I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
85. Putri Palsu



"Ayahanda!"teriak Qin Meili, sejak enam tahun terakhir ia selalu mencari perhatian Kaisar entah atas kemauannya atau disuruh ibunya.


"Mei'er.... ada apa?"tanya Kaisar, ia membelai wajah putrinya.


"Aku ingin ikut"kata Qin Meili bersikeras, ia melipat tangannya didada dan menatap tajam Kaisar.


"Acara ini untuk laki laki! Perempuan tidak boleh ikut!"kata Kaisar, ia menunduk untuk menyamakan tingginya dengan Qin Meili.


"Hmphh...! Aku marah"kata Qin Meili, ia mengembungkan pipinya.


"Huhh! Baiklah kalau begitu Ayahanda akan membawakanmu kelinci yang sangat imut? Bagaimana"kata Kaisar, ia mengusap pelan kepala Qin Meili.


"Hmmm! Tapi beri aku giok yang ada dipinggangmu"kata Qin Meili menyodorkan tangannya dan hendak merampas giok yang ada dipinggang Kaisar.


"Ahhh! Sebaiknya jangan yang ini"kata Kaisar bukan ia tak mau memberikannya tetapi ini satu satunya peninggalan wanita yang ia sukai.


"Hmphh!! Aku benci Ayahanda!"teriak Qin Meili, ia menghentakkan kakinya dan berlari entah kemana.


"Maaf Yang Mulia.... Mei'er memang sedikit manja, tolong jangan menghukumnya"kata Selir Chu sambil tersenyum, ia senang karena anaknya itu sangat disayang oleh Kaisar.


"Tidak apa anak anak seusianya memang memiliki emosi yang berlebihan"kata Kaisar, ia mengambil busurnya dan bersiap pergi kehutan.


"Ay...ayahanda! Izinkan aku ikut"kata Qin Jianwe saat ini ia sudah tumbuh menjadi remaja laki laki walau tak ada perubahan akan kondisi tubuhnya, bukannya tabib nomer satu Kekaisaraan Qin tak mampu menyembuhkannya tetapi saat ini yang menjadi penanggung jawab kesehatan Qin Jianwe adalah tabib Wu.


"Tubuhmu lemah nak.... sebaiknya kau istirahat saja"kata Kaisar, ia melihat wajah pucat Qin Jianwe dengan jelas.


"Aku calon Kaisar masa depan! Jika berburu saja tak bisa bagaimana aku bisa mengalahkan musuh"kata Qin Jianwe dengan bersungguh sungguh, ia terpancing perkataan para kasim tentang kontes berburu itu membuatnya ingin mengikutinya juga agar diakui oleh para pejabat.


"Aku berharap We'er tak dihina lagi jika dia menunjukan kemampuannya..."kata Selir Chu akhirnya hari ini tiba, hari dimana ia akan melenyapkan satu satunya penghalang putrinya.


"Bagaimana pun kesehatan We'er yang utama...."kata Kaisar, ia masih tak menyetujuinya.


"Izinkan kami melindungi Pangeran Pertama! Yang Mulia Kaisar"kata beberapa prajurit yang berada dibelakangnya.


"Kami akan melindungi Pangeran dengan segenap tenaga kami"


"Ayahanda percaya padaku"Qin Jianwe kali ini membungkuk agar diberi kesempatan untuk ikut berburu, menurutnya perkataan Selir Chu sangat benar. Ini saatnya dia menunjukan dirinya yang sebenarnya.


"Izinkan dia pergi Yang Mulia"kata Selir Chu, ia merangkul bahu Qin Jianwe walaupun dulu ia sering menyiksanya sekarang Selir Chu ingin mendapatkan kepercayaan Qin Jianwe agar pemuda ini menuruti apa yang ia katakan.


"Baiklah.... kalian jaga Pangeran Pertama dengan benar"kata Kaisar, ia menghela nafasnya susah juga menjadi seorang ayah, ingin mengabaikan tetapi tak mau mereka mengalami nasib yang sama sepertinya, ingin dibentak takut mereka membencinya, walau bagaimanapun ia pernah merasakan bagaimana tak disayang oleh ayah maupun ibu.


"Ibunda aku pergi dulu"kata Qin Jianwe ia bergegas pergi ke kandang kuda.


"Ingat lakukan seperti yang Tuan katakan"kata Selir Chu, ia melempar satu kantung penuh tael emas.


"Tentu saja Selir"kata mereka secara bersamaan, mereka bergegas mengejar Qin Jianwe.


"Beruntung ada dia! Aku hanya perlu memanfaatkannya, hehehe"tawa Selir Chu.


