
"...."Rong Tian tersenyum, ia menjilat tangan Liu Wen yang meremas mulutnya.
"Hei...! Kau kira tanganku ini permen apa"gerutu Liu Wen, ia langsung menarik tangannya.
"Mungkin saja..."kata Rong Tian dengan acuh.
"Oh ya? Padahal tadi aku baru saja ngupil"kata Liu Wen, ia menyipitkan matanya sambil terkekeh.
"Hah!"Rong Tian membulatkan matanya dan langsung mengusap keras lidahnya.
"Hahahaha... manis kan"ucap Liu Wen, ia tertawa terpingkal pingkal.
"Kenapa kau selalu menyiksaku, huwee.... kita tak saling menyimpan dendam"kata Rong Tian menatap Liu Wen dengan lidah terjulur keluar.
"Entahlah, aku cuma suka menggodamu"kata Liu Wen mengedikkan bahunya.
"Sepertinya kau masih punya urusan disini"kata Liu Wen, ia menunjuk ke belakang. Pemuda itu masih adu mulut dengan adiknya.
"Adikmu bisa mengatasinya"kata Rong Tian, ia melanjutkan perjalanannya kekereta kuda.
"Kau baru saja membelanya. Lihat bajingann itu mulai sombong"kata Liu Wen, ia menghentikan langkahnya.
"Hahhhh... ya sudahlah ayo selesaikan dulu baru ke Istana"kata Rong Tian, ia menghela nafasnya dan menarik Liu Wen kembali ke sana.
"Siapa bilang aku mau kesana"gumam Liu Wen cemberut.
"Hmm? Setidaknya datanglah sebagai kompensasi karena kau terus menyakitiku"kata Rong Tian dengan memelas.
"Baik baik kau tak perlu memasang wajah seperti itu"kata Liu Wen menutup wajah Rong Tian menggunakan tangannya.
***
"Cepat minta maaf kepadaku!"kata pemuda itu dengan sombong.
"Dalam mimpimu"ucap Liu Yichen dengan dingin.
"Kau sebagai anak guru besar tak bisa menjaga nama baiknya! Guru Besar akan diturunkan jabatannya menjadi pengajar akademi biasa! Tuan muda Su sudah menghinaku sebagai Putra Mahkota dia akan menyalin 20 kitab tentang tata krama dan kemoralan seorang pria! apa kau puas"tanya Rong Tian kepada Liu Wen.
"Emnm.... kurang kurang!!! Hukum pukul 50 kali karena menghinaku tadi"kata Liu Wen ia mengibaskan tangannya.
"Sa...saya tak salah!"teriak Su Yaoyang anak Guru Besar.
"Cukup! Yaoyang akan melaksanakan perintah Yang Mulia, saya akan berkemas pergi ke akademi terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia"kata Guru Besar yang tiba tiba datang, ia menyuruh anaknya bersujud ampun kepada Rong Tian.
"Bagus! Pergi dari sini sekarang"kata Rong Tian dengan tegas.
"Te...terima kasih Yang Mulia"kata Meng kepada Rong Tian.
"Salam Putra Mahkota Rong"kata Liu Yichen, ia baru sadar kalau Rong Tian adalah orang yang dulu dibeli kakaknya.
"Yo.... kita bertemu lagi. Maaf pertemukan pertama kita sangat tidak menyenangkan"kata Rong Tian kepada Liu Yichen.
"Tak masalah, waktu itu saya tak melayani anda dengan benar"kata Liu Yichen, ia menunduk dan melirik kearah kakaknya sedangkan Liu Wen ia malah melihat kearah lain.
"Cih! Dilayani seperti apa? yang ituu"gumam Liu Wen ia memikirkan hal gila dikepalanya.
"Ekhmmm....! Nyonya ini apa yang anda pikirkan"kata Liu Yichen nampak tiga guratan didahinya.
"Tidak...tidak tidak ada"kata Liu Wen sambil berpura pura bersiul.
