I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
25. Rumor



"Kenapa kau buang hadiah dariku?"tanya pria itu yang tak lain Kaisar Qin.


"Uhmm? Ehh? Ada Yang Mulia?! Salam"Liu Wen melirik kearah jendela, ia berlagak seperti baru melihat Kaisar Qin.


"Jangan berlagak bodoh"kata Kaisar dengan datar.


"Meng... kenapa kau tak bilang kalau Kaisar akan kesini"bisik Liu Wen ditelinga Meng.


"Hamba baru saja akan mengatakannya tetapi Yang Mulia Permaisuri tak memberi hamba kesempatan"balas Meng sambil berbisik juga, ia tertawa ringan melihat wajah panik Liu Wen.


"Permaisuri? Apa yang kau bisikan... jelaskan dulu kenapa kau membuang hadiah dariku ini?"tanya Kaisar, ia mengambil kantung pengharum yang menempel dikepalanya.


"Itu.... dan kau kenapa kesini?! Bukannya selama sebulan ini kau sibuk mengurus negara!"kata Liu Wen dengan lantang matanya berkedip karena ingin mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau kesepian karena aku tak menggunjungimu?"senyum Kaisar, ia menyenderkan kepalanya dijendela.


"Apa? Aku? Ayolah! Kau tak menggunjungiku seratus tahun pun aku tidak masalah!"kata Liu Wen sambil tertawa garing.


"Hmmm.... kau selalu saja tidak jujur"kata Kaisar sambil memutar kantung pengharum ditangannya sontak ketika mencium bau bunga sedap malam Liu Wen langsung mual.


"Uhoek... uhuk uhuk..."Liu Wen muntah, ia memegang perutnya yang terasa nyeri hal itu membuat Kaisar terkejut dan langsung menghampiri Liu Wen.


"Wen'er! Kau tidak apa? Apa yang sakit? Kenapa kau muntah?"tanya Kaisar bertubi tubi.


"Aku sensitif dengan bau dan kau membawakanku kantung pengharum itu membuatku jadi mual"kata Liu Wen, ia mengusap mulutnya, kepalanya sedikit pusing karena makanannya habis dimuntahkan.


"Maafkan aku"Kaisar langsung membuang kantung pengharum yang ada ditangannya.


"Tidak apa, kau pergi saja dari sini aku ingin istirahat"kata Liu Wen sambil mengibas tangannya, ia mengusir Kaisar agar pergi dari sana.


"Padahal aku sengaja menyempatkan waktuku untuk melihatmu"gumam Kaisar dengan wajah yang ditekuk masam.


"Apa yang kau tunggu pergi sana!"bentak Liu Wen, tempermennya tiba tiba berubah dari yang lemah lembut dan menjadi marah.


"Baiklah jaga dirimu"Kaisar terkejut lalu mencium kening Liu Wen dan pergi meninggalkannya.


*Ada apa dengannya? Kenapa tiba tiba marah? Mungkin suasana hatinya buruk-batin Kaisar sepanjang jalan.


Keesokan harinya, Liu Wen bangun pagi lagi. Dia tidak bisa tidur karena sering muntah dimalam hari dan tak nafsu makan akhirnya ia memutuskan untuk jalan jalan ketaman.


"Yang Mulia.... sekarang sedang musim semi banyak bunga sakura dan prem bermekaran, apa anda mau jalan jalan sebentar untuk menghilangkan rasa sakit anda?"tanya Meng semakin hari Liu Wen semakin lesu karena kurang tidur entah karena sakit atau ada hal lain yang membuatnya begitu.


"Boleh. Aku juga bosan dikamar saja. Bawa aku jalan jalan"kata Liu Wen, ia merapikan baju dan rambutnya bersiap berjalan keluar.


Taman


"Kakak Permaisuri!!"teriak Selir Xiao yang sedang duduk digazebo dengan pelayannya, ia melambaikan tangannya agar Liu Wen datang menghampirinya.


"Ada apa?"tanya Liu Wen dengan senyum paksa diwajahnya, sebenarnya dia tak memiliki tenang lagi bahkan untuk tersenyum.


"Ahh aku lupa! Salam Permaisuri, semoga anda berumur panjang sehat selalu"Kata Selir Xiao menundukkan kepalanya.


"Bangunlah"kata Liu Wen, ia duduk dikursi sebelah Selir Xiao.


"Kakak aku sudah lama tidak mengunjungimu karena Yang Mulia Kaisar tak mengizinkan siapapun datang ke kediaman Phoenix"kata Selir Xiao dengan remah roti diwajahnya.


"Selir Agung! Anda berantakan sekali tidak pantas bertemu Yang Mulia Permaisuri dengan keadaan begini"kata Pelayan Selir Xiao dengan tegas.


"Ehh? Apa begitu?"Selir Xiao mendongkakkan kepala menatap pelayannya dengan tatapan polos.


