
"Mike Su!"teriak Liu Wen membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Ya?"kata Presdir Mike, ia berjalan dengan percaya dirinya kearah Liu Wen dan memberikan bunga dan coklat ke tangan Liu Wen.
"Hah?"Liu Wen tak mengerti apa yang Presdir Mike lakukan.
"Huh?"Presdir Mike mengedipkan matanya, kenapa reaksi Liu Wen tak seperti yang ia diharapkan.
"Ikut aku"kata Liu Wen, ia menarik tangan Presdir Mike masuk kedalam toilet wanita.
"Apa kau sudah tak waras"kata Liu Wen, ia berbiacara dengan sedikit penekanan.
*Jika Fei bilang kau tak waras katakan saja ya! Itu karena kau mencintainya-kata kata Lewis terngiang di kepala Presdir Mike.
"Ya! Itu karena aku mencintaimu"kata Presdir Mike dengan serius.
"Astaga"Liu Wen memalingkan wajahnya, ia hampir frustasi menghadapi Presdir Mike tahu dari mana dia hal menggelikan itu.
"Baru pertama kali aku bertemu dengan pria tak tahu malu sepertimu"gumam Liu Wen, apa Presdir Mike tak bisa baca situasinya, disaat ia bekerja dan didepan kantor. Memalukan sekali gerutu Liu Wen dalam hati.
"Ada apa? Kau tak menyukainya?"tanya Presdir Mike ia memiringkan kepalanya untuk menatap mata Liu Wen.
"Sangat! Kau lebih gila dari para mantanku"kata ia memijit pelipisnya.
"Para mantan? Berapa mantan yang kau punya?"tanya Presdir Mike, ia mengerutkan dahinya, tak suka jika Liu Wen membicarakan pria lain dihadapannya.
"Apa kau sangat ingin tahu?"tanya Liu Wen, ia memajukan wajahnya.
"Mhmm"angguk Presdir Mike.
"Dasar tukang ikut campur"bisik Liu Wen, ia keluar dari toilet.
"Bereskan semuanya, ini ku kembalikan"kata Liu Wen, ia melempar coklat dan bunga yang baru saja diberi Presdir Mike, dengan sigap Presdir Mike menangkapnya.
"Ingat aku takkan berhenti berusaha"kata Presdir Mike, ia menarik tangan Liu Wen agar tak pergi lebih jauh lagi.
"Ingat juga aku tak akan pernah membalasnya"kata Liu Wen sambil memiringkan kepalanya.
"Apa bisa kau memberiku kesempatan?"tanya Presdir Mike, ia meremas buket bunga itu dengan kuat.
"Aku tahu mungkin aku tak akan bisa dibandingkan dengan suamimu tetapi aku ingin bersaing dengannya! Aku tahu kau sudah menikah tetapi statusmu sekarang sangat tidak jelas! Salahku juga karena terlalu lama datang kemari? Tetapi setidaknya izinkan aku mencoba"gumam Presdir Mike, ia menjatuhkan kepalanya di bahu Liu Wen
*Apa dia sebegitunya putus asa? Kenapa dia berusaha sekeras ini? Apa karena tali merah yang menyatukan kami? -batin Liu Wen, ia merasa kasian melihat Presdir Mike.
*Dilihat dari usahanya sejauh ini! Dia sangat tulus! Hah! Apa takdir itu tak dapat diputus bahkan ketika jalan kehidupan ini sudah kukacaukan-batin Liu Wen, ia mengelus pucuk kepala Presdir Mike, ini semua salahnya sehingga terjadi kekacauan di dunia modren.
"Baiklah! Ayo kencan akhir pekan ini"kata Liu Wen, ia mengacak rambut Presdir Mike.
"Apa kau serius?"tanya Presdir Mike, ia mengangkat cepat kepalanya mendengar pernyataan Liu Wen.
"Mhmm... kesempatan pertama dan terakhir"angguk Liu Wen, ia menepuk pipi Presdir Mike.
"Baiklah Tuan Mike.... bereskan kekacauan dibawah ya. Aku menantikan akhir pekan nanti"kata Liu Wen dengan lembut, ia melepas tangan Presdir Mike yang sendari tadi mencengkam tangannya dan pergi menuju ruangannya.
"Mhmn"gumam Presdir Mike, ia tersenyum lebar dan menelfon seseorang.
"Datang ke cafe Fusa lima belas menit lagi"kata Presdir Mike ia mematikan ponselnya dan menuju kesana.
*********
"Aiyyaaa!! Wen!! Untuk sekali ini saja, jangan lihat dia sebagai Qin Xuan! Dia Mike Su"gumam Liu Wen, ia menepuk pipinya dengan keras.
"Whowowo..... ini dia pasangan bucin kita..."kata Yuri sambil bertepuk tangan, ia dan Linting sedang asik makan di dalam ruangan Liu Wen.
