
"Dimana Permaisuri?"tanya Kaisar, ia masih sibuk dengan dokumen negaranya.
"Yang Mulia ini sudah larut anda sebaiknya tidur"kata Chen hari sudah sangat malam dan Kaisar tak henti hentinya bekerja.
"Aku tanya dimana Permaisuri? Dari sore tadi aku tak melihatnya"kata Kaisar, ia mencari Liu Wen sejak sore hari tetapi tak menemukannya dimana pun.
"Yang Mulia Permaisuri pergi keluar istana dengan Pangeran Keempat, mereka sudah meminta izin kepada anda melalui surat"kata Chen, ia menunjuk surat yang dibuat oleh Liu Wen.
*Hei aku ada urusan diluar dengan adik iparku, jangan mencariku seperti orang gila.
Liu Wen
"Wanita itu! Apa tidak bisa memakai bahasa yang halus dan sopan"gumam Kaisar ia tersenyum saat membacanya.
"Bagaimana Selir Chu?"tanya Kaisar ia masih menatap surat itu sambil tersenyum lebar.
Chen terdiam sebentar dan memgatakan apa yang ia ketahui. "Selir Agung beberapa kali mengirim orang untuk bertemu dengan Tuan Song"
"Song? Jendral Song?"tanya Kaisar, ia menyingitkan alisnya pandangan beralih ke Chen.
"Iya Yang Mulia. Kami belum tahu apa yang mereka rencanakan"jawab Chen, ia sulit mencari informasi mengenai mantan Jendral itu.
"Hahh! Kembalilah! Aku akan jalan jalan sebentar"kata Kaisar, ia memegang kepala sebentar dan berdiri pergi dari ruang belajarnya.
"Banyak yang terjadi dan aku tak mengetahui apa apa..."gumam Kaisar, ia duduk dibawah pohon prem matahari hampir terbenam sebentar lagi malam tiba.
"Apa ini karma karena kakek mencuri Kekaisaran ini dari Dinasti Xia"lanjutnya ia melihat bulan dan memikirkan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Apa sangat sulit menjadi Kaisar?Kudengar Kaisar Qin sangat bijak apa itu cuma rumor?"kata seorang pemuda yang berada diatas atap disamping Kaisar.
"Hmmm..."
"Semakin tinggi kedudukan seseorang ia akan semakin kesepian karena tak ada seorang pun yang bisa dipercayainya"kata Kaisar sambil menyinggung senyumnya.
"Itu hanya pemikiran kuno, kesepian atau tidak, percaya atau tidak, itu tergantung pada dirimu bagaimana menyikapinya"seru pemuda itu ia turun dari atas atap dan mendekati Kaisar.
"Ohh... aku baru tahu ada yang berpikir seperti itu, siapa kau?"tanya Kaisar ia meneggok kedepan tak merasa adanya bahaya karena lawan bicaranya ini membuatnya nyaman.
"Sering kali jawaban yang ingin kita cari selalu ada didepan mata, hanya kita saja yang tak memperhatikannya dengan jelas, itu yang sering diajarkan oleh mamiku"kata Aiden kini ia sudah berada didepan Kaisar.
"Wajahmu"kata Kaisar, pemuda yang sangat mirip dengannya saat remaja.
"Saya Qin Yizhan putra Permaisuri Liu Wen"kata Aiden, ia tak memberi salam apapun, ia datang ke istana malam ini hanya penasaran bagaimana rupa ayah kandung.
"Putra?"Kaisar terbelak, ia terkejut sangat terkejut mendengarnya bukankah Liu Wen mandul.
"Tidak mungkin..."
"Jangan membohongiku! Siapa kau?"tanya Kaisar ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Aiden.
"Aku juga tak mau mengakuimu sebagai ayah kandungku..."
"Apa anda tahu, kadang yang didengar dan dilihat belum tentu sebuah kebenaran"kata Aiden sambil tersenyum, ini sudah diprediksinya pasti ayahnya tak akan percaya dengan mudahnya.
"Ak..."belum selesai mengatakannya Aiden memotongnya.
"Kau Kaisar! Aku tahu! Kau mau bilang mamiku mandul aku juga tahu, Yang Mulia, bisakah mulai sekarang kau mencari tahu kebenaran secara pribadi tanpa melibatkan seseorang, biarkan mata dan telingamu sendiri yang mendengar dan melihat sebuah fakta dari pada mendengar dari orang lain, mereka bisa saja mengubahnya"kata Aiden dia berbalik dan menyeringai.
"Baiklah aku yakin papi ku tak sebodoh yang dikabarkan dan... akan kutunggu kehadiranmu"lanjut Aiden ia pergi dari istana melalui atap.
"Ekhmm! Baiklah aku juga akan mulai menyelidikinya sendiri! Kenapa hal ini bisa terjadi, ada seseorang yang tak suka dengan Wen dan menyuruh tabib Wu berbohong kepadaku bertahun tahun yang lalu! Baiklah pertama aku harus memperhatikan tabib Wu"gumam Kaisar ia segera menuju kamarnya dan meminjam baju salah satu kasim.
