I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Menundukan Kepala,



Malam Hari Rumah Bordil


"Hahahahaha.... Ternyata Raja Nam Wok lebih menyayangi Pangeran Woo Rin! kita sangat beruntung! Gelar Putra Mahkota akan menjadi milik Pangeran Woo Rin!"kata Mentri Kim, ia membuat perayaan karena perkataan Raja yang secara tak langsung memihak Woo Rin untuk menjadi penerus tahtanya.


"Anda bahagia kan penasehat Lim?"tanya Mentri Chul, ia melirik kearah Penasehat Lim yang nampak gusar dari tadi.


"Ya, tentu saja aku bahagia untuknya"kata Penasehat Lim, ia masih tak rela jabatannya dicabut begitu saja.


*Kenapa tiba tiba dia memperdulikan Woo Rin? Apa dia merencanakan sesuatu?-batin penasehat Lim, ia merasa sedikit janggal dengan keputusan Raja Nam Wok.


*Kurasa aku yang terlalu berpikir berlebihan. Tidak mungkin boneka tidak berguna itu punya otak untuk berpikir-dia tersenyum miring dan mulai menikmati pesta perayaan itu.


*Tidak masalah! Jabatan itu akan kudapatkan lagi saat Woo Rin sudah menjadi Raja. Untuk sementara waktu sebaiknya aku tak membunuh Raja Nam Wok sampai hari penobatan Putra Mahkota. Aku akan biarkan dia hidup dengan nyaman!"


"Jika Woo Rin sudah menjadi Putra Mahkota akan kupastikan jalur perdagangan ke dataran Kou akan lancar tanpa kendala"kata Penasehat Lim selama ini ia banyak melakukan transaksi dengan Kekaisaran Kou padahal Raja Nam Wok mengeluarkan perintah untuk tak memasok apapun ke Kou.


*Walaupun sudah lama tak berkomunikasi dengan Kaisar Ryuji tapi aku yakin dia masih berpihak padaku-batin Penasehat Lim, ia sangat percaya kalau sekutu lamanya itu akan membantunya lagi saat mereka melakukan pertukaran yang bagus.


"Cuaca sedang cerah ternyata"kata seorang pria yang berada diruang rahasia yang berada dibelakang ruang utama perkumpulan para pejabat Joseon itu.


"Apa kakek tua itu ingin memanfaatkanku lagi"gumam pria itu, ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya. Baju berlapis dan sangat tebal tak membuatnya kesulitan dalam berjalan.


"Yang Mulia Kaisar berita yang kita dengar benar. Putra Ratu Hyunseo sudah kembali ke Joseon dan..... Dia juga menikah dengan Putri sulung Qin"kata seorang prajurit yang memakai baju hitam serta penutup wajah.


"Boleh juga anak itu... Kukira dia akan mati karena mendapat siksaan di Kekaisaran Qin, ternyata dia lebih kuat dari yang kuduga"seru pria itu yang tak lain adalah Kaisar Ryuji. Pria itu tak menikah dengan siapapun dan melajang sampai sekarang tetapi jangan salah kira bahwa ia seorang Kaisar tua. Umurnya saat ini baru menginjak kepala tiga yaitu 38 tahun.


"Padahal dia sudah mati dan dia sudah memiliki suami serta anak. Kenapa aku masih saja mengejarnya sampai sekarang"gumam Kaisar Ryuji dengan anggun ia meminum tehnya tata krama sangat ketat di Kou sampai ia menjadikannya kebiasaan.


"Para Mentri sudah menyerah untuk mencarikan anda pasangan. Apakah anda tak bisa melepaskan Ratu Hyunseo meski ia sudah tiada?"tanya prajurit itu, ia menghela nafasnya. Kenapa Kaisarnya itu sangat terobsesi dengan Ratu Hyunseo yang sudah tiada seharusnya Kaisar Ryuji menyerah sejak dulu lalu. Kenapa dia selalu memantau Ri Won yang berada di Kekaisaran Qin. Hal itu membuatnya binggung.


"Menikah apanya. Aku hanya mau Hyunseo"kata Kaisar Ryuji, ia mengoyangkan tangannya dan menaruh cangkir teh diatas meja yang berada didepannya.


"Tapi anda perlu keturunan yang akan meneruskan tahta anda kan? Anda juga tak punya saudara jadi tak bisa menyerahkan tanggung jawab itu kepada siapa pun!"


"Bagaimana kau saja yang ambil alih semuanya?"goda Kaisar Ryuji, ia tersenyum miring menampilkan giginya.


"Tidak mau! Saya belum siap hidup dengan beban yang berat seperti itu"kata prajurit itu dengan cepat.


*Ada hutang yang harus kubayar, sebagai Kaisar dan orang yang membuat semua masalah ini terjadi-batin Kaisar Ryuji alasannya datang Joseon adalah untuk membantu Ri Won mendapatkan haknya sebagai pewaris tahta yang sesungguhnya.


