
"Ukhh!!!"darah mengalir deras, walau kaki dan tangannya telah hilang Jendral Song masih sadar.
"Lihat baik baik! Untuk kesekian kalinya banyak yang ingin mencelakaiku menggunakan trik kotor! Jika ada dari kalian ingin mencobanya!! Aku dengan senang hati menunggu"teriak Liu Wen, ia tersenyum miring untuk pertama kalinya, mereka melihat seorang wanita sekejam Liu Wen membuat mereka takut.
"Pertama kali aku melihat wanita kejam dan berani"
"Permaisuri tak main main"
"Langsung ditebas, tanpa ampun"
"Jangan cari masalah dengan Permaisuri"
*Dia! Diaa berani memotong tangan dan kaki seseorang... mengerikan!-batin Ibu suri, ia melotot badannya merinding baru pertama kali melihat secara langsung tangan dan kaki seseorang dipotong dengan ganas oleh seorang wanita, walaupun ia banyak membunuh orang tetapi bawahannya lah yang melakukannya.
"Aku hanya memperingatkannya. Tolong kalian jaga anak, saudara atau cucu kalian dengan baik karena aku masih menghormati kalian jadi aku memintanya"kata Liu Wen dengan penuh penekanan dan menatap kearah Mentri Bai.
"Saya mengaku salah, Yang Mulia Permaisuri, apalah daya saya, sebelum jadi Mentri aku adalah seorang ayah dan untuk itu pembu...."Mentri Bai berlutut, ia mengakui kesalahannya dan memohon dikaki Liu Wen agar mengampuni putrinya.
"Tidak perlu Mentri, ayah menganggap anda sebagai gurunya. Saya juga menggangap anda keluarga, setidaknya saya tidak melakukan hal yang sama karena saya masih mengingat hal itu"kata Liu Wen dengan tegas, ia memotong kalimat Mentri Bai yang ingin mengakui bahwa sebelum pernikahan ia pernah mengirim pembunuh untuk membunuh Liu Wen.
"Nak. Maafkan aku"lirih Mentri Bai, sebenarnya dia orang yang baik tetapi cintanya kepada putrinya membuatnya buta akan kebenaran.
"Tenang saja! Aku takkan sampai menghukum mati Bai Fupei"Liu Wen berjalan mendekat kearah Kaisar dengan penuh darah dibajunya tak ada sedikit pun ketakutan didalam diri Liu Wen.
"Meng mulai hari ini kau takkan menjadi seorang pelayan tetapi bangsawan tingkat 5 dan Selir Agung Bai diturunkan pangkatnya menjadi Selir biasa. Ia harus pergi ke Istana dingin untuk merenungkan kesalahannya"teriak Liu Wen, ia melirik kearah Kaisar untuk menyetujui kata katanya, ya karena posisinya cuma Permaisuri.
*Tidak salah pilih kamu itu sangat menarik Wen'er-batin Kaisar, ia tersenyum melihat Liu Wen yang berwibawa saat mengungkap kejadian demi kejadian.
"Segara laksanakan"kata Kaisar, ia menyuruh beberapa pengawal membawa Selir Bai yang pingsan keluar aula istana.
"Yang Mulia... maaf hamba lancang tetapi hamba tak bisa menerima gelar bangsawan itu"kata Meng yang berlutut didepan Kaisar.
"Meng!"Liu Wen terkejut dengan yang dikatakan Meng.
"Kenapa?"tanya Kaisar Qin apa alasan seorang pelayan tak mau mengambil kesempatan emas ini.
"Sungguh tidak tahu malu"
"Pelayan rendahan itu menolak pemberian Kaisar dan Permaisuri"
"Bangsawan tingkat 5 setara dengan pejabat desa, dia bisa mendapat uang dari pemerintah tanpa bekerja! Kenapa dia bodoh sekali!"
"Dia juga memiliki kesempatan menikah dengan pria bangsawan dan menjadi istri sah"
Bisik para pejabat yang memaki Meng karena tak mengambil kesempatan itu.
"Hamba tahu itu.... hamba adalah orang bodoh mendapat kesempatan untuk hidup dengan layak dan nyaman tetapi tak diambil. Hamba tak memiliki keluarga lagi, orang tua hamba sudah mati karena kelaparan lalu hamba dijual oleh penagih hutang. Hamba diperlakukan tidak manusiawi sebelumnya sampai akhirnya Permaisuri memperlakukan hamba layaknya manusia, walau ini lancang hamba sudah menganggap Permaisuri sebagai kakak hamba dan hamba hanya mau melayani Permaisuri saja!"kata Meng, ia menangis dengan posisi masih menunduk.
"Meng"Liu Wen terkejut akan pernyataan Meng yang menyentuh hatinya, ia tersenyum mendengar perkataan jujurnya.
"Baiklah!! Tolong jaga Permaisuri dengan baik"kata Kaisar dengan senyum diwajahnya.
"Terima kasih Yang Mulia"kata Meng sambil tersenyum, melihat hal itu Selir Chu ingin mendapat perhatian Kaisar juga bukan hanya Liu Wen saja yang bisa pikirnya.
"Yang Mulia, jangan asingkan kakak Bai disana dia akan kesepian"ucap Selir Chu, ia menangis dan memohon untuk Selir Bai.
*Hehehehe, dia sudah bukan Selir Agung lagi berarti sainganku tinggal bocah itu, setelah aku menyingkirkannya hanya aku yang akan menjadi Selir Agung-batin Selir Chu, satu persatu saingannya berkurang dan tak perlu campur tangannnya untuk menyingkirkan wanita jalangg yang selalu dipanggilnya kakak Bai itu.