**********
Kediaman Putri
"Bagaimana keadaan Mei'er?"tanya Selir Chu kepada Tabib Wu.
"Baik baik saja Selir, anda jangan khawatir"kata Tabib Wu ia berbicara seaadanya sebenarnya Qin Meili masih dalam kondisi yang buruk.
"Tapi kemungkinan Putri perlu sedikit darah Tuan Song"kata Tabib Wu.
"Kenapa Darah Song Yuyue"gumam Kaisar, ia menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Baiklah aku akan memintanya"kata Selir Chu, ia terlihat lesu bertemu dengan Song Yuyue membuatnya merasa kesal.
"Ohh ya? Bagaimana dengan bukti itu?"tanya Selir Chu ia baru tahu kalau ada bukti yang bisa merugikannya.
"Surat itu berada di kediaman Mentri Fu tidak akan ada yang akan datang kesana lagi pula Pangeran Pertama akan mati dan semua tentangnya tak akan ada yang peduli"kata tabib Wu dengan acuh, ia jadi menyesal karena memberitahu hal itu kepada Selir Chu.
"Aku mau surat itu! Jika ada yang menemukannya bisa bahaya! Ini juga menyangkut keselamatan Meili"kata Selir Chu ia terlihat sangat marah.
"Surat apa yang membuatnya begitu ketakutan?! Besok aku akan pergi Kekaisaran Tang"gumam Kaisar, ia pergi dari sana dan kembali kekediamannya.
******
"Apa yang kalian bicarakan tadi?"tanya Liu Wen, ia menyipitkan matanya menatap tajam Pangeran Keempat.
"Tidak ada kakak"kata Pangeran Keempat sudah yang kesekian kalinya Liu Wen menanyakan hal yang sama kepadanya.
"Hmphh! Kalian bisa bisanya main rahasia rahasiaan dariku"gumam Liu Wen ia memalingkan wajahnya.
"Kakak ipar, aku sudah menyelidikinya! Surat yang kau maksud itu ada di kediaman Mentri Fu! Itu sepertinya surat antara Fu Taite dan tabib Wu"kata Pangeran Ketujuh yang tiba tiba saja datang saat terakhir kali mendengar perkataan Qin Yuanqu terakhir kali, ia langsung menyuruh Pangeran Ketujuh menyelidikinya.
"Oke aku akan kesana besok! Tidak perlu ikut"kata Liu Wen dengan singkat.
"Memangnya surat apa itu?"tanya Pangeran Keempat penasaran.
"Surat yang menunjukan suatu kebenaran! Aku akan beritahu kalian jika sudah mengetahui apa isi suratnya"kata Liu Wen, ia tak mau lagi menjawab pertanyaan dari adik iparnya.
"Kita akan tahu semuanya, aku mohon ini adalah kabar baik jangan lagi, sesuatu yang menyakitkan"gumam Liu Wen jika kabar buruk yang diterima nanti entah apa yang akan dia lakukan.
*Aku dan Qin Xuan sama... kami sama sama lemah, hanya saja aku selalu menyembunyikannya dan dia, dia selalu membaginya dengan orang terdekat, kalian.... jangan memujiku karena aku selalu tegas dan tak pernah menangis karena semua ini. Sebenarnya didalam aku sangat menderita-batin Liu Wen jauh dari suami, membesarkan anaknya sendiri, berbagi suami semuanya sangat menyakitkan untuknya bersikap tegar adalah satu satunya cara agar dirinya tak direndahkan dan dipandang remeh oleh orang lain.
"Semuanya akan berakhir sebentar lagi, ya kami juga akan pergi dari sini, maafkan mami, kalian tak akan pernah bertemu dengannya"gumam Liu Wen, ia masuk kedalam kamarnya dan meringkuk didepan pintu kamarnya.
"Wen... "lirih Kaisar ia melihat istrinya dan meringkuk didepan pintu dan sepertinya tertidur.
"Kau tak memberitahuku tentang anakku. Apa kemarin saat kau suka sekali makan itu karena kau hamil? Tak sia sia aku mengikutimu, setidaknya aku selalu berada disisimu saat kau hamil"kata Kaisar ia mengendong Liu Wen keranjang dan membaringkannya.
"Dia menangis"gumam Kaisar tak biasanya ia melihat air mata Liu Wen yang membasahi pipinya.
"Apa kau sangat menderita bersamaku Wen? Apa karena diriku yang terlalu lemah sampai membuatmu harus menitikan air mata begini?"ia membelai lembut wajah istrinya.
"Dikehidupan selanjutnya, aku ingin kita berjodoh lagi dan tak dihadapkan dengan situasi dimana kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak"kata Kaisar, ia tidur disamping Liu Wen yang berada didekapannya.
Kaisar tak tahu bahwa doanya menjadi kenyataan.