I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part 'Putri Cacat dan Pangeran Buruk Rupa'



"Selamatkan diri kalian!!!" Teriak para pelayan, mereka berlari kesana kemari karena banyak bangunan runtuh akibat sulutan api.


"Hanya karena Raja tidak menurut kepada Kekaisaran Kou! Mereka dan sekutu membakar Ibu kota dan istana" Isak rakyat mereka mendekap anak anak mereka agar tak terkena hawa panas kobaran api.


"Raja Nam Wok yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang ini...." Lirih pria tua yang meringis kesakitan, kakinya tertimpa kayu bangunan dengan api yang masih berkobar, sebelum meninggal ia mengatakan hal itu, menyumpahi Raja tak berguna yang mereka miliki.


"Yang Mulia.... Yang Muliaa! Mohon tegakkan keadilan" Kata Mentri Pertahanan Kim, ia bersujud diikuti oleh seluruh pejabat yang tersisa.


"Mohon tegakkan keadilan..." Seru mereka dengan serempak, Raja Nam Wok terdiam, ia menyingsihkan keringatnya yang sangat banyak karena dirinya menolak permintaan Kaisar Ryuji, Ibu kota beserta istananya dibakar. Banyak prajurit yang tak siap siaga menjadi korban, tak hanya prajurit, rakyat dan pejabat pun banyak yang mati.


"Ak..aku... apa yang harus aku lakukan" Kata Raja Nam Wok, ia gemetar wajahnya pucat kerena hampir mati, jika Ratu Hyunseo tak membangunkannya tepat waktu bersama Putra Mahkota Ri Won mungkin sekarang dia sudah menjadi abu.


"Yang Mulia! Sebaiknya anda mendengarkan nasihat saya" Seru Penasehat Negara Lim selama ini nasehat dari Lim Gyojong lah paling didengarkan oleh Raja Nam Wok, hal itu membuatnya seperti Raja yang sesungguhnya di Joseon.


"Apa?? A...apa... katakan!" Tanya Raja Nam Wok ia menarik baju Penasehat Lim tak sabar mendengar pernyataan bawahannya tersebut.


"Saya baru saja mendapatkan surat dari utusan Kaisar Ryuji, mereka meminta Putra Mahkota sebagai sandera atau menyerahkan kedaulatan kita kepada mereka. Menurut saya anda harus menyerahkan Putra Mahkota Ri Won karena negara kita baru saja mendapat kedaulatan dari Kaisar Qin"kata Penasehat Lim, ia bersujud, bukannya takut akan situasi sekarang ia malah menarik senyum miring karena perkataannya pasti mendapat dukungan yang banyak.


"Ti...tidak! Bagaimana kita bisa menyerahkan Putra Mahkota! Dia masih muda!" Kata Raja Nam Wok dengan tegas. Ia mengebrak meja karena marah, putra satu satunya akan menjadi tawanan perang mereka?! Itu tidak mungkin!


"Mohon pertimbangkan Yang Mulia.... " Kata Mentri lainnya mereka ketakutan akan situasi sekarang dan lebih memilih mengorbankan satu nyawa dari pada semua orang mati karena menjadi bagian dari Kekaisaran Qin lagi, seperti yang mereka tau betapa kejamnya Kekaisaran Qin saat itu membuat seluruh pejabat merasa ketakutan setengah mati.


"Yang Mulia?! Kau tidak akan menyerahkan Putra Mahkota kan?" Tanya Ratu Hyunseo, ia memegang erat kedua tangan Raja, anaknya baru berusia 8 tahun. Diumur sedini itu menghadapi masalah yang besar, apakah dia bisa bertahan.


"Yang Mulia! Anda harus memikirkan rakyat sekarang! Mereka menginginkan Putra Mahkota!"kata Penasehat Lim, ia membentak dengan halus Raja Nam Wok.


"Ta..tapi aku... Putra Mahkota...."


"Salam Hormat Yang Mulia" Kata Lim Hari, ia berjalan dengan anggun walau situasi disekitarnya sedang kalut.


"Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia, Putra Mahkota akan baik baik saja. Karena di Kekaisaran Kou sangat menjunjung tinggi tamu mereka, Putra Mahkota adalah Bangsawan walaupun tawanan perang dan.... beliau bisa kita jadikan mata mata disana. Kita akan mendapatkan keuntungan disini, lagi pula jika Putra Mahkota ingin menjadi Raja selanjutnya dia harus menghadapi segala macam bahaya dulu. Iya kan?!"kata Lim Hari, ia adalah putri dari penasehat Lim, perannya di istana Joeson ini cukup penting, yaitu sebagai selir kesayangan Raja.


"Anda tidak boleh egois Ratu...."


"Anda kan Ibu negara bagaimana bisa anda tak merelakan Putra Mahkota demi rakyat anda"kata Lim Hari, ia tersenyum puas, ini semua berkat ayahnya.


