I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
108. Anak Pungut!



"Aiyaa... tak sampai seperti itu aku tak ingin membunuhmu"kata Liu Whojin, ia menepuk bahu Kaisar dan tersenyum tipis.


"Aku tadi hanya terbawa emosi, pak tua ini memang suka begini. Ibu juga sudah menyerahkan?"tanya Liu Whojin kepada ibunya sambil tersenyum lebar.


"Ya! Ya! Apa yang bisa kuharapkan, lupakan saja"kata Liu Xiaoyu, ia mengibaskan tangannya dan beralih melihat cicitnya.


"Aiyaa... kalian cantik dan tampan, membuatku iri saja"kata Liu Xiaoyu, ia mencubit masing masing pipi cicit barunya.


"Sayang sekali kalian cicit luarku, jika tidak, aku bisa melihat kalian terus"gumam Liu Xiaoyu wajahnya terlihat sedih saat mengatakan hal itu.


*Cicit luar? Apa itu? -batin Ellson ia menanyakan hal itu kepada Jake.


*Jika wanita memiliki anak maka keluarga si wanita akan menyebutnya cucunya luar, semacam pemisahan status yang mengatakan bahwa jarak antara mereka sudah tak terlalu dekat, mungkin? Menurut definisiku-jawab Jake.


*Menurutku itu karena si cucu tak tinggal di kediaman kakek dari ibunya dan ikut keluarga sang ayah-jawab Aiden, ia juga menerka nerka apa arti dari perkataan nenek buyutnya.


"Kami akan sering berkunjung, jadi nenek buyut jangan khawatir"kata Keyzee sambil memeluk nenek buyutnya.


"Baik baiklah, ini sudah malam, Yang Mulia sebaiknya menginap disini"kata Liu Xiaoyu, ia mencium pipi cicitnya yang paling bungsu itu dan mengajaknya kembali ke kamar karena Keyzee menguap terus menerus.


"Ayah?"panggil Liu Wen, ia takut ayahnya masih menentang hubungannya dengan Kaisar.


"Silakan.... saya bukannya ingin mencari masalah dengan anda tetapi saya... hanya tak ingin putri saya menderita!"kata Liu Whojin, ia merangkul Liu Wen dan mengelus kepalanya.


"Memangnya siapa yang berani!"kata Liu Wen dengan angkuh, ia berdecak pinggang dan memasang wajah menyeramkan.


"Dasar! Tidurlah ajak suamimu"kata Liu Whojin, ia mengacak rambut Liu Wen sampai kusut dan berantakan.


"Huuu... memangnya aku anak kecil"dengus Liu Wen, ia suka diperlakukan begitu tetapi malu untuk mengakuinya.


"Mami sangat manja"bisik Jake, ia tahu sekarang sifat manjanya ini menurun dari siapa.


"Ayahanda juga begitu lho"bisik Kaisar, ia tiba tiba ikut dalam pembicaraan Jake dan Ellson.


"Papi itu tak sopan"kata Jake, ia mendongkakan kepalanya menatap ayahnya dengan tajam.


"Kenapa kalian memanggilku papi? Sangat asing didengar"tanya Kaisar sebenarnya ia sangat penasaran dengan kata kata aneh yang dikeluarkan putranya.


"Kami terbiasa menyebutnya begitu! Guru sudah banyak mengajari kami kata kata yang aneh tetapi bermakna indah"kata Jake, ia menelan savilanya karena gugup.


"Guru? Apa guru yang sama yang mengajarkan Wen membuat benda aneh?"gumam Kaisar.


"Baiklah terserah kalian ingin menyebutku apa"kata Kaisar sambil tersenyum manis.


"Aku tak peduli"kata Anna, ia pergi kembali kekamarnya.


"Bodoh"kata Aiden, ia juga pergi dari sana.


"Selamat malam papi"kata Ellson sambil tersenyum.


"Kesan yang buruk dan hasilnya ya pastinya tidak disukai"kata Jake, ia mengedikkan bahunya dan pergi dari sana.


"Apa yang salah?"tanya Kaisar melihat reaksi anak anaknya ini membuatnya berkedip beberapa kali karena bingung, apa dia tak memiliki kharisma seorang Kaisar dimata anak anaknya atau seorang ayah.


"Kamu sok akrab dengan mereka, anak anak itu jeplakanmu lho, sikap angkuh mereka jelas sepertimu"kata Liu Wen sambil menunjuk Kaisar sekarang tinggal mereka berdua disana.


"Aku?"tanya Kaisar, ia menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak mungkin! Aku...du...lu... "Kaisar mencoba mengingat masa lalunya saat remaja.


"Apa ini, ganti!"


"Menjauh dariku!"


"*A*ku benci wajahmu itu! Jangan menatapku begitu!"


"Tidak!"


"Gaya macam apa itu? Norak! "


"Menyebalkan!"


"Jika kau punya malu jangan datang kesini lagi!"


"Sampah!"


"Menjijikkan!"


"Hei, jangan menggosokkan dadamu dipunggungku!"


"Mirip kan... haaa... sudah kuduga... padahal aku selalu mengajarkan mereka untuk ceria tetapi hanya Key... ekhem! Fei saja yang ceria"kata Liu Wen, ia hampir keceplosan mengatakan nama asli putrinya.


"Ya... memang mirip tetapi mengemaskan,"kata Kaisar ia melamun membayangkan wajah anak anaknya.


"Oh ya Wen saat itu kenapa kau tak kembali ke istana? Apa demi impianmu?"tanya Kaisar ia berhenti didepan pintu kamar Liu Wen dan menanyakan hal ini.