******


Dua hari yang lalu


"Yang Mulia makin hari, makin menyukai bajingann kecil itu!"teriak Selir Chu melihat kedekatan Qin Jianwe dan Kaisar membuatnya sangat marah, tubuhnya yang lemah itu, bukannya makin dibenci malah makin diperhatikan oleh Kaisar.


"Ada apa? Kenapa kamu marah seperti itu..."kata seorang pria yang menggunakan kursi roda.


"Keluar semua"kata Selir Chu, ia menghampiri pria itu dengan raut wajah tak suka.


"Kenapa kesini! Aku sudah memberimu uang kan"kata Selir Chu, ia tak mau melihat wajah pria itu.


"Heh?! Ada apa dengan wajahmu, aku kesini tentu saja ingin melihat putriku"kata Jendral Song Yeyue, ia pernah memiliki gelar itu dan sekarang hanya menjadi pria cacat yang tak berdaya.


"Sudahku bilang! Jangan pernah katakan hal itu lagi! Mei'er putri Kaisar! Bukan anak dari pria cacat sepertimu"teriak Selir Chu jika ada yang mendengarnya akan bahaya.


"Oh ya? Pria cacat ini juga pernah diperebutkan dua Selir Kaisar, bukan? Kau mengkhianati temanmu itu, apa tak takut Bai Fupei akan datang padamu saat malam hari"kata Song Yeyue sambil tersenyum manis.


"Kamu! Aku sudah memberimu uang... bukankah kita sudah setuju?"tanya Selir Chu, ia menghela nafasnya.


"Hmphh! Uang segitu tak akan cukup untukku. Lagi pula dari pada kau memberiku uang tutup mulut itu lebih baik kita singkirian Pangeran Pertama dan menjadikan Mei'er Maharani"kata Song Yeyue, ia sangat dendam kepada Liu Wen dan Kaisar, gara gara Liu Wen ia kehilangan kaki dan tangan sekarang dia hanya menjadi bahan lelucon di Ibukota.


"Ha...haah? Singkiran?Ba...bagaimana?"tanya Selir Chu, ia sangat penasaran.


"Kamu yang merawatnya selama ini apa tidak akan kesempatan sama sekali untuk menyingkirkannya?"tanya Song Yeyue, ia menyingitkan alisnya, wanita tak sabaran ini tak membunuh Qin Jianwe segera sungguh tak masuk akal pikirnya.


"Aku sudah menyuap tabib Wu! Tabib bilang bajingann kecil itu akan mati saat berumur 17 tahun tapi menunggu selama itu membuatku kesal apa lagi Kaisar semakin menyayanginya"kata Selir Chu dengan kesal.


"Terlalu lama... aku memiliki rencana yang lebih baik"kata Song Yeyue sambil tersenyum licik.


"Dua hari lagi akan ada kontes berburu, suruh dia mengikuti kontes berburu itu. Aku akan menyuruh bawahanku untuk mengajaknya ke tempat paling berbahaya dihutan"sambungnya ia menatap Selir Chu sambil mengangguk.


"Mak..maksudnya kau mau bintang buas yang membunuhnya?"tanya Selir Chu dengan ragu.


"Hmm... yaaa... lebih tepatnya para bawahanku yang membunuhnya dan mayatnya akan diberikan kepada binatang buas"


"Salam Putri"kata Song sambil tersenyum, ia ingin sekali mengelus kepala putrinya tetapi saat ini ia tak memiliki tangan untuk mengelus atau memeluknya.


"Lakukan dengan baik Selir"kata Song Yeyue, ia menyuruh bawahannya untuk mendorong kursi rodanya.


"Siapa dia Ibunda?"tanya Qin Meili dengan penuh penasaran pria itu baru pertama kali dilihatnya.


"Te...teman Ibunda"kata Selir Chu tertawa kikuk.


"Ibunda kenapa mau berteman dengan orang cacat?"tanya Qin Meili, wajahnya terlihat meremehkan Song Yeyue membuatnya mengepalkan tangannya.


"Mei'er...."tegur Selir Chu, ia tersentak mendengar berkataan putrinya.


"Aku berbicara yang sesungguhnya, Ibunda juga pernah mengatakannya padaku"kata Qin Meili sambil mengerutkan alisnya.


"Bagaimana jika Mei'er tahu kalau ayah kandungnya pria cacat kemarin... dia... ah..."kata Selir Chu anaknya itu sangat keras kepala bahkan dia sendiri pun tak bisa mengendalikannya.


*********


Gazebo


"Nono! Aku mau kue bulan sekarang!"teriak Qin Meili kepada pelayan pribadinya.


"Ini Putri"seru Nono sambil menyodorkan kue bulan itu.


