
"Kenapa pasukan Khusus Yin mendengarkan perkataanmu"seru Kaisar, ia penasaran kenapa pasukan khusus Yin yang setia kepada negara mengikuti kata kata Perdana Menterinya.
"Putra Mahkota Xia Je Ling? Apa ini semua berhubungan dengan Dinasti Xia?"tanya Kaisar, ia sulit menelan savilanya karena pedang yang mengarah dilehernya.
"Lepaskan dia, ayo kita bicara didalam"kata Liu Whojin para prajurit pun menjatuhkan senjatanya dan membiarkan Kaisar pergi mengikutinya.
"Semua orang sudah tahu"kata Jake, ini masuk dalam pelajaran sejarah.
"Hmm..... seharusnya anak dari Qin Meili yang hampir meruntuhkan Dinasti Qin, saat itu kakek membuka identitasnya sebagai Putra Mahkota Dinasti Xia yang dulu selamat dari pembantaian malam itu"kata Aiden ini merupakan hal lumbrah karena mereka yang berasal dari Era modren sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Tetapi dengan datangnya kita. Mungkin akan mengubah sejarah"seru Anna.
"Kurasa begitu"timpal Keyzee.
"Aku yang setua ini masih diberi kesempatan untuk hidup adalah sebuah berkah"kata Liu Xiaoyu membuat semua berbalik dan melihatnya.
"Ini cucuku? Untuk yang kedua kalinya aku mendengarmu kembali membuatku bahagia.... Wen'er"kata Liu Xiaoyu, ia mengelus rambut Liu Wen walaupun cucunya itu sudah memiliki anak ia masih memperlakukanya seperti anak kecil.
"Ibu kembali?"tanya Liu Whojin seingatnya ibunya ini berada di desa Qingshu sedang melakukan ibadah disana.
"Hmm.... untuk menceritakan secara lengkap alasan runtuhnya Dinasti Xia dan asal usul Dinasti Qin, aku dengar ada yang mengungkit ini beberapa tahun yang lalu? Tetapi tak dijelaskan secara lengkap? Baiklah biar aku ceritakan lebih detailnya"kata Liu Xiaoyu ia duduk diantara Kaisar Qin dan Liu Wen.
******
Empat tiga tahun yang lalu
"Akan ada perang besar disekitar prefektur Guoloa, para penyamun sudah banyak membunuh rakyat disekitar sana, jadi kita harus mengirim pasukan Yin dan pengawal tambah karena jumlah mereka sangat banyak. Bahan makanan juga harus dikirim disana untuk para korban"kata Jendral Ling kepada Kaisar Xia mereka sedang mendiskusikan perang yang akan dilaksanakan lusa.
"Usul yang bagus. Kalian bawalah banyak pasukan, tenang saja istana akan aman! Aku dan Putra Mahkota bisa mengatasinya"kata Kaisar Xia, ia adalah Kaisar yang terkenal akan kebijaksanannya dan rasa sayang yang besar terhadap rakyatnya.
"Baik Yang Mulia! Kami akan berangkat besok. Saya pastikan bahwa rakyat tak ada yang terluka dan kami akan membantu rakyat membangun rumah seperti biasa sebelum kembali"kata Jendral Ling disambut anggukan oleh Kaisar Xia.
"Tolong jaga cucuku juga Jendral"kata Kaisar Xia, ia tersenyum tipis.
"Cucu? Bukankah Putra Mahkota belum menikah?!"tanya Jendral Ling, ia tak mengerti apa maksud perkataan Kaisar Xia.
"Putra Mahkota mencintai gadis desa Wuanyi, aku yakin hubungan mereka sangat baik. Hahaha... cucuku Xia Shen Yo aku sangat menantikannya"kata Kaisar Xia, ia mengetahui kisah cinta putranya dengan Zhou Yiren gadis desa yang selalu ditemui putranya. Kaisar Xia beranggapan bahwa saat ini pasti Liu Yiren sudah mengandung, cucunya yang berjenis kelamain perempuan.
"Anda berkata begitu sama dengan mengatakan kalau Putra Mahkota adalah bajinggan"gumam Jendral Ling, ia tersenyum mendengar perkataan Kaisar Xia.
*******
Desa Shichuan
"Ayah! Aku dengar akan ada perang di Prefektur Gouloa dan mereka akan membawa pasukan Yin"kata Qin Hao kepada ayahnya.
"Bagus malam besok adalah kesempatan kita"kata Qin Huangdi, ia seorang kepala Desa Shicuan yang sudah lama ingin melakukan pemberontakan karena tergiur akan kekuasaan. Ia tahu kemampuan yang ia punya tak akan pernah bisa menaklukkan Dinasti Xia, itu sebabnya ia selalu menunggu perang besar terjadi agar bisa membunuh Kaisar dengan mudah.
