I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
91. Wibawa Sang Permaisuri



"Yang Mulia... apa anda baik baik saja?"tanya Liu Yichen sekarang ia sudah berstatus sebagai Wakil Jendral, ia tak sengaja melihat Kaisar yang terduduk ditanah sambil memegang kepalanya.


"Shsss.... kepalaku sakit sekali"gumam Kaisar, ia melihat darah segar mengalir didahinya pukulan Liu Wen tak main main ternyata.


"Dia itu wanita sungguhan atau bukan sih"gumam Kaisar seketika ia mengingat kembali ingatan yang dilupakannya, ya nama wanita yang ia sukai selama ini sama dengan nama Permaisurinya.


"Ini aneh hanya dalam sekali melihatnya saja aku bisa mengingat semua hal yang terjadi walaupun kepalaku rasanya ingin pecah"


"Pantas saja wajahnya sangat marah! Aghhrr... aku sangat bodoh jadi ini yang bisa membuatku menyesal! Kalian semua memang tak setia padaku"teriak Kaisar ia membenturkan kepalanya dipohon bambu.


"An..anda ba..baik baik saja?"tanya Liu Yichen matanya menyipit saat melihat tingkah aneh Kaisar.


"Jendral Liu! Apa Permaisuri sudah kembali ke kediaman Perdana Mentri?"tanya Kaisar, ia berlari mendekati Liu Yichen dan memegang bahunya dengan erat.


"Jika kakakku sudah kembali seluruh Kekaisaran pasti sudah hebohkan? Jika tak ada hal seperti itu bearti dia belum kembali"kata Liu Yichen sudah sangat lama ia tak bertemu kakaknya, tak ada berita mengenainya bahkan Meng yang sudah menjadi mata matanya pun kehilangan jejak kakaknya.


*Kata kata Putra Mahkota Rong itu sangat mencurigakan sejak dua belas tahun terakhir kakak tak pernah mengirim surat lagi-batin Liu Yichen kakaknya bagai ditelan bumi ia tak bisa memukannya bahkan setelah mencarinya diseluruh dataran Tiong.


"Kau benar..."lirih Kaisar, ia tertunduk lemas.


*Apa aku berkhayal lagi? Atau yang tadi adalah ingatanku yang hilang? Sepertinya semua tentangnya sudah jelas sekarang-batin Kaisar, apa tadi ia terjatuh ketanah dan berkhayal melihat Liu Wen.


"Cari Permaisuri segera! Pakai saja prajurit Yin untuk mencarinya diseluruh dataran Tiong! Aku sudah terlalu lama mengabaikannya hampir dua belas tahun hanya karena ingatan bodoh ini"seru Kaisar, ia langsung pergi menuju kudanya. Sekarang ia resmi menjadi sosok Kaisar yang mengilaii Liu Wen lagi.


"Huh? Kudanya pingsan? Hewan buruan ini kenapa tak diikat"tanya Kaisar, ia mengedipkan matanya tak percaya, ada yang mencuri tali pengikat hewan buruannya.


"Silakan gunakan kuda saya"kata Liu Yichen tanpa basa basi Kaisar menaiki kuda Liu Yichen dan kembali ke istana.


********


Jalan Utama Ibukota


"Ibu kota Yuan atau yang sekarang kita sebut sebagai kota Beijing... jantung Kekaisaran Qin"kata Aiden, ia memperhatikan suasana ramai jalan Ibukota ini.


"Woww!! Lebih... lebih.. lebih keren dari pada properti syuting!"kata Jake matanya berbinar ia berjalan kesana kemari menyentuh apapun yang ada didekatnya.


"Aku masih tak percaya kita kembali ke Era Kekaisaran"gumam Anna, ia yang ikut terpana melihat pemandangan Ibukota Yuan yang bebas dari polusi dan jauh dari alat alat canggih ciptaan ibunya.


"Ohh! Apa dia mengilang?"gumam Anna, ia mencari sesuatu didalam tasnya saat baru masuk ibukota mereka menjadi pusat perhatian bukan karena tampan dan cantik bukan juga karena rambut mereka yang pendek tetapi kelima remaja ini mengunakan tas modren dibahunya.


