
"Pfttt....! Apa Kaisar?! Yang benar saja"kata Jake ia menahan tawanya, apa yang ibunya katakan ini membuatnya ingin tertawa.
"Mami bersungguh sungguh!!"kata Liu Wen, ia menghentakan kakinya kebawah sambil mengembungkan pipinya.
"Hahaha.... oke..oke papi seorang Kaisar, aku ambil tas dulu"kata Jake diikuti Aiden tak lama mereka membawa tas mereka masing masing, melihat Liu Wen yang masih memandangi makam Kaisar Qin membuat Aiden penasaran.
"Yang benar saja! Hahaha... Kaisar?"tawa Jake, Anna langsung membungkam mulut kembarannya yang tak bisa membaca situasi ibunya yang sedang sedih begitu.
"Mami.... ini sudah sore ayo pulang"ajak Aiden, wajah ibunya yang murung membuatnya sedikit merasa bersalah karena ikut menertawakan kata kata ibunya itu.
"Aku tahu itu tak masuk akal tapi aku berusaha mempercayainya"timpal Aiden membuat Liu Wen semakin kesal.
"Kalau mami berbohong tanah akan runtuh!"kata Liu wen, tiba tiba tanah sekitar makam Kaisar Qin amblas itu membuat mereka semua terjatuh didalamnya.
"Fei! Anak anak"teriak Presdir Mike untuk sekian lama ia memberanikan diri bertemu Liu Wen, saat bertanya dimana mereka berada kepada beberapa kru Presdir Mike melihat alat berat pengangkut besi panggung jatuh didekat makam sehingga tanah disekitarnya runtuh.
"Ahhh...!!"teriak Liu Wen, ia tak bisa menjaga keseimbangannya mereka jatuh kedalam lubang itu.
*Bahkan dasarnya kelihatan, ini tidak dalam-batin Liu Wen ia bisa melihat dasar lubang itu tetapi tiba tiba kecepatan jatuhnya bertambah dan dasar itu terlihat sangat jatuh, ia memejamkan matanya.
*A.. apa yang terjadi-batin Liu Wen ia serasa jatuh dari atas tebing.
"Heii... kau..."kata roh itu yang tiba tiba saja ada disamping Aiden.
"Kau?"tanya Aiden saat melihat kesamping tempat roh itu berada, ia mengedarkan pandangannya disekitarnya gelap.
*Bukankah hanya jatuh kelubang? Kenapa rasanya seperti jatuh kejurang saja-batin Aiden, ia menelan savilanya karena tiba tiba merasa takut.
"Ini saatnya kau membuat keputusan! Mau bertemu ayahmu atau patah kaki dengan sia sia?"tanya roh itu, ia menjentikkan jarinya membuat keadaan sekitar menjadi lamban.
"Aku... pertemukan kami!"kata Aiden dengan bersungguh sungguh.
"Oke kau akan menjadi korbannya! Demi ibumu ya... hmmm... lumayan"kata roh itu sambil menyeringai.
"Ingatlah ini era modren bukan duniamu..... kau penghuni zaman Kekaisaran. Zaman dimana mereka yang berkuasa akan disanjung dan dihormati, seharusnya kau tak pernah dilahirkan karena ibumu kesana hanya menjalankan sebuah misi tapi karena Ibumu mengubah takdirnya maka aku akan membawa kalian kembali ke dunia dimana kalian berasal"kata roh itu, tangan Aiden tersayat mengeluarkan tetasan darah yang jatuh ke tulang belulang Kaisar Qin, sehingga jalan antara dua dunia terbuka tanpa disadari oleh mereka.
"Era Modren akan melupakan sosok Liu Yifei dan anak anaknya, dia bukan seorang anak, istri atau pun seorang Wakil Presdir sekarang, karena sejak awal dia ditakdirkan untuk mengubah Kekaisaran Qin"kata roh itu, ia menghapus ingatan Presdir Mike dan orang orang yang mengenal Liu Wen dan anak anaknya hanya dengan jentikkan jarinya.
"Yang kumaksud tadi korbankan darahnya lho, apa dia mengerti? Ahh! Sudahlah aku tak peduli"timpalnya, ia tersenyum sambil mengibaskan kipasnya.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku maka sudah saatnya aku bersantai.... Dewa"kata roh itu, ia menyinggung senyum diwajahnya lalu lama lama menghilang.
*****
"Tuan!! Tuan!"panggil seorang wanita melihat pria yang sedang tak sadarkan diri didekat tempat pengeboman.
"Mohon pergilah dari sini! Musuh negara sedang berkeliaran. Area ini tidaklah aman bagimu"kata wanita itu samar samar Presdir Mike melihat wanita itu makin lama makin jelas.
"Siapa kau?"tanya Presdir Mike dengan dingin ia seorang anti wanita sangat tak suka jika ada yang mendekatinya.
"Letkol Liu... kami menemukannya! Silakan anda memberi perintah"kata para tentara yang tiba tiba datang tak lupa hormat seorang prajurit.
"Siapkan senjata kalian! Ingat tembak kakinya jika dia melawan, maaf aku harus pergi"kata Letkol Liu kepada Presdir Mike.
"Aku merasa familiar dengan wajahnya tapi aku tak pernah bertemu dengannya.... siapa ya?"tanya Presdir Mike, ia mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lalu apa yang kulakukan disini?"tanyanya yang masih binggung bukankah ini adalah komplek pemakaman kerajaan kenapa dia bisa ada disini seperti ada sesuatu yang ia lupakan.