"Memangnya apa yang ingin ayah lakukan?"tanya Qin Hao, ia penasaran kenapa ayahnya ini selalu menyuruhnya mencari informasi mengenai apa yang terjadi diistana.
"Kau akan tahu nanti! Kau layani saja Putra Mahkota dengan benar! Ajak ayah saat kau ingin ke istana"kata Qin Huangdi, ia tertawa puas dan memasukkan banyak bubuk mesium didalam sakunya.
"Hao.... sebentar lagi akan ada pesta kembang api. Kau boleh membawa kekasihmu yang selalu kau ceritakan itu"kata Xia Je Ling-Perdana Mentri Liu.
"Benarkah Yang Mulia? Terima kasih kalau begitu, Quefeng pasti menyukainya!"seru Qin Hao dengan senangnya sambil membersihkan kuda sang Putra Mahkota, ia tersenyum puas tak disangka malam harinya akan ada kejadian menegangkan.
"Tuan! Kaisar tak bisa bergerak karena efek obatnya, Permaisuri dan anggota kerajaan lain sepertinya juga sama, apa kita bunuh sekarang?"tanya bawahan Qin Huangdi.
"Seret Kaisar ke halaman Istana, biar semua pelayan melihat bagaimana kehancuran Dinasti Xia dan calon Kaisar barunya"kata Qin Huangdi, mereka telah membunuh pengawal secara diam diam dengan racun yang dimasukkan didalam air minum mereka, cara licik ini dilakukan karena Qin Huangdi tak memiliki banyak pengikut.
"Kau... picik! Meracuniku begini! Jika berani ayo kita bertarung seperti prajurit sejati!"kata kaisar Xia, ia tak memperdulikan nyawanya tetapi istri dan anaknya serta anggota kerajaan yang lain. Bagaimana ia bisa melindungi mereka.
"Maaf... Yang Mulia Kaisar, saya tak mengerti hal seperti itu, karena saya hanya seorang petani... hiaaa!!"teriak Qin Huangdi, ia menancapkan pedang diperut Kaisar berkali kali hingga Kaisar Xia meninggal.
"A...ayah? "gumam Qin Hao, ia tak tahu kalau ayahnya memiliki rencana untuk memberontak dan membunuh Kaisar, karena sangat terguncang tanpa sadar ia segera pergi dan memberitahu Putra Mahkota apa yang terjadi di istana utama.
"Saya mohon pergilah dari sini"kata Qin Hao, ia berlarian kesamping tembok tempat Xia Je Ling menatap bulan.
"Ada apa Hao? Kenapa kau terburu buru?"tanya Xia Je Ling.
"Anda.. pergilah dari sini! Permaisuri Xia sudah pergi duluan ketempat yang aman, ayah saya! Ayah saya melakukan pemberontakan! Dan berhasil membunuh Kaisar, saya mohon pergilah! Anda adalah orang yang saya hormati"kata Qin Hao, seketika wajah Xia Je Ling berubah ia mengambil pedangnya dan hendak melawan Qin Huangdi.
"Jangan lakukan itu Yang Mulia! Anda bisa terbunuh!"kata Qin Hao ia berusaha menghalangi Xia Je Ling.
"Lalu apa? Membiarkan kerajaanku hancur? Bagaimana jika ayahmu mencariku dan membunuhku saat pergi nanti? Lebih baik aku mati melawannya"kata Xia Je Ling ia tak bisa menahan amarahnya.
"Jika anda meninggal siapa yang akan menjaga Permaisuri? Saya mohon lakukan itu demi ibunda anda"kata Qin Hao ia sujud didepan Xia Je Ling, ia sudah menganggap Xia Je Ling sebagai temannya yang berharga walaupun berbeda status, Xia Je Ling memperlakukanya dengan baik.
"Ibunda..."lirih Xia Je Ling, ia menghentikan langkahnya dan pergi ketempat persembunyian yang sudah disiapkan Qin Hao ditepi sungai.
"Ling'er... "lirih Permaisuri Xia-Xia Xiaoyu.
"Hao... kau sudah membantuku kabur dari ayahmu. Terima kasih.... bawa ini agar dia percaya kalau aku sudah mati"kata Xia Je Ling ia tahu kalau Qin Hao tak tahu akan hal ini.
"I...ini plakat Zen? Ini untuk memanggil pasukan Yin kan?"tanya Qin Hao.
