
"Apa maksudmu?"tanya Anna, ia mendengar Aiden bergumam dari tadi.
"Ahh.....sepertinya kita kembali ke Dinasti Qin"kata Aiden tanpa sadar membuat mereka terkejut.
"Apa?!"kata mereka dengan serempak.
*Sial kelepasan-batin Aiden karena sibuk berpikir ia malah menjawab pertanyaan Anna dengan jujur.
"Apa kau.... ikut ikutan menjadi gila seperti mami?"tanya Jake, ia menjauh dan berkumpul bersama tiga adiknya, mungkin saja ada virus yang membuat Aiden tak waras dalam hitungan detik.
"Hahh! Kau kebanyakan baca naskah Jake"kata Aiden ia menghela nafas.
"Dulu aku pernah bermimpi melihat roh yang sangat mirip dengan mami kan? Dia bilang akan mempertemukan kita dengan papi tetapi aku harus dikorbankan"jelas Aiden ia duduk dan menjelaskan sedikit apa yang dialaminya.
"Jadi kau kira kami percaya?"kata Jake, ia menaikan satu alisnya, kakaknya ini biasanya berpikir secara logika kenapa sekarang ia mengatakan hal yang tak masuk akal.
"Kita akan tahu saat keluar nanti"kata Aiden tiba tiba tangannya berdenyut keras membuatnya meringis.
"Jika memang itu yang terjadi, kenapa kau tak mati? Bukankah seharusnya kau dikorbankan?"tanya Keyzee yang penasaran.
"Itu juga yang sedang kupikirkan, saat roh itu mengayunkan tangannya, tanganku tergores begini"kata Aiden, ia menyodorkan tangannya yang terluka.
"Dia hanya mau darahmu, itu adalah kesimpulan yang paling masuk akal. Jika ingin membunuh seharusnya menggores urat nadi dipergelangan tangan atau leher bukan ditelapak tangan"kata Anna, saat ia mencerna apa yang dikatakan Aiden ia baru bisa menyimpulkan sebuah alasan yang masuk akal.
"Jadi cuma gertakkan saja"kata Ellson walaupun tak masuk akal ia bisa mengikuti alur percakapan para kembarannya.
"Lalu sekarang apa? Papi seorang Kaisar dan kita akan ke istana dan hidup bahagia bersama?"kata Jake sambil tersenyum kecut.
"Tidak mungkinkan? Menurut yang kubaca di naskah, papi seorang Kaisar yang memiliki dua anak Putri Qin Meili dan Pangeran Qin Jianwe! Ada Selir Agung juga yang memegang hak atas harem dan menjadi koordinator istana. Posisi mami pun sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari waktu kepergian mami kekuil ia mungkin belum mengandung kita, Kaisar? Papi kandung kita itu sangat diragukan, dia juga tak akan percaya! Apa lagi papi itu sepertinya..."Jake menatap wajah kembarannya dengan serius.
"Tak mencintai mami"lanjut Jake wajahnya terlihat lesu naskah yang ditulis sutradara itu didapatnya dari rakyat sekitar istana mereka mendengar cerita itu secara turun menurun walaupun tak bisa dipercaya setidaknya ia mendapat sedikit gambaran.
"Wow kesimpulan yang menarik sudah seperti detektif conan saja"kata Keyzee ia menepuk tangannya.
"Aku serius Key"kata Jake mengerutkan dahinya.
"Yahh... apa pun keadaannya kita harus bersiap segala kemungkinan bisa saja terjadi... tapi tak perlu cemas, remaja dari masa depan ini sudah menyimpan jutaan taktik penakluk segala jenis manusia"kata Jake, sebagai aktor ia yang paling lihai mempermainkan emosi seseorang.
"Sungguh! Aku ingin muntah"kata Anna ia memutar malas bola matanya, sedangkan kembarannya yang lain hanya tertawa melihat drama Jake.
******
Kembali kemasa sekarang
"Dimana aku bisa menemukan tali"gumam Liu Wen setelah menyelamatkan Qin Jianwe tadi, ia berkeliling hutan beberapa kali tetapi yang ia temukan hanya hewan liar saja.
"Ada orang"kata Liu Wen, ia bersembunyi dibalik bambu walau sudah bertahun tahun tak kembali, ia harus waspada jika bertemu salah satu kerabatnya.