"Ponselku masih ada..."kata Anna ia memeluk ponselnya ada beberapa novel dan materi yang maminya berikan didalam ponsel itu.


"Sepertinya bukan kakak saja"kata Ellson ia juga mengeluarkan ponsel berwarna biru laut dari tasnya.


"Aku masih bisa belajar ilmu kedokteran modren nih disisa bateraiku"kata Ellson sambil tersenyum untung saja sisa baterainya masih banyak.


"Ponsel?"kata Jake, ia berbalik dan segera mencari ponsel ditasnya.


"Adaa! Muachh!"Jake mencium ponselnya dan mulai berselfi ria.


"Hehehhe... mulai narsisnya"tawa Liu Wen, ia terkekeh geli saja saat melihat tingkah Jake.


"Mami! Semua barang yang ada didalam tas ikut semua, benar benar hebat"kata Keyzee bahkan mie instannya pun ada disana.


"Dulu mami juga seperti itu, hanya ponsel saja sih yang ikut"kata Liu Wen, ia bercerita sedikit tentang awal kedatangannya.


"Sebenarnya dulu. Mami seharusnya sudah mati lalu disaat saat terakhir mami tak terima dengan hal itu dan memarahi dewa, tiba tiba saja saat terbangun sudah didalam penjara bawah tanah, menempati tubuh seorang Putri dari Perdana Mentri Liu dengan sebuah tujuan yaitu balas dendam tetapi siapa sangka malah menjadi kisah romansa"kata Liu Wen ia tertawa dengan lepasnya tak bisa dipungkiri pertemuan pertamanya dengan Kaisar saat itu sangat tak menyenangkan.


"Hmm.... aku juga tahu sedikit tentang hal itu..."kata Aiden, ia mengingat apa yang dikatakan roh saat itu.


"Wahh! Pasti papi"kata Keyzee pecinta hal hal berbau romantis ini sangat menantikan cerita Ibu dan ayahnya sejak dulu.


"Ya begitulah, jika sudah begini mami bisa bercerita"kata Liu Wen wajahnya terlihat merah ia sekarang malu.


"Dulu dia dikejar seorang pembunuh dan terluka parah, mami membantunya. Itu pertemuan kami yang pertama, tak lama hanya sebentar lalu kami berpisah. Sekitar satu tahun kemudian kami bertemu lagi dan mami sudah ditetapkan menjadi calon istrinya"kata Liu Wen, ia tersenyum saat bercerita sangat jelas kalau dia sudah mencintai Kaisar sekarang apa lagi bukti cinta mereka sudah terlihat jelas.


"Woww.... mami memang pahlawanku"kata Keyzee dengan antusias.


"Menurutku sangat konyol, cinta pada pandangan pertama"kata Aiden pemikirannya dan Liu Wen ternyata sejalan.


"Ya... mami juga beranggapan begitu, makanya mami dulu membencinya setengah mati"kata Liu Wen kali ini raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Beri jalan!! Kereta Tuan Putri Qin akan lewat"teriak prajurit membuat Liu Wen dan si kembar kaget.


"Injak saja dia! Berani menghalangi jalanku"teriak Qin Meili mereka yang lain takut untuk menolong kakek itu.


"Lihat Putri membuat ulah lagi"bisik seorang pedagang.


"Ya, mau bagaimana lagi Kaisar sangat menyayanginya"


"Dosa apa yang sudah dilakukan Kaisar Qin sampai mendapatkan Putri seperti dia"


"Tapi Pu... putri..."kata prajurit itu, ini sangat bertentangan dengan aturan istana membunuh orang seenaknya.


"Apa kau mau membantahku! Apa kalian inginku hukum semua, cepat jalan! Injak saja dia"kata Qin Meili, ia masuk lagi ke dalam kereta kudanya.


"Maaf Putri, apa pantas bagimu melakukan hal ini?"tanya Aiden, ia membuka sedikit tirai kereta kuda itu.


"Bahkan kakek yang lemah ini ingin kau tindas? Astaga sekecil ini sudah bisa bertindak kejam"timpal Jake, ia memapah kakek itu.


"Yahh... rumor itu ternyata benar, Kaisar terlalu memanjakan putrinya"kata Ellson, ia membantu para orang yang terluka karena tertabrak kereta kuda.


