I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
14. Cemburu



"Hei! Heii! Sejak kapan aku menjadi Permaisuri!"kata Liu Wen dia mengetuk dahi Kaisar beberapa kali.


"Sejak aku mengumumkan diIstana kalau kau akan menjadi Permaisuri"Kaisar Qin menatap tajam kearah Liu Wen dan memegang tangannya.


*Tidak tahu malu! Bedebahh sialan ini tidak mau melepaskanku-batin Liu Wen dia memasang wajah masam dan jijik saat menatap Kaisar.


"Mohon maaf Yang mulia, anda bukan siapa siapa Wen saat ini. Mohon jaga etika anda"seru Feng Li menarik tangan Liu Wen, kini mereka menatap sengit satu sama lain.


*Hei! Hei! Aku merasa sedikit tertekan disini-batin Liu Wen, ia tersenyum kikuk entah situasi apa ini, seperti sedang terjadi cinta segitiga.


"A,anuu! Kalian... Bisakah lepas tanganku dulu? Ini rasanya sakit"kata Liu Wen pergelangan tangannya merah karena dua orang itu mencengkamnya dengan kuat. Mereka tersentak dan melepaskan tangan Liu Wen.


"Maaf Wen"Feng Li menjulurkan lidahnya, ia mengaruk tengguk lehernya, matanya melirik ketangan Liu Wen yang benar benar merah.


"Tuan muda Feng! Jangan lupa aku seorang Kaisar. Aku bisa menghukummu kapan saja"kata Kaisar Qin sambil menyeringai.


"Ya itu memang benar Yang mulia! Tetapi tanpa dukungan masion Jendral Feng. Sepertinya kekuasaan anda bisa lengser dengan cepat"Feng Li memberi hormat dan tersenyum licik.


"Tentu saja... Itu benar tetapi aku juga bisa menuduh keluargamu melakukan pemberontakan. Jika mendengar perkataanmu yang lancang tadi"Kaisar Qin mengepalkan tangannya memang benar karena baru naik tahta dan dia bertahun tahun tidak memiliki persiapan menjadi Kaisar ia masih membutuhkan dukungan dari keluarga Jendral dan Mentri terdahulu.


"Ckkk"Feng Li mengeretakkan giginya.


*Bisanya hanya mengancam saja-batin Feng Li, ia tahu seberapa mengerikannya orang orang istana.


"Maaf! Kaisar Qin, ini urusan kita berdua jangan bawa bawa Masion Jendral Feng"kata Liu Wen, ia berdiri diantara Kaisar dan Feng Li, menrentangkan tangannya seperti sedang menghadang amarah sang Kaisar untuk temannya itu.


"Oh yaa?! Sebegitunya kau mengkhawatirkan keluarga kekasihmu!"Kaisar Qin menundukkan kepalanya menahan amarahnya.


"Apa?! Ya! Dia sangat berharga bagiku!"Liu Wen memegang tangan Feng Li.


"Jangan lupa kau akan menjadi Permaisuriku!"Kaisar Qin mengeretakkan giginya karena cemburu hatinya terasa sakit. Mengetahui Liu Wen menyukai pria lain membuatnya ingin sekali membunuh pria itu.


"Aku menolak! Kenapa harus aku! Kau tak menyukaiku! Atas dasar apa aku harus menerimanya"teriak Liu Wen itu memang benar tak ada alasan khusus kenapa Liu Wen harus menerima pernikahan itu dan tak ada alasan pula Kaisar harus menikahinya. Mereka baru bertemu tiga kali tak mungkinkan Kaisar ini jatuh cinta padanya.


"Heh? Aku Kaisar! Tak perlu mencintai seseorang untuk menjadikannya pion"bisik Kaisar Qin ditelinga Liu Wen.


"Cih! Li! Ayo kita pergi!"Liu Wen menarik tangan Feng Li dan meninggalkan Kaisar Qin sendiri, ia sudah mengira bahwa dirinya cuma pion untuk menguatkan kekuasaan Kaisar.


"Wen? Apa yang dia katakan tadi?"tanya Feng Li, ia penasaran apa yang dikatakan Kaisar Qin sampai wajah Liu Wen terlihat sangat emosi.


"Tidak ada! Li sebaiknya kau pulang aku lelah dan ingin tidur"kata Liu Wen memegang dahinya.


"Baiklah Wen. Jaga dirimu"Feng Li mengelus kepala Liu Wen.


"Oh ya Wen, aku menyukai dirimu yang sekarang"Feng Li tersenyum dan pergi meninggalkan Liu Wen.


*Kau juga teman yang baik menurut ingatan Liu Wen dimasa lalu. Ia selalu menjaga dan melindungi Liu Wen jika terkena masalah-batin Liu Wen. Feng Li selalu tersenyum dan menuruti kemauannya.


"Li!! Kemarilah sebentar kita baru saja bertemu! Ayo kita makan kue bulan dan minum teh dulu dikolam belakang seperti saat masih kecil"teriak Liu Wen, Feng Li berbalik dan mengangguk.


*Ini saatnya kukatakan perasaanku-batin Feng Li.


Kolam belakang


"Wen! Apa kau ingat dulu saat masih kecil kita suka menangkap ikan dikolam ini sampai sore hari. Ayahmu memarahiku karena mengajakmu memancing!"kata Feng Li sambil menatap bulan.


