
"Memangnya dia siapa! Dia cuma anak Selir!"teriak Qin Meili, ia tak terima dihukum oleh Pangeran Ketujuh.
*Kau juga anak Selir, cih!-batin para pelayan, mereka menatap tak senang kearah Qin Meili, hampir setiap hari Qin Meili menganti pelayan bukan tanpa alasan, itu karena selalu ada pelayan yang mati jika ia merasa tak suka.
"Ayo kita keluar! Aku tak takut dengan ancamannya! Lihat saja akan kubalas dia berkali kali lipat"kata Qin Meili bukannya menjalanan hukumannya, ia malah menuju tempat kereta kuda dan pergi dari istana.
"Apa aku memiliki dosa dimasa lalu? Sampai harus melayani orang sepertinya"gumam pelayan itu, ia mendengus kesal karena harus menjadi pelayan Qin Meili.
*******
Arena berburu/Hutan
"Wahh!! Jadi ini yang namanya kontes berburu..."gumam Qin Jianwe, ia tak pernah keluar istana bahkan saat acara resmi seperti ini pun ia tak diperbolehkan keluar.
"Hei! Siapa dia?"tanya Tuan Muda keluarga Hui-Hui Ounang.
"Entahlah! Sepertinya dia seusia kita, Tuan Muda dari mana kira kira?"tanya Tuan Muda dari Keluarga Feng-Feng Xiu.
"Hei! Beiyi apa kau tahu siapa dia?"tanya Tuan Muda Lian-Lian Ye, ia menyikuti lengan temannya.
"Aku tak ingin tahu"kata Tuan Muda Liu-Liu Beiyi, ekor matanya melirik pemuda yang nampak sangat kagum dengan sekitarnya seakan akan baru saja keluar dari goa.
"Wajahnya pucat begitu! Terlihat lemah! masih berani datang kesini"gumam Lian Ye, ia sedikit menahan tawanya.
"Hahaha... seperti kau kuat saja! Dasar babii besar"ejek Hui Ounang, ia melihat temannya itu yang sedang makan dengan lahapnya diatas kuda.
"Ayolah kita sudah lima belas tahun berteman bahkan saat masih didalam kandungan ibu kita! Kenapa kalian masih saja suka bertengkar"kata Feng Xiu, ia merangkul Lian Ye dan Hui Ouyang dilengan kanan dan kirinya.
"Aku tidak peduli"kata Liu Beiyi, ia memacu kudanya untuk mendengar kata sambutan dari Kaisar.
"Hei,Beiyi! Wah! Wah! Anak itu makin lama makin kurang ajar"kata Feng Xiu, ia menghela nafasnya tak tahu ada apa dengan teman yang satunya ini, mereka bertiga seperti tak dianggap saja.
"Hmm... apa sebaiknya aku pulang saja?"tanya Qin Jianwe, ia menjadi murung saat mendengar kata kata para Tuan Muda itu, tak ada dendam sedikit pun karena yang mereka katakan benar. Qin Jianwe memang orang yang berhati lembut.
"Gawat Pangeran Pertama ingin kembali!"bisik prajurit dibelakangnya.
"Cepat katakan sesuatu atau uang kita akan diambil kembali!"bisiknya, ia mendorong temannya kedepan agar meyakinkan Qin Jianwe.
"Pangeran! Anda tak perlu bersedih! Saya yakin anda pasti bisa mendapatkan banyak buruan! Kami akan selalu membantu anda"kata prajurit itu membuat Qin Jianwe kembali bersemangat.
"Benarkah?"tanya Qin Jianwe sebagai orang yang jarang dipuji, ia merasa sangat senang sekarang.
"Ya! Yaa! Anda jangan berkecil hati"kata prajurit itu menganggukan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu! Ayo kita ke lapangan utama"kata Qin Jianwe, ia memaju kudanya kedepan untuk mendengar kata sambutan ayahnya.
********
"Yang Mulia, anda harus memberi kata sambutan"kata Pangeran Ketujuh kepada Kaisar yang sedang melamun melihat Liontin Giok berwarna Biru keputihan yang selalu dibawanya itu. Entah kenapa bibir wanita itu saja yang diingatnya serta berkataan kasarnya walaupun berusaha mengingat mati matian wajahnya, Kaisar tak pernah bisa karena kepalanya tiba tiba akan terasa sangat sakit.