"Oh.... sepertinya Selir Chu sangat takut jika Selir Bai akan kesepian? Kenapa kau tidak ikut bersamanya saja? Aku akan meminta Yang Mulia mengantarmu kesana juga"kata Liu Wen, ia tahu sekali wanita ini licik bahkan sampai mengkhianati temannya sendiri.
"Aa..uhmm.... Ti...tidak Yang Mulia! Saya.. tidak mau... hanya saja.... saya.... khawatir... dengan... kakak Bai!"Selir Chu panik mendengar kata kata Liu Wen, dia cuma bermaksud cari perhatian Kaisar saja bukan mau pergi kesana.
"Lho kenapa Selir Agung Chu. Apa kau membuang temanmu?"tanya Selir Hui walaupun hanya selir biasa, ia masih memiliki hak untuk berbicara karena status anak Jendral.
"Kau! Selir rendahan"Selir Chu langsung berdiri dan memanas saat Selir Hui berbicara, ya dia takut Selir Hui akan memberitahukan kepada Kaisar kalau dia mencoba membunuh Selir Bai dan Selir Hui.
*Selir Kehormatan Tang? Siapa dia-batin Liu Wen, ia memiringkan kepalanya karena belum pernah bertemu wanita itu disini.
"Dia Putri dari Kekaisaran Tang, Tang Sui sebelum ini dia wanita pertama yang menjadi Selir dan diberi gelar Kehormatan. Kau tidak bertemu dengannya karena kasus meninggalnya adik adikmu di Kediaman Perdana Mentri Liu disebabkan olehnya. Dia sekarang dihukum di istana dingin"kata Kaisar yang mengetahui apa yang dipikirkan Liu Wen.
"Tunggu..."kata Liu Wen, ia menghentikan langkahnya dan menatap lekat Kaisar sambil memegang dagunya.
"Apa?"wajahnya memerah karena Liu Wen tiba tiba menatapnya dengan serius.
"Kau punya kekuatan sihir ya? Kok bisa tebak isi kepalaku?"tanya Liu Wen membuat Kaisar batuk, ia kira ada apa ternyata hanya omong kosong yang dilontarkan Liu Wen.
"Dasar bodoh"kata Kaisar Qin melanjutkan perjalanannya.
"Hei... hei ajarin aku! Akuu juga mau membaca pikirann orang"teriak Liu Wen dengan gaya layaknya anak kecil.
"Aku tidak bisa sihir..."kata Kaisar dengan lembut.
"Iya juga sih kayaknya bener, kalau kau bisa sihir mana jenggot dan tongkatnya"kata Liu Wen sambil berpikir.
"Haaa...."Kaisar memegang kepalanya apa benar ini orang yang sama yang tadi dengan berani menebas tangan dan kaki Jendral.
"Bercanda! Ayolah kau kira aku bodoh apa?!"senyum Liu Wen sambil menjulurkan lidahnya, mereka bercanda sepanjang jalan membuat semua orang iri akan kemersaan mereka.
"Ayah apa kau masih mengkhawatirkan kakak?"tanya Liu Yichen kepada ayahnya mereka melihat dari kejauhan Liu Wen dan Kaisar sedang bercanda.
"Aku ayahnya tentunya aku selalu khawatir jika anakku jauh dari pengawasanku tapi.... kakakmu wanita yang kuat dan pintar. Sepertinya aku akan buang buang waktu memikirkannya"kata Liu Whojin sambil mengedikan bahunya.
"Kau ayah yang kejam"kata Liu Yichen dengan datar.
"Ehh?"Liu Whojin terkejut lalu merangkul anaknya mengajaknya pulang.
*******
1 bulan kemudian
"Yang Mulia! Anda sudah bangun?"tanya Meng yang kaget melihat Liu Wen duduk dikursi sambil membaca buku.
"Iya! Akhir akhir ini aku suka muntah jadi tak bisa tidur"kata Liu Wen pandangannya beralih kearah Meng yang sedang membawa ember berisi air.
"Astaga Yang Mulia Permaisuri! Kantung mata anda tebal sekali apa... saya panggilkan tabib saja?"tanya Meng, ia khawatir akan kondisi Liu Wen yang sangat buruk.
*Ahh! Aku benci sekali minum obat! Tidak mau!-batin Liu Wen, ia ingat saat diera modern kakaknya selalu memaksanya minum pil vitamin atau semacamnya agar dia tak mudah sakit.
"Tidak tidakk... aku baik baik saja! Hanya kurang tidur! Hoekkm..."tiba tiba perutnya mual, Liu Wen langsung pergi kekamar mandi.
"Yang Mulia..."Meng langsung mendekat dan menepuk nepuk bahu Liu Wen.
"Hahh... Meng! Kau bawa apa? Baunya busuk"kata Liu Wen menutup hidungnya lalu membersihkan mulutnya.
"Saya membawa kantung pengharum dari Yang Mulia Kaisar. Isinya bunga sedap malam"kata Meng mengeluarkan kantung pengharum itu dari kain yang masih tertutup.
"Uhoekk.... Me...meng! Buang itu! Aku mual mencium baunya"kata Liu Wen sambil mengibas tangannya tanda agar Meng menjauhkan kantung pengharum itu.
"Ta...tapi..."Meng sedikit ragu karena ini adalah pemberian Kaisar.
"Kau lama"kata Liu Wen dengan cepat ia mengambil kantung pengharum itu dan membuangnya dari jendela.
"Hahh! Aku hidup damai!! Tidak melihat benda terkutuk itu"kata Liu Wen sambil mengusap dadanya.
"Apa ini benda terkutuknya?"tanya seorang pria dari arah jendela dengan kantung pengharum dikepalanya.
"Ehhh....!"Liu Wen terkejut, ia mengambil bukunya berpura pura membacanya dan tak mendengarkan berkataan pria itu..