
"Ehmm? Apa mereka sedang dalam masalah?"tanya Liu Wen yang khawatir, sudah lama ia tak bersama anak anaknya membuat perasaannya campur aduk.
"Semoga saja tidak ada masalah..."gumam Liu Wen, ia menyatukan tangannya dan menutup matanya seperti sedang berdoa.
"Hei Xuan... anak anak kita sudah berusia 5 tahun lho"kata Liu Wen ia tersenyum hangat saat mengingat Kaisar.
"Kau itu pria yang paling bodoh yang pernah aku temui! Untuk apa melindungiku sampai kau tertusuk begitu! Walaupun gerakanku lambat aku masih bisa menghindar"gerutu Liu Wen, ia kesal karena Kaisar seenaknya saja menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng.
"Tetapi setidaknya kau selalu ada untukku disaat aku sedang mengandung.... itu membuatku senang"gumam Liu Wen pipinya memerah ternyata Kaisar sengaja menyembunyikan identitas agar bisa bersama dengannya setiap saat.
"Aku... menyukaimu... aku mohon jangan mati saat aku kembali ke era Kekaisaran"lirih Liu Wen walaupun sangat menjijikan entah kenapa dia suka mengatakan hal itu.
"Walaupun itu tidak mungkin... aku saja tidak tahu bagaimana cara untuk datang kesana! Kemarin Roh itu yang memaksaku datang kesana dan sekarang tugas balas dendam kepada ibu tiri dan adik tirinya sudah selesai. Apa itu sebabnya aku bisa kembali lagi ke era modren?"gumam Liu Wen selama lima tahun, ia menyusuri daerah tempat ia kecelakaan dulu tetapi tak ada satu pun petunjuk, jika jurang sebagai pintu masuk ke era Kekaisaran yang disebut sebut ibunya, itu lebih tak mungkin karena dasarnya saja kelihatan dan tak terlalu dalam.
"Jika memang begitu setidaknya aku pulang dengan keadaan masih single dong! Jangan sudah menikah dan memiliki anak"rutuk Liu Wen, ia mengumpat karena kesal kenapa roh itu tak pernah datang lagi.
"Mama... bibi itu bicara sendiri"kata seorang anak yang lewat didepan Liu Wen.
"Abaikan saja mungkin dia sudah tidak waras"kata Ibunya terus menarik tangan anaknya untuk berjalan.
"Mhmm...! tapi aku tak pernah menyesal karena mereka semua imut sepertiku"kata Liu Wen memandang foto anak anaknya, setidaknya itu menjadi penyemangatnya dikala lelah bekerja.
"Maafkan mami tak bisa mempertemukan kalian dengan ayah kandung kalian..."lirih Liu Wen, ia mengelus pelan foto anak anaknya yang tertawa dengan girang menampilkan gigi giginya. Tanpa sadar air mata yang berjatuhan.
"Mami? Apa yang kau katakan?"tanya Jake kini mereka sudah ada didepan Liu Wen.
"Mami rindu kalian"kata Liu Wen memeluk kelima anaknya, ia mengusap air matanya dengan cepat.
"Key juga rindu mami"kata putri bungsunya.
"Ayo kita ke Mall!! Hari ini kita belanja dan main sepuasnya"kata Liu Wen membuat semua anaknya bersemangat.
"Yeayy!!"kata mereka dengan serempak.
****
Villa Keluarga Liu
"Ada apa ini sibuk sekali"tanya Liu Wen saat masuk kedalam rumahnya banyak sekali para pekerja.
"Hmm? Sudah pulang? Ini sudah malam! Apa kalian main dulu tadi"tanya Mia Liu melihat anak dan ibu yang baru masuk kedalam rumah dengan banyak paper bag ditangan.
"Ahh iya... begitulah"kata Liu Wen sambil memegang tengkuk lehernya.
"Nenek! Nenek! Kami tadi bermain sangat banyakk"kata Keyzee, ia tak berhenti bercerita kepada sang nenek.
"Oh ya? kalian mandi dan bermainlah dulu nenek ingin bicara dengan mami"kata Mia Liu disambut anggukkan oleh semua cucunya.
"Fei.... kenapa kamu bisa ceroboh! Hari ini kamu seharusnya mengadakan rapat secara langsung dengan Presdir Mike, dia sudah datang jauh jauh dari Paris hanya ingin berdiskusi denganmu"kata Mia Liu walaupun ia tahu apa alasan putrinya tetapi menjadi orang yang tak bertanggung jawab itu tak baik.
"Maaf ibu... aku lupa hari ini si kembar masuk taman kanak kanak jadi aku membatalkannya secara mendadak, aku akan mengirim permintaan maafku secara langsung"seru Liu Wen, ia tertawa ringan merasa bersalah kepada ibunya yang terlihat sangat kelelahan pasti kesalahannya ini ditutupi olehnya.
"Malam ini kamu harus menyelesaikan dokumennya, maaf ibu merepotkanmu"kata Mia Liu, ia memiringkan kepalanya tersenyum dan mengusap pelan kepala Liu Wen.
"Justru aku yang sudah merepotkan ibu"Liu Wen mencium tangan ibunya dan berjalan keatas menuju kamarnya.
"Haduh duh duh.... lembur lagi"kata Liu Wen badannya lemas seketika.
"Jadi mami mengorbankan kliennya demi kita"Aiden tersenyum saat mendengarnya walaupun ibunya agak ceroboh dan jarang memiliki waktu dengan mereka ternyata usahanya kali ini sangat membuatnya bahagia.
"Boleh juga, walau aku sebenarnya tak mengharapkan mami mengantar kita tadi"kata Jake sebenarnya dia yang paling ingin dimanja oleh Liu Wen.
"Setidaknya mami sudah berusaha sebaik mungkin"kata Anna tersenyum miring.