"Hmm... selama ada ini Pasukan Yin akan mengikuti perintah ayahmu dan ayahmu akan percaya kalau aku dan Ibunda sudah tiada karena ini harta karun terbesar Dinasti Xia"kata Xia Je Ling, ia melihat ibunya yang terbaring lemah pinggir sungai dibawah jembatan.
"Ta..tapi ini... pasukan Yin akan bisa membalikkan keadaan"kata Qin Hao.
"Aku tahu tetapi mereka masih lama kembali dan kami pasti akan segera dihabisi! Lagi pula... aku... ingin sekali hidup bebas"kata Xia Je Ling memang tak masuk akal tetapi ia ingin hidup bebas bersama Zhou Yiren jika status mereka sama maka tak ada yang bisa menentangnya untuk menjadikan Liu Yiren sebagai istri sahnya.
"Kau temankum.. jangan berbicara formal lagi! Dan sebentar lagi kau akan jadi Pangeran, aku hanya minta satu hal padamu, beri aku Identitas baru sebagai ganti Plakat itu"kata Xia Je Ling tak ada lagi yang bisa dilakukan Qin Hao, membujuk Xia Je Ling sangat lah susah terpaksa ia menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian Qin Hao menjadi seorang Pangeran yang artinya Dinasti Qin sudah diakui oleh rakyat dan pejabat, ia menepati janjinya memberi identitas baru kepada Xia Je Ling, mengubah marganya menjadi Liu dan memberinya sebuah rumah didesa saat ayahnya meninggal ia mempromosikan Liu Whojin nama baru sang Putra Mahkota Xia Je Ling menjadi Perdana Mentri Liu sampai sekarang.
******
"Itulah sebabnya Pasukan Yin mengikuti perintah Ling'er karena mereka setia kepada tuannya, jika saat itu aku sadar! Aku tak akan membiarkan Ling'er memberikan Plakat itu dan membiarkan Qin Hao Hidup"kata Liu Xiaoyu tidak mudah menjadi orang biasa dan hidup menderita karena tak ada makanan akibat bencana dulu.
"Jadi itu fungsi plakat zen yang sebenarnya"gumam Kaisar, ia tahu itu adalah Plakat istimewa yang sengaja ayahnya buat untuk Perdana Mentri ternyata plakat itu memang milik Liu Whojin.
"Apa... apakah itu benar... kakek mendapat kekuasaan dengan cara seperti itu"gumam Kaisar Qin, ia tak percaya mendengar hal itu.
"Hmphh...! Kakekmu itu perampok! Kalian seorang petani hanya bisa main belakang membunuh suamiku yang tak bersalah!"kata Liu Xiaoyi dengan ketus.
"Awalnya aku kira Ling'er mau merebut tahta itu kembali, tidak disangka ia malah suka menjadi bawahan! Berdalih Perdana Mentri. Hmphh! Putraku adalah Kaisar sebenarnya!"
"Dan Wen'er... ia juga seorang Putri Dinasti Xia! Putri Shen Yo nama yang diberikan oleh kakeknya walaupun Ling'er dulu belum menikah!"
"Dia sudah mencari nama untuk anaknya dan entah kenapa dia sangat yakin kalau anak pertama Ling'er pasti perempuan"gumam Liu Xiaoyu, ia sangat ingat bagaimana hebohnya suaminya dulu saat memilihkan nama untuk Liu Wen padahal saat itu putranya belum menikah apa lagi punya anak.
"Tapi nenek.... sekarang keadaan sudah berubah, dia suamiku dan ayah dari anak anakku. Aku tak bisa membiarkan kalian menyakitinya"kata Liu Wen melihat Kaisar terluka membuat hatinya sangat sakit, mungkin sekarang ia benar benar jatuh cinta kepada Kaisar Qin.
"Aku bukan pria lemah yang perlu perlindungan wanita"kata Kaisar, ia berdiri dari duduknya dan tersenyum kearah Liu Wen.
"Ini semua salah kakekku membuat nenek dan ayah mertua menjadi susah! Kalau begitu bunuh saja aku sebagai gantinya. Aku tak masalah mati disini"kata Kaisar, ia bersujud
dengan menundukan kepalanya.
"Setelah itu ayah mertua bisa mengambil tahta dan menjadi Kaisar"kata Kaisar, ia mengerutkan alisnya tanda bahwa ia benar benar serius.
"Dan Wen..."
"Dia juga akan terbebas dariku lalu menikah lagi dengan seorang bangsawan atau Kaisar Kekaisaran lain yang memiliki status yang sama sepertinya, cucu pemberontak sepertiku memang tak pantas untuk Wen"lirih Kaisar, ia terus menundukan kepalanya dan siap mati kapan saja Perdana mentri mengayunkan pedangnya.