********
"Awww! Sakit sakit"kata Jake, ia mengusap bokongnya yang sangat sakit karena jatuh dari ketinggian.
"Ahh, maafkan aku"kata Jake, ia langsung bangkit dari duduknya.
"Shsss"desah Aiden bukan karena bokongnya yang sakit tetapi tangannya yang tergores ini sedikit sakit.
"Katanya aku akan mati? Apa aku berkhayal lagi"gumam Aiden karena menurut yang dikatakan roh itu seharusnya ia mati jika ingin bertemu ayahnya.
"Aiyaa! Sakit sekali"kata Liu Wen, ia berdiri dan memeriksa keadaan anak anaknya.
"Kalian baik baik saja?"tanya Liu Wen kenapa rasanya seperti jatuh dari ketinggian ribuan meter padahal ia bisa melihat lubang ini tak terlalu dalam.
"Iya tidakpapa mami"kata mereka dengan serempak.
"Aiden, tanganmu terluka"kata Liu Wen ia memeriksa luka putranya.
"Tidak apa mami"kata Aiden ia segera menarik tangannya entah kenapa bisa terluka padahal dibawahnya tidak ada benda keras.
"Sini biar aku obati"kata Ellson, ia mengambil kotak obat didalam tasnya.
"Hallo!! Bisa tolong kami"teriak Anna sangat tak nyaman berada didalam lubang begini.
"Kak Mizu! Sutradara Cheng! Kak Mohyun!"teriak Jake, ia memanggil para kru dan sutradara.
"Kakiku"kata Anna, ia meringis kesakitan akibat benturan yang sangat keras kakinya sangat sakit.
"Kakak! Minum obatmu ya sepertinya kakimu berdarah, nanti kita akan menemui paman Zhiwan saat keluar! Bertahanlah"kata Ellson sebagai orang yang mengerti pengobatan disini, ia harus menjaga penuh Anna yang memiliki penyakit pada kakinya.
"Ini tidak terlalu dalam"kata Liu Wen, ia berusaha memanjat lubang itu.
"Mami? Apa mami bisa naik?"tanya Keyzee, ibunya sudah tua kalau tiba tiba sakit pinggang bagaimana, lagi pula seorang Nona Muda keluarga Liu tidak mungkin bisa memanjat kan pikirnya.
"Tenang saja! Lihat ini ada batu batuan yang menempel bisa dijadikan pegangan dan pijakan"kata Liu Wen sedikit demi sedikit, ia menaiki dinding dan sampai diatas.
"Beruntung aku sering ikut pelatihan memanjat gunung"kata Liu Wen saat mencapai atas, ia sedikit binggung kerena lubang diatas sangat rapi berbentuk kotak.
"Ini bukan lubang yang tadi tapi benar benar sumur"gumam Liu Wen, ia mengitari sumur itu beberapa kali.
"Mami!! Cari para kru untuk meminta bantuan! Kami akan menunggu"teriak Jake dari bawah, mereka bisa saja ikut memanjat tetapi Aiden dan Anna sedang terluka tak mungkin mereka meninggalkan kedua kembarannya ini.
"Baiklah! Mami akan segera kembali"teriak Liu Wen, ia segera berlari kedepan dan saat melihat sekitarnya, ia sedikit binggung.
"Tunggu! Ini hutan bambu! Udara ini! suasana ini! Jangan jangann"gumam Liu Wen, ia segera berlari mencari jalan keluar hutan bambu, saat melihat keluar nampak dari atas Ibu kota Kekaisaraan Qin lengkap dengan istana megah yang terlihat sangat kecil dari atas sini. Hal ini membuatnya tak henti hentinya tersenyum.
"Aku kembali!!!"teriak Liu Wen, ia tak percaya kalau hal ini menjadi nyata, kembali ke Era Kekaisaran? Bertemu Qin Xuan? Hidup bersama dengan anak anak? Ini yang ia impikan selama ini.
"Anak anak kalian tunggu disini ya! Mami akan carikan tali untuk kalian keluar, saat keluar nanti kalian akan terkejut"teriak Liu Wen, ia segera pergi dari sana mencari alat yang ia perlukan untuk mengeluarkan anak anaknya dari sumur itu.
"Memangnya kenapa? Apa aku akan dimarahi sutradara karena terlambat?!"tanya Jake, ia jadi sedikit takut.
"Bersih bersih"Jake menepuk nepuk bajunya agar tak kotor.
"Uhuk.... uhuk... Jake! Kita sedang dalam masalah, sutradara itu pasti memakluminya"kata Aiden, ia menutup mulut dan hidungnya karena debu yang ditebar Jake.
"Diam atau kupukul"kata Anna membuat Jake meringkuk.
"Bukannya mencari bantuan kenapa mami ingin mencari tali? Tak mungkin semua orang sudah kembali"gumam Aiden ia melihat keatas nampak langit biru cerah.
"Tunggu! Bukannya hari sudah sore? Dan lubang ini tak mungkin berbentuk petak ratakan, bambu? Kita ada di lokasi situs sejarah kan?"kata Aiden, ia melihat daun daun bambu yang bergoyang terkena angin serta suara khas bambu yang bertubrukan karena terpaan angin.
"Apa kita benar benar bertemu papi? Lalu kenapa tempatnya berbeda? Apa... benar... papi... seorang... Kaisar?! Dan kita melintasi waktu seperti yang dikatakan roh itu dan mami?"kali ini Aiden menyimpannya dalam hati, ia masih tak yakin dengan apa yang dipikirkannya.