"Dimana aku harus mencari kelinci"kata seorang pria ia mengosok tangannya yang terlihat membiru, dengan memakai baju hijau tua dua lapis dan rambut yang diurai setengah lengkap dengan busur dan panah ditangannya.
"Dia..."tangan Liu Wen gemetar melihat pria yang dengan gagah beraninya menjadi tameng hidupnya, pria yang selalu mengatakan bahwa ia mencintainya.
"Qin Xuan..."kata Liu Wen nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, kakinya tanpa sadar menuntunnya ke Kaisar, Liu Wen memeluk Kaisar dari belakang.
"Aku menemukanmu"kata Liu Wen, ia tersenyum lebar mempererat pelukannya.
"Siapa kau?!"tanya Qin Xuan, ia bertanya hal itu tanpa berbalik.
"Ka... hei! Wanita kasar"kata Kaisar saat menoleh sedikit ia melihat sosok bibir yang selalu berada kepalanya, melihat wajah Liu Wen membuatnya mulai melihat wajah yang sama dikepalanya.
"Ayolah kau pernah lebih kasar dari pada aku saat diranjang"goda Liu Wen membuat telinga Kaisar memerah.
"A..apa yang kau bicarakan! Ki..kita tak mungkin sedekat itu"kata Kaisar, ja membalikkan badannya.
"Ohh lihatlah siapa yang sedang malu malu ini, hehehe"Liu Wen meraba dada Kaisar membuatnya semakin malu.
"Dimana kau selama ini, aku mencarimu untuk menjadi Permaisuriku"kata Kaisar ia memegang pipi Liu Wen.
"Hah? Permaisuri?"Liu Wen sedikit binggung bukannya dia sudah menjadi Permaisuri. Kenapa menjadi Permaisuri lagi. Apa karena ayahnya menceraikannya waktu itu.
"Iya! Wanita yang menjadi Permaisuri sekarang adalah wanita yang sangat tak tahu malu! Lari dari tanggung jawabnya dengan dalih ingin berdoa, padahal keluarga Liu sangat terhormat! Kenapa Liu Wen seperti itu"kata Kaisar membuat Liu Wen memasang ekspresi tak percaya.
"Heh?! Tak tahu malu? Beraninya kau menghinaku"gumam Liu Wen, ia memasang wajah mengerikan karena Kaisar berani menghinanya didepannya.
"Kau hilang ingatan?"tanya Liu Wen dengan ketus.
"Dari mana kau tahu hal itu?"tanya Kaisar bukankah hal ini dirahasiakan ia memegang dagunya dan berpikir keras.
"Astaga seperti drama saja"gumam Liu Wen ia memegang kepalanya.
"Kalau begitu biar kubantu kau mengingat semuanya"kata Liu Wen menatap sinis Kaisar, ia langsung menarik baju Kaisar agar menunduk dan mencium Kaisar sama seperti yang selalu yang ia lakukan dulu.
*Huh? Ada tali dipunggung kuda itu, anak anak harus keluar sekarang! Ini sudah terlalu lama-batin Liu Wen, ia melihat tali panjang disamping kuda milik Kaisar.
"Aku harus pergi"kata Liu Wen baru saja ingin mengambil tali itu Kaisar menghentikannya.
"Kau yang memulainya, jangan lari"kata Kaisar, ia menarik Liu Wen untuk mendekat padanya.
"Mau mati ya"kata Liu Wen, ia berusaha melepaskan tangannya.
"Hiya!!!" tak ada pilihan lain lagi sekarang selain memukul kepala Kaisar sampai pingsan.
"Dasar sudah kubilang lepas! Pokoknya kalau kau mati hari ini aku tak akan menyesal lagi! Cabul"gerutu Liu Wen sebelum pergi ia menginjak tubuh Kaisar karena kesal, lalu ia mengambil tali dan pergi ke sumur tempat anak anaknya berada.
******
"Hei mami kembali!! Jake dan Key naik terlebih dahulu"kata Liu Wen seperti yang dia katakan Jake yang pertama lalu Keyzee.
"Jake bantu mami ambilkan batang bambu yang jatuh disana, belah pakai pisau makan yang ada ditas buat menjadi empat bagian"kata Liu Wen, Jake mengangguk dan mengambil batang bambu itu entah untuk apa.
"Key kita buat ayunan seperti yang waktu itu"kata Liu Wen sambil mengelus kepala putrinya.