*******


Istana


"Yang Mulia Raja memanggil anda... Yang Mulia Pangeran Ri Won... "kata seorang kasim muda kepada Ri Won yang sedang berada di Balai Pusat Militer kerajaan.


"Dimana Kasim Gi?"tanya Ri Won, ia kenal dengan kakek tua itu. Sejak dirinya masih kecil ayahnya sangat percaya dengan Kasim Gi. kenapa tiba tiba Kasim yang melayani ayahnya diganti.


"Siapa namamu?"tanya Ri Wo, ia berdiri dari sana dan berjalan bersamanya.


"Hamba Go Duk Kasim dari Istana yang melayani bagian dapur"kata Kasim Go, ia memandu jalan sambil memegang lentera.


"Ohh begitu pantas saja aku baru melihatmu"kata Ri Won, ia tersenyum tak terasa mereka sudah berada didepan halaman kediamanan Raja. Untuk pertama kalinya ia datang kemari lagi setelah sekian lama.


"Dulu sepertinya aku suka sekali kesini diam diam dan tidur disamping Ayahanda"gumam Ri Won, ia masuk dan berjalan dilorong kediaman Raja yang lumayan panjang itu.


"Semuanya nampak sama bahkan coretanku di dinding tidak dihapus"ia tertawa kikuk dan merasa malu membaca coretan itu.


"Aku akan tinggal disini"


"Aku ayahanda dan ibunda harus tidur bersama"


"Eww memalukan"dia mengambil belatinya dan mengores coretan itu agar menghilang.


"Kenapa kau ingin menghapus kenangan berharga itu?"tanya Raja Nam Wok karena sangat gaduh diluar, ia yang dari tadi menunggu Ri Won didalam kamar melihat keluar. Apa yang sedang terjadi dan ternyata ia melihat Ri Won yang sedang mencungkil dinding kayu yang berada di pojok tempat ia biasa mencoret disana saat masih kecil.


"Ahh... Salam Yang Mulia... "Ri Won tersentak dan memberi Raja Nam Wok hormat. Untuk saat ini ia masih merasa canggung untuk memanggil ayah seperti dulu.


"Ayo jalan...."kata Raja Nam Wok, ia memimpin jalan. Ri Won mengikutinya ia kira akan ke kamar tetapi Raja Nam Wok tetap berjalan melewati kamarnya.


"Apa kau ingat tempat ini Ri Won-naa" tanya Raja Nam Wok mereka berhenti disebuah pohon kesemek yang berada ditaman belakang kediaman Raja.


"Ahh... Ibunda suka sekali memanjat pohon ini"kata Ri Won dengan spontan. Ia ingat bagaimana tak anggunnya Ibunya itu saat menginginkan sesuatu. Bukannya menyuruh orang ia malah mendapatkannya dengan usahanya sendiri.


"Apa kau ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Ibundamu?"kata Raja Nam Wok, ia melihat wajah putranya yang tadi merasa santai tiba tiba menjadi tegang saat ia menyinggung kematian Ratu Hyunseo.


"Ibundamu tidak bunuh diri"


"Apa?"gumam Ri Won, ia tak percaya Raja Nam Wok mengatakannya padahal saat pesta perayaan ia bilang ibunya mati bunuh diri.


"Dia mengorbankan nyawanya demi dirimu dan aku. Aku melihat disaat saat terakhirnya tetapi aku ketakutkan dan bersembunyi dibalik pohon menyaksikan semuanya"kata Raja Nam Wok ia melihat wajah Ri Won yang terlihat sangat marah saat ini.


"Apa maksudnya demi aku dan kau! Apa kau tak bisa sedikit berani jika menyangkut nyawa manusia? Hah?!"teriak Ri Won, ia menarik baju Raja Nam Wok karena sangat marah sekarang jika saat itu ia yang ada diposisi Raja Nam Wok ia pasti akan menyelamatkan ibunya.


"Iya aku adalah pengecut yang takut mati... Penasehat Lim dan Hari mengancamnya. Kalau ia tak bunuh diri, mereka akan membuatmu sengsara di Dinasti Qin dan membunuhku saat itu juga...."


"Saat itu Hari sudah memiliki Woo Rin yang bisa mengantikanku kapan saja....! Itu sebabnya Ibundamu setuju dan memohon kepada mereka agar mereka melepaskanmu"


"Jangan bertindak sembarangan! Aku sudah memiliki rencana! Jika ini menjadi pertemuan kita yang terakhir sebagai ayah dan anak"


"Ayahanda mohon maafkan ayahanda. Mulai sekarang percayakan semuanya kepada ayahanda"saat Ri Won ingin pergi dan menghabisi Penasehat Lim. Raja Nam Wok menghentikannya dan menunduk meminta maaf kepada anaknya itu.