I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
110. Tusukkan



Kediaman Phoenix


"Aku dengar Yiwei terjatuh...."seru Pangeran Keempat, ia bergeges menuju ranjang tanpa mengucapkan salam.


"Hmmm... begitulah"kata Liu Wen, ia mengulas senyum sementara para putranya menatap tajam kearah Pangeran Keempat.


"Paman begitu lama! Apa ke tempat Qin Meili dulu?"tanya Jake, entah kenapa ia jadi membenci Qin Meili padahal ini juga salahnya, trik murahan begini sudah ia ingat kenapa ia tak bisa menghentikan Qin Meili tadi.


"Tidak, aku sedang membeli beberapa tanaman herbal tadi saat kembali para pelayan berbisik, katanya Putri Qin terjatuh"jawab Pangeran Keempat matanya sempat menangkap ekspresi kecewa diwajah keponakannya.


*Sepertinya terjadi sesuatu tadi-batin Pangeran Keempat, ia mulai memeriksa kaki Anna sekali sekali merlirik Liu Wen untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Kakimu bengkak, apa saat terjatuh dikolam kamu tersangkut sesuatu?"tanya Pangeran Keempat, dilihatnya kaki kanan Anna yang sudah membesar dan berwarna coklat kebiruan, kakinya memar.


"Hmm, sesuatu menjerat kakiku, seperti kayu, tadi aku tak bisa melepaskannya jadi terus kupaksa keluar"kata Anna, ia sangat bahagia melihat ayahnya yang menyelam dan mendekat kearahnya. Ia bahkan sudah mengulurkan tangannya karena berpikir ayahnya itu akan menyelamatkannya tetapi tidak. Kenyataan ternyata lebih pahit.


"Apa kami terlalu lama menyelamatkanmu?"tanya Aiden, ia merasa bersalah karena membiarkan Anna terlalu lama didalam air, hanya karena ia berpikir ayahnya itu akan menyelamatkan adiknya.


"Tidak, tidak masalah"kata Anna sambil tersenyum tipis tak seperti biasanya, kembarannya terkejut bukan karena Anna tersenyum tetapi rasa sakit dihati Anna ikut mereka rasakan.


"Kakak Wei..."lirih Keyzee ia memeluk Anna dengan erat.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak pernah ingin bertemu papi dan kita hidup berlima saja seperti dulu"kata Keyzee, ia menangis seseggukan jika dia tak berbicara tentang ayahnya mungkin Anna tak akan terluka sekarang.


"Aku juga minta maaf! Padahal aku yang paling tahu tentang trik murahan begini tetapi masih tak bisa menyelamatkan saudariku"kata Jake dengan wajah yang suram dan tatapan kosong, pertama kali dia merasa seperti orang yang tak berguna.


"Mungkin yang dia perlukan cuma Aiden! Ayo kita kembali kekediaman kakek"kata Jake, ia menarik tangan Anna agar berdiri dan ikut bersamanya.


"Ada apa dengan kalian?"tanya Pangeran Keempat membuat mereka semua menoleh.


"Tidak ada! Baiklah jika kalian tidak mau pergi aku duluan saja"kata Jake saat ia menarik tangan Anna tak ada pergerakan sedikitpun.


"Padahal kakiku sakit jadi tak bisa bergerak"gumam Anna itu memang benar ia ingin pergi tetapi kakinya sedang tak bisa digerakan.


"Ayo keluar sebentar"kata Liu Wen, ia menarik tangan adik iparnya itu keluar kamar.


"Ada apa sebenarnya, apa Yiwei terjatuh karena seseorang?"tanya Pangeran Keempat melihat keponakan barunya itu sangat emosional membuatnya yakin pasti ada masalah besar yang baru saja terjadi.


"Otakmu cepat tangkap juga"gumam Liu Wen, ia berhenti didepan pohon sakura tempat pertama kali mereka bertemu.


"Ingat tempat ini? Kau diatas pohon dan memberiku obat untuk rasa mualku?"tanya Liu Wen, ia duduk dibawah pohon itu dan menepuk tanah disebelahnya menyuruh Pangeran Keempat untuk duduk disampingnya.


"Tentu saja! Gejala orang hamil itu sangat jelas"kata Pangeran Keempat ia berjalan kedekat dahan pohon itu dan menaikinya.


