I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
95. Bertengkar



"Ibunda!!"teriak Qin Meili, ia larian ke kolam tempat Ibunya menceburkan diri.


"Dia jahat! Orang jahat! Ingin membakar Ibundaku!"teriak Qin Meili tak lupa sumpah serapah dan kata kata tak pantas dikeluarkannya.


"Ahh..."


"Apa itu anak umur sembilan tahun?"


"Lalu umur berapa?! Apa Selir Chu tak pernah mengajari Putri tata krama"


"Tidak disangka Putri Qin sangat kasar"


"Sudah suka menindas rakyat, bicara kasar, apa dia benar Putri Kerajaan?"


Kata para Bangsawan mereka tersentak saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Qin Meili.


"Jaga kata katamu Mei'er"kata Selir Chu saat ini mereka menjadi pusat perhatian.


"Apa peduli Ibunda! Jalangg sialann itu beraninya membakar Ibunda dan duduk di singgasana Ayahanda"kata Qin Meili, ia berceloteh tak jelas dari tadi sambil menunjuk Liu Wen.


********


Beberapa saat yang lalu


"Aku akan melihat Jianwe..."kata Liu Wen, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Qin Jianwe bukan hanya tubuh tetapi mentalnya.


"Kasihan juga dia..."kata Ellson sambil menghela nafasnya.


"Apa yang perlu dikasihanii dia seorang Pangeran"kata Jake sambil mengedikkan bahunya.


"Bahkan aku yang anak Wakil Presdir dari perusahaan besar pun sering dikasihaniim.. status tak menentukan rasa empati seseorang"kata Anna, ia sangat sensitif jika ada yang menyinggung Qin Jianwe, itu karena ia merasakan hal yang sama.


"Hmm?"tanya Aiden menggunakan kontak mata menanyakan bagaimana cara membuat Anna tersenyum kembali.


*Cepat cari cara agar Anna tersenyum-batin Aiden.


*Tumben sekali kau mau memikirkan kami, apa karena disini tak ada buku politik ehe-batin Jake, ia mengejek Aiden dengan menarik dua sudut bibirnya.


*Itu benar! Kenapa kau selalu mengejek orang, dasar kakak tololku-batin Keyzee membuat Jake geram.


*Ke...key...-balas Jake.


"Kalian punya mulut kenapa harus berbicara melalui batin?"gerutu Anna sangat menyebalkan melihat wajah saudaranya yang menegang saat marah.


"Mau jalan jalan?"tanya Liu Beiyi, sekarang ia seorang kakak sudah tanggung jawabnya membuat adiknya tersenyum.


"Kemana kemana?"tanya Jake yang bersemangat matanya berbinar mendengar kata jalan jalan.


"Pasar,disana banyak yang berjualan manisan mangga"kata Liu Beiyi tak lupa senyum paksa diwajahnya.


Kak Beiyi sama seperti Kak Momo hanya saja kak Momo sangat mudah diajak komunikasi-batin mereka dengan serempak.


"Woww aku ingin kesana!!"kata Keyzee dengan semangat.


"Aku tak ikut"kata Anna, kakinya sedang kambuh sekarang ia tak mau menjadi beban.


"Yiwei, ikutlah"kata Aiden membujuk adiknya itu.


"Ak.. ehh.. apa yang kau lakukan.."tanya Anna, ia tadi sedang menikmati pemandangan bunga lotus didepannya tiba tiba Jake menggendongnya dari belakang.


"Menggendongmu! Satu pergi! Pergi semua, motto anak kembar"kata Jake sambil tersenyum lebar.


"Heee itu tak berlaku untuk kitaaa!!"kata Anna ia terus meronra tetapi Jake lebih kuat darinya.


"Sudah... sudahh jangan malu kak! Kita kan harus saling menolong"kata Keyzee ia menggoda Anna.


"Yaps itu benar"timbal Ellson.


"Maaf tadi siapa kalian?"tanya Liu Beiyi mereka berjalan menuju kandang kuda untuk mengambil kereta kuda.


