
"Bukankah kakak anak laki laki ayahanda?"tanya Qin Meili, ia akan segera berumur 4 tahun, istana mulai sibuk merencanakan ulang tahun Putri satu satunya di Kekaisaran ini.
"Memangnya kenapa? Kamu juga bisa memimpin Kekaisaran ini dengan menjadi Maharani! Sudahlah ayo kita lihat hanfu untuk pesta ulang tahunmu"kata Selir Chu menarik tangan anaknya untuk pergi dari sana.
"Apa sudah kenyang?"tanya Fu Yuanqu, ia mengelus pelan kepala putranya.
"Ya, sudah kenyang"kata Qin Jianwe, ia mengusap mulutnya lalu tersenyum manis.
"Kenapa aku tak boleh memberitahukan keberadaan paman?"tanya Qin Jianwe, ia sudah lama ingin mengetahui hal ini.
"Hmm.... jika semua orang tahu ini takkan menjadi sebuah rahasia"Fu Yuanqu langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Paman harus pergi, jaga dirimu baik baik"kata Fu Yuanqu, ia mencium kening putranya itu.
"Iyaa... hati hati paman"seru Qin Jianwe sambil melambaikan tangannya saat Fu Yuanqu benar benar menhilang dari pandangannya, ia kembali murung.
"Sendirian lagi"gumam Qin Jianwe, ia melangkah lamban menuju Kediaman Selir-Pavilun Teratai kediaman Selir Tang saat ia masih hidup untuk mengenang ibunya yang tak pernah ditemuinya itu.
"Baiklah! Roti ini akan kusimpan untuk malam nanti"kata Qin Jianwe, ia menaruh rotinya dikantung celana.
*********
"Kenapa Selir Chu selalu berkata kalau Jianwe baik baik saja"gumam Pangeran Ketujuh, padahal matanya melihat kalau kondisi tubuh Qin Jianwe sangat mengkhawatirkan.
"Sepertinya ada yang tak beres! Saat melihat wajahnya yang pucat itu aku merasa ia sedang sakit"seru Pangeran keempat, dia tak pernah diizinkan untuk memeriksanya, itu yang membuatnya merasa curiga ada sesuatu.
"Badannya kan memang lemah kak?"kata Pangeran Ketujuh, ia memiringkan kepalanya apakah tidak wajar melihat wajah pucat Qin Jianwe.
"Dia setiap hari selalu terlihat begitu, jika wajah Qin Jianwe terlihat segar itu baru aneh"sambung Pangeran Ketujuh, membuat Pangeran Keempat memukul kepalanya.
"Bagaimana pun dia keponakan kita jangan terlalu menakutinya Yi..."gumam Pangeran Keempat.
"Cihhh! Dasar dia saja yang penakut"balas Pangeran Ketujuh, bagaimana mungkin ia ditakuti, wajahnya kan sangat tampan.
"A...air..."ucap lemah Kaisar membuat keduanya terkejut.
"Kakak Xuan!!"lirih Pangeran Keempat, ia mengambil cangkir keramik yang berisi air dan meminumkannya kepada Kaisar.
"Ini sebuah berkat! Baru tadi aku mengeluh ia tak bangun bangun dan sekarang akhirnya dia bangun"kata Pangeran Ketujuh dengan semangat.
"Ya bersyukurlah, jika dia tak bangun aku ingin meracuninya, lelah sekali menjaganya"kata Pangeran Keempat, kantung matanya sangat tebal karena jarang tidur.
"Kalau aku, aku ingin membunuhnya menggunakan pedangku! Sudah lama tak dilumuri darah seseorang"kata Pangeran Ketujuh sambil tertawa seperti penyihir membuat Kaisar tersentak mendengar perkataan kedua adiknya.
"Hei! Hei... kalian berencana ingin membunuhku ya?"kata Kaisar, badannya sangat lemas mungkin karena tak makan apapun selama hampir enam tahun kecuali obat.