"Bagaimana anda bisa saling kenal?"tanya Meng sepertinya dia sendiri yang tak mengenal Rong Tian.
"Ekhmm, kami bertemu secara tak sengaja"kata Liu Yichen, hal yang tabu mengatakan bahwa Putra Mahkota Kekaisaran Rong pernah menjadi gigoloo kakaknya.
"Kalau aku tentu saja karena sesuatu yang intim"kata Liu Wen, ia mulai meraba dada Rong Tian.
"To...tolong kondisikan tangan anda"kata Rong Tian wajahnya memerah karena malu
"Ekhemm!!"Kaisar melolot kearah Liu Wen karena mulai mengoda pria lain.
"Apa benar kau memiliki banyak Selir?"bisik Liu Wen.
"Y..ya! ke....kenapa kau tak percaya?"kata Rong Tian dengan gugup.
"Hmm.... berapa kali dalam sehari kau melakukannya?"bisik Liu Wen, ia sengaja mengerjai Rong Tian.
"Dasar tidak tahu malu!"kata Rong Tian ia memalingkan wajahnya yang bersemu merah sekarang.
"Hahahaha... dasar bocah ingusan! Digoda sedikit saja langsung salah tingkah"tawa Liu Wen, dia sepolos ini melakukannya hal itu kurasa tidak mungkin pikirnya.
*******
Kekaisaran Tang
"Pergilah kalian Kekaisaran Rong"kata Mentri Fu kepada bawahannya.
"Aku akan pergi bersama mereka"kata Fu Taite, kakak Mentri Fu sekaligus pengawal pribadinya.
"Kau tak perlu selalu berada disampingku, kau bisa pergi kemana pun dan bekerja dimanapun"kata Mentri Fu membuat Fu Taite menghentikan langkahnya.
"Aku sudah janji kepada ibu"kata Fu Taite sambil tersenyum.
"Wanita itu sudah mati! Kau tak perlu menganggap apa yang dia katakan"kata Mentri Fu dengan tenang.
"Walaupun dia sudah mati, janjiku kepadanya tidak bisa diingkari"kata Fu Taite menatap wajah adiknya.
"Kenapa! Kenapa? Kau membantuku! Aku yang membunuh ayahmu!"teriak Mentri Fu, ia menyayangi kakaknya tetapi ia sangat membenci ayahnya yang beberapa kali ingin membunuhnya.
"Tentu saja karena kau adikku"kata Fu Taite tersenyum.
"Apa kau tak membenciku karena membunuh ayahmu dan mengambil posisi Mentri?"tanya Mentri Fu, ia tampak frustasi untuk pertama kalinya mengetahui kebenarannya bahwa ia bukan anak kandung Mentri Fu Shuang.
*****
9 tahun yang lalu
"Ayah Qu'er sudah berusia 15 tahun. Apa sekarang dia sudah boleh keluar kamar dan mengikuti pelajaran di Perguruan Zixie?"tanya Fu Taite, ia kasian kepada adiknya yang dari lahir tak pernah keluar kamar.
"Tidak! Untuk apa aku memberinya pendidikan yang layak!! Dia cuma anak haram"kata Mentri Fu Shuang, ia sangat murka kepada istrinya walaupun begitu ia tak bisa membunuh wanita yang paling dicintainya itu.
"Ayah.... bagaimana pun juga sekarang dia bermarga Fu yang bearti dia adikku"kata Fu Taite dengan bersikeras.
"Aku tak pernah menikah dengan wanita manapun selain Quefeng dan dia mengkhianatiku, aku menyuruhnya mengugurkan kandungannya itu dan tak akan mempermasalahkan hal ini lagi tetapi ia menolak dan mengancam akan bunuh diri"kata Mentri Fu Shuang terlihat dimatanya ada rasa kecewa yang mendalam.
