I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
10. Dewi Iblis dari Gunung



"Ha...hantuuu!"teriak para pejabat mereka semua terduduk karena kaki mereka gemetar takut.


"Wen'er..."mata Perdana Mentri Liu berubah menjadi sayu melihat putrinya, tak ada rasa takut. Hanya rasa rindu mendalam yang ia rasakan ssekarang.


"Oh! Hai ayahh!! Aku baik baik saja"Liu Wen melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tampak disamping ayahnya ada sosok pria yang tak asing baginya.


"Kauu!!"Liu Wen membulatkan matanya sesekali dia mengosok matanya berkali kali karena tak percaya, pria brengsek yang menipunya malam itu sedang tersenyum manis kearahnya.


*Senyum ituuu!! Lihat saja! hari ini aku akan memukulmu-batin Liu Wen tampak wajahnya yang sudah memerah menahan amarah. Dengan langkah besar Liu Wen pergi menghampiri Kaisar Qin.


Plakkkk


"Ah?!"Kaisar Qin memegang kepalanya yang terasa sakit karena Liu Wen memukul kepalanya.


"Dassar kau penip! Qin!! Xuan!! Jika hari ini aku tidakk memukulmu! Namaku bukan Liu Wen lagi!"teriak Liu Wen, ia memukul kepala dan perut Kaisar Qin berulang kali dengan keras. Ia sangat kesal karena kejadian malam itu. Sedangkan Kaisar Qin hanya tersenyum saja, pukulan Liu Wen terasa seperti memijit dibandingan sakit, mungkin karena efek jatuh cinta.


"Yang Mulia!"teriak para pejabat mereka tak menyangka ada yang berani memukul kepala Kaisar secara terang terangan begini.


"Bukankah Putri Pertama terkenal lemah lembut selama ini?"tanya seorang pejabat.


"Apa benar yang dikatakan para pelayan kediaman Perdana Mentri Liu kalau Putri Pertama adalah wanita Iblis?"balas pejabat lainnya.


"Mungkin saja! tapi tidak ada Iblis seperti Dewi"


"Mungkin karena dia adalah hantu"


"Sudah mati selama setahun dan bangkit lagi bukankah mengerikan"


"Lancang beraninya ka..."kata seorang prajurit kata katanya terpotong oleh Liu Wen.


"Ya ya aku tahu! Dia Putra Mahkota"kata Liu Wen dengan muka yang datar sambil menunjuk Kaisar Qin.


"Yang mulia sudah diangkat menjadi Kaisar kekaisaran Qin 5 hari yang lalu"kata prajurit itu dengan datar bisa bisanya. Ada yang tidak tahu bahwa Kaisar telah berganti.


Jlebbbb


Bagaikan tertusuk panah Liu Wen terbatuk, ia tak tahu kalau Qin Xuan sudah menjadi Kaisar selanjutnya. Karena berita panas di Ibu kota hanya membicarakan kedatangan Selir baru dan ayahnya saja sedangkan soal Kaisar baru ia tak pernah mendengarnya.


*Jalangg ini masih hidup! Heh!! Ternyata otaknya bermasalah dan tetap saja bodoh-batin Liu Liang, matanya terbelak melihat Liu Wen masih hidup dan sehat sehat saja.


*Diaa!? Sialan para penjaga itu menipuku!-batin Liu Ruoxi, matanya menatap tajam Liu Wen, perasaannya campur aduk sekarang.


"Ahh! Tadi saya melihat ada daun di kepala dan baju anda, saya tidak bermaksud kok! Hahaha"tawa kikuk Liu Wen, semua orang terdiam dan menatapnya dengan tajam. Tak ada yang percaya perkataannya barusan. Ia sangat takut dengan Kaisar sekarang rumor Kaisar yang suka memenggal kepala orang terngiang terus dipikirannya.


"Sungguhkah?"tanya Kaisar Qin sambil tersenyum seperti orang bodoh.


"Ya! Ya! Baiklah! Ayo kita lanjutkan sidang ini masih belum selesai"kata Liu Wen, ia mengangguk cepat. Kakinya sudah siap melangkah pergi dari singgasana Kaisar tetapi dihentikan oleh Kaisar Qin.


"Tetaplah disini"bisik Kaisar Qin, ia memegang tangan Liu Wen. Liu Wen menurut saja. Dia masih sayang kepalanya toh hanya berpegangan tangan.