"Sejak kapan ruangan ini menjadi milik umum"sindir Liu Wen, ka menatap tajam kearah Linting dan Yuri.
"Ekhemm"Yuri memberi isyarat untuk Linting agar berhenti makan karena sang pemilik sudah memberi kode keras agar mereka pergi.
"Yuri... bukannya kau bekeja hari ini? Apa kakakku sangat bermurah hati kepadamu"tanya Liu Wen, ia duduk dikursi kebesarannya dan menyindir mantan sekaligus dokter kandungan yang pernah membantunya bersalin itu.
"Kak Zhiwan sangat baik! Sejak si kembar lahir aku sudah naik jabatan"kata Yuri dengan senang.
"Dasar kakak..."gumam Liu Wen, ia mengeleng gelengkan kepalanya. Kakaknya itu seorang dokter dan mendirikan rumah sakit sendiri, awalnya ibunya sangat terkejut dan sempat menolak tetapi berkat rayuan Liu Wen, mereka berhasil membuat ibunya setuju akan keputusan kakaknya.
"Kau Linting? Siapa yang mengawasi LAB? Kembali sana! Jangan bergosip disini!"kata Liu Wen dengan penuh penekanan. Linting adalah teman yang paling menyebalkan, jangan sampai kalian memberitahu suatu rahasia padanya karena hanya dalam hitungan detik saja rahasiamu pasti akan terbongkar ke seluruh orang.
"Lulu kan masih ada! Dia kepala pengawas"kata Linting dengan mulut penuh makanan.
"Aduhh pake bahasa halus tidak bisa!! nihh biarku perjelas!! Pergilah dari sini!! Kalian.... aku mau kerja"teriak Liu Wen, ia menendang mereka berdua keluar dari ruangannya.
"Mie ku... hiks"lirih Linting, ia melihat dari kaca sisa mie yang ia makan.
"Ayo pergi suasana hatinya sedang tak baik"kata Yuri, ia menarik kerah baju Linting dan menyeretnya keluar dari
Grup Liu.
"Suami Fei, lumayan kan?"tanya Linting kepada Yuri sepertinya ia masih mengharapkan Liu Wen.
"Masih belum menyerah?"tanya Linting dengan serius.
"Hah! Sudah lama, sejak aku tak lulus tes jurusan Fisika, aku sudah menyerah"kata Yuri, dari sekian banyak teman SMA Liu Wen, Yuri adalah salah satunya pengaggum Liu Wen. Saat itu pun para lelaki di SMA yang sama dengan Liu Wen mengikutinya mengambil jurusan yang sama dengannya yaitu Fisika, sehingga kuota untuk penerimaan siswa jurusan Fisika hampir seluruhnya di isi oleh teman SMA nya.
"Bagaimana kalau kita kencan"kata Linting, ia hanya menggoda Yuri yang terlihat murung.
"Ya akan kupikirkan"kata Yuri sambil tersenyum dan mengalungkan tangannya dileher Linting.
********
Wangi obat obatan sangat kental di ruangan ini, nampak pria terbaring lemah di ranjang.
"Kak Xi'er, apa kakak Xuan masih belum sadar?"tanya Qin Guan Yi-Pangeran Ketujuh, ia memegang kulit tangan Kaisar yang sedang berada diranjang tubuhnya terlihat sangat kurus mungkin jika dibiarkan lebih lama Kaisar akan meninggal karena kurang gizi bukan karena luka tusukan itu lagi.
"Kau lihat saja sendiri, dia masih menutupkan matanya kan"kata Pangeran Keempat-Qin Junxi dengan dingin.
"Sudah enam tahun sejak saat itu, apa kakak akan terbaring seperti ini? Seperti orang mati? Badannya juga mengurus"tanya Pangeran Ketujuh bertubi tubi, raut wajahnya berubah menjadi sedih saat melihat tangan kakaknya itu yang tersisa tulang dan kulit saja.
"Membuatnya bernafas saja sudah sebuah keajaiban! Aku bukan dewa, jadi kita hanya bisa menunggu"lirih Pangeran Keempat, ia menumbuk rempah rempah obat dan hendak membuka mulut Kaisar untuk meminumkannya.
"Bagaimana desakan para pejabat? Apa bisa kau atasi?"tanya Pangeran Keempat kepada adiknya itu.
"Tentu saja! Aku bisa diandalkan! Mereka memaksaku menikah untuk menjadi Kaisar selanjutnya, walaupun sudah diatasi hal itu masih membuatku pusing"gerutu Pangeran Ketujuh, sejak Kaisar tak sadar diri. Di bulan selanjutnya para pejabat sudah sepakat mengusulkan Qin Guan Yi untuk menjadi Kaisar atau Putra Qin Guan Yi yang menjadi Kaisar, ini dikarenakan Pangeran Pertama Qin Jianwe memiliki tubuh yang sangat lemah.
