
"BENERAN HAMIL!!!"teriak Liu Wen, ia terkejut mendengar pernyataan Pangeran Keempat.
"Iya kakak ipar. Kau tak perlu berteriak begitu"kata Pangeran Keempat sambil menutup telinganya.
"Kau tak perlu patah semangat hanya karena rumor kemarin, hidup di istana memanglah kejam. Musuh ada dimana mana kita juga tak tahu apa yang akan mereka lakukan"sambung Pangeran Keempat.
"Aku tahu itu tapi kata tabib Wu. Aku mandul?! Jika dia berani berbohong didepan Kaisar, pasti orang yang berpengaruh di istana ini sudah melindunginya"jelas Liu Wen menatap serius adik iparnya itu.
"Kakak Xuan memang sangat pintar memilih istri"senyum Pangeran Keempat.
"Apa maksudmu? Aku sedang serius ini"kata Liu Wen menekuk dalam bibirnya karena kesal.
"Ekhemm.... tabib Wu adalah kepala tabib di istana dan yang mengangkatnya adalah Mentri Cheng, aku tidak tahu apakah dia yang menyuruh tabib Wu berbohong atau tidak"jelas Pangeran Keempat, ia melihat Liu Wen menggunakan ekor matanya.
"Aihh... aku baru beberapa bulan disini ada saja orang yang ingin mencelakaiku dan sekarang..."Liu Wen melirik perutnya lalu tersenyum.
"Untuk sementara ini aku sarankan kakak ipar merahasiakan hal ini. Setidaknya sampai bayinya lahir, aku akan memberi obat sesuai seleramu"kata Pangeran Keempat, ia mengambil kertas dan kuas lalu mulai menulis lagi tadi ia lupa memasukan resep obat penting.
"Ahhh... adik iparku yang tampan memang tahu apa yang kubutuhkan!"Liu Wen mencubit pipi Pangeran Keempat dengan keras.
"Sudah besar masih takut minum obat, apakah ini wanita mengerikan diseluruh kekaisaran Qin? Jika semua orang tahu mereka tidak akan takut lagi denganmu kakak ipar"kata Pangeran Keempat dengan dingin bisa bisanya seorang tirani takut dengan obat. Benda kecil berbentuk bundar yang menyehatkan badan itu.
"Aku juga tidak minta ditakuti kok! Aku cuma mau mereka tidak mengangguku saja, bweee"kata Liu Wen memeletkan lidahnya.
"Hindarilah masalah dengan banyak orang walau rumor ini menguntungkanmu tapi jangan memancing banyak perhatian"jelas Pangeran Keempat, ia hendak keluar kamar Liu Wen.
*Rumor mandul itu akan membuat orang tak akan ada yang tahu kalau kakak ipar sedang mengandung-batin Pangeran Keempat, hal seperti ini sudah sering ia lihat, mencelakai bayi tak berdosa karena takut menjadi saingan dimasa depan. Begitulah ia tumbuh didalam istana yang haus akan darah.
"Baiklah baiklah kau cerewet sekali.... tak perlu melakukan hal yang berlebihan! Begitu aku juga tahu"gumam Liu Wen, ia menggaruk lehernya karena bosan mendengar Pangeran Keempat berbicara seperti ibu ibu.
(Padahal porsi makannya sudah menarik perhatian banyak orang)
"Tidak bisa! Karena yang dikandunganmu itu keponakanku"kata Pangeran Keempat membalikkan badannya.
"Hmphh! Jangan terlalu senang dulu!! Mungkin ini anak dari salah satu gigoloku"kata Liu Wen, ia kesal diperlakukan selayaknya mesin melahirkan anak saja, sekalian saja ia berbohong.
"Tak masalah kita lihat saja saat bayinya lahir nanti. Darah lebih kenal dri pada air"jawab Pengeran Keempat, ia langsung keluar dari kamar Liu Wen.