"Kalian bilang diriku hantu? Kalau begitu bagaimana kalau bertemu hantu yang lain"ucap Liu Wen sambil menyeringai ia menunjuk kearah pintu sehingga seluruh orang yang ada disana melihat kearah pintu. Nampak wanita paruh baya yang masih terlihat cantik masuk dengan wangi bunga mawar yang khas mengingatkan mereka akan sesosok wanita tercantik nomer satu dikekaisaran Qin 20 tahun yang lalu.


"Hanntuu..."Liu Ruoxi membulatkan matanya dan pingsan ditempat, semua orang di Aula Istana berlari keluar karena takut kini hanya menyisakan para hakim. Kaisar dan keluarga Perdana Mentri Liu.


"Ren'er..."mata Perdana Mentri tak lepas dari Liu Yiren, tak disangka matanya pun sudah penuh dengan air mata.


"Whojin...."lirih Liu Yiren, ia meneteskan air matanya. Sosok yang dia rindukan selama ini ada dihadapanya.


"Kamu masih hidup?! Kenapa tidak pulang! Aku sangat kesepian! Kamu tahu setiap malam aku tak bisa tidur!! Ren'err, aku mencintaimu"Perdana mentri Liu langsung berlari menuju istrinya. Memeluk istrinya dengan kuat, ia merindukan istrinya selama bertahun tahun ini. Ada rasa bersalah juga karena tidak bisa menjaga istrinya itu dengan baik. Karena itulah ia membawa banyak Selir kekediaman untuk melampiaskan kerinduan dan rasa penyesalannya.


"Aku juga mencintaimu. Bukankah kau tak memerlukanku? Aku melihat kau membawa banyak wanita lain kekediaman dan Wen'er terlihat bahagia dengan adanya Ruoxi! Tak ada alasan aku kembali"Liu Yiren menangis, ia membalas pelukan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Tidakk! Bukan seperti itu! Jangan katakan hal itu aku membutuhkanmu! Cuma kamu Ren'err"seru Perdana Mentri Liu, ia merasa bersalah karena langsung percaya kata kata Liu Ruoxi bahwa istrinya telah tiada dan tak mengeluarkan ekspresi apapun seakan akan tidak peduli hidup mati Liu Yiren.


"Ekhemmm...."


"Ayah ibu kita masih di Aula Istana. Bisakah kalian bermesraannya nanti dikediaman?"tanya Liu Wen, entah kenapa dia merasa malu melihat adegan ini.


"Ah! Maaf ayah terlalu senang! Hahaha"Perdana Mentri Liu tertawa bahagia.


"Ayah! Masih ada kejutan yang menunggu dikediaman! Lagipula ayah ingin tahu kenapa aku dan ibu masih hidup dan bagaimana kami bertemu kan? Pasti banyak hal yang ingin ayah ketahui. Itu sebabnya mari kita selesaikan sekarang juga"kata Liu Wen, ia menatap tajam Liu Liang yang sedang terduduk disamping ibunya terbaring pingsan dilantai.


"Saya tidak bisa memberikan hukuman kepada orang yang tidak bersalah jadi saya harap Putri kedua bisa menerima hukuman yang pantas! Pengawal!Penjarakan Putri kedua atas tuduhan pembunuhan berencana!"para prajurit datang dan membawa Liu Liang yang sedang menangis.


"Yang Mulia! Saya tidak salah!"teriak Liu Liang walaupun meminta pengampunan dan mengelak Kaisar Qin tak pernah menghiraukannya.


"Terima kasih Yang Mulia atas keadilannya"senyum manis Liu Wen, ia hendak turun dari atas tetapi Kaisar Qin memeluknya dari samping.


"Bukankah kebaikanku ini harus dibayar? Seseorang pernah berkata kalau didunia ini tidak ada yang gratis?"kata Kaisar Qin menatap wajah Liu Wen.


"Hei! Apa maksudmu! Qin Xuan! Kau punya hutang budi denganku jadi anggap saja. Kita impas!"Liu Wen membisikan ditelinga Kaisar Qin dan mencubit lengan Kaisar Qin yang melingkar dipinggangnya.


"Oh baiklah kita anggap ini impas..."balas Kaisar Qin, ia juga membisikan hal itu ditelinga Liu Wen yang membuatnya merasa lega.