"Aku tahu itu ayah, aku menyayangimu. Aku juga menyayangi ibu...."kata Fu Taite hatinya sangat lembut mendapat pendidikan langsung di Perguruan Zixie, seorang ahli sastra terkenal di Kekaisaran Tang semua orang mengakuinya dan menunjuknya secara langsung menjadi Mentri mengantikan ayahnya.
"Kalau begitu jangan menyuruhku melepaskan anak itu. Membiarkannya berkeliaran di kediaman ini membuatku sakit kepala, setiap aku melihatnya aku langsung mengingat perselingkuhan ibumu dan kematiannya"kata Mentri Fu, ia ingat betul bagaimana istrinya mati dihadapannya dan menyuruhnya bersumpah tidak akan membunuh Fu Yuanqu.
"Hah... baiklah tetapi ayah tak bisa mengurungnya seumur hidupkan?"kata Fu Taite dia menghela nafasnya tahun ini usahanya juga sia sia.
"Kau bersiap saja. Besok upacara pengangkatanmu mengantikanku, aku senang putraku ini akan menjadi Mentri"kata Mentri Fu Shuang, ia tersenyum manis kearah anaknya.
****
kamar Fu Yuanqu
"Qu'er?"panggil Fu Taite, ia memasuki kamar adiknya yang terasa dingin dan gelap.
"Ehmn?"Fu Yuanqu menoleh kearah sumber suara, ia meringkuk dibawah lantai.
"Kakak..."seru Fu Yuanqu, ia langsung memeluk kakaknya.
"Apa kau sudah makan, aihhh kau sekarang makin kurus ya"kata Fu Taite, setiap hari ia melihat keadaan adiknya walau dulu saat masih kecil pernah ketahuan ayahnya sehingga ayahnya itu marah besar kepadanya.
"Kakak bagaimana? Apa ayah memperbolehkanku keluar?"tanya Fu Yuanqu, ia sangat berharap tahun ini ia bisa keluar kamarnya.
"Ahh... kamarmu banyak debunya, sudah berapa lama pelayan tak membereskan kamarmu"kata Fu Taite, ia mengalihkan pembicaraan dan merapikan kamar Fu Yuanqu.
"Ya? Ohh! Kakak membawakanmu makannan lezat dari pasar apa kau mau makan sekarang"tanya Fu Taite ia terus mengalihkan pembicaraan agar Fu Yuanqu tak merasa sedih.
"Kakak! Jawab aku! Aku bukan anak kecil lagi!"teriak Fu Yuanqu, ia langsung berlari keluar kamarnya.
"Tuan Muda kedua!! Tunggu anda tidak boleh pergi!"kata para pengawal berusaha mengejar Fu Yuanqu.
"Ayahh!!"kata Fu Yuanqu ia berlarian ke ruang belajar Mentri Fu Shuang.
"Beraninya kau keluar dari kamarmu!Kembali sekarang!"teriak Mentri Fu Shuang ia memijit kepalanya yang terasa pusing, kembali terngiang giang kejadian dimasa lalu.
"Aku tidak mau! Kenapa aku dikurung dikamar selama ini? Kenapa ayah tak pernah mengunjungiku? Kenapa ayah selalu bersikap acuh kepadaku! Jelaskan sekarang"kata Fu Yuanqu raut wajahnya berubah ia benar benar sudah lama memendam pertanyaan ini.
"Pergilah aku tak mau bicara denganmu"kata Mentri Fu Shuang, ia memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
"Qu'er ayo kembali kekamar ayah sedang banyak pekerjaan"kata Fu Taite mengajak adiknya itu pergi dari sana.
"Aku mau tahu jawabannya sekarang!!"teriak Fu Yuanqu walaupun mereka berdua saudara tetapi perlakuan keduanya sangat berbeda.
"Diam! Kau mau tahu! Aku membencimu karena kau anak haram, kau bukan anakku, bukannya menurut kau malah melawan begini kepadaku ak...aku...aku..."Mentri Fu Shuang mengebrak meja, dadanya tiba tiba sangat sakit jatungnya berpacu sangat cepat.
