I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
94. Terbakar



"Baiklah! Lagipula hanya memerintah sesukaku saja!"kata Qin Meili membuat Selir Chu sangat bahagia.


"Bagus Mei'er! Pertahankan semangat itu!"kata Selir Chu ia memeluk putrinya.


Selir Chu menarik tangan putrinya untuk pergi ke kediamannya untuk menganti baju duka. "Ayo ganti baju besok kita harus menghadiri pemakaman Qin Jianwe, si anak haram!"


******


Kamar Kaisar


"Kenapa kau membiarkan Jianwe ikut kontes berburu! Padahal kau tahu dia itu memiliki tubuh yang lemah!"bentak Pangeren Keempat, ia marah kepada kakaknya yang membiarkan keponakannya itu mati sia sia.


"Haaahhh"Kaisar memegang kepala yang terasa pusing, sudah tersebar luas bahwa Pangeran Pertama pembawa sial itu telah mati, rakyat bersuka cita karena mereka termakan oleh rumor yang mengatakan Qin Jianwe seorang pembawa sial.


"Semuanya sudah siap. Kakak kau harus memimpin jalannya upacara pemakaman Jianwe"kata Pangeran Ketujuh, ia tak suka kepada Qin Jianwe karena lemah tetapi tak membencinya.


"Ayo lakukan"kata Kaisar, ia segera menuju halaman utama Istana satu hari sudah berlalu segala sesuatu yang diperlukan untuk pemakaman dilakukan secepat kilat oleh para pelayan.


Kediaman Ibu Suri


"Ibu suri, anda diminta keluar dari kediaman dan memakai baju hitam"kata seorang pelayan kepada Ibu suri yang sedang berdoa.


"Siapa yang mati? Qin Guan Yi atau Qin Junxi? "tanya Ibu suri tanpa melihat kearah pelayan itu.


"Pa.. pangeran pertama, Ibu Suri..."kata pelayan itu membuat Ibu suri menoleh secara cepat.


"Tidak! Tidak mungkin! Jianwe!"teriak Ibu suri, ia segera pergi ke halaman utama tanpa mengenakan baju berkabung.


Kediaman Pangeran Pertama


"Pangeran... anda diminta memakai baju hitam dan menuju halaman istana segera"kata prajurit kepada Qin Yuanqu yang sedang menikmati baca bukunya.


"Siapa yang mati?"tanya Qin Yuanqu, apakah adik kasarnya yang mati karena diserang musuh diperbatasan atau adiknya yang sekarang menjadi Kaisar ini.


"Pangeran Pertama..."kata prajurit itu membuat mata Qin Yuanqu terbelak.


"We'er..."gumam Qin Yuanqu, ia segera menuju halaman Istana.


Nampak halaman Istana sangat ramai, gerbang dibuka agar rakyat dapat mengikuti upacara pemakaman untuk Pangeran mereka satu satunya.


"Dengar tidak?"


"Pangeran pembawa sial itu sudah mati"


"Dimakan harimau!"


"Yang benar saja? Katanya karena ikut kontes berburu kemarin ia jadi meregang nyawa"


"Badan lemah masih saja ikut, hahaha, rasakan saja hukuman dari dewa!"


Tak banyak yang bersedih justru banyak yang merayakannya.


*********


Kediaman Perdana Mentri


"Bagaimana kabarmu selama ini Wen'er?"tanya Liu Whojin kepada anak sulungnya itu setelah merayakan kepulangan Liu Wen ia menyuruh putri serta cucu barunya istirahat.


"Sangat baik! Aku dan anak anak sangat menikmatinya mereka tumbuh di lingkungan yang baik selama ini"kata Liu Wen sambil menyilangkan kaki.


"Oh ya! Apa mami kalian tak pernah memukul Kalian?"tanya Liu Whojin, ia tak mendengar perkataan Liu Wen dan beralih melihat Keyzee.


*Pastinya tidak Ibunda Permaisuri sepertinya sangat penyayang dan mereka anak kandungnya tak mungkin Ibunda Permaisuri memukul mereka-batin Qin Jianwe, ia berpikir hal itu karena sering melihat Selir Chu yang selalu merangkul dan melindungi Qin Meili terlepas salah atau benarnya.