"Siapa kalian! Berani..."kata Qin Meili saat keluar dari kereta kuda, ia terpana melihat Aiden, Jake dan Ellson.


"Ta..tampan"kata Qin Meili tanpa sadar.


"Tata krama yang kurang... sepertinya perlu sedikit pelajaran dariku"kata Liu Wen saat ia mendekat ke kereta kuda salah seorang prajurit yang mengenalnya langsung membungkuk dan memberi salam.


"Yang Mulia Permaisuri..."katanya sambil membungkuk membuat semua rakyat dan prajurit lain ikut memberi salam padanya.


"Salam Yang Mulia"kata para rakyat.


"Berdiri! Aku telah kembali dari kuil, seperti yang kudengar dari pedagang beberapa tahun lalu adalah fakta. Kekaisaran ini makin tak terkendali,"kata Liu Wen, matanya menatap lekat Qin Meili ia pun mendekat kearahnya.


"Tidak memberi salam?"tanya Liu Wen kepada Qin Meili.


"Mana mungkin! Siapa tahu kau hanya mengaku menjadi Permaisuri"kata Qin Meili, ia melipat tangannya dan membuang wajahnya.


"Bagaimana Selir Chu mengajarimu?Huh?"tanya Liu Wen, ia mendekatkan wajahnya kewajah Qin Meili dan tersenyum manis.


"Hei! Pe...permaisuri tirani sudah kembali!"


"Bukan tirani tetapi tegas! Ia tak pernah jahat kepada rakyatnya"


"Kita sering diberi tael emas dari kantong pribadinya"


"Bahkan rela menyepi sendiri kekuil tanpa kemewahan demi Kekaisaran ini"


"Permaisuri memang bijaksana"


Setidaknya itu yang ada dipikiran para rakyat.


"Ini karena kau sangat kurang ajar"kata Liu Wen ia menjewer telinga Qin Meili.


"Aiyaaaa..."ringis Qin Meili menepuk tangan Liu Wen agar melepaskannya.


"Ini untuk nyawa manusia yang tak pernah kau anggap"sambung Liu Wen, ia mencubit lengan kiri Qin Meili.


"Dan ini... kuambil karena dirimu tak mencerminkan sosok Putri kerajaan"Liu Wen mengambil semua perhiasan dan Giok, anggota kerajaan yang berada di pinggang Qin Meili membuatnya menangis sejadi jadinya.


"Kirim Qin Meili ke istana, ingat dia bukan Putri untuk sementara waktu kalian jangan takut padanya dan tak perlu ikuti perintahnya"Liu Wen memegang bahu prajurit itu dibalas anggukkan darinya.


"Yahh!! Walaupun begitu jangan berani menyakitinya, dia juga putriku"bisik Liu Wen dengan penuh penekanan, ia yakin disaat situasi yang menyudutkan Qin Meili seperti ini pasti banyak yang ingin balas dendam kepadanya.


"Jalan..."kata Liu Wen seketika kereta kuda itu berjalan mengikuti perintah Liu Wen, masih segar diingatan mereka bagaimana Permaisurinya ini memotong tangan dan kaki orang layaknya memotong kertas.


"Wahh, mami terlalu keren! Bahkan Angela Ye kalah! Piala oscar pasti akan jadi milik mami"kata Jake yang terkagum.


"Ini belum seberapa ingat lah kalian untuk selalu mengatur emosi dan menampilkan emosi dan kata kata yang pas disituasi manapun, hal pertama kalian harus dilakukan adalah tenang... agar bisa berbicara dengan lancar dan dengan mudahnya memakai emosi sesuka kita"bisik Liu Wen membuat mereka mengangguk.


"Benar kan Jake?"tanya Liu Wen kepada Jake.


"Hmm..mmm... sisanya serahkan padaku mami untuk mengajari mereka"kata Jake mengedipkan matanya.


*Kita sudah bertemu Qin Meili, bagaimana dengan Qin Jianwe? Apa orangnya sama miripnya dengan Qin Meili-batin Anna yang penasaran, dia dan Keyzee sengaja menjauh karena kakinya tak sanggup berdiri ditengah kerumunan yang sangat padat.