"Selir Chu... tibaaa"teriak kasim membuat Pangeran Ketujuh mengerutkan dahinya, Selir satu satunya Kaisar ini mulai membantah perintah untuk tak memasuki Kediaman Naga.
"Chu Nian memberi salam kepada Pangeran Xi dan Pangeran Yi "kata Selir Chu sambil membungkuk.
"Sejak kapan kita sedekat itu?! Lain kali jangan panggil dengan nama itu"kata Pangeran Ketujuh dengan ketusm
"Ba..baik Pangeran Ketujuh"kata Selir Chu, ia berkeringat karena harus menghadapi Pangeran iblis ini.
"Mei"er ayo beri salam kepada paman"kata Selir Chu, ia tersenyum ramah kepada putrinya yang baru berumur tiga tahun, beberapa tahun yang lalu Selir Chu hamil, ia mengatakan kalau saat Kaisar dibawah ke Kekaisaran Qin, mereka melakukan hubungan intim dan hal itu juga didengar oleh para pelayan dan kurir sehingga ibu suri percaya.
"We'err juga beri salam kepada Paman ketujuh"kata Selir Chu sambil tersenyum dari belakang ia mencubit punggung Qin Jianwe membuat Qin Jianwe meringis kesakitan.
"Sa...salam paman ketujuh, paman keempat"kata Qin Jianwe sambil membungkukan badannya
tahun ini, ia berusia 6 tahun itu karena ia lahir secara prematur.
******
Pada saat Selir Tang sekarat dan dihadapkan untuk membuat pilihan antara anak dan ibu, dengan cepat Ibu suri mengatakan bahwa anaknya yang harus diselamatkan.
"Selamatkan Pangeran"kata Ibu suri dengan dingin, ia tak peduli hidup mati Selir Tang yang ia pedulikan hanya cucunya.
"I...Ibu suri..."lirih Selir Tang, ia sudah sangat sulit bernafas, para tabib pun langsung membedah perut Selir Tang dan mengeluarkan bayinya.
"Maaf Sui'er, kita perlu penerus! Percayalah padaku! Anakmu pasti akan menjadi Kaisar"kata Ibu suri memegang tangan Selir Tang saat para tabib membelah perut Selir Tang, ia meninggal saat itu juga karena kehilangan banyak darah dan para tabib tak mengerti bagaimana menjahit luka saat itu.
"Pangeran sangat lemah.... dia lahir di waktu yang tak tepat"kata tabib Wu, ia mengeluarkan bayi berjenis laki laki itu dari rahim Selir Tang.
"Ahh... cucuku yang malang"
"Jaga dia! Jika cucuku mati! Kau yang bertanggung jawab"kata Ibu suri, ia menatap tajam kearah tabib Wu.
"Ib...ibu suri... biar saya saja yang menjaga Pangeran! Saya adalah Selir yang tersisa! Saya akan menyayangi Pangeran seperti putra saya sendiri"lirih Selir Chu, saat melihat Selir Tang yang begitu kesakitan membuatnya sangat puas, yang ia sesali kenapa anak haram Selir Tang ini masih hidup.
*Akan kubuat dia sengsara seumur hidupnya dan lebih memilih mati menyusul ibunya-batin Selir Chu, ia menggendong dengan hati hati bayi itu dan mencium wajahnya.
"Nian'er... kau sangat baik! Tenang saja kau akan jadi ibu suri jika menjaga Pangeran dengan baik"kata Ibu suri, ia memegang tangan Chu Nian yang juga penuh dengan luka.
*****
"Berdirilah tubuhmu lemah"kata Pangeran Keempat, ia tak mau keponakannya itu pingsan disini.
"Kemari biarku periksa"kata Pangeran Keempat saat hendak pergi kepangkuan pamannya, Selir Chu yang dianggapnya ibu itu menarik lengannya.
"Tidak perlu Pangeran Keempat, tabib Wu secara khusus mengobatinnya jangan repotkan dirimu, kau pasti lelah sudah menjaga Yang Mulia"kata Selir Chu, wajahnya sangat menakutkan saat menatap Qin Jianwe.
"Jika kau masih ingin bertemu paman Fu, jangan berani melangkah kedepan"bisik Selir Chu membuat Qin Jianwe takut.
"Ibunda... kakak takut denganmuu"kata Qin Meili menunjuk Qin Jianwe.
"Mei'err kakakmu hanya kedinginan"kata Selir Chu dengan lembut.
"Apa benar tidak apa?"tanya Pangeran Keempat wajah Qin Jianwe sangat pucat saat itu.
"I...iya paman saya baik baik saja"kata Qin Jianwe sambil menunduk.
"Hahhh, pergilah sekarang! Yang Mulia Kaisar belum sadarkan diri"kata Pangeran Keempat.
*Ayahanda... Bangunlah!! Aku tak mau tinggal bersama Ibunda Selir Chu-batin Qin Jianwe, ia sangat pusing karena berdiri terlalu lama saat kemari ia belum makan apapun.