"Tentu saja pernah! Malah sering"kata Jake dengan jujur itu memang kebenarannya saat mereka nakal Liu Wen akan mencubit atau memukul.


*Apakah itu benar? Apa Ibunda tak menyayangi mereka? -batin Qin Jianwe, ia sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan Jake.


"Itu karena kami nakal! Mami pernah bilang memukul itu juga bentuk kasih sayang orang tua, jika anak salah maka tugas orang tua untuk menasehatinya, ada banyak cara orang tua untuk memberi nasihat kepada anaknya, dan cara yang dipilih mami.... praktek dulu baru penjelasan"kata Jake disambut anggukkan dari semua kembarannya.


"Ayah baru tahu ada cara mendidik anak seperti itu"kata Liu Whojin menggaruk kepalanya.


"Tapi jangan keras keras mencubit atau memukul mereka Wen'er"kata Liu Whojin, ia mempererat pelukannya sehingga Keyzee merasa tak nyaman.


"Tentu saja ayah.... aku hanya ingin mendidik mereka bukannya membunuh"kata Liu Wen, ia mengerucutkan bibirnya apa ia terlihat seperti wanita bengis? tidak kan!.


(Sebenarnya iya xixixix)


*Wahhh.... Ibunda Permaisuri sangat keren-batin Qin Jianwe, ia mengedipkan matanya berkali kali sambil melihat kagum Liu Wen.


"Ahhh ada yang ingin kutanyakan kepada Meng "kata Liu Wen, ia menarik tangan Meng menjauh dari ruang makan, sejak kemarin ia sangat penasaran akan hal itu.


"Ada apa kakak ipar?"tanya Meng, ia binggung tiba tiba ditarik Liu Wen.


"Selama aku pergi kemarin, apa yang terjadi kepada Kaisar?"bisik Liu Wen, wajahnya sangat biasa tetapi ia terus memainkan gelang giok ditangannya tanda ia sedang gelisah.


"Uhh? Hehehe... Kaisar sempat tertidur selama 5 tahun lalu saat terbangun ia bersikap sedikit aneh, itu saja yang aku tahu dari Yichen"kata Meng, ia tertawa mendengar apa yang ingin diketahui Liu Wen.


*Ternyata sempat koma, pantas saja otaknya bermasalah-batin Liu Wen, ia jadi mengerti kenapa Kaisar melupakannya sebagai Permaisuri tetapi ada yang sedikit ganjal, kenapa Kaisar mengingatnya sebagai wanita kasar.


"Ohhh yaa? Bagaimana kalian bisa bersama seperti ini?"tanya Liu Wen, ia menyikuti lengan Meng mengodanya sampai wajah Meng merah.


"Ahhh... ini... itu... dulu karena kami sudah memiliki hubungan intim sebelum menikah"kata Meng, ia sangat malu membicarakan hal ini.


"Apa?! Apa maksudnya?"tanya Liu Wen, ia tak mengerti kapan hal itu terjadi tidak mungkin saat Liu Yichen dan dirinya kembali dulu karena Meng yang baru masuk kediaman Perdana Mentri Liu langsung menjadi pelayannya dan mengikuti Liu Wen ke istana.


"Sebelum menjadi pelayan, aku pernah menjadi penari saat itu Yichen sedang mabuk entah kenapa. Karena memerlukan uang lebih aku menjual tubuhku dan yang menjadi pelanggan pertamaku adalah Yichen, ka..kami melakukannya. Seperti aturan yang ada sebelum matahari terbit aku kembali terlebih dahulu, beberapa bulan kemudian aku hamil membuat ayah dan ibu marah tetapi aku tetap melahirkan bayi itu, kupikir saat bayinya lahir aku akan hidup sendiri dan tak bersama orang tuaku lagi tapi siapa sangka penagih hutang datang dan merebut bayiku, mereka bilang akan menjadikannya pelayan saat dewasa nanti, orang tuaku dibunuh, aku pun dijual sebagai pelayan di kediaman Perdana Mentri Liu"jelas Meng, ia berasal dari keluarga miskin yang tak memiliki apa apa jelas saja orang tuanya marah jika ia membawa satu anggota baru lagi namun karena saat itu menagih hutang tiba tiba merebut bayinya ia jadi kehilangan bayi itu untuk selamanya.