"Panggil semua pejabat untuk masuk"teriak Kaisar Qin, para Pejabat yang masih merasa takut pun satu per satu masuk ke Aula Istana tetapi banyak dari mereka yang terus memandangi wajah Liu Yiren yang tak berubah walau sudah 20 tahun berlalu, melihat kejadian itu Perdana Mentri Liu menutupi wajah Liu Yiren dengan tangannya.


"Heii?! Kenapa kau mengumpulkan orang orang?"tanya Liu Wen, melihat sikap Kaisar Qin sejauh ini sepertinya dia bukan orang yang menyeramkan lama lana Liu Wen semakin berani melawannya.


"Ini perintahku! Karena tak ada lagi putri Perdana Mentri Liu yang tersisa. Aku akan menikahi Putri Pertama Liu Wen sebagai Permaisuri"kata Kaisar Qin membuat Liu Wen terkejut.


"Hei! Aku tidak mau menikah!!"protes Liu Wen.


"Apakah Perdana Mentri Liu setuju?"tanya Kaisar Qin Kepada Liu Whojin. Ia mengabaikan Liu Wen.


"Tentu! Putriku ini sedikit manja tolong Yang Mulia jaga dia"senyum Perdana Mentri Liu.


"Ibu... "kata Liu Wen yang memelas.


"Maaf Wen'er... Ibu akan mengikutii apa yang ayahmu katakan"senyum Liu Yiren.


"Kau berkhianat ibu!"Liu Wen menghentakkan kakinya.


"Putri Pertama jika kau berani menciumku aku akan mengubah keputusanku"kata Kaisar Qin membisikan ditelinga Liu Wen.


Cuppp


Tak disangka Liu Wen langsung mencium Kaisar Qin tanpa ragu dipipinya membuat Kaisar Qin tersentak.


"Woahhh! Putri Pertama begitu berani"


"Dia menyetujuinya"


"Sungguh wanita yang pemberani"


"Apaa!!! Tidak ini cuma syarat dia akan mengubah keputusanya"kata Liu Wen dia mengibaskan tangannya dan sangat panik mendengar respon para pejabat.


"Apa kalian mendengar aku berkata begitu?"semua orang menggelengkan kepalanya.


"Sialan kau Qin Xuann!!! Kau menipuku lagi!!"teriak Liu Wen yang langsung pergi dari Aula Istana.


"Hahaha.... Sungguh menarik"Kaisar Qin tertawa lebar.


"Yang Mulia... Putri Pertama lancang, apa tidak apa dibiarkan?"tanya seorang prajurit.


"Tidak apa! Dia calon Permaisuri jangan sakiti dia. Kirim beberapa prajurit untuk menjaganya"jawab Kaisar Qin.


"Yang mulia terima kasih atas kemurahan hatinya, saya mohon undur diri"kata Perdana Mentri Liu, mereka pergi dari Aula Istana. Begitupun para pejabat lain.


*******


Kediaman Ibu suri


"Xuan'er! Liu Wen sungguh lancang menolakmu. Berteriak bahkan memukul dirimu! Dia wanita kasar dan kurang akal! Tak pantas menjadi Permaisuri!"Ibu suri melotot kearah putrnya, tak habis pikir kenapa putranya bisa menyukai wanita kasar seperti Liu Wen.


"Itulah istimewanya dia Ibunda, dia orang yang sangat jujur, pemberani, dan cantik. Ibunda hanya melihatnya dari sudut pandang yang buruk saja"kata Kaisar Qin sambil tersenyum, ia terlalu bahagia. Hari dimana Liu Wen kembali adalah hari ini membuatnya tak berhenti tersenyum.


"Mungkin Ibunda benar! Aku sudah gila karena Liu Wen, dia wanita satu satunya yang membuatku jatuh cinta. Jika Ibunda ingin menebus kesalahan Ibunda yang menelantarkanku saat masih kecil Ibunda harus menyetujuinya"Kaisar Qin mengerutkan alisnya menatap serius Ibunya.


"Huhhhh! Baiklah"Ibu suri tidak bisa berkata kata lagi itu adalah alasan andalan Kaisar Qin untuk membuat Ibu suri merasa bersalah.


