
"Mentri..... apa anda tidak akan memberitahu Selir Tang yang sebenarnya?"tanya pengawal setia Mentri Fu dari belakang.
"Aku tak mau membuatnya terguncang disaat hamil. Putraku harus tumbuh dengan sehat, aku tak mau dia cacat sedikitpun"kata Mentri Fu, ia mengepalkan tangannya menahan amarah walaupun sedikit menyakitkan. Jika dia beri tahu yang sebenarnya Selir Tang pasti membunuh bayi tak berdosa didalam perutnya itu.
"Anda akan sedih jika Selir selalu mengungkit Kaisar, bukankah..."
"Sudah diam! Kau yang paling tahu sebelum ini aku lebih menderita masalah seperti ini hanya sebagian kecil dari rasa penderitaanku, kakak"
"Huh.... saya mengerti"pengawalnya itu membulatkan matanya sudah lama ia tak mendengar Mentri Fu memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.
"Kau adik kecilku. Walau ayah tak mengakuimu aku tetap menyayangimu"gumamnya seperti yang ia katakan penderitaan Mentri Fu sudah dimulai sejak awal kelahirannya.
****
"Shi.... kenapa kau berhenti menjadi pengawal Kaisar"kata Liu Wen aura tubuhnya sangat gelap, suasana hatinya masih buruk akibat perkataan Rong Tian.
"Sudah saya bilangkan, adik saya sedang sakit"kata Kaisar dengan santai, ia melirik kearah lain berbohong memang keahliannya tetapi saat ini sepertinya sedikit saja gerak geriknya pasti terbaca oleh Liu Wen yang dalam suasana hati buruk.
"Sudahlah jangan berbohong lagi...."kata Liu Wen. ia menghentikan kudanya dan menatap tajam kearah Kaisar.
"Ap... apaa maksud an...anda?"tanya Kaisar, ia tersentak dan gemetar takut ketahuan Liu Wen.
"Aku bilang berhenti berbohong!!!"teriak Liu Wen nafasnya memburu ia benar benar marah.
"We..."0baru saja Kaisar ingin mengakuinya Liu Wen memotongnya.
"Kau... kau pasti pengemar beratku kan?"tanya Liu Wen, ia mengubah raut wajahnya.
"Apa?"Kaisar binggung harus menjawab apa dia kira rahasianya sudah terbongkar.
"Hahaha..... aku hanya ingin mencairkan suasana hatiku yang sedang buruk! Jangan dipikirkan! "seru Liu Wen dengan lantang, ia tertawa garing dan diam kembali.
"Apa anda sedang sedih?"tanya Kaisar, ia khawatir Liu Wen masih memikirkan perkataan Rong Tian tadi.
"Tidak! Apa hakmu menanyai suasana hatiku"kata Liu Wen dengan dingin, suasana hatinya berubah ubah dengan begitu cepat, Kaisar jadi binggung bagaimana menanggapinya.
"Maaf saya lancang"kata Kaisar, ia murung tak bisa menghibur Liu Wen melihat hal itu Liu Wen menghela nafasnya.
"Maaf beberapa bulan ini suasana hatiku mudah berubah ubah"kata Liu Wen, ia melampiaskan amarahnya kepada siapapun yang ditemuinya kalau sedang marah mungkin bawaan hamil pikirnya.
"Tidak masalah. Saya mengerti anda pasti memiliki masalah yang berat dan tak bisa dibagi dengan orang lain"kata Kaisar, ia tersenyum melihat Liu Wen dari belakang. Setidaknya melihat wajah Liu Wen membuatnya tenang dan tak khawatir lagi Liu Wen sudah seperti obat penenangnya.
*Semudah ini hatiku menjadi rapuh, hati yang sengajaku dinding baja dengan mudah dihancurkan olehnya sampai aku melakukan hal diluar batas hanya untuknya, apa ini yang namanya cinta?Apa aku pantas melakukan hal ini untuknya?-batin Kaisar, ia mengingat masa lalunya' seorang Pangeran yang terkenal dingin dan tak pernah bersikap manja serta tak bersahabat kepada siapapun' bisa menjadi gila hanya karena Liu Wen.
"Shi jika kau ingin menikah jangan pernah memiliki banyak Selir nanti istrimu sedih oke"kata Liu Wen sambil mengedipkan matanya.
*****
Esok hari
"Silakan menikmati jamuan hari ini, mohon doa kalian para Pangeran dan para Mentri untuk calon Pangeran atau Putri yang ada didalam kandungan Selir Tang"kata Pangeran Keempat, ia tak bisa menyebut keponakannya ini sebagai Pangeran Pertama atau Putri Pertana karena ia tahu kalau Pangeran Pertama atau Putri Pertama ada didalam kandungan Liu Wen.
"Pangeran.... apa benar Yang Mulia Kaisar tidak akan datang?"tanya Putra Mahkota Kekaisaran Liao.
"Iya itu benar Yang Mulia Kaisar Qin sedang ada urusan mendesak diperguruan Zixie. Tolong maafkan beliau dan