"Maksudmu?! Beiyi adalah putra kalian yang hilang?! Bagaimana menemukannya lalu kenapa kau tidak meminta pertanggung jawaban lebih awal dari Yichen?"tanya Liu Wen bertubi tubi bisa bisanya ada kejadian seperti ini.


*Pantas saja umurnya lebih tua dari anak anakku-batin Liu Wen, awalnya ia agak binggung kenapa umur Liu Beiyi lebih tua dari anak anaknya dan sekarang akhirnya ia tahu apa alasannya.


"Tentu saja tak bisa! Jika kubilang 'aku wanita yang Tuan tiduri' apa dia akan percaya? Mungkin Yichen akan membenciku..."kata Meng jelas sekali ada ketakutan dimatanya. Ia pernah mencoba mengatakannya tetapi melihat reaksi Liu Yichen yang sangat membenci wanita membuatnya berpikir dua kali untuk mengatakan kebenarnya.


"Ibu... yang penting kau membawaku kembali tanpa keraguan dihatimu, tak perlu merasa bersalah Tuan Mo sangat baik kepadaku selama 5 tahun dia merawatku walau aku harus menjadi pencuci sepatu saat itu"kata Beiyi, masa lalunya memang sedikit kelam tetapi berkat majikannya yang baik saat itu membuatnya tak membenci siapa pun dan menyalahkan siapapun.


"Aku yang salah, meninggalkanmu begitu saja malam itu"kata Liu Yichen yang tiba tiba saja datang, ia langsung memeluk istri dan anaknya.


"Apa kau menyesal mempunyai ayah sepertiku Beiyi?"tanya Liu Yichen, ia melihat wajah anaknya dengan serius perasaan menjadi ayah ini masih canggung baginya.


"Ya! Kenapa aku memiliki ayah bodoh sepertimu"jawab Beiyi dengan singkat ia menutup matanya sambil menghela nafas.


"Aku juga heran kenapa aku memiliki adik sepertimu"kata Liu Wen ia melipat tangannya didada berani beraninya Liu Yichen tak melihatnya.


"Huhh?"Liu Yichen berbalik dan melihat sosok yang telah lama ia cari.


"Kakak Wen"kata Liu Yichen, ia menarik lengan Liu Wen agar bisa memeluknya.


"Apa kabar? Ohh apa sebaiknya tak kutanya kabarmu? Kau kan sangat tak suka berbicara dengan kakakmu ini"kata Liu Wen membuat Liu Yichen terkekeh.


"Aku baik berkat doamu"jawab Liu Yichen sambil tersenyum ia memegang wajah kakaknya.


"Owhhh! Adikku sayang"kata Liu Wen, ia membalas pelukan Liu Yichen tak dipungkir kalau ia sangat merindukan adiknya itu.


"Jadi itu paman?"kata Keyzee ia keluar dari ruang makan karena penasaran dengan suara gaduh didepan.


"Lumayan, gen kakek sangat mantap"kata Jake sambil mengacungkan jempol kearah kakeknya.


"Sepertinya sangat mirip dengan kak Beiyi"kata Ellson, ia memperhatikan kelopak mata yang selalu terbuka setengah itu.


"Ahh... itu Wakil Jendral pasukan utama di Istana"kata Qin Jianwe ia mengikuti si kembar keluar.


"Woooo!!! Wakil Jendral, aku tak malu mengakuinya paman"kata Jake membulatkan bibirnya.


"Mungkin paman yang malu mengakuimu sebagai keponakannya"kata Keyzee, ia menyipitkan matanya melihat tingkah kakaknya itu.


"Hehehe... "tawa Qin Jianwe membuat keduanya menoleh.


"Apa yang kau tertawakan?"tanya Jake yang kesal.


"Maaf... saya... hanya... "kata Qin Jianwe dengan gugup, ia sangat binggung mau menjawab apa karena takut salah bicara.


"Saya! Saya! Kita seumuran kau tak perlu berbicara formal! Aku seperti tua sekali tahu?!"protes Jake membuat Qin Jianwe makin gugup.


"Pangeran kau terlalu naif, itu bukan sifat alami seorang Pangeran"kata Anna, ia sangat kesal melihat Qin Jianwe yang seakan akan menunjukan kelemahannya.