"Terima kasih Ibunda. Aku permisi kembali kekediamanku"kata Kaisar Qin, ia mencium tangan ibunya dan pamit dengan sopan dari sana. Tak seperti biasanya tingkah Kaisar sontak membuat Ibu suri bahagia.


Kediaman Naga


"Kaisar, hamba memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar"seru seorang wanita.


"Kenapa kau ada disini Selir Hui"kata Kaisar Qin dengan menatap datar.


"Hamba dengar Putri Pertama menolak menjadi Permaisuri! Jadi hamba ingin menenangkan Yang Mulia yang sedang marah"kata Selir Hui, seorang Putri Jendral sekaligus teman masa kecil Kaisar Qin.


"Aku tak sedang marah, silakan kau keluar"balas Kaisar Qin dengan dingin ekspresi yang sama seperti tahun tahun sebelumnya menghadapi wanita seperti ini memang tak bisa pakai cara lembut.


"Baik Yang Mulia. Tetapi sebelum itu silakan anda minum obat ini. Ini agar kepala anda tidak pusing lagi, saya akan keluar jika anda minum obat ini"kata Selir Hui yang bersikeras, karena kesal Kaisar Qin menyetujuinya dan meminumnya.


"Apa yang kau masukan!!"kata Kaisar Qin berteriak kepada Selir Hui, kepalanya pusing dan rasanya panas.


"Kakak Xuan.... Kamu sudah mengabaikanku! Setidaknya biarkan aku menunjukan rasa kasih sayangku"kata Selir Hui mendorong Kaisar Qin keranjang, ia juga meminum sedikit obat itu agar terangsang.


"Kuperingatkan! Jangan lakukan itu!"teriak Kaisar kepalanya sangat pusing, Selir Hui hanya tersenyum. Ia melepas baju Kaisar Qin.


"Kakak Xuan.... Diam saja! Aku yang akan memuaskanmu"Kata Selir Hui yang sudah melepas baju Kaisar tampak otot Kaisar Qin yang semakin membuat Selir Hui bergairah.


"Ini rasanya otot perut sangat keras"Selir Hui meraba Kaisar dari perut sampai ke dada.


"Chennn!!!"teriak Kaisar, tampak beberapa Chen dan bawahannya datang kekamar Kaisar Qin.


*Ahhh, aku malu-batin salah satu bawahan Chen, wajah mereka seketika merah melihat hal ini.


*Apa Yang Mulia ingin kami menyaksikannya sedang membuat bayi?-batin Chen wajahnya juga ikut memerah melihat pemandangan didepannya.


"Bawa wanita gila ini keluar!!"teriak Kaisar Qin, ia mendorong Selur Hui sampai jatuh dari ranjang.


"Kakak Xuan... Aku hanya..."


"Baik, Yang mulia!"beberapa prajurit bayangan membawa Selir Hui yang hanya memakai hanfu dasar saja keluar dari kediaman Kaisar dan membawanya kebelakang taman.


"Aku mau kau sebarkan skandal bahwa putri Jendral Hui selingkuh ditaman! Ini akan menekan keluarga Jendral"kata Kaisar Qin kepada Chen, Chen mengangguk dan pergi dari kediaman Naga.


*Panas sekali-batin Kaisar Qin karena kejadian tadi membuat juniornya tegang. Kaisar Qin pergi keluar dari kediamannya melalui atap dan tak sadar pergi kekediaman Perdana Mentri Liu.


Kamar Liu Wen


"Hufff..... Karena sudah malam jadi besok baru diadakan rapat keluarga"Kata Liu Wen yang baru saja mandi.


"Adik juga sudah disembuyikan untuk sementara ini! Biar jadi kejutan gitu untuk ayah"tawa jahat Liu Wen dia membayangkan ekspresi lebay ayahnya saat mengetahui bahwa dia punya anak laki laki.


"Aku sangat lelah! Waktunya tidur"Liu Wen mematikan lilin dan tidur diranjangnya.


Krettt


Bunyi jendela yang terbuka, Liu Wen melemparkan pisau kearah jendela.


"Refleksmu sungguh bagus"kata Kaisar Qin, ia masuk dari jendela kamar Liu Wen.


"Wah...wah! Ada apa Kaisar Qin dengan penampilan seperti ini datang kekamarku?!"kata Liu Wen yang melihat Kaisar Qin dengan pakaian yang berantakan.