"Ayah!!"teriak Fu Taite, ia menghampiri ayahnya dan langsung membawanya ke tabib.
"Mentri sudah tiada karena serangan jantung, saya turut berduka"kata tabib itu tangis Fu Taite pun pecah, ayahnya meninggal bahkan sebelum pengangkatan dirinya.
"Hmphh!? Dia mati... memang pantas"gumam Fu Yuanqu ia tersenyum senang karena orang yang menyiksanya selama ini sudah mati.
"Kakak... aku mau menjadi Mentri mengantikan ayahmu"kata Fu Yuanqu dengan dingin, ia berubah sekali sekarang matanya penuh dengan ambisi.
"Qu'er,dia ayah kita apa yang kau katakan"lirih Fu Taite
"Dia cuma ayahmu!! Kau dimanja olehnya, pantas saja, pantas aku dikurung didalam kamar, hahahaha, aku...aku hanya anak haram. Kakak... jika kau menganggapku adikmu serahkan posisi itu kepadaku anggap saja ini kompensasi karena ayahmu memperlakukanku dengan buruk selama ini!"kata Fu Yuanqu dengan senyum manis diwajahnya.
"Kau...! baiklah apapun untukmu"kata Fu Taite, esoknya Fu Yuanqu diangkat sebagai Mentri banyak yang menolaknya karena Fu Yuanqu tak pernah terdengar beritanya itu sebabnya ia masuk ke perguruan zixie sekaligus menjadi Mentri.
Banyak yang menyayangkan Fu Taite tak menjadi Mentri, karena hal itu Fu Taite menawarkan diri menjadi pengawal pribadi adiknya untuk membantu adiknya dalam keadaan apapun.
*****
"Tentu saja tidak... aku tak bisa membenci adik kecilku... posisi itu hanya sebuah jabatan tak bisa mengantikan ikatan kakak adik kita"kata Fu Taite sambil tersenyum, ia langsung pergi menuju Kekaisaran Rong.
"Kakak.... maafkan aku tetapi aku tak pernah menyesal membunuhnya dan aku juga tak pernah menyesal menjadi anak haram karena ayah kandungku adalah Kaisar Kekaisaran Qin"gumam Mentri Fu saat menjadi Mentri, ia mengumpulkan semua informasi mengenai ibu dan selingkuhannya yang ternyata Kaisar Kekaisaran Qin, Qin Hao dan mengetahui kalau dirinya seorang Pangeran Pertama karena Qin Xuan 5 tahun lebih muda darinya.
"Akanku ambil apa yang seharusnya menjadi milikku! Wanita tua itu pasti akan mati! Akan kubalas orang yang sudah membunuh ibu"kata Mentri Fu, ia mencengkam gelas keramik itu sampai retak.
******
3 bulan kemudian
"Yo...! apa kalian nyaman disini"tanya Rong Tian karena paksaan Rong Tian, Liu Wen tak bisa pergi kemana mana, seharusnya ia sudah pergi dari sini dan melanjutkan perjalanan Kekaisaran Liao.
"Hei... aku mau pergi"kata Liu Wen, ia menekuk alisnya.
"Kau makan banyak disini dan makin makmur! Lihat! Lihat! Perutmu saja makin membesar"kata Rong Tian menunjuk perut Liu Wen.
"Ya ya... aku memang makan banyak disini"kata Liu Wen dengan malas.
*Tinggal beberapa hari lagi aku melahirkan! Bagaimana ini, harus mencari tabib dan jangan sampai ketahuan-batin Liu Wen, ia binggung karena sebentar lagi akan melahirkan.
"Yo.... Shi"kata Rong Tian menyapa Kaisar yang berada dibelakang Liu Wen.
"Tolong jangan berbicara begitu"kata Kaisar, ia menahan amarahnya karena kesal saat tahu Liu Wen akan menginap di Istana milik Rong Tian.
"Dia istriku"bisik Kaisar kepada Rong Tian yang berada disamping Liu Wen.