"Ka...kau tahu aku Pangeran?"tanya Qin Jianwe ia makin takut, takut Liu Wen akan membencinya.


"Aku pun tahu dari awal"kata Liu Wen, ia menguping pembicaraan anak anaknya.


"Tenang saja kau anakku juga! Jangan takut tetapi aku tetap akan memukulmu jika kau nakal"kata Liu Wen, ia mencium pipi Qin Jianwe.


"Te..terima kasih"kata Qin Jianwe, tanpa sadar air matanya berjatuhan, ia sangat terharu karena ada yang menginginkannya didunia ini.


"Ehhh? Itu... Pangeran Pertama!? "kata Liu Yichen ia terkejut melihat Qin Jianwe.


"Hallo, Wakil Jendral"sapa Qin Jianwe sambil tersenyum.


"Ehh mereka siapa?"tanya Liu Yichen menunjuk Si kembar.


"Meng jelaskan, aku lelah berbicara hal yang sama berulang kali"kata Liu Wen, Meng mengangguk dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Jadi ka..kau hamil pada saat itu?"tanya Liu Yichen dengan ragu membayangkan perut besar kakaknya saat itu membuatnya berpikir bahwa kakaknya ini benar benar frustasi sampai gemuk begitu.


"Jadi kemarin bukannya babii yang selalu minta makan ternyata"gumam Liu Yichen membuat Liu Wen berapi api.


"Siapa yang kau bilang babii?!"tanya Liu Wen, ia sudah siap mengamuk.


"Tidak ada"jawab Liu Yichen, ia takut setengah mati sampai sampai terdiam pucat.


"Tapi kenapa Pangeran Pertama ada disini? Apa anda tidak tahu? Seluruh istana sedang sibuk mempersiapkan pemakaman untuk anda"kata Liu Yichen, ia sangat serius mengatakan hal itu untuk mengalihkan pembicaraan.


"Saya tahu tetapi biarlah seperti itu! Saya tak mau kembali"kata Qin Jianwe, ia masuk keruang makan.


"Selir Chu merencanakan pembunuhan Pangeran Pertama membuatnya menjadi trauma untuk masuk istana"kata Liu Beiyi membuat Liu Wen tersentak.


"Apa?! Tidak heran si cacing tanah itu membuat ulah! Rasanya ingin sekali memberinya detergen biar dia mati terbakar"kata Liu Wen, ia mengosok tangannya dan tersenyum jahat.


"Sadis banget"kata si kembar dengan serempak sementara keluarga kecil Liu Yichen hanya tersenyum kecil saja.


*********


Halaman Istana


"Ini pasti ada yang sengaja melakukannya! Aku tahu!"teriak Ibu suri ia sangat terpukul akan kematian cucu laki lakinya itu.


Plakkk


Tamparan melayang dipipi Selir Chu, Ibu suri yang baru saja datang langsung menampar Selir Chu dan menarik bajunya.


"Bagaimana kau menjaganya!"teriak Ibu Suri, matanya merah karena menangis sambil menahan amarahnya.


*Nenek sialan ini berani memukul ibunda-batin Qin Meili, ia mengepalkan tangannya ingin sekali menghajar Ibu suri yang sudah dianggapnya sebagai nenek itu.


"Ibu suri memang saya yang salah! Biarkan saya ikut mati"kata Selir Chu, ia ingin membakar dirinya bersama Qin Jianwe. Sebenarnya pemakaman biasanya terjadi hanya dengan menguburkan mayat tetapi atas usul Biksu mayat Qin Jianwe yang tak utuh sebaiknya dibakar bersama dengan uang.


"Kalau begitu masuklah kedalam api"seru Liu Wen, ia mendorong Selir Chu ke dalam kobaran api.


"Ahhhh!!! Panasss!"lengan kanan Selir Chu yang terkena bakaran api dan memakan bajunya membuatnya menjerit kepanasan, ia segera menceburkan diri ke dalam kolam.


"Heh?! Dia yang minta aku hanya menolongnya!"kata Liu Wen, ia memakai hanfu berwarna merah terang dan juga jubah Permaisurinya tak seperti orang lain yang memakai baju berkabung.


"Aku. Kembali!!"kata Liu Wen sambil tersenyum miring, ia menaiki anak tangga dan duduk di singgasana Kaisar sambil menyilangkan kakinya.