"Lagi pula aku melihat sesuatu yang tak perlu, jadi aku yakin kau pasti sedang hamil"gumam Pangeran Keempat, ia memalingkan wajahnya karena memerah, saat ia ingin mengoleskan obat untuk Liu Wen dimalam hari, ia tak sengaja melihat kakaknya dan kakak iparnya melakukan hubungan intim meski sekilas itu membuatnya tak nyaman.


"Apa?"tanya Liu Wen, karena suara Pangeran keempat yang terlalu kecil ia tak bisa mendengarnya.


"Aku bilang, aku sudah lama mengenalmu jadi aku tak sungkan lagi"kata Pangeran Keempat.


"Oh ya sejak kapan?"tanya Liu Wen yang penasaran, seingatnya pertemuan pertamanya dengan adik iparnya saat dia menikah dulu dan berbicara dengan adik iparnya itu saat hamil dulu.


"Saat masih remaja, aku melihatmu membaca buku tata krama di kediaman Jendral Feng saat itu aku dan ibuku menemui Jendral Feng untuk memintanya mengajarkanku ilmu bela diri"kata Pangeran Keempat, ia tak akan lupa dengan sosok gadis cantik yang sangat mementingkan etika dan tata


krama itu.


"Ahh begitu? Aku sudah lupa"kata Liu Wen sambil mengangguk pelan.


*Mana aku tahu! Aku baru datang kesini 15 tahun yang lalu-batin Liu Wen, ia tertawa garing.


"Dibandingkan Qin Xuan! Kau yang paling enak diajak bicara"seru Liu Wen, ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya sejenak.


"Si kembar marah karena Qin Xuan hanya menyelamatkan Meili padahal Wei dan Meili jatuh berdekatan... kali ini aku tak bisa membela Qin Xuan karena dia memang keterlaluan"sambung Liu Wen hatinya masih berkecamuk tak tenang, melihat anak anaknya yang kecewa membuatnya sedih.


"Kau tahukan kakak ipar, dia bukan


ayahanda Wei saja tetapi ayahanda Meili dan Jianwe, kakak Xuan berusaha menyayangi semua anak anaknya agar mereka tak merasakan apa yang dirasakan kakak Xuan dulu"kata Pangeran Keempat, dia yang paling tahu bagaimana usaha kakaknya untuk mencintai dan menyayangi anak anaknya secara merata.


"Ini masih lebih baik, pada zaman Kaisar terdahulu, kakak kedua, kakak ketiga, adik kelima dan adik ketujuh, mereka tak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah, bahkan kakak Xuan yang disayang Kaisar terdahulu memilih menjauh karena ingin merasakan hal yang sama seperti adik adiknya"


Liu Wen terdiam, mungkin memang benar Kaisar sudah berusaha sebaik mungkin dan hal itu perlu disyukurinya, jika si kembar mendengar hal ini bukannya memaklumi mereka pasti akan memberontak karena tak mau diatur.


"Ohh ya bagaimana dengan surat yang kau cari? Bagaimana bisa kau kembali bersama si kembar dan kakak Xuan?"tanya Pangeran Keempat melihat wajah Liu Wen yang gelisah membuatnya mengalihkan pembicaraan.


"Ohh... aku bertemu dengan Qin Xuan saat di Kediaman Mentri Fu dia juga menyelidiki masalah surat itu tetapi didalam surat itu mengatakan bahwa Qin Xuan mandul? Aku jadi tak mengerti. Apa ini jebakan atau faktanya"kata Liu Wen, Pangeran Keempat tak bergeming, ia sudah pernah memikirkan hal ini tetapi ditepisnya jauh jauh.


"Apa yang ditulis disana selain itu?"tanya Pangeran Keempat ia menaruh jarinya didagu memikirkan apa alasan dibalik perkataan Tabib Wu itu.


"It..itu katanya Qin Xuan tak mandul dari lahir, anu... itu... katanya air maninya sedikit dan itu gara gara aku"kata Liu Wen ia sangat malu mengatakan hal itu.


"Hah? Apa kakak diracuni tapi siapa pelakunya, hal ini... cuma tabib Wu yang tahu"gumam Pangeran Keempat, jika itu benar bearti Tabib Wu memakai obat mandul tetapi kenapa ia mengambil resiko untuk meracuni Kaisar, siapa pelakunya.


