
"Walaupun aku jadi kodok pun dia tetap mencintaiku"seru Anna sambil menutup matanya. Eunyeon menyipitkan matanya sudah berapa kali dia mendengar kata kata menjijikan keluar dari mulut Anna.
"Dasar orang yang kasmaran!"gumam Eunyeon, ia membuang mukanya dan mengambil sebuah kotak yang berisi obat obatan.
"Bilang saja kau iri"balas Anna, ia tersenyum dan menatap remeh Eunyeon, sekarang ia sedikit terbiasa dengan sikap Anna walaupun terlihat angkuh diluar ternyata Anna adalah orang yang lembut serta sensitif jika orang terdekatnya dilukai itu adalah pemikiran yang ditangkap oleh Eunyeon.
"Iya aku iri.... "kata Eunyeon, ia menekan sedikit tangannya saat mengoleskan salep diwajah Anna.
"Kenapa kau belum keluar istana?"tanya Anna dengan sinis, ia mulai risih dengan kehadiran Eunyeon yang cerewet.
"Apa kau mengusirku kakakku tercinta?"tanya Eunyeon ia tak kalah sinis menatap Anna.
"Tidak. Aku kan hanya bertanya... adikku yang manis"jawab Anna dengan cepat, ia mendorong pelan kepala Eunyeon agar sedikit menjauh darinya.
"Sebentar lagi aku mau berterima kasih kepada Ri Won saat dia kembali. Kalian berdua sudah banyak membantuku secara diam diam..... Dulu.... dan sekarang pun sama"Eunyeon menurunkan pandangannya dan tersenyum tipis.
"Hmm.... dia juga KAKAKMU memang sebaiknya kau berterima kasih dengan benar padanya..."
"Tinggallah disini untuk sementara waktu. Aku akan keluar melihat suamiku"
"Sebentar lagi mantan suamimu pasti akan kemari"kata Anna, ia menarik Eunyeon masuk ke ruang tidurnya dan mendudukannya dikursi miliknya.
"Gambar kura kura saja sambil menungguku dan Ri Won datang"kata Anna dia menunjuk kuas dan kertas yang berada diatas meja.
"Kau kira aku bocah apa"gumam Eunyeon, ia membuang mukanya untuk memperlihatkan wajah kesalnya dan melihat Anna kembali lalu tersenyum ramah.
"Baiklah kakakku sayang"jawab Eunyeon dia mengangguk dan melambaikan tangan saat Anna pergi dari sana.
"Haah...! Aku mau belajar menjadi seperti dia"kata Eunyeon, ia menatap punggung Anna sampai ia pergi menjauh lepas dari pandangannya.
*****
"Yang Mulia Pangeran.... Huhuhu... Sakit...sa..sakit..."teriak Selir Sun para Dayang terus memukul punggungnya walaupun sudah banyak darah yang keluar akibat pukulan itu, tak ada yang datang melihatnya.
"Selir Sun sebaiknya anda diam dan merenungi kesalahan anda. Tenggorokan anda akan sakit dan telinga saja juga sakit mendengar ocehan anda"kata Dayang itu dengan malas, ia senang sekali saat menyiksa Selir Sun yang terkenal sebagai rubah betina itu. Selir Sun juga suka menyombongkan dirinya yang sangat dicintai Woo Rin kepada para Dayang dan Nona Nona Muda.
"Ckk! Lihat dia sampai ingin mati begitu"
"Baguslah akhirnya dapat balasan juga dia"
"Wanita jalangg itu kemarin sangat sombong dan bilang dia dekat dengan Putri Qin"
"Hahahahaha.... ternyata hanya besar omong sudah ku duga tidak mungkin Putri Qin mau menjadi temannya"
"Ini sudah 50 belum?"tanya Dayang itu kepada temannya yang memukul Selir Sun bersamanya.
"Tidak tahu sepertinya masih kurang dua"kata Dayang itu mereka pun memukul Selir Sun dua kali dan membawanya langsung ke penjara bawah tanah yang lebih bau dan lembab dari sebelumnya.
"Istirahatlah disini.... Hmphh! Akhirnya rakyat jelata yang berlagak seperti bangsawan dihukum juga"
"Aku puas melihatnya sengsara seperti ini"
"Jalangg lihat saja saat aku mengadukan hal ini kepada Pangeran Woo Rin! Kalian akanku bunuh!"kata Selir Sun matanya memerah karena sangat marah.
"Yiwei si jalangg itu juga akan kubunuh saat aku sudah jadi Putri Mahkota! Dia pikir siapa dia! Ini adalah Joseon bukan Qin! Pangeran pasti akan membalas perbuatannya!"kata Selir Sun dendamnya kepada Anna sudah tertanam karena perlakuan Anna yang sangat keterlaluan menghukumnya tanpa belas kasih padahal tamparannya tak kuat dan ia juga tak pernah menyinggung Anna.
"Aku haus! Apa aku benar tak diberi makan!"lirih Selir Sun wajahnya pucat ia tak diberi makan dan minum bahkan lukanya tak diobati dengan benar.