"Apa ini! Sangat keras! Kau mau membunuhku!"kata Qin Meili, ia mendorong Nono sampai jatuh ke kolam.


"Put...putri! Aku salah! Putri! Tolong aku"teriak Nono nafasnya tersengal ia tak bisa berenang.


"Pu...putri? Apa kita harus menolong Nono?"tanya pelayan lainnya melihat teman mereka yang berwajah pucat itu membuat mereka ingin sekali menolongnya.


"Tidak perlu! Kalau dia mati cepat buang mayatnya keluar istana"kata Qin Meili dengan acuh.


"Kau! Ayo temani aku keluar istana"kata Qin Meili menunjuk seorang pelayan.


"Ta..tapi... Pu..putri! Nanti kita dimarahi Selir Agung"kata pelayan itu, saat ini Qin Meili seharusnya sedang belajar tata krama tetapi ia malah membolos dan berkeliaran seenaknya.


"Posisiku lebih tinggi dari Ibuku! Kau lakukan saja perintahku!"kata Qin Meili, ia menarik baju pelayan itu dan mendorongnya sampai terjatuh.


"Siapkan kereta paling bagus di istana ini"kata Qin Meili mengibaskan tangannya.


"Ohh... ya yang warna merah dengan corak bunga prem itu aku mau kereta kuda itu!"gumam Qin Meili, beberapa waktu yang lalu, ia tak sengaja menemukan kereta kuda yang sangat cantik.


"Pu... putri... kereta itu milik Permaisuri"kata Pelayan itu dengan ketakutan.


"Permaisuri? Dia bahkan tak ada disini!Untuk apa kau takut! Kau cuma mau menentangku!"Teriak Qin Meili, ia melempar teh panas diwajah pelayan itu.


"Ahhh.... sakitt!"teriak pelayan itu, ia berlari mencari air dingin.


"Ada apa ini?"tanya Pangeran Keempat dari kejauhan ia bisa melihat apa yang dilakukan keponakan perempuannya.


"Sa..salam Paman Keempat"kata Qin Meili, ia segera duduk tegak dan memberi salam kepada Pangeran Keempat.


"Ada apa dengan pelayan ini"tanya Pangeran Keempat mengerutkan keningnya.


"Dia tak mau mengikuti kata kataku"kata Qin Meili dengan angkuh


"Ohh... lalu kau menyiramnya dengan air panas"tanya Pangeran Ketujuh, ia memasang wajah mengerikannya hanya Pangeran Ketujuh yang bisa membuatnya ketakutan.


"Bu...bukan be..begitu... pa..paman! Dia sangat kurang ajar"kata Qin Meili dengan gugup.


"Apakah benar?"tanya Pangeran Ketujuh wajahnya sangat mengerikan hawa membunuhnya meningkat.


"Jangan takut! Jika putri salah dia butuh diberi sedikit pelajaran"kata Pangeran Ketujuh dengan tegas para pelayan itu semakin takut kepada Pangeran Ketujuh dan memberitahu yang sebenarnya.


"Pu...putri ingin memakai kereta kuda milik Permaisuri, pelayan hanya memperingatkan Putri untuk tidak memakai barang Permaisuri"kata pelayan itu sambil bersujud.


"Apa itu benar?"tanya Pangeran Ketujuh kepada Qin Meili.


"Ti..tidak! Dia berbohong!"teriak Qin Meili baru saja ingin memukul pelayan itu lagi Pangeran Ketujuh memperingatinya.


"Aku tak seperti kakakku"kata Pangeran Ketujuh, ia menatap Qin Meili dengan tajam seakan akan bisa menusuknya kapan pun.


"Ckk! Ak..aku...iya! Aku melakukannya!Memangnya kenapa aku Putri kekaisaran ini!"kata Qin Meili membuat Pangeran Ketujuh menamparnya.


"Kau Putri? Aku Pangeran, adik dari Kaisar, Jendral pasukan utama, lalu apa boleh aku menamparmu?"tanya Pangeran Ketujuh sambil menyeringai.


"Ka.. kau!"kata Qin Meili, ia bedecak kaget dan mengigit bibir bawahnya, air matanya tak bisa dibendung lagi.


"Putri tak boleh keluar kediamannya, dia harus menyalin buku tata krama seorang Putri"kata Pangeran Ketujuh, ia mengajak kakaknya untuk pergi mengikutinya.


"Kamu terlalu kejam dengannya"kata Pangeran Keempat, ia melihat kebelakang. Keponakannya itu menangis dengan kencangnya.


"Dia terlalu kurang ajar! Jika ada kakak ipar ini akan lebih baik karena mendidik anak adalah tugas wanita"kata Pangeran Ketujuh, ia segera naik ke kudanya menunju arena berburu.