"Cihh...! Dassar tabib kaleng kaleng!! Oh iya aku tak bisa percaya saja dengannya! Dia dekat dengan Qin Xuan siapa tau Qin Xuan sengaja mengirimnya agar aku merasa senang"gumam Liu Wen, ia berpikir sejenak mungkin saja Kaisar Qin dibalik semua ini. Kaisar menyuruh Pangeran Keempat berbohong mengatakan kalau dirinya hamil padahal sebenarnya tidak.
"Tapi tamuku juga belum datang selama 2 bulan ini! kurasa dia tidak berbohong "sambung Liu Wen ia mengelus perutnya.
"Huhh....! Ibu bodoh banget ya. tifak tahu kalau sedang mengandung kamu!! Tapi ini bukan salah ibu lho! Si tabib tua itu yang bilang kalau ibu tak bisa mengandung jadi kalau kamu udah besar pukul saja kakek tua itu, oke!"kata Liu Wen mengajak bayi yang didalam perutnya berbicara, lebih tepatnya mengajaknya menghujat orang.
"Permaisuri... anda baik baik saja? Saya sangat khawatir dan tanpa sadar saya memanggil Pengeran Keempat"kata Meng dengan rasa bersalah seharusnya Meng mencari Tabib istana tetapi ia malah berlari menuju ke kediaman Pangeran Keempat.
"Kau memanggil orang yang tepat Meng!! Kerja bagus!!"senyum Liu Wen sambil mengelus pucuk kepala Meng.
"Jadi anda sakit apa?"tanya Meng, ia sangat penasaran.
"Aku ha..."Liu Wen hendak memberitahukan kehamilannya.
*Upss.... Hampir saja, bukannya tidak percaya pada Meng tapi Junxi menyuruhku untuk merahasiakannya dari semua orang-batin Liu Wen.
"Aku cuma flu ringan dan alergi kacang itu makanya sampai sempat pingsan tadi"kata Liu Wen, ia mengambil resep yang ditinggalkan Pengeran Keempat di atas meja.
"Meng... beli obat yang ada di resep itu yang banyak ya"kata Liu Wen menyerahkan resep obat kepada Meng.
"Baik Yang Mulia"kata Meng yang langsung pergi ke pasar untuk membeli semua yang obat yang diperlu Liu Wen.
****
Kediaman Naga
"Lapor Yang Mulia"kata Chen yang masuk dari jendela kamar Kaisar sudah menjadi kebiasaanya masuk lewat jendela.
"Ada apa?"tanya Kaisar jika datang pagi pagi begini Chen biasanya akan melapor tentang apa yang dilakukan istrinya.
"Hamba melihat pelayan Permaisuri berteriak memanggil Pangeran Keempat lalu tak lama Pangeran berlarian masuk ke kediaman Phoenix bersama pelayannya"
"Kamar Permaisuri dan hanya Pangeran Keempat yang masuk kedalam"kata Chen membuat Kaisar memukul meja dengan keras.
"Permaisuri sedang sakit kemarin Selir Chu memberinya ikan asap saus kacang dan paginya Permaisuri sakit, itu sebabnya beliau memanggil Pangeran Keempat karena Permaisuri takut minum obat"kata Chen yang tahu bahwa Kaisar telah salah paham kepada adik dan istrinya.
"Huh? Takut obat?"Kaisar mulai memikirkan kata kata Liu Wen ditaman kalau hanya adiknya yang tahu obat sesuai seleranya.
"Anda tak boleh buta karena kecemburuan. Pangeran Keempat adalah orang yang sangat menghargai anda, dia siap mati untuk anda dan sebaliknya. Seharusnya Yang Mulia tidak meragukannya"kata Chen, ia memang bawahan tapi dia juga seperti penasehat bagi Kaisar.
"Hahh! Kau benar! Aku sangat bodoh mencurigainya"kata Kaisar menghela nafasnya.
