I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
75. Dijebak



"Salam Yang Mulia"kata pria itu sambil menundukan kepalanya.


"Tak perlu seformal itu, Tian..."kata Kaisar tak disangka adik seperguruannya itu datang Kekaisarannya.


"Ya kau tahu... bagaimana kondisi tubuhmu kakak Xuan? Aku merasa bersalah enam tahun terakhir ini karena tak bisa melindungimu dan Putri dengan baik"kata Rong Tian tak ada perubahan yang mencolok diwajahnya hanya kharismanya saja yang bertambah menurut Kaisar.


"Aku baik baik saja...."


"Siapa Putri yang kau maksud?"tanya Kaisar yang binggung apa ada anak bangsawan yang ikut jadi korban saat penyerangannya waktu itu.


"Haaa... maaf maksudku kakak ipar"sambung Rong Tian, ia berkeringat dingin karena salah menyebut gelar Liu Wen.


"Permaisuri yang kau maksud? Sudahlah itu tak masalah"kata Kaisar sambil mengibas tangannya.


"Hah?!"Rong Tian menatap Kaisar dengan serius, apa benar ini Kaisar yang mencintai Permaisurinya sampai sampai menyamar menjadi pengawal dan diperintah sesukanya.


"Ada apa?"tanya Kaisar saat melihat reaksi Rong Tian.


"Apa kau hilang ingatan?"bukannya menjawab Rong Tian bertanya balik.


"Ya! Kata Xi'er ini hanya sementara"kata Kaisar, ia mengatakannya karena mempercayai adik seperguruannya ini.


"Jadi kau tak ingat dengan Permaisuri?"tanya Rong Tian sekali lagi.


"Ya begitulah, kenapa kalian selalu menanyakan dirinya padaku? Apa sebegitu pentingnya dia untukku?"tanya Kaisar, ia mengerutkan keningnya setiap mendengar nama Permaisuri membuatnya sakit kepala.


"Ohh tentu saja tidak!"


"Dia tidak ada artinya untukmu... jadi... apa... boleh... dia menjadi milikku"kata Rong Tian sambil manis, ia ingin memanfaatkan keadaan sebisa mungkin.


"Tidak!"secara refleks mulutnya mengatakan hal itu tangannya pun mengepal kuat dari reaksi tubuhnya, ia menunjukan sedang marah.


"Bukannya kau tak suka pada... Permaisuri? "tanya Rong Tian, ia tersentak saat Kaisar membentaknya reaksinya juga terlihat seperti orang yang sedang marah.


*Apa dia hanya mengujiku? Apakah aku masih suka dengan Putri atau tidak!! Aiyoo ketahuan-batin Rong Tian, tidak dipungkiri ia sangat menyukai Liu Wen dengan keberaniannya menjadikan Putra Mahkota Rong sebagai Gigoloo.


"Aku memang tak suka padanya"kata Kaisar walau wajah marahnya itu sangat terlihat jelas.


"Ini sebenarnya suka atau tidak"gumam Rong Tian yang binggung.


********


Taman Istana Naga


"Syukurlah, ayahanda menyukaiku"gumam Qin Jianwe, ia sangat senang karena Kaisar tak mengabaikannya.


"Hei! Apa kau melihat sesuatu yang aneh belakangan ini?"kata seorang pelayan yang beberapa meter didepan Qin Jianwe.


"Hmm.... aku melihat seorang pria yang diam diam pergi kebelakang istana dingin"kata pelayan satunya.


"Hah!? Paman Fu!"Qin Jianwe hendak berlari dan memperingatkan Fu Yuanqu tetapi ia menghentikan langkahnya karena kakinya sangat lemas.


"Apa dia buronan pembunuh Kaisar, para Selir Agung dan Selir Kehormatan?"


"Heh?! Bisa jadi apa dia datang kemari untuk membunuh Pangeran? Atau mencoba membunuh Kaisar lagi?"


"Entahlah, pria yang sungguh tak tahu malu! Hanya karena ditolak Selir Kehormatan, dia malah ingin membunuhnya, suami dan bahkan anak yang tak berdosa yang ada didalam kandungan! Beruntung Pangeran masih selamat"


"Padahal dulunya Mentri Kekaisaran Tang"


"Ya siapa namanya.... Mentri... Fu.. Fu..Fu Yuanqu! Ya itu namanya!"kata Pelayan itu,membuat Qin Jianwe tersentak.


"Ti..tidak mungkin paman"kata Qin Jianwe ia menutup mulutnya tak percaya akan hal itu.


"Aku bertaruh Selir Kehormatan akan sangat membenci pria itu jika dia masih hidup! Sudah hidup dengan bahagia dengan Kaisar malah diganggu orang aneh"


"Ti..tidak mungkinn..."gumam Qin Jianwe, ia mengelengkan kepalanya tak percaya dengan hal ini dan berlari ke kediamannya hatinya sangat terguncang mendengar hal ini.


"Terima kasih Selir Agung"kata mereka berdua, mereka pun langsung pergi meninggalkan Selir Chu.


"Saatnya menjadi Ibu yang baik"kata Selir Chu, ia tersenyum miring dan mengganti raut wajahnya menjadi raut wajah khawatir.


"We'err"panggil Selir Chu, ia melihat Qin Jianwe yang meringkuk dibawah lantai kamarnya.