"Kenapa berbicara formal, santai saja Yi'er"kata Kaisar menoleh kearah adiknya, ia menyimpan giok itu disaku celananya.
"Ada pengawal didepan, bagaimana mungkin saya berbicara informal kepada anda, jika ada yang mencontohnya bagaimana?"kata Pangeran Ketujuh, tata krama adalah hal yang paling dijunjungnya.
"Baik... baik... Panglima Yi"kata Kaisar sambil menepuk bahu Pangeran Ketujuh.
"Aku tadi menampar Putri"kata Pangeran Ketujuh membuat Kaisar terkejut.
"Kenapa kau lakukan itu? Dia masih kecil! Itu akan menyakitinya"kata Kaisar dengan sedikit menunjukan emosinya.
"Anakmu kurang ajar, menyiram pelayan tak bersalah dengan air panas, apa kau tidak tahu dia berganti pelayan setiap hari layaknya berganti baju"bisik Pangeran Ketujuh dengan baju zirah yang dipakainya membuatnya semakin terlihat gagah.
"Dia anak perempuan bagaimana mungkin melakukan hal itu"kata Kaisar, ia tak percaya Qin Meili melakukan hal itu, membunuh? anak kecil tidak mungkin memiliki pemikiran seperti itu.
"Hahh!! Aku tahu kau menyayanginya! Tapi ingatlah untuk mengajarinya tentang tata krama dan nilai kemanusiaan, bahkan seorang Panglima perang sepertiku pun tahu yang mana yang harus dibunuh dan yang tidak"kata Pangeran Ketujuh, sifat kakaknya semakin aneh sejak lupa ingatan.
"Aku akan melakukan penyelidikan"kata Kaisar, ia pergi menuju ke atas panggung.
*Aku sudah mencarimu kemana mana, dimana kamu wanita kasar. Jika kita bertemu aku ingin menjadikanmu Permaisuriku mengantikan wanita mandul itu-batin Kaisar, diingatannya ia bertemu seorang wanita, saat malam hari tepatnya disaat ia diserang lalu ia sering bertemu dengannya dan bertengkar, tetapi ia menikah dengan Permaisuri lalu ia lupa kelanjutannya, ia tak pernah menyebut nama wanita itu karena lupa.
"Terima kasih untuk kalian karena sudah hadir memenuhi undangan dariku, bagi siapa saja yang bisa mendapatkan banyak buruan akan mendapatkan hadiah 200 tael emas dan dianugerahkan gelar Prajurit tingkat 5"kata Kaisar tak lama gendam pun ditabu tanda perlombaan dimulai para kontestan pun mulai berhamburan pergi menelusuri hutan tak terkecuali Qin Jianwe.
"Dimana kita harus mencari hewan buruan?"tanya Qin Jianwe kepada dua prajurit itu.
"Sebelah sini Pangeran! saya dengar ada rusa yang tak terlalu besar. Anda bisa memanahnya dari jauh"kata prajurit itu menunjuk kearah hutan lebat yang sepertinya tak pernah dijamah oleh manusia.
"Baiklah! Aku akan pergi kesana, kalian bisa tunggu disini"kata Qin Jianwe tanpa ragu, ia masuk kedalam hutan itu sendiri.
"Bagaimana? Kau melepasnya begitu saja? Tidak bunuh dulu?"tanya prajurit satunya, sesuai perintah mereka harus membunuh Qin Jianwe baru membawa mayatnya ke dalam hutan untuk dijadikan makanan harimau.
"Dia Pangeran yang lemah sebentar lagi dia pasti akan kelelahan dan harimau akan memakannya"kata prajurit satunya, secara logika tidak mungkin ada yang masuk kehutan itu dan Qin Jianwe. Walaupun tak dimakan binatang buas pun dia akan tersesat dan mati kelaparan.
"Benar juga! Ayo laporkan hal ini kepada Selir"mereka pun pergi dari sana, hutan itu tak termasuk arena berburu karena ada banyak harimau yang hidup disana.
"Dimana rusa nya"gumam Qin Jianwe sudah sangat jauh, ia berjalan tetapi tak ada satu binatang pun ditemuinya.