",,,,"Kaisar Qin langsung mendorong Liu Wen keataa ranjang. Kini Kaisar Qin berada diatas Liu Wen.


"Apa yang ka.... Mhmn"Kaisar Qin langsung mencium Liu Wen.


*Hmphh! Aku tak mudah ditindas-batin Liu Wen tersenyum miring dan membalas ciuman Kaisar.


"Apa kau kira aku akan menurut"Posisi Liu Wen sekarang sudah berada diatas dan Kaisar Qin dibawah, Liu Wen mencium Kaisar memasukan lidahnya dan mengigit bibir Kaisar.


"Hosh! Hoshh! Putri Pertama sangat lihai"nafas mereka terengah engah terasa sesuatu menyentuh perut Liu Wen.


"Anjirr... Jamurnya naik"kata Liu Wen secara refleks, wajahnya memerah, soal ciuman dia sudah biasa melakukannya di Era modren dengan mantannya tetapi melakukan 'itu' dia tak pernah.


"Apa... yang kau katanya"kata Kaisar berusaha membuka baju Liu Wen dari bau nafas Kaisar sepertinya dia diberi obat perangsang.


"Heii!!! Apa yang kau lakukan Kaisar! Aku tak mau melakukan itu"kata Liu Wen memukul dada Kaisar.


"Aku diracuni tolong aku..."kata Kaisar nafasnya memburu, ia tak tahan lagi dengan nafsu birahinya yang semakin meninggi itu.


"Baiklah! Apapun untuk Kaisar Qin"kata Liu Wen sambil menyeringai.


*Mau tubuhku? Jangan mimpi kau!-batin Liu Wen.


"Mau kemana ini?"tanya Kaisar. Liu Wen mengendongnya layaknya putri dan membawanya keluar kamarnya.


"Sudah ikut saja"kata Liu Wen.


Byurrr


Liu Wen melempar Kaisar kekolam.


"Apa yang kau lakukan!"kata Kaisar sekarang Kaisar sudah basah kuyup.


"Aku sedang menolongmu! Berendamlah disitu! Racunnya akan hilang dan membuatmu sadar kembali"kata Liu Wen sambil berjongkok melihat Kaisar Qin yang berada dikolam.


"Mmmm! Baiklah cepat atau lambat kita akan melakukannya"gumam Kaisar Qin, ia memalingkan wajahnya karena kesal.


"Apa?"Liu Wen menatap tajam Kaisar Qin.


"Tidakpapa"Kaisar Qin tersenyum dan menatap bulan.


"Malam ini sangat indah"


"Kurasa tidak seindah itu"


"Lihatlah cahaya bulan dimalam hari, aku selalu melihat bulan sendiri. Sekarang bersamamu hanya susananya saja yang kurang pas"


"Kurasa cahaya bulan sedikit menakutkan"ia mengingat kejadian dimana pertama kali, ia melihat roh Liu Wen dipenjara.


"Takut hantu? Tenang aku ada disini"kata Kaisar Qin Sepanjang malam mereka melihat bulan bersama dengan Kaisar Qin ada dikolam dan Liu Wen yang berjongkok melihat Kaisar Qin dari atas.


*****


Bagaimana cara Liu Wen masuk ke istana??


"Halo pak penjaga izinkan aku dan ibuku masuk"kata Liu Wen, ia menggunakan cadar saat akan masuk ke Istana


"Silakan pergi! Yang tidak memiliki izin tidak boleh masuk"kata dua penjaga itu


"Wen'er... Bagaimana ini"kata Liu Yiren yang mulai cemas.


"Serahkan padaku ibu"kata Liu Wen dengan Senyum licik.


"Heii.... Kalian akan menyesalaku hantu~"Liu Wen membuat gerakan rumput laut untuk menakuti para penjaga.


"Ahhh... kami takut sekalii!!!!"kata seorang penjaga yang bertingkah seperti orang ketakutan.


"Pergi kau!!"penjaga mendorong Liu Wen.


"Dasarr kau sialan"disaat Liu Wen ingin memukul para penjaga cadarnya terbuka sehingga para penjaga itu pingsan.


"Hntuuu~~~"


"Waduhh.... Aku lupa kalau aku adalah orang mati"Liu Wen menggaruk pipinya.