"Tapi sebelum itu, kita harus mencari tahu kebenaran surat itu"kata Pangeran Keempat dibalas anggukan oleh Liu Wen.


"Apa yang harus kita lakukan?"tanya Liu Wen dengan serius.


"Bukan kita... tapi kau saja kakak ipar"kata Pangeran Keempat sambil tersenyum nakal kali ini, ia memiliki kesempatan untuk balas dendam.


"Ohhh, apa yang harus kulakukan"tanya Liu Wen ia jadi penasaran apa yang bisa ia lakukan untuk membuktikan apakah surat itu palsu atau asli.


"Berhubungan intim lah dengan kakak Xuan!"kata Pangeran Keempat dengan santai, seketika wajah Liu Wen memerah, ia langsung tersentak.


"Ahhh! A..apa yan...ngg kau k..katakan"kata Liu Wen dengan gugup.


************


Kediaman Phoenix


"Wei, maafkan ayahanda... ah... pa.. papi"kata Kaisar, ia berada didepan pintu kamar Liu Wen.


"Pergi dari sini! Kau Kaisar tidak berguna!"teriak Jake, ia urung kembali ke kediaman kakeknya karena bertemu Kaisar dijalan.


"Bo'er jangan marah papi...."


"Aku lupa kalau aku memiliki anak dari Wen"gumam Kaisar ia menatap ke bawah hatinya dipenuhi rasa bersalah hanya Qin Meili diingatannya karena putrinya itu sedang sakit dan kekhawatirannya muncul begitu saja.


"Siapa yang kau sebut Bo'er!"teriak Jake seketika ia merinding karena dipanggil begitu oleh Kaisar.


"Maaf Yang Mulia! Ini salahku... Pangeran jadi marah kepadamu"kata Selir Chu, ia mengikuti kaisar dengan alasan ingin melihat Anna.


"Tidak... bukan...bukan salahmu"kata Kaisar tanpa menoleh wajah Selir Chu.


"Yibo apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"tanya Kaisar ia masih berdiam diluar pintu.


"Aku akan menusukmu menggunakan pedang! Baru aku memaafkanmu! Apa kau mau!"kata Jake, ia membuka pintunya dan menunjuk wajah Kaisar.


"Kurang ajar! Tidak tahu etika! Yang dihadapanmu adalah Kaisar!"bentak Ibu suri awalnya ia terpaksa datang ke kediaman Phoenix untuk melihat cucu palsunya tetapi saat sampai didepan gerbang ia mendengar keributan.


"Aku tidak memaksanya! Jika tidak mau, pergi dari sini"kata Jake, ia hendak menutup pintunya tetapi ditahan oleh Kaisar.


"Lakukan saja"kata Kaisar, ia melempar pedang miliknya ke tangan Jake, hal itu membuat semua orang terkejut bahkan ada batas bagi seorang ayah jika mencintai anaknya apa lagi dia seorang Kaisar bisik para pelayan disana.


"Yang Mulia! Anda tak boleh memberi contoh yang... ba"belum selsai Ibu suri mengatakannya Kaisar menyuruh ibunya diam, ia berjalan mendekati Jake.


"Yi.. yibo, sudahlah"kata Anna ia memijat pelipisnya.


*I...ini pedang sungguhan...! Tidak peduli aku benci dia-batin Jake, saat pertama kali membuka pedang dari sarungnya, ia terkejut karena dulu saat ia syuting, pedang seperti ini hanya properti yang terbuat dari besi yang tumpul.


"Hmphhh...! "Jake mengayunkan pedangnya dan hendak menusuk Kaisar yang sudah berdiri didepannya tanpa basa basi Jake menusuk lengan Kaisar sampai terkena tulang lengan Kaisar.


"Hei...! Ini sudah kelewatan"kata Ellson, ia tahu kalau kembarannya ini marah tetapi jangan sampai ia membuat masalah yang tidak tidak seperti ini juga kan.


"Tidak apa Yiwu, papi memang pantas mendapatkannya, jika Yibo suka, dia bisa menusuk papi sesukanya"seru Kaisar sambil tersenyum hanya karena tak menampakkan ekspresi kesakitan bukan bearti ia tak merasa sakit tetapi demi putranya apapun akan dilakukannya.