"I...ibunda? Sa...salam.."kata Qin Jianwe, ia langsung berdiri dan menghapus cepat air matanya.


"Ada apa kenapa kamu menangis?"tanya Selir Chu dengan lembut, ia membelai pelan rambut Qin Jianwe.


"Ahh... ti..tidak apa"kata Qin Jianwe, ia tak bisa mengeluh kepada Selir Chu karena takut.


"Tenang saja Ibunda ada disini"kata Selir Chu memeluk erat Qin Jianwe.


"I...ibunda tahu siapa paman Fu sebenarnya?"tanya Qin Jianwe dengan ragu.


"Hmm... i.. itulah sebabnya aku melarangmu bertemu dengannya. Aku selalu memperhatikanmu dari belakang takut dia menyakitimu..."gumam Selir Chu ia memeriksa tubuh Qin Jianwe walaupun banyak luka yang disebabkan olehnya, ia sama sekali tak merasa kasihan padanya.


"Paman selama ini sangat baik kepadaku! Sangat tidak mungkin dia yang membunuh Ibu kandungku dan Ayahanda"isak Qin Jianwe, ia memang sangat rapuh saat ia sedih hal itu bisa mempengaruhi kesehatannya.


"Apa kau pernah dengar? Musuhmu adalah orang terdekatmu? Dia mungkin memanfaatkanmu dan menunggu saat saat yang tepat jika kau sudah tak berguna dia akan membunuhmu..."gumam Selir Chu membuat Qin Jianwe terdiam.


"Aku harus bagaimana Ibunda"kata Qin Jianwe nafasnya memburu karena sesak nafas.


"Dia adalah pembunuh Ibumu! Jika kau mau berbakti kepada Selir Tang, kau harus membantu Kekaisaran untuk menangkapnya"kata Selir Chu sambil tersenyum melihat Qin Jianwe yang begitu kesakitan, dia akan mati walaupun tak disiksa lagi karena batinnya saat ini sedang terluka.


*Jika Fu Yuanqu mati, rahasiaku akan terjaga dan tak ada lagi pelindung untuk Jianwe anak sialan ini-batin Selir Chu, ia sangat benci menyentuh Qin Jianwe tetapi ini dilakukan semata mata untuk mencari perhatian dan memecah hubungan mereka.


"Baiklah...! Aku tak akan memaafkan orang yang sudah membunuh ibuku"gumam Qin Jianwe wajahnya terlihat sangat marah tak ada lagi orang yang memberinya makan saat lapar, tak ada lagi orang yang menemaninya saat sedih, ia tahu satu hal, kalau semua hal itu hanya sandiwara sang paman.


******


Esok Taman belakang Istana Dingin


"We'err apa kau sudah lama menunggu?"tanya Fu Yuanqu, ia keluar dari bawah tanah dan melihat putranya itu menunggu dengan tatapan kosong.


"Hmm...."kata Qin Jianwe tanpa melihat kearah Fu Yuanqu tak ada pelukan seperti biasa.


"Ada apa We'er?"tanya Fu Yuanqu dengan lembut ia hendak membelai puncuk kepala putranya itu.


"Jangan sentuh aku"kata Qin Jianwe, ia menepis tangan Fu Yuanqu yang ingin menyentuh kepalanya.


"Tangkap dia"kata para pengawal yang tiba tiba keluar dari pohon.


"Akhirnya setelah enam tahun kau muncul juga"kata Pangeran Ketujuh, dia melompat dari pohon menatap remeh Fu Yuanqu walaupun tahu ia adalah kakaknya tetapi Pangeran Ketujuh masih menolak fakta itu.


"Apa maksudnya ini Jianwe!"teriak Fu Yuanqu, ia langsung ditangkap oleh pengawal istana.


"Apa maksudnya?! Kau yang membunuh Ibunda dan Ayahanda saat aku dalam kandungan kau juga ingin membunuhku!Aku memiliki tubuh lemah kerenamu! Dan kau masih ingin bertemu denganku?! Ingin memanfaatkanku sebagai alat untuk menyerang Ayahandaku sendiri!"teriak Qin Jianwe, kakinya gemetar begitu pula dengan seluruh badannya.


"Jianwe..."gumam Fu yuanqu tidak percaya dengan apq yang didengarnya, apa ada yang sengaja memberitahukan hal ini kepada putranya agar membencinya dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.


"Aku tak pernah membunuh Ibundamu"


"Jangan berbohong lagi padaku!"teriak Qin Jianwe, ia merasa terancam saat Fu Yuanqu mendekatinya.


"Kenapa kau ingin membunuhku? Apa karena Selir Tang?"tanya Kaisar, ia baru saja tiba disana.


"Kenapa kau bilang? Hah?! Tanyakan kepada ibumu yang sudah membunuh ibuku!"teriak Fu Yuanqu, sepertinya sudah saatnya rahasia ini terbongkar walaupun tahta tak menjadi miliknya tetapi pasti tahta itu jatuh ditangan putranya.


"Apa maksudmu membawa nama Ibu suri"tanya Kaisar, ia mengerutkan dahinya.


"Hah?! Tentu kau tak tahu, ibumu itu memang rubah tua yang hebat! Quefeng ibuku hanya seorang perempuan yang mencintai Kaisar Qin!"kata Fu Yuanqu, ia merasa sangat marah jika mengingat hal tragis yang dialami ibunya.