"Sudah berapa lama aku tertidur?"tanya Kaisar untuk membuka mata pun ia tak memiliki tenaga.
"Enam tahun"kata Pangeran Keempat, ia menyodorkan obat untuk Kaisar.
"Sudah selama itu kau memberiku obat ini.... jika aku sadar mungkin takkan pernah kuminum"Kaisar tertawa pelan, ia sangat tak suka minum obat karena menurutnya jika minum obat. Ia akan mati karena rasa pahit obat itu.
"Kali ini karena apa?"tanya Kaisar, ia dulu sangat suka menjadi incaran para Selir atau orang yang membencinya, itu sebabnya ia menanyakan hal ini mungkin ada musuh baru lagi pikirnya.
"Kau lupa kak?"tanya Pangeran Ketujuh, padahal tak terlalu lama kejadian itu. Hanya enam tahun kok.
"Sudah enam tahun aku tertidur, bagaimana aku bisa mengingatnya"kata Kaisar, ia mendengar ocehan kedua adiknya yang mengatakan ia sudah tidur selama enam tahun.
"Hmm"Pangeran Keempat mengerutkan keningnya, semoga yang ia pikirkan ini tak menjadi kenyataan.
"Apa statusmu sekarang"tanya Pangeran Keempat memecah keheningan.
"Apa yang kau tanyakan ini... gelarku masih belum digeserkan? Tentu saja! Putra Mahkota..."kata Kaisar, ia benar benar membuka matanya dan menoleh kearah adiknya.
"Aku sudah berumur 22 tahun... lihat dengan benar!"kata Pangeran Keempat ia memaksa Kaisar membuka matanya lebih besar.
"Kau tampak tua dengan jenggot halus itu, hahaha... ohh! Kalian cepat pergi dari sini! Jika Ibunda tahu kalian akan dimarahi"kata Kaisar, ia hendak mendorong adik adiknya keluar dari kamar tetapi tubuhnya tak bisa digerakkan.
"Jangan khawatir! Kau sekarang seorang Kaisar"seru Pangeran Ketujuh sambil tersenyum apa lagi mereka memegang rahasia Ibu suri jadi ia tak bisa macam macam lagi.
"A...apa? Kaisar? Hah? Jangan membual.... aku Putra Ma.."saat Kaisar Qin melihat ruangan yang ia tempati dan terkejut, bukankah ini kamar ayahnya.
"He...heii! Ini kamar ayah... kalian angkat aku cepat kenapa kalian bawa aku kesini"kata Kaisar ia sangat panik sekarang.
"Kau Kaisarnya, ruangan ini milikmu"kata Pangeran Ketujuh, ia membawa lukisan kakaknya yang memakai jubah naga serta mahkota Kaisar, ia juga membawa dokumen resmi yang kakaknya tanda tangani dan surat sumpahnya.
"Jadi aku seorang Kaisar? Berapa lama aku menjadi Kaisar?"tanya Kaisar, ia sedikit binggung karena lupa ingatan yang dideritanya.
"Tujuh tahun yang lalu kau diserang di istana Putra Mahkota Rong demi menyelamatkan Permaisuri"kata Pangeran Keempat membuatnya membuka mulut lebar.
"Pemaisuri? Aku sudah menikah?"tanya Kaisar, tidak mungkin ini nyatakan, dia sangat benci wanita karena mereka selalu menempel padanya.
"Iya dan Permaisurimu tak tahu ada dimana sekarang! Ohh atau harus kubilang mantan Permaisurimu ya"kata Pangeran Ketujuh, ia berlagak seperti orang yang sedang berpikir.
"Apa lagi maksudnya itu? "tanya Kaisar mantan, memangnya ada apa. Tidak mungkin mereka bercerai kan walaupun perceraian hal yang wajar tetapi bagi anggota kerajaan hal itu tak pernah terjadi kecuali Permaisuri itu mati.
"Ayah mertuamu menceraikan kalian berdua"kata Pangeran Ketujuh dengan nada mengejek.