"Jika susah panggil saja Ai, Je, An El, Ke"kata Jake dengan bangganya.


"Tidak aku sudah ingat, Qin Yizhan, Qin Yibo, Qin Yiwei, Qin Yiwu, Qin Yifei..."kata Liu Beiyi kata kata Jake jauh lebih sulit dari pada mengingat nama mereka.


"Baiklah aku akan panggil kalian Yi bersaudara saja"kata Liu Beiyi.


"Hah?? Lebih baik kakak panggil kami si kembar"protes Jake.


Ruang makan


"Jianwe..."panggil Liu Wen, ia hendak memegang pundak Qin Jianwe dan memeluknya tetapi jarak mereka tak mengizinkannya.


"Panggil mami saja... kamu keluarlah kita bicara dulu"kata Liu Wen, ia sedikit sulit melihat wajah Qin Jianwe.


"Baik... baiklah"kata Qin Jianwe, ia merangkak untuk sampai diujung meja.


"Kenapa kamu tak mau kembali?"tanya Liu Wen, ia menarik Qin Jianwe untuk duduk dibangkuannya walau sekarang ia sudah remaja, Liu Wen masih memperlakukannya kayaknya anak kecil.


"Aku...aku takut"kata Qin Jianwe dengan gugup wajahnya terlihat sangat ketakutan.


"Takut? Dengan siapa?"tanya Liu Wen walaupun tahu siapa dalangnya, ia ingin mendengarnya langsung dari Qin Jianwe.


"I...ibunda Se...selir. Beliau merencanakan pembunuhanku jika ma..mamii tak menolongku saat itu, mungkin aku sudah mati seperti yang dikabarkan"kata Qin Jianwe, wajahnya terlihay murung, ia tak sengaja Liu Wen melihat tubuh Qin Jianwe yang terbuka dibagian leher.


"Apa ini"tanya Liu Wen ia langsung membuka baju remaja itu.


"Ahh... ini... cuma bekas luka"kata Qin Jianwe, ia ingat sudah berapa kali Selir Chu memukulnya karena dirinya sangat menganggu.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"tanya Liu Wen, luka memar dan sayatan ini nampak sangat parah dan menyakitkan, apa lagi untuk tubuh yang lemah sepertinya.


"Ibunda Selir sering memukulku, ya karena aku selalu mendekatinya. Ibunda Selir tak suka denganku karena aku penganggu keluarganya. Aku tak heran lagi memang aku pantas mendapatkannya"kata Qin Jianwe, selama ini ia selalu merasa bersalah karena menyangka bahwa dirinya anak dari istri lain ayahnya yang tak diinginkan dan Ibunya seorang perusak rumah tangga orang.


"Seorang Kaisar sangat wajar memiliki lebih dari satu Selir, bukan salah ibumu dan bukan salahmu! Tenanglah mulai sekarang kamu anakku juga, maukah kamu percaya dengan mamimu ini? Kita balas perbuatan Cacing tanah itu"kata Liu Wen ia mengulurkan tangannya.


"A...aku... baik! Aku percaya kepada mami"kata Qin Jianwe, ia mengangguk cepat dan memeluk Liu Wen.


"Ayo ke istana besok! Lihat bagaimana mami membereskannya"kata Liu Wen sambil tersenyum licik.


*******


"Ka...kauu...!"seru Ibu suri mulutnya jadi keluh karena melihat aura Liu Wen yang menakutkan.


"Ohh..."


"Salam Ibu suri"kata Liu Wen sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


*Ma...masih hidup! Kenapa nyawa wanita bar bar ini sangat banyak? -batin Ibu suri, ingin sekali ia memaki Liu Wen tetapi mulutnya ini tak mau bergerak sedikitpun.


"Hallo semua rakyatku! Untuk merayakan kembalinya diriku. Aku akan memberi kalian beberapa tael emas... yahh memang tak banyak sih tapi cukup untuk kalian makan selama tiga tahun"kata Liu Wen, ia kembali duduk di singgasana hal itu membuat para rakyat bersuka ria, para bangsawan hanya diam saja karena mereka tahu bagaimana kejamnya Permaisuri Qin.