"Aku mendengar mami berbicara tentang papi!"kata Ellson membuat semua kembarannya tersentak.
"Sttt...! Kecilkan suaramu, ayo kekamar dulu"kata Jake menutup mulut adiknya itu.
"Hmhhh?"Keyzee yang tak tahu apa apa memiringkan kepalanya.
"Wajahmu terlalu dekat... kalau begini aku susah berbicara"kata Ellson dengan tatapan malas.
"Maaf aku sangat antusias! Jika berkaitan dengan papi! Walau aku membencinya tetapi aku ingin melihat sosok pria yang sudah meninggalkan mami!"kata Jake dengan serius tangannya bergerak atas dan bawah karena rasa penasaran yang tak bisa dibendung.
"Bilang saja kau mau manja manjaan jika bertemu papi"kata Ellson menatap tak suka kepada kakaknya.
"He...hei!! Aku benci pria ituu!!"teriak Jake wajahnya memerah kenapa dia bisa tahu pikir Jake.
"Sudah sudah, ayo mulai mengumpulkan informasi"seru Anna, ia menepuk tangannya agar kembarannya ini fokus.
"Mami tadi bilang kalau papi bernama Xuan! Ia juga bilang papi bodoh karena melindunginya?"kata Ellson terpotong karena Jake mulai pembicaraan.
"Hah? Kenapa marah? Bukannya wanita suka jika dilindungi oleh seorang pria"tanya Jake, ia memegang kepalanya dan berlagak sedang berpikir. Jika dibuku penakluk wanita yang dia baca salah satu poin penting untuk menaklukan hati wanita adalah dengan melindunginya.
"Kalian tak mengerti"
"Mungkin mami tak mau papi terluka karena itu sebabnya ia bilang begitu!"kata Anna perlahan lahan, ia sudah mau membuka diri.
"Masuk akal"kata Aiden sambil berpikir.
"Lalu mami juga bilang, Era Kekaisaran, Era modren, jurang, kecelakaan. Begitulah aku tak mengerti"kata Ellso, ia memang kurang memahami apa yang dikatakan Liu Wen.
"Hmm? Era Kekaisaran? Xuan? Apa mungkin saja seorang sejarawan atau arkeolog?"kata Aiden ia menarik suatu kesimpulan sementara.
"Mungkin saja... jika begitu kita bisa mulai mencari papi ditempat bersejarah!Mungkin akan ketemu!"kata Ellson dengan bersemangat.
"Ada yang janggal disini"kata Jake dengan serius.
"Apa?"tanya Anna.
"Mami kan Nona Besar Keluarga Liu, jika papi hanya seorang arkeolog atau sejarawan bearti ia pria miskin? Kenapa dia meninggalkan mami yang memiliki banyak harta?" tanya Jake, ia berpikir sejenak saat kakaknya mulai menarik kesimpulan.
"Iya juga! Uang pebisnis seperti keluarga Liu sangat banyak, kita berada diurutan nomer dua tahun ini sebagai perusahaan IT terkaya di dalam negri"kata Anna ternyata kakak tololnya ini bisa berpikir masuk akal juga.
"Lalu? Apa kesimpulannya?"
"Papi adalah anak orang kaya yang tak disetujui memilih pekerjaan yang dia inginkan! Lalu pura pura miskin dan menikah dengan mami tetapi orang tuanya yang jahat tak merestui dan menangkap papi dengan paksa dan membawanya pulang!"kata Jake saat mengatakannya ia membuat khayalannya sendiri dikepala.
"Kau suka sekali mendongeng"kata Aiden menatap malas adiknya.
"Jadi apa?!"tanya Jake mengerutkan keningnya tak ada alasan yang lebih masuk akal menurutnya.
"Ada satu kemungkinan, kenapa dia tak kembali kesisi mami"kata Anna dengan ragu ia mengatakannya.
"Apa?"tanya mereka dengan serempak.
"Papi sudah meninggal"kata Anna sambil menghela nafasnya.
"Hah!?"mereka semua kaget dengan apa yang dikatakan Anna.
"Ke...Key ingin papi!! hweee"Keyzee yang dari tadi diam karena tak mengerti tiba tiba mendengar kata kata kakaknya langsung menangis.
"Ada apa ini?"tanya Liu Wen, ia baru saja ingin mengajak anak anaknya untuk mandi bersama saat melihat Keyzee menangis ia langsung mengendongnya.
"Mami.... Key mau papi... apa papi meninggal?"tanya Keyzee dengan nada tersendat.
"Siapa yang bilang itu?"tanya Liu Wen wajahnya seketika berubah menjadi masam.
"Ka..kak Anna"kata Keyzee, ia terus menangis tak mau jika hal itu nyata harapannya untuk bertemu ayahnya akan berkurang.
"Anna... dari mana kau tahu itu?"tanya Liu Wen dengan lembut.
"Kami menganalisis perkataan mami saat ditaman kanak kanak tadi, itu hanya kesimpulan yang aku buat? Apa semua itu benar?"tanya Anna kepada Liu Wen, selama ini mereka tak pernah membahas hal ini karena Liu Wen sangat sibuk.
"Kami tak pernah menanyakan hal ini, bisa sekarang mami beritahukan kami yang sebenarnya?"tanya Aiden, ia yang tak biasa ikut campur pun sekarang penasaran akan sosok ayahnya.
"Bisa memberi mami waktu? Mami akan katakan semuanya saat kalian berumur 17 tahun? Karena yang mau mami bagi ini sangat sulit dicerna akal, mungkin saat dewasa kalian bisa mengerti sedikit"kata Liu Wen, ia meneteskan air matanya, ada perasaan takut, senang dan sedih karena anak anaknya ingin mengetahui tentang ayah kandungnya.