, ia melipat tangannya didada merasa bangga karena jadwal bermalamnya yang paling banyak diantara para Selir.


"Walau aku bukan Selir Agung lagi, aku juga bermalam dengan Kakak Xuan. Kita lihat saja siapa yang akan hamil duluan dan memiliki seorang putra"kata Selir Hui, ia memajukan kepalanya dan menatap Selir Chu dari dekat.


"Hpmh!! Jadwal bermalamku yang paling banyak tentu saja aku yang hamil duluan"Selir Chu mencengkam dagu Selir Hui.


"Prffff.... kita lihat saja nanti"kata Selir Hui, karena kesal Selir Chu langsung meninggalkanya dan hendak kembali ke Kediamannya.


"Ckk!!! Tak bisa dibiarkan!! Cuma putraku yang akan jadi Putra Mahkota tidak boleh yang lain!"gumam Selir Chu, ia mengigit kukunya karena kesal.


"Adik sedang apa kau disini?"tanya Selir Bai mendekat kearah Selir Chu.


"Ka...kakak Bai?"Selir Chu mengalihkan pandangannya kedepan dan melihat sosok Selir Bai dan seorang wanita lagi.


"Kau? Selir Tang kan"tanya Selir Chu sambil menaikan satu alisnya.


"Ya.... kenapa kau tak memberi hormat kepadaku?"tanya Selir Tang, ia menatap remeh Selir Chu.


"Aku? Posisimu saja lebih rendah dari anjingg! Kenapa aku harus memberi hormat?"kata Selir Chu dengan sombong itu memang benar bukankah saat ini gelar Selir Tang sudah dicabut.


"Ahh!! Aku menamparku!!"teriak Selir Chu, ia memegang pipinya yang panas karena mendapat tamparan dari Selir Tang.


"Kau lancang kepadaku! Gelarku dikembalikan oleh Ibu suri! Aku Selir Kehormatan Tang! Jabatanku satu tingkat dibawah Permaisuri dan jalangg dari kediaman Liu itu sudah kabur!! Sudah pasti aku yang akan berkuasa"kata Selir Tang, ia mendorong Selir Chu sampai jatuh ketanah.


"Kau..."baru saja ingin melawan, kata katanya tertahan oleh Selir Bai.


"Selir Kehormatan Tang, tolong maafkan adik Chu, dia tak sengaja menyinggung anda"kata Selir Bai, ia berlulut maaf untuk saat ini ia hanya bisa bergantung kepada Selir Tang yang memiliki jabatan yang tinggi.


*Aku masih membutuhkan Chu Nuan, karena gelarku belum dikembalikan, untuk saat ini aku harus memanfaatkannya dan melanjutkan sandiwara teman yang baik-batin Selir Bai dia tak benar benar tulus berteman dengan Selir Chu, begitu pula sebaliknya.


"Kakak Bai kenapa kau berlulut didepannya!"kata Selir Chu, ia menarik Selir Bai agar berdiri.


*Cihh! Orang bodoh ini kenapa berlutut segala demi membantuku-batin Selir Chu.


"Aku maafkan dia kali ini karena kau sering membantuku di Istana Dingin, aku mau kembali ke Kediamanku! Sebaiknya kau kembali ke Istana Dingin, jika Yang Mulia melihatmu dia akan marah"kata Selir Tang, ia langsung pergi kembali kekediamannya yang lama tak ia tinggalkan itu.


*Jika ayah tidak memberikan desa perbatasan itu kepada Ibu suri mungkin aku akan berada di Istana Dingin lebih lama lagi-batin Selir Tang seperti biasa Ibu suri meminta sesuatu sebagai alat ditukar untuk kebebasannya.


*****


"Apa Tuan sudah bangun?"tanya Meng kepada Kaisar yang baru saja membuka matanya.


"Makanlah ini... sepertinya Tuan lapar" Meng menunjuk mangkuk berisi bubur yang berada dimeja sebelah Kaisar.


*Dia? Bukankah pelayan Wen'er?-batin Kaisar, ia melihat Meng dengan serius walau banyak perubahan diwajah Meng karena make up Kaisar masih mengenalinya.


"Terima kasih.... dimana wanita satu lagi?"tanya Kaisar, ia masih berpura pura tak mengenali siapapun disini.


"Ahhh!! Teman saya sudah pulang kerumahnya"kata Meng dengan ragu kenapa pria ini menanyakan Liu Wen pikirnya.


"Kemana dia pergi? Katakan padaku!"Kaisar langsung bangun dan mencengkam erat bahu Meng.


"Ekhemm! Apa yang kau lakukan! Putriku kesakitan"kata Liu Wen mengganti penyamarannya menjadi Tuan Yu.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu siapa kau? Dari nada bicaramu sepertinya kau orang yang memiliki latar belakang yang tak biasa"kata Liu Wen, ya dia sangat berhati hati semenjak terakhir kali ditipu Kaisar yang dulunya seorang Putra Mahkota.