"Tidak masalah, dia masih kecil"kata Liu Wen menyandarkan wajahnya ditangan.


"Maaf Permaisuri, walaupun Selir Xiao masih kecil tetapi ia adalah Selir Agung. Tolong anda ajarkan saja beliau tata krama yang baik"kata pelayan Selir Xiao dengan nada penuh penekanan.


"Apa kau sedang mengajariku? Bagiku dia hanya anak kecil, entah kenapa Ibu suri menjadikannya Selir diusia muda begini"kata Liu Wen, ia menatap tajam kearah pelayan Selir Xiao.


*Anak sekecil ini sudah diajarkan tata krama dan pelajaran menjadi seorang istri yang baik? Heh!? Aku bertaruh dia bahkan tak mengerti makna suami istri dan menikah... dasar nenek sihir eksploitasi anak!-batin Liu Wen, ia mengumpat karena kesal, tiba tiba perutnya mual lagi. Ia segera pamit dari sana menuju taman dengan Meng.


"Uhoekk.... Me..mengg. Aku benci selalu muntah begini"kata Liu Wen, ia muntah dibawah pohon sakura yang sedang bermekaran.


"Apa hamba panggilkan tabib saja Permaisuri? Keadaan anda sepertinya semakin memburuk?"tanya Meng sambil menepuk bahu Liu Wen.


"Tidak usah! Aku cuma masuk angin saja. Kau masak sup saja untukku. Aku akan menyusul nanti"kata Liu Wen dibalas anggukkan oleh Meng.


"Sial! Keadaan sekarang membuatku sulit melakukan sesuatu"gumam Liu Wen, ia memukul perutnya karena kesal.


"Pstt....! Hei bukannya itu Permaisuri?"kata seorang Selir tingkat rendah yang lewat didekat taman.


"Iya? Kau tau berita akhir akhir ini?"


"Apa?"


"Permaisuri mandul"


"Oh ya kau tahu dari mana?"


"Seluruh istana sudah tahu"


"Tapi... kau lihat dia... muntah muntah layaknya orang hamil?"


"Mungkin Permaisuri ingin mendapat perhatian Kaisar itu lah kenapa dia berlagak seperti hamil, hahaha"


"Wanita tak bisa mengandung sama dengan pajangan di istana"


"Dan ketika Yang Mulia sudah bosan, ia akan membuangnya, hahaha"


Liu Wen terdiam bagaimana mereka tahu bahwa dirinya mandul, bukannya Kaisar sudah memerintahkan untuk merahasiakan hal ini.


"Permaisuri! Apa benar anda tak bisa mengandung? Saya harap ini hanya rumor belaka"kata Selir Chu yang tiba tiba datang dari belakangnya.


"Tidak itu fakta"jawab Liu Wen dengan santai.


"Ahh astaga Permaisuri! Hamba turut berduka karena anda tidak bisa mengandung"kata Selir Chu yang tiba tiba langsung memeluknya.


"Aku baik baik saja"kata Liu Wen dengan singkat, sungguh dia baik baik saja, masalah anak jika dia mau dia bisa mengangkat anak saja nanti.


"Heh?! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana bisa bertahan di istana ini jika saya diposisi Permaisuri"kata Selir Chu dengan senyum miring diwajahnya walaupun Liu Wen tak melihatnya, ia tahu Selir Chu sangat bahagia dengan kabar ini.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku seorang Permaisuri ada atau tidaknya anak posisiku tak mudah digeser"kata Liu Wen dengan nada meremehkan.


"Ahh, anda benar"kata Selir Chu sambil tertawa ringan.


*Ckk! Sombong sekali dia! Disaat aku nanti sudah melahirkan Pangeran untuk Yang Mulia lihat bagaimana aku menendangmu dari Istana-batin Selir Chu sekarang ia sibuk mencari berbagai cara untuk memikat Kaisar.


"Aku mau jalan jalan sebentar"kata Liu Wen pergi meninggalkan Selir Chu dan memilih jalan jalan kedalam taman.


"Ambil ini... itu akan meredakan rasa mual diperutmu"kata seorang pria dengan dingin, ia melemparkan bungkusan kecil dari atas pohon.


"Apa ini... obat?"gumam Liu Wen, ia ingin mengembalikannya jika itu benar benar obat.


"Bukan.... itu madu dan bunga krisan seduh dengan air hangat dan minum, rasanya tidak pahit"kata pria itu dari atas pohon sepertinya ia mendengar kata kata Liu Wen.


"Terima kasih"seru Liu Wen ia berusaha melihat wajah pria itu.


"Tidak perlu kakak ipar"katanya sambil turun dari pohon dan pergi begitu saja.


"Ini juga demi keponakanku"gumamnya sambil menyeringai.


"Kakak ipar?"Liu Wen melihat wajahnya dan ia baru ingat bahwa pria itu adalah Pangeran keempat.