"Apa? ak..aku benar benar diceraikan?! Hebat sekali"gumam Kaisar walaupun itu penghinaan bagi Kaisar ia tak peduli.
"Baguslah!"kata Kaisar dengan dingin, ia sangat tak suka dengan wanita apa lagi Permaisuri dibayangannya wanita yang jadi Permaisuri itu pasti memaksa keluarganya untuk menikahinya.
"Hah?"Pangeran Keempat memalingkan wajahnya kearah Kaisar tak salah dengar. Bukankah ia cinta mati dengan Liu Wen.
"Ada apa?"tanya Kaisar melihat ekspresi tak terduga dari adiknya membuatnya binggung apa sebegitu mengejutkan kah kata katanya.
"Tidak... tidak apa"kata Pangeran Keempat, ia melihat Pangeran Ketujuh sambil mengeleng gelangkan kepalanya.
"Kau juga memiliki satu Selir dan dua anak"kata Pangeran Ketujuh, keberadaan kedua anaknya harus diberitahukan, jika Kaisar tak mengakuinya kan akan menjadi bencana bagi Kekaisaran Qin.
"Sepertinya ini hal yang wajar! Pasti dipaksa menikah dengan Ibunda"kata Kaisar ia menghela nafasnya.
"Tapi... kenapa cuma satu? Apa tak ada desakan dari para pejabat?"tanya Kaisar, ia penasaran dengan hal ini biasanya para pejabat melemparkan putri mereka ke istana agar bisa mendapatkan kekuasaan.
"Benar benar lupa ternyata"gumam Pangeran Keempat, ia menghela nafas panjang sepertinya ia harus menceritakan dari awal sampai akhir semua kejadian yang terjadi.
"Selir Agungmu dibunuh oleh Mentri Fu! Para Selir tingkat rendah kabur dari istana karena takut menjadi sasaran orang asing dan aku menyetujuinya! Pemilihan Selir baru tak bisa dilakukan karena kau sedang sakit lagi pula tak ada yang mendaftar!"kata Pangeran Ketujuh, ia menahan tawanya memang benar tak ada yang mau mendaftar menjadi Selir setiap tahunnya halaman istana yang biasanya ramai sekarang bak kuburan, lagi pula para pejabat juga tak terlalu mendukung Kaisar lagi karena sekarang kekuasaannya ada ditangan Pangeran Keempat dan Ketujuh.
"Bagus! Ini baru hidup"kata Kaisar, ia bisa bernafas lega, berkat insiden ini ia tak akan dipaksa menikah lagi.
"Baiklah otakmu mungkin lambat karena lama tertidur, kau perlu mengingat semuanya atau kau akan menyesal"kata Pangeran Keempat ia meninggalkan kamar Kaisar.
"Oh ya jangan bilang pada siapapun kalau aku sudah sadar"teriak Kaisar, ia tak mau kelemahannya ini dimanfaatkan para pejabat.
"Apanya yang menyesal? Memang ingatan yang mana yang akan kusesali jika tak mengingatnya?!"kata Kaisar dengan acuh saat menjadi Putra Mahkota ia sangat santai dalam berbicara bahkan kadang kadang sedikit kasar dan sangat menyinggung perasan orang lain.
"Dasar cabul!!"kata kata itu terngiang dikepalanya, ada kilasan ingatan seorang wanita dengan gaya bicara yang sangat menyebalkan.
"Siapa dia? Cabul? Siapa yang cabul?! Heh? Paling dia menggodaku dengan berkata begitu"gumam Kaisar ia mulai membayangan wajah wanita itu berkata kata kata yang sama dengan nada yang berbeda.
"Ahh!! Dasar Cabul!!"pikirnya membuatnya merasa jijik.
"Hanya wanita murahan"gumamnya, ia beranjak dari tempat tidurnya walaupun pahit ternyata obat yang diberi adiknya sangat mujarab.