I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
101. Sekarat



"Mei'er!"teriak Selir Chu matanya terbelak saat melihat Qin Meili yang meringis kesakitan, awalnya ia hanya ingin menjebak Permaisuri tidak disangka putrinya diambang kematian sekarang.


"Xi'er apa kau tak bisa membuat penawarnya?"tanya Kaisar kepada Pangeran Keempat, ia juga mulai panik saat melihat Qin Meili yang begitu kesakitan.


"Aku bisa membuatnya tetapi tanaman obat untuk membuatnya sangat langka beberapa hari yang lalu aku membeli tanaman langka yang dibutuhkan disebuah pelelangan pedagang timur tengah tetapi tanaman itu sudah kugunakan untuk mengobati rakyat dan para pedagang itu sudah kembali ke negaranya ja...."belum selesai berbicara Selir Chu memarahi Pangeran Keempat.


"Bagaimana kau ini! Lebih memperdulikan nyawa orang yang tidak penting dari pada keponakanmu"kata Selir Chu ia menatap sinis Pangeran Keempat.


"Semua nyawa itu penting bagi seorang tabib, lagi pula siapa yang tahu kalau Mei'er akan keracunan"kata Pangeran Keempat dengan dingin.


"Ahgg! Ibundaa sakit..."lirih Qin Meili, wajahnya sangat merah seluruh badannya sangat panas rasanya seperti darahnya mendidih didalam.


*Aku membenci ibunya tetapi aku tak membenci anaknya. Dia tak bersalah. Kenapa Selir Chu sampai mau meracuni putrinya sendiri demi menjatuhkanku-batin Liu Wen, ia mengelus wajah Qin Meili suhu tubuhnya seakan membakar kulitnya.


"Biarkan saja! Sebentar lagi dia akan membawa penawarnya, Mei'er akan baik baik saja"bisik Kaisar, ia melihat raut wajah khawatir Liu Wen saat menatap Qin Meili yang sangat kesakitan.


"A He!!! Penawar! Bawa penawarnya! Cepatlah!"teriak Selir Chu, ia tak peduli dengan rencananya lagi didalam hatinya sangat tak tenang melihat wajah anaknya yang kesakitan.


"Apa maksudnya ini Selir, kau punya penawarnya?"tanya Kaisar dugaannya sangat tepat.


"Ti..tidak bukan begitu... Yang Mulia"kata Selir Chu, ia sangat terdesak dengan keadaannya sekarang dan memilih untuk diam dan berpura pura tak mendengar perkataan Kaisar yang terus menanyainya.


"Selir! Hamba sudah mencarinya tetapi penawar itu hilang!"kata A He nafasnya tersengal karena mencari penawaran itu kemana mana.


"Tidak mungkin aku menaruhnya di nakas! Tidak mungkin hilang sendiri! Cari di kediaman Permaisuri! Mungkin tertukar! "teriak Selir Chu ia menarik baju A He dan mendorongnya.


"Sudah jelas ini perbuatannya"kata Liu Wen sambil melipat tangannya, ia tahu semua hal ini tetapi berkat hilangnya penawar racun itu Selir Chu akhirnya menunjukan sendiri siapa pelakunya.


"Chu Nuan! Kau sudah meracuni putrimu sendiri dan memfitnah Permaisuri! Apa lagi yang mau kau katakan! "bentak Kaisar membuat para pelayan di sekitar Kediaman Putri menghampirinya.


"Ya...yang Mulia.... say...saya... ya saya! Mengakuinya! Saya ingin membuatnya mati atau lebih buruk lagi! Itu sebabnya saya mempertaruhkan nyawa putriku"kata Selir Chu, ia sudah kehilangan akal warasnya pikirannya kacau melihat putrinya yang semakin kesakitan.


"Saya mohon, cari penawar obat untuk Mei'er dia putrimu kan Yang Mulia?! Hu...hukum saya tapi selamatkan putri kita"lanjut Selir Chu, ia memegang kaki Kaisar.


"Carikan obat penawar untuk putri! Tanaman obat langka itu bagaimana pun caranya kalian harus mendapatkannya"kata Liu Wen, ia tak tega melihat Selir Chu yang sangat putus asa.


"Cepatlah ini hanya akan bertahan beberapa jam aku akan merendamnya di air herbal tetapi ini tak akan membantu banyak"kata Pangeran Keempat, ia yang paling bisa diandalkan disaat seperti ini. Kaisar dan Liu Wen memilih menunggu diluar kamar Qin Meili melihat Selir Chu yang mengamuk tak jelas membuat telinga mereka sakit.


"Kurasa tak perlu melakukan ini? Ini pasti siasatnya un..."Liu Wen langsung menampar Kaisar.


"Putrimu sudah hampir mati! Apa yang kau pikirkan!"bentak Liu Wen kenapa tiba tiba Kaisar sangat tak berperasaan begini.


"Kenapa kau membelanya? Dia menyakiti We'er mungkin ini hukuman untuknya"kata Kaisar, ia tak mengerti jalan pikir Liu Wen.