"Oke mami!!"jawab Keyzee ia sangat hapal bagaimana membuat ayunan sederhana dengan cara fisika tentunya, bambu yang diikat dengan tali simpul dengan ketebalan dan ujung yang sama, tak lama waktu yang mereka butuhkan untuk membuatnya.
"Oke selesai!! Anna! duduklah disana mami dan Jake akan menariknya"teriak Liu Wen walau ragu Anna tetap duduk disana.
"Kakak hati hati kakimu ya"kata Ellson raut wajahnya terlihat sangat khawatir walaupun sudah diperban ia masih saja takut kaki kakaknya akan terluka.
"Aku tahu"jawab Anna dengan singkat, ia menghela nafasnya saat melihat raut wajah adiknya, perlahan ia terus naik dan akhirnya sampai diatas saat pertama kali melihat keluar, ia sadar kalau apa yang di diskusikan dengan kembarannya tadi akan hal yang nyata.
"Selanjutnya Aiden"teriak Liu Wen, seperti tadi Aiden duduk dan menunggu Jake dan Liu Wen menarik ayunan itu sampai keatas.
"El, kau bisa memanjat?"tanya Liu Wen nafasnya tersengal karena menarik kedua anaknya ini.
"Bisa"jawab Ellson ia binggung kenapa ibunya menanyakan hal ini.
"Kalau begitu naik sendiri"kata Liu Wen mereka yang diatas sibuk berbincang.
"Heh?! Jahatnya"kata Ellson ia tak dibantu ibunya malah sibuk berbincang dengan para kembarannya.
"Huh! Ini melelahkan"kata Ellson baru saja sampai diatas membuatnya mengerutkan alisnya.
"Selamat datang, Qin Yiwu"kata mereka dengan serempak sambil tersenyum.
"Apa?! Siapa"tanya Ellson ia menegok kesana dan kemari tetapi tak melihat siapa pun selain dirinya.
"Itu kamu Ell! Bagaimana? Apa bagus namanya?"tanya Liu Wen matanya berbinar mengharapkan kata 'iya'dari putranya itu.
"Kita sekarang berada di Era Kekaisaran!Jika kalian memakai nama asli kalian. Akan sulit bagi mereka menyebutnya dan akan terkesan aneh makanya kita perlu nama baru"jelas Liu Wen, nama anaknya yang kebaratan akan dianggap aneh oleh rakyat dan anggota kerajaan lainnya.
"Mau absen nama?"tanya Liu Wen Aiden mengangguk.
"Qin Yizhan!"kata Aiden, walaupun nama yang sangat biasa, ia menyukainya.
"Qin Yibo!"kata Jake nama ini dipilih karena ini nama seniornya yang paling terkenal.
"Qin Yiwei"seru Anna dengan malas.
"Qin Yifei..."kata Keyzee, ia memakai nama ibunya di era modern.
"Oke, kalian tahu kan siapa nama mami disini?"tanya Liu Wen kepada anak anaknya.
"Permaisuri Liu Wen"kata mereka dengan serempak.
"Hehehe"Liu Wen tertawa ringan, ia memeluk anak anaknya.
"Sepertinya kalian sudah mengerti situasi yang kita hadapi sekarang, mami tak perlu menjelaskannya lagi kan"kata Liu Wen, ia mempererat pelukannya ada rasa takut kehilangan anak anaknya saat memikirkan hal itu.
"Hmm"angguk mereka zaman dimana orang bisa membunuh hanya demi tahta apa lagi mereka akan muncul sebagai saingan terberat Qin Jianwe, belum lagi kelahiran anaknya yang bisa membuat orang salah paham.
"Disini kita harus menjaga satu sama lain! Pertama kita harus balas dendam kepada orang yang membuat kaki Anna menjadi seperti itu"kata Liu Wen mengingat wajah Selir Chu yang tertawa membuatnya kesal.
"Apa maksud mami?"tanya Anna, apa kakinya ini sengaja dilukai seseorang.
"Kamu akan mengerti nanti sebelum itu ayo kita kerumah nenek dan kakek kalian"kata Liu Wen, ia melepaskan pelukannya.
"Nenek dan kakek?!"tanya mereka dengan serempakm
"Iya! Ada paman juga dan mungkin ada bibi, mungkin juga ada kakak sepupu"kata Liu Wen tersenyum manis.
*Ayah... maaf aku tak bisa memenuhi janjiku membawa 100 cucu untukmu-batin Liu Wen dia tertawa geli saat mengingat apa yang ia katakan kepada Liu Whojin.