"Sebaiknya anda temui Permaisuri, beliau pasti senang bertemu dengan anda"saran Chen dibalas anggukkan oleh Kaisar ia bergegas keluar
"Yang Muliaa..."teriak pelayan Selir Chu saat melihat Kaisar keluar dari kediamannya ia dengan cepat menghampiri Kaisar.
"Yang Mulia mohon beri keadilan untuk Selir Chu"kata pelayan Selir Chu berlulut didepan kaki Kaisar.
"Ada apa?"tanya Kaisar, ia mendengus kasar banyak sekali rintangan yang dihadapinya untuk bertemu dengan Liu Wen.
"Selir Chu sakit karena berlulut semalaman diluar kediaman Phoenix, itu karena perintah dari Permaisuri"kata pelayan itu, ia menangis agar dikasihani oleh Kaisar.
"Permaisuri menghukumnya pasti karena dia berbuat salah! Sudahlah aku ada urusan penting!"Kata Kaisar dengan ketus, ia langsung pergi.
*****
Kediaman Phoenix
"Kakak"sapa Liu Yichen dari luar gerbang kediaman Phoenix, ia melihat Liu Wen yang sedang berada diluar sedang minum teh.
"Ehh?! Yichen!"seru Liu Wen, ia berlari mendekat kearah gerbang.
"Biarkan dia masuk"kata Liu Wen kepada dua penjaga gerbang.
"Jadi ini kehidupan Permaisuri? Pantas saja kau terlihat sangat menikmatinya"kata Liu Yichen mengoda kakaknya.
"Halah?! Yang begini aku bisa membangunnya dua kali lebih besar"Liu Wen melipat tangannya dan menaruhnya didada.
"Hmm"senyum Liu Yichen seperti biasa kakaknya cerewet sekali.
"Ada apa kemari?"tanya Liu Wen menuangkan teh untuk adiknya.
"Ibu menyuruhku membawa bebek panggang untukmu"kata Liu Yichen mengeluarkan bungkusan kecil dari bajunya.
"Kenapa tidak suruh pelayan saja?"tanya Liu Wen tak biasanya ada anak bangsawan yang menjadi kurir makanan begini.
"Ibu takut makanannya jadi tak aman lagi jika menyuruh pelayan. Jadi dia menyuruhku secara langsung"kata Liu Yichen menaruh bungkusan itu dimeja batu yang berada didepannya.
*Ibu.... aku sangat terharu dia mengkhawatirkanku-batin Liu Wen, ia memegang erat bungkusan itu.
"Sampaikan kepada ibu.. aku sayang padanya"senyum Liu Wen, ia memeluk bungkusan bebek panggang itu dengan erat.
"Ohh ya Yichen... jika suatu hari nanti aku menghilang apa yang akan kau lakukan?"tanya Liu Wen tiba tiba raut mukanya nampak sedih, ia ragu untuk bertanya dan mencuri pandang kedepan ingin melihat ekspresi adiknya.
"Hmm"Liu Yichen menatap wajah Liu Wen dengan serius.
"Aku sangat senang jika kakak menghilang, kasih sayang ibu dan ayah akan menjadi milikku seorang"tawa Liu Yichen.
"Sialan!! Anak ini!!"kata Liu Wen mengeretakkan giginya dan memukul kepala adiknya.
"Sudah ya kak! Aku harus pergi ini sudah sore"kata Liu Yichen, ia berdiri dan melambaikan tangan kearah Liu Wen tanpa berbalik badan.
"Ehhh! Kau baru sebentar disini"kata Liu Wen yang tak didengar Liu Yichen.
"Aishh... anak itu bikin kesal saja!!"gumam Liu Wen dengan wajah penuh amarah, ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Baiklah! Aku tak bisa mempertaruhkan keselamatan anakku, walau aku benci mengakui bahwa ayahnya si cabul tapi dia tetap anakku!!"kata Liu Wen meninju udara karena kesal.
"Sepertinya rencanaku malam ini harus dilakukan"kata Liu Wen , ia masuk kekamarnya untuk menyusun rencana.