"Silakan anda minum dan makan ini. Saya mempertaruhkan nyawa saja untuk memberi makan Yang Mulia Selir"kata Pelayan Selir Sun, ia nampak sangat ketakutan. Sebenarnya ia membenci Selir Sun juga tetapi menyakiti seseorang? Ia masih takut karena tak pernah melakukannya.
*Kalau bukan karena ibuku sedang sakit aku tak mau terlibat dengan pekerjaan kotor seperti ini-batin Pelayan itu ia bukannya kasihan kepada Selir Sun tetapi ia tak mau nyawanya melayang karena salah langkah.
"Te...tentu saja! Makanlah semua ini makanan kesukaan anda! Habiskan semuanya karena saya akan membawa makanan sekali sehari"kata Mei, ia tak menyangka bisa melihat wajah memelas Selir Sun baginya itu sebuah hiburan yang menyenangkan.
*Pftttt..... dia pikir aku peduli padanya! Apa kau tahu Selir bodoh! Makanan yang kau makan dengan lahap itu akan membuatmu mandul! Aku tak tahu apa yang dilakukan si bodoh ini sampai dia menyinggung Putri Qin tapi aku senang karena akhirnya dia mendapatkan karma karena membunuh bayi Putri Jang dan membunuh para pelayan itu-batin Mei dia sering kesal dengan tingkah Selir Sun yang semena mena dengan para pelayan nya sampai membunuh mereka padahal kesalahan mereka tak terlalu serius.
*****
Gerbang Istana
"Kapan Pangeran Ri Won tiba?"tanya Anna kepada Jendral Hwang yang menunggu Ri Won bersama dengannya.
"Entahlah. Ini masih senja bukankah dia sampainya malam ya"gumam Jendral Hwang entah kenapa ia semangat sekali menyambut Ri Won. Lebih dari Anna dia menunggu Ri Won digerbang dari tadi siang.
"Lalu kenapa anda disini sekarang?"tanya Anna, ia celingak celinguk kearah Jendral Hwang dan gerbang.
"Anda juga kenapa disini?"bukannya menjawab Jendral Hwang bertanya balik.
"Menunggu suamiku! Cucuku!"kata mereka dengan serempak.
"Hmmm.....?"mereka menyipitkan matanya secara serempak dan berdehem.
"Apa yang kalian lakukan?"tanya Ri Won yang tiba tiba berada didepan mereka.
"Hiy!!!!"keduanya tersentak, Jendral Hwang melihat kedepan dan benar saja Ri Won yang berada didepannya.
"Kapan kau kembali!!!"teriak Jendral Hwang, ia terkejut melihat Ri Won tanpa ada nya suara tiba tiba ada didepannya.
"Aku sudah datang beberapa waktu yang lalu dan penjaga meneriaki namaku tadi"kata Ri Won dengan malas apa telinga kakeknya itu sudah tak bisa mendengar dengan jelas.
*Jantungku-batin Anna saat melihat wajah Ri Won ia malah gugup karena baru saja melakukan hal intim dengannya semalam.
"Se..selamat datang"kata Anna, ia menutupi wajahnya dengan tangan karena malu.
"Kau menyambutku ya.... terima kasih... aku kembali"kata Ri Won, ia ingin mengelus rambut Anna tetapi karena terlalu malu Anna menepisnya.
"Se...sebaiknya kau mandi dulu"kata Anna, ia berjalan duluan menuju kediamanannya.
"Ada apa dengan menantuku itu?"tanya Jendral Hwang kenapa Ri Won senyumnya memudar saat Anna tak terlihat lagi.
"Tidak tahu"jawab Ri Won dengan singkat.
"Jangan jangan dia membencimu"kata Jendral Hwang membuat Ri Won tersentak dan berkeringat dingin.
*******
Kediaman Raja
"Yang Mulia... Pangeran Ri Won sudah memasuki gerbang istana. Beliau menyelesaikan tugas yang anda berikan dengan lancar dan beliau juga memenangkan hati rakyat"kata Kasim Gi dia masuk keruang belajar Raja dan memberitahukan kabar itu.
"Aku tahu dia pasti bisa melakukannya...."kata Raja Nam Wok, ia tersenyum dan menaruh kuasnya melihat dengan seksama surat yang ia tulis dengan stampel kerajaan itu.
"Apa yang anda lakukan?"tanya Kasim Gi dia lebih tua dari Raja Nam Wok umurnya mungkin seperti ayahnya.
"Aku sudah menentukan siapa yang akan menjadi Putra Mahkota"kata Raja Nam Wok membuat Kasim Gi terkejut padahal masih ada 6 bulan lagi. kenapa Raja sudah memutuskannya.
"Pangeran Ri Won memang pantas menjadi Raja selanjutnya"lanjutnya membuat Kasim Gi mengerutkan dahinya.
"Saya permisi Yang Mulia... makan malam anda akan saya siapkan"kata Kasim Gi, ia izin pamit dari sana bukannya kedapur ia malah pergi ke perpustakaan kerajaan dan menemui seseorang disana.