"Lanjutkan saja acara berkabung ini dan ya kubur diluar istana"kata Liu Wen sambil mengibaskan tangannya.


"Pengawal!!! Usir wanita gila yang menyamar sebagai Permaisuri!"teriak Kaisar, ia, Pangeran keempat dan ketujuh baru saja sampai dihalaman mendengar kata Liu Wen membuatnya marah.


"Ohhhh....! Wanita gila? Baiklah Kaisar bodoh! Jika kau mengusirku, kita cerai dan bagi dua harta kerajaan"kata Liu Wen, ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya itu.


"W...wen"kata Kaisar, ia melihat wajah adiknya yang sama terkejutnya dengan dirinya.


*Jadi bukan mimpi, Wen memang kembali-batin Kaisar, ia berlari kearah singgasana dan ingin memeluk istri yang sudah lama tak ia temui itu.


"Sudah ingat ternyata"kata Pangeran Ketujuh dia memasang wajah tak suka karena kakaknya pamer kemersaan didepannya.


"Luka dikepalanya kemungkinan besar dari kakak ipar, kenapa kita tak pernah mencoba memukul kepalanya dulu?!"tanya Pangeran Keempat, ia berpikir serius.


"Ha. Ha. Ha. Ibu suri akan memenggal kepalamu duluan"kata Pangeran Ketujuh tertawa garing


"Ayahanda!!"teriak Qin Meili, ia berlari dan memeluk kaki Kaisar.


"Me...Mei'er? Ada apa?"tanya Kaisar, ia terpaksa menghentikan langkahnya karena putrinya ini walaupun begitu matanya terus menatap Liu Wen.


*Hmphhh! Walaupun kau kembali Yang Mulia tetaplah milik kami! Selama ada Mei'er posisiku masih bisa dipertahankan-batin Selir Chu, ia tak berani keluar dari kolam karena lengannya masih terasa sakit akibat luka bakar.


*Jika saja tak ada bangsawan dan rakyat disini aku pasti sudah membunuh jalangg Liu itu-batin Selir Chu matanya sangat berapai api, ia ingin sekali mencakar dan menarik rambut Liu Wen sekarang.


"Di..diaa yang mencubitku! Dia juga membakar Ibunda! Ayahanda hukum dia! Cepat!"rengek Qin Meili, ia menarik baju Kaisar agar Kaisar Qin mengabulkan permintaannya.


"Ayahanda harus pergi"Kaisar tak mendengarkan kata kata Qin Meili, dipikirannya hanya ada Liu Wen, ia melepas tangan Qin Meili yang menempel dikakinya dan terus menatap Liu Wen.


"Abunya sudah siap, Pe...permaisuri"kata biksu itu, ia menyerahkan guci berisi abu manusia yang mereka kira Qin Jianwe.


"Kuburkan segera diluar istana. Nyawa manusia tak dilihat dari status bahkan binatang pun juga mendapat hak yang sama"kata Liu Wen membuat Kaisar tak terima.


"Wen! Apa yang kau katakan! Jianwe putraku! Kau tidak boleh kejam kepadanya bahkan saat dia meninggal pun kau tetap memusuhinya?"seru Kaisar dengan lantang mendengar hal itu membuat Liu Wen berbalik menghadap Kaisar dan menatapnya dengan tajam.


"Aku? Kejam?! Hahhh?! Bahkan aku tak kenal dengan putramu, kenapa aku harus memusuhinya?"kata Liu Wen, ia memasang wajah tak percaya bisa bisanya Kaisar berkata begitu.


"Kau ingin menguburkannya diluar istana!"bentak Kaisar, ia mengepalkan tangannya awalnya tak mau membentak Liu Wen tetapi ia tak bisa menahannya lagi.


"Ya lalu kenapa?! Jianwe putraku masih hidup! Dan itu mayat orang lain!"teriak Liu Wen baru saja bertemu Kaisar sudah membuatnya marah besar.