"Ahh.. tidak.. maksudku iya! Saat aku bangun aku kembali ke tempat asalku, jadi tak bisa kembali! Saat itu juga aku melahirkan mereka"kata Liu Wen, ia meregangkan tubuhnya yang sedikit lelah karena perjalanan tadi.


*Tempat asal? Desa kelahiran?-batin Kaisar ia menaikan alisnya.


"Saat itu kamu sedang hamil anak kita kan? Bearti saat di istana kamu sudah hamil?"tanya Kaisar kepada Liu Wen.


"Hmm... awalnya aku tak percaya saat Meng bilang aku hamil. Ia bilang begitu karena melihatku muntah muntah, tetapi saat Junxi yang bilang aku baru percaya, apa lagi perutku semakin membesar setiap bulannya"kata Liu Wen, ia terkekeh geli.


"Aku juga bodoh karena tak menyadarinya, hanya karena perkataan tabib Wu yang menyesatkan"kata Kaisar ia memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya dengan serius.


"Lalu?! Bagaimana kau bisa mengikutiku saat aku sedang menyamar dulu, dari mana kau tahu itu aku, hmphh!"kata Liu Wen, ia membuang mukanya karena Kaisar yang diam diam mengikutinya dan mengetahui identitasnya duluan.


"Hmm? Saat festival lampion waktu itu kau sedang memakai pakaian wanita walaupun gelap sekali, aku bisa melihat wajahmu sekilas. Untuk penyamaran... itu penyamaran yang sering kulakukan dulu saat diakademi. Menghitamkan badan dan mengubah gaya rambut serta warnanya memang sangat ampuh"kata Kaisar ia melihat istrinya dari atas sampai kebawah, tak ada yang berubah Liu Wen masih saja cantik baginya.


"Ya! Bahkan aku tak mengenalimu! Bagus sangat bagus"kata Liu Wen, ia berdecak pinggang.


"Setidaknya aku bisa selalu berada disisimu saat kamu hamil bahkan aku pernah merasakan mereka menendang perutmu"kata Kaisar, ia memegang pipi Liu Wen dan memeluknya.


"Ha. Ha. Ha... baiklah, aku mau tidur ini sudah larut"kata Liu Wen ia mendorong pelan Kaisar dan masuk kekamarnya.


"Wen... kau lupa membawa suamimu"kata Kaisar, ia menghalangi pintu itu dengan kakinya karena Liu Wen berniat membiarkannya tidur diluar.


"Ahh iya tapi sebelum itu! Tolong bawakan aku air, aku ingin minum"kata Liu Wen ia memegang tenggorokannya dan menutup satu matanya.


"Kau tidak akan menutup pintunya kan?"tanya Kaisar, ia sama sekali tak percaya dengan Liu Wen.


"Iya iya aku janji"kata Liu Wen mengeluarkan jari kelingkingnya.


"Oke aku pergi"kata Kaisar dengan cepat Liu Wen menutup pintunya.


"Aihh dasar wanita tak tepat janji"gumam Kaisar ia memanjat keatap dan masuk melalui atap.


"Dasar bodoh mau saja dibohongi, hihihi"tawa Liu Wen ia menarik selimut dan tidur diranjangnya dengan nyenyaknya.


"Aku sudah pintar sekarang"gumam Kaisar, ia turun dan tidur disamping Liu Wen.


"Siapa!"kata Liu Wen, ia sangat terkejut tiba tiba saja ada orang dibelakangnya.


"Suamimu, sudah diamlah! Nanti mereka mengira kita sedang membuat adik untuk si kembar atau kau memang mengharapkannya?"goda Kaisar membuat Liu Wen malu.


"Tidur!"bentak Liu Wen ia ingin lebih dekat dengan Kaisar tetapi sifatnya yang mudah marah membuatnya kesulitan melakukannya.


******


Istana


"Dimana Kaisar? Dari kemarin menghilang?"tanya Ibu suri kepada pelayan yang lewat didepan kediamanannya.


"Kaisar berada dihalaman utama Ibu suri"kata pelayan itu, Ibu suri langsung menuju halaman utama, ia ingin menghasut putranya itu untuk membenci Liu Wen.


"Kenapa disini sangat ramai"gumam Ibu suri para pelayan berkumpul disana membuatnya bingung.


Pltuss


"Ada apa ini, kenapa ada kembang api yang sangat meriah"Ibu suri menutup telinganya karena sangat bising saat melihat kedepan ia terkejut dengan ke datangan lima remaja bersama dengan putranya dan Liu Wen disana. Satu hal yang membuatnya lebih terkejut. Ada pemuda yang sangat mirip putranya saat remaja dulu.


"Mereka anak Permaisuri?"


"Ya mereka Putri dan Pangeran baru"


"Apa doa Permaisuri dijawab buddha?"


"Sepertinya begitu! Huwaaa... Pangeran yang itu sangat tampan!"


"Tapi kok ada lima apa Kaisar diam diam menemumi Permaisuri selama ini dikuil dan membuat anak?"


"Astaga kata katamu itu!"


"Hmphh...! pasti anak pungut"kata Ibu suri, ia yakin Liu Wen memungut anak anak itu dan sengaja mencari yang mirip dengan Kaisar agar semua orang yakin kalau mereka anak anak Kaisar.


*Ckckckck! Kasihan sekali! Dia mandul dan sekarang memungut anak jalanan yang tak tahu asal usulnya! Mimpi saja ingin bersaing dengan We'er sebagai pewaris tahta-batin Ibu suri, didalam hatinya hanya Qin Jianwe dan Qin Meili cucunya.