"Aku... aku dulu seorang pengawal Kaisar tetapi sudah berhenti karena adikku yang berada didesa sedang sakit"kata Kaisar, ia tak bisa membuka identitasnya kepada orang luar.


*Pantas saja sepertinya aku pernah melihat wajahnya-batin Liu Wen.


"Ohh... kenapa kau berada di Pasar Bangsawan kemarin malam? Apa kau pergi untuk melihat festival lampion sedangkan adikmu sendiri didesa begitu"tanya Liu Wen karena masih tak percaya.


"Ah... aku... ehh anda tahu dari mana kalau saya berada disana? Bukankah putrimu dan temannya saja yang membantu saya kemarin"tanya Kaisar, ia mengalihkan pembicaran dan secara refleks berkata sopan.


"Ah... itu... kan putriku yang menceritakannya!"jawab Liu Wen dengan gagap padahal pertanyaan yang mudah tetapi ia takut ketahuan.


"Ayo!! Liansu kita pergi!! Kau juga pergi dari sini kalau sudah makan dan ambil uang itu untuk makan adikmu"kata Liu Wen menarik tangan Meng pergi kesisinya.


"Tunggu... dimana wanita satunya saya ingin berterima kasih padanya"kata Kaisar menggunakan alasan lain agar tak timbul curiga.


"Dia sudah pulang ke desa Qi dekat perbatasan antara kekaisaran Qin dan Tang"kata Liu Wen, ia mengarang cerita agar laki laki yang baru ditemuinya itu tak menanyakan tentang dirinya lagi.


*Wen'er... kau meninggalkanku lagi-batin Kaisar, ia sedih karena Liu Wen pergi lagi tetapi setidaknya ia tahu dimana Liu Wen sekarang.


"Anda siapa? Saya akan mengingat anda atas bantuanmu ini"kata Kaisar, ia juga ingat tentang pelayan istrinya yang memakai barang bagus dan tinggal dirumah mewah begini siapa sebenarnya dia.


"Panggil saja Tuan Yu, pedagang pendatang baru dikekaisaran Qin dan ini putriku Yu Liansu"kata Liu Wen memperkenalkan dirinya dan Meng saat itu tak ada kecurigaan darinya karena kulit hitam serta rambut putih itu membuatnya sangat tak mirip dengan Kaisar Qin.


"Pemilik Kediaman Giok?!"tanya Kaisar, ia tersentak ternyata orang ini yang sering dibicarakan para Kasim di Istana, kekayannya yang banyak dan pemilik Kediaman Giok yang disebut sebagai istana kedua di Kekaisaran Qin.


"Hmm...."jawab Liu Wen dengan singkat ia langsung pergi dari kamar.


"Dia putri pedagang terkaya di Kekaisaraan Qin? Lalu kenapa dia menjadi pelayan?"gumam Kaisar sepertinya ada yang tak beres, ia memutuskan untuk mengikuti Liu Wen dan Meng.


Kamar Utama Kediaman Giok


"Liansu kau harus hati hati.... dia seorang prajurit Istana seharusnya kita tak membawanya"kata Liu Wen jika orang itu mengenalinya entah bagaimana nanti nasibnya harus dipaksa kembali ke istana.


"Maafkan saya"kata Meng, ia menunduk merasa bersalah.


"Sepertinya tak ada yang aneh"gumam Kaisar, ia mengintip dari balik jendela.


"Sudahlah tidak perlu merasa bersalah"kata Liu Wen memegang pucuk kepala Meng.


"Bantu aku melepaskan pakaian ini, cuaca hari ini sangat panas"kata Liu Wen, ia melepas pakaian luarnya, karena memakai baju pria dan memakai jenggot serta sedikit make up untuk membuat kerutan membuatnya merasa tak nyaman.


"Baik Yang Mulia"kata Meng dengan antusias.


"Yang Mulia?"gumam Kaisar sepertinya memang ada yang tak beres kecurigaannya ternyata benar.


"Liansu?! Hah... sudahlah tak apa kita cuma berdua, Meng bawa ini"kata Liu Wen dengan menggunakan suara aslinya, ia melepas semua pakaiannya dan menyisakan hanfu dan sebuah bantal besar.


"Apa... dia masih muda"Kaisar terkejut melihat Liu Wen yang melepas pakaiannya itu dari belakang.


"Baik Permaisuri"kata Meng sambil melepas jenggot palsu serta make up diwajah Liu Wen.


"Permaisuri? Wen'er!!!"kata Kaisar didalam hati, hatinya berdebar melihat wajah Liu Wen dan penampilannya sekarang yang sangat sexsi.


"Pria tua tadi... istriku?"kata Kaisar, ia terkekeh mengetahui hobi Liu Wen yang menyamar sebagai pria tua, hatinya kembali tenang pantas saja tak bisa ditemukan, Liu Wen memakai cara licik ini dengan menyamar sebagai pria tua yang kaya.