"Tepatnya mantan"balas Rong Tian sambil menjulurkan lidahnya.
"Heii... apa kolam teratai ini dalam?"tanya Liu Wen, mereka sedang bersantai di taman belakang.
"Lumayan jika dengan tubuh sebesar ini mungkin kau akan mati tengelam"ucap Rong Tian.
"Tubuh sebesar ini? Apa maksudnya"gumam Liu Wen nampak Tiga guratan didahinya.
"Penyusup!!!"teriak pengawal, kepalanya langsung ditebas oleh parah penyusup itu.
"Pengawal!!"teriak Rong Tian namun tak ada jawaban.
"Mereka sudah mati..."kata salah satu penyusup itu mereka sekitar 100 orang memakai baju berbeda 50 coklat dan 50 lagi hitam.
"Sepertinya ada dua orang yang menginginkan kita mati"kata Rong Tian, ia dan Kaisar sudah bersiap dan melindungi Liu Wen dari belakang.
"Maaf aku tak bisa membantu bebanku lebih besar dari pada kalian"kata Liu Wen, ia mengedikkan bahunya memang benar karena Liu Wen memegang satu nyawa lagi diperutnya.
"Baik! Kau kanan aku kiri"kata Kaisar disambut anggukkan dari Rong Tian, mereka sibuk membunuh musuh walaupun tak terlalu pandai bermain pedang Kaisar bisa mengatasinya.
"Wanita itu target kita"kata penyusup berbaju hitam.
"Minggir kau!!"teriak Liu Wen, ia mengambil ember kayu dan mengisinya mengunakan air kolam untuk menyiram wajah para penyusup.
Byurrrr
Kaisar juga terkena airnya, rambutnya lama lama memudar dan berubah menjadi hitam serta kulitnya pun berubah menjadi putih.
"Ka...kau!! Qin Xuan!"teriak Liu Wen, ia marah karena Kaisar membodohinya lagi.
"Maafkan aku, nanti saja aku jelaskan kepadamu"kata Kaisar, ia masih sibuk melawan musuh.
"Ka..kau! Kau tahu ak..aku.."kata Liu Wen ia ingin bertanya tanya apakah Kaisar tahu ia sedang mengandung.
"Tenang walaupun kau jadi katak pun aku tetap menyukaimu"kata Kaisar, ia tersenyum tipis sekarang ia tak bisa berbohong lagi penyamarannya ssudah terbongkar.
"Disana!!"kata penyusup itu, ia pelan pelan mendekati Liu Wen dan bersiap membunuhnya.
"Shhsss"darah segar mengalir dari perut Kaisar tiba tiba ia maju melindungi Liu Wen dari serangan itu.
"Qin Xuan!!!"teriak Liu Wen, pedang itu sedikit lagi menyentuh perut Liu Wen.
"We ..wenn... aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Aku tak mau menyesal karena tak mengatakannya bahkan sampai mati! Aku mencintaimu... aku sangat mencintaimu"kata Kaisar dengan tangan gemetar, ia memegang wajah Liu Wen sambil tersenyum. Pedang itu terus maju kedepan sehingga Kaisar terpaksa mendorong Liu Wen sampai terjatuh kedalam kolam.
"Putri!!! Kakak Xuann"teriak Rong Tian nampak para pengawal Kekaisaran Rong datang dan langsung menolong melawan para musuh.
*Padahal sudah dikasih kesempatan kedua untuk hidup"batin Liu Wen, ia melihat keadaan sekitar yang nampak gelap dan waktu terasa berjalan lambat.
"Apa aku akan mati?"
Byurrr
Ia tenggelam karena tak bisa mengerakkan badannya dengan bebas.
"Tolong dewa, tuhann atau apapun jangan renggut kehidupan bayiku yang bahkan belum dimulai ini"batin Liu Wen, ia tak bisa bernafas sekarang pandangannya kabur dan akhirnya ia menutup matanya.
End
.
.
.
.
.
Engga kok bercanda xixixi