"Y...ya...! Kamu benar Hari... ak..aku akan menyerahkan Putra Mahkota dan Putra Mahkota harus menjadi mata mata disana demi kepentingan Joseon! Putra Mahkota akan pergi" Kata Raja Nam Wok, setelah beberapa jam Raja Nam Wok memberikan titah resmi, bantuan dari Kekaisaran Qin datang atas permintaan Kaisar Ryuji. Mereka membantu memadamkan api, membangun rumah dan meninggalkan sebagian besar prajurit disana.


"Ri Won..."


"Jaga dirimu baik baik, Ibunda sangat menyayangimu" Kata Ratu Hyunseo, ia mendekap erat tubuh putranya itu.


"Aku mau kemana Ibunda?" Tanya Ri Won, ia tak mengerti apa yang terjadi disini, para pelayan melihatnya dengan iba membuatnya penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau akan pergi ke Kekaisaran Kou! Jadilah mata mata disana.... tulis dengan kode dan ceritakan setiap pergerakan musuh kita...." Kata Raja Nam Wok, ia berada disinggasananya, tak menatap wajah putranya bahkan untuk yang terakhir kalinya karena tak ada yang tahu kapan Ri Won bisa menginjakkan kakinya di Joseon lagi.


"Apanya yang menjadi mata mata! Kau membuangku" Gerutu Ri Won, ia mengeretakkan giginya. Satu bulan berlalu di Kekaisaran Qin, sang Putra Mahkota dengan tubuh penuh dengan lumpur mencari makan dengan meminta secara paksa para pedagang walaupun hasilnya ia dipukuli oleh para pedagang itu dan diberi makanan sisa.


Ri Won menjadi pendiam dan dia juga memiliki pribadi yang buruk, sering berkelahi untuk melampiaskan dendamnya kepada ayahnya dan Kekaisaran Qin tetapi sejak bunga kecil datang, kepribadiannya sedikit demi sedikit berubah.


******


"Kau yakin dia bukan anak pungut Permaisuri Liu Wen?"


"Katanya Putri baru sangat sombong"


"Mau jalan beberapa meter saja harus pakai tandu"


"Saat kau mengotori gaunnya pun tanganmu akan dipotong!"


"Ayo kita bertaruh! Siapa yang berani menyentuh gaun Putri Yiwei akan mendapatkan emas!" Seru para pelayan muda karena penasaran Ri Won ikut berbaur dan mengikuti permainan itu, dia menawarkan diri karena perlu uang dan sangat penasaran akan sosok Putri baru itu. Umurnya sudah 11 tahun, sekarang ia menjadi anggota pengawal pribadi keluarga kerajaan demi mendapatkan kehidupan yang layak. Walaupun jauh dari kata cukup tetapi kehidupannya saat ini sudah lebih baik.


"Hei Putri!! Bertarunglah denganku" Kata Ri Won dari matanya tersimpan dendam yang mendalam. Dia ingin melampiaskannya kepada Anna yang baru saja datang ke istana saat itu.


"...."Anna menoleh sekilas lalu berjalan lagi seperti biasa, ia tak menghiraukan anak laki laki yang baru saja beranjak remaja itu.


"Jangan meremehkanku!" Teriak Ri Won, ia memukul Anna dari belakang tetapi dengan cepat Anna menghindar, berkali kali ia memukul tetapi tak satu pun mengenai Anna.


"Kenapa kau memukul seorang wanita? Apa benar kau seorang pria? "seru Anna, ia menatap Ri Won yang terbaring ditanah karena kelelahan.


"Aku tidak peduli mau pria atau pun wanita kalau dia angkuh dan suka menindas orang lain aku akan membunuhnya!" Kata Ri Won dengan lugas, Dia berdiri dan mencoba memukul Anna lagi tetapi kali ini Anna tak menghindar, ia menangkap tangan Ri Won dan menariknya tepat didepan wajahnya.


"Jika begitu rajin rajinlah berlatih. Aku akan menantikan hari dimana kau membunuhku" Anna menyeringai, ia mendorong Ri Won agar menjauh darinya dan pergi dari sana.


******


"Ughhhh!!!!" matanya terbelak, nafasnya juga berderu pemuda itu memegang dadanya dan berusaha mengatur nafasnya.


"Aku mimpi hal itu lagi"


Ri Won memegang kepalanya yang hampir pecah. Semalam ada pesta perayaan kenaikan pangkatnya, meski sudah berumur 26 tahun, ia masih saja tak kuat minum. Mimpi semalam.... bukan! Lebih tepatnya lagi kilasan masa lalunya bangun melalui mimpi.


"Kepala Pengawal! Hari ini pelatihan kita selama 7 tahun sudah selesai!"


"Yang Mulia Kaisar memanggil tim kita untuk mulai bekerja besok di istana" Kata salah satu bawahannya.


"Begitu ya....? Ahh.... akhirnya selesai" Kata Ri Won, bajunya yang terbuka menampilkan otot otot perutnya hasil latihannya selama ini.


"An..annu... itu... menyilaukan mata" Kata bawahannya, ia melirikkan matanya kearah lain. Jika ia seorang wanita mungkin saat ini ia akan terpanah melihat tubuh kekar milik Ri Won.