"Tentu saja aku ingat! Ayah sampai mengusirmu karena mengajakku bolos belajar"Liu Wen tertawa meskipun ia tak mengalaminya langsung tetapi melihat kilasan kejadian itu membuat hatinya hangat.


"Dulu jika aku membicarakan hal seperi ini kau tak akan merespon. Semenjak kau berusia dua belas tahun kau tak pernah mau main lagi denganku. Kau sibuk belajar tata krama dan lain lain"Kata Feng Li tersenyum miris, tahun lalu saat Feng Li bernostalgia dengan Liu Wen yang dulu. Ia akan langsung marah dan bilang 'jangan ungkit diriku yang bodoh dan dungu itu'.


"Oh ya? Untuk apa yah dulu aku belajar?"gumam Liu Wen kilasan ingatan tentang hal itu tak muncul membuatnya sedikit kebingungan.


"Kau lupa?"kata Feng Li mengalihkan pandangannya ke Liu Wen.


"Baguslah kalau kau lupa"gumam Feng Li, ia ingat betul apa yang dikatakan Liu Wen delapan tahun yang lalu.


8 tahun yang lalu


"Wenn! Ayo bermain bersama! Aku membawa jaring untuk menangkap kupu kupu!"kata Feng Li kecil yang berusia dua belas tahun. Ia menyelinap masuk kekamar Liu Wen lewat jendela.


"Li... Aku tidak punya waktu untuk bermain!"seru Liu Wen kecil yang berusia dua belas tahun, ia berfokus pada bukunya.


"Kenapa Wen!!"Feng Li cemberut dia menyenderkan kepalanya dijendela melihat Liu Wen yang fokus membaca buku membuatnya mengantuk.


"Kenapa? Aku seorang anak perempuan sudah seharusnya aku belajar"Liu Wen menghela nafas dan menaruh bukunya.


"Dulu kau selalu bermain denganku Wen"kata Feng Li ia naik keatas jendela dan masuk kedalam kamar lalu duduk disamping Liu Wen dan menatap wajah Liu Wen.


"Dulu aku tak punya tujuan tetapi sekarang aku sudah punya tujuan! Itu sebabnya aku giat belajar"Liu Wen menatap wajah Feng Li dengan wajahnya datar.


"Tujuan? Apa tujuanmu Wen?"Feng Li memiringkan kepalanya.


"Menjadi Putri Mahkota"Liu Wen tersenyum miring.


"Putri Mahkota? Wen! Kau menyukai Putra Mahkota?"teriak Feng Li, ia tersentak dan menatap serius Liu Wen.


"Tidak"jawab singkat Liu Wen.


"Fyuhh! Lalu kenapa kau mau jadi istri orang yang tidak kau sukai?"Feng Li mengalihkan pandangnya.


"Hanya untuk jabatan dan gelar! Tidak perlu melibatkan perasaan suka atau cinta! Perasaan bodoh dan tidak berguna! Itu hanya sebuah kata kiasan menikah harus berdasarkan cinta, yang ku inginkan cuma posisi Putri Mahkota"kata Liu Wen karena sering mendengarkan cerita neneknya membuatnya merasa harus kembali merebut kembali semua miliknya.


*****


"Hah? Li? Apa yang kau katakan?"tanya Liu Wen mendekatkan telinganya kedepan bibir Feng Li.


"Ehmm! Tidak! Tidakk ada"Feng Li tersipu dia mengalihkan pandangannya.


"Wen! Antara Kaisar Qin dan aku siapa yang paling kau sukai?"kata Feng Li entah kenapa tiba tiba pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.


"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja dirimu!"Feng Li melihat Liu Wen yang sedang memainkan air dengan tangannya. Sangat cantik mungkin ini saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Liu Wen ternyata juga menyukainya, dia bisa meminta bantuan ayahnya untuk membatalkan dekrit kaisar itu.


"W.. we..."


"Li! Aku sangat menyukaimu, terima kasih sudah melindungi dan menjagaku. Selamanya kau adalah satu satunya teman yang paling aku sukai"kata Liu Wen sambil tersenyum manis menatap Feng Li.


"Huhh... Ja..jangan sungkan kita adalah teman"Feng Li tersenyum hatinya sakit ternyata dia terlalu berharap dari dulu sampai sekarang tak pernah bisa melampaui batasan ini.


*Aku tetap akan mencintaimu walau kau tak membalasnya-batin Feng Li setidaknya dia bisa selalu bersama Liu Wen walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan.


****


Disisi lain


"Yang Mulia Kaisar? Sampai kapan kita berada diatas pohon?"tanya Chen, ia dan Kaisar sedang memantau Liu Wen dan Feng Li selama 2 jam terakhir.


"Sebentar lagi..."jawab Kaisar Qin saat melihat Liu Wen dan Feng Li tertawa. Ia akan mengenggam ranting kayu sampai hancur.


"Chen!! Ranting!"kata Kaisar Qin.


"Sebaiknya anda katakan yang sebenarnya kepada Nona Liu kalau anda menyukainya"kata Chen sambil menatap datar Kaisar Qin, ia memberikan ranting yang dikumpulkannya dibawah.


"Aku tak menyukainya! Huh!"balas Kaisar Qin wajahnya merona dan terlihat salah tingkah saat Chen mengajaknya bicara. Ia mengembungkan pipinya dan mendengus kasar layaknya anak kecil.


*Kaisar sangat tidak jujur dengan dirinya... Sampai kapan kami harus memata matai Nona Liu dan Tuan Muda Feng-batin Chen menatap datar.