Groarrr
Suara raungan itu makin membesar semakin lama ada pergerakan didepannya semak semak tampak bergoyang dengan cepat.
"Apa itu"kata Qin Jianwe, ia mempersiapkan busur dan panahnya.
"Ha...harimau?!"saat melihat hewan buas yang menampakan diri dibalik semak semak membuat Qin Jianwe ketakutan begitu pula dengan kudanya, kudanya yang tak terkendali menjatuhkan sang pemilik ketanah.
"Ba...bagaimana.... i...ini"saat melirik ke belakang, ia melihat para prajurit itu melambaikan tangan padanya.
"Apa ini jebakan Ibunda Selir? Ibunda Selir kenapa jahat sekali"Qin Jianwe hampir menangis karena ketakutan.
Groarrr
Saat harimau itu ingin menerkamnya, ada seorang wanita membawa pedang dan menikam harimau itu dari belakang.
"kau tidak apa?"tanya wanita itu, ia langsung mengendong Qin Jianwe masuk kepelukannya.
"Huaaaa!!! Aku takut sekali... huaa"tangis pecah Qin Jianwe pecah, seluruh tubuhnya gemetar membayangkan besarnya mulut harimau itu saat ingin memakannya.
"Sudah..sudah tidak apa! Aku disini"kata wanita itu, ia menepuk bahu Qin Jianwe, hampir lima belas menit Qin Jianwe menangis didekapannya.
"Terima kasih Nyonya sudah menyelamatkan saya. siapa nama anda, sa..saya ingin mengingatnya seumur hidup"kata Qin Jianwe dengan bersungguh sungguh, ia menyapu air matanya.
"Astaga! Jadilah kuat agar kau bisa membalas jasaku suatu hari nanti"kata wanita itu sambil tertawa ringan ekspresinya yang bersungguh sungguh itu membuatnya menarik pipi Qin Jianwe.
"Kalau nama... nama ya... namaku Liu Wen! Panggil saja bibi Wen"kata Liu Wen sambil tersenyum.
"Terima kasih bibi Wen!"kata Qin Jianwe dia berdiri walaupun gemetar tetapi ia mencoba untuk melangkah.
"Ayo kuantar sampai keluar hutan, lain kali jangan kesini lagi"kata Liu Wen, ia menyodorkan tangannya kedepan dan memberi isyarat dengan matanya agar Qin Jianwe mengenggam tangannya.
"Hehehe... iya! Saya kesini karena mengikuti kontes berburu!"melihat hal itu Qin Jianwe mengerti dan mengenggam tangan Liu Wen, ia tertawa karena tak pernah diperlakukan seperti ini. Sepanjanh perjalanan mereka mengobrol agar tak bosan.
"Oh ya? Berani sekali! Berapa umurmu"tanya Liu Wen melihat tubuh sekecil ini ia menebak Qin Jianwe baru berusia 8-9 tahun.
"12 tahun, ya sebenarnya umurku 11 tahun tetapi karena aku lahir secara tak normal jadi 12 tahun"kata Qin Jianwe, ia menampakkan raut wajah sedihnya.
*Apa prematur?-batin Liu Wen, ia tak menyangka anak sekecil ini berusia 12 tahun.
*Pantas saja pertumbuhnya sangat lambat dan sepertinya juga lemah, tapi kenapa badannya sangat ringan? Seperti kurang makan saja padahal dari bajunya terlihat seperti Tuan Muda yang kaya-sambung Liu Wen, saat mengendong Qin Jianwe tadi ia merasa seperti memeluk bantal tubuhnya juga tak setinggi anak anaknya.
"Sama seperti anakku dong... kalau begitu aku bisa menikahkanmu dengan putriku jika kamu bersedia"kata Liu Wen asal berbicara.
"Ehh?"pipi Qin Jianwe memerah, ia tak pernah dekat dengan gadis mana pun.
"Baiklah kamu pergilah itu jalannya, hati hati ya"kata Liu Wen, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.
"Aiyaa!! Aku keluar untuk mencari tali!! Bagaimana nasib anak anak disana"kata Liu Wen, ia tersentak karena lupa dengan tujuan awalnya keluar lebih awal dari sana.