"Tapi Qin Meili tak bersalah, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Dia putrimu sendiri! Aku juga seorang ibu aku tahu apa yang dia rasakan"kata Liu Wen, ia segera masuk kembali ke dalam kamar Qin Meili.


*Seorang ibu? -batin Kaisar.


"Mungkin karena saat bertemu, mereka sudah balita"kata Kaisar dengan dingin saat Qin Jianwe dinyatakan meninggal ia sedikit merasa sedih dan terpukul entah kenapa saat Qin Meili hampir meninggal ia tak merasakan apapun.


*Mungkin karena ini ulah Selir Chu jadi aku tak terlalu peduli-batin Kaisar, pikirannya jadi kalut ia menerka nerka apa yang terjadi.


"Selir Chu angkat Qin Meili ke dalam bak"kata Pangeran Keempat kepada Selir Chu yang sedang menangis disamping ranjang.


"Ak..aku? Kenapa tidak pelayan saja?"tanya Selir Chu, ia sangat menyayangi putrinya tetapi melihat putrinya yang sangat bau dan kotor karena muntah membuatnya jijik.


"Jika tak membawanya sekarang dia bisa meninggal! karena ada aturan dasar tabib kerajaan aku tak bisa membawanya dengan keadaan telanjang! Jika tidak aku yang akan membawanya kesana!"bentak Pangeran Keempat bisa bisanya Selir Chu jjik kepada putrinya sendiri.


"Sini..."


Liu Wen mengambil tubuh Qin Meili ditangan Pangeran Keempat, lalu melepas hanfu dasar Qin Meili dan membersihkan bekas muntah diwajahnya.


"Apa masih tak enak, letakan kepalamu disini"kata Liu Wen ia melipat handuk diujung bak dan meletakan kepala Qin Meili disana.


"Eghh.... Ibun...da?"gumam Qin Meili saat membuka matanya ia melihat Liu Wen yang mengurusnya sedangkan ibunya terdiam diujung kamar mandi.


"Ibumu ada disini, tenanglah"kata Liu Wen sambil menepuk pelan pundak Qin Meili.


"Selir Chu kau bisakan memandikan Meili? Gosok dia dengan dedaunan itu"sambung Liu Wen, sepertinya Qin Meili menginginkan ibunya yang melakukan hal ini.


"Ak..aku...aku akan mengambil air saja! Anda saja yang melakukannya"kata Selir Chu ia membuang muka dan pergi dari sana.


*Ibunda? Dia tak mau menyentuhku-batin Qin Meili melihat reaksi Ibunya membuatnya sakit hati.


"Ibumu sedang mengambil daun herbal tenanglah dia juga sangat khawatir padamu"kata Liu Wen sambil tersenyum dan mengusap wajah Qin Meili.


"Bohong... dia meracuniku demi balas dendam kepadamu! Ibunda juga jijik melihatku"kata Qin Meili wajahnya terlihat sangat murung ia menatap air bak dan tak mau mengangkat kepalanya.


"Jangan berpikir yang tidak tidak! Khawatirkan dirimu sendiri saja..."Liu Wen mencubit pelan hidung Qin Meili.


"Kenapa... Permaisuri... mau membantuku? Aku jahat sudah berkata kasar"kata Qin Meili, ia menatap wanita yang mengurusnya, diwajahnya sekarang ini tak ada raut jijik ataupun membencinya, ia terlihat seperti ibu kandungnya sendiri.


"Nakal bagi anak kecil itu biasa jangan berkecil hati! Orang yang mengakui kesalahannya lebih baik dari pada mengabaikannya"kata Liu Wen, ia jadi teringat saat Anna kesakitan rasa khawatirnya tak dapat dibendung setelah mengatakan hal itu Qin Meili menutup matanya mungkin dia ingin merilekskkan tubuhnya yang tak nyaman.


"Sudahku gosok badannya lalu diapakan?"tanya Liu Wen, ia keluar dari kamar mandi dan menanyakan hal itu kepada adik iparnya.


"Biarkan dia disana. Kita hanya bisa berharap tanamanan langka itu ditemukan"kata Pangeran Keempat.


"Wah...wahh... putrinya sekarat dia malah duduk mematung diluar kamar... menarik..."kata Qin Yuanqu, ia sudah dibebaskan semenjak Qin Jianwe dinyatakan meninggal saat mendengar percakapan Kaisar dan Liu Wen dikamar Kaisar membuatnya marah dan berusaha balas dendam.


"Putraku sudah terlalu lama menderita menahan sakit siksaanmu! Jika aku tahu dari awal sudah lama aku membunuhmu"kata Qin Yuanqu, walaupun ia awalnya tak mau membunuh Qin Meili tetapi saat mendengarkan rencana Selir Chu untuk meracuni putrinya sendiri membuatnya mengubah rencana untuk melenyapkan Qin Meili.


"Salahkan Ibumu yang memiliki kepribadian buruk! Racunnya sudah kumasukkan semua, mungkin sebentar lagi kita akan memakai baju hitam"kata Qin Yuanqu, ia kembali ke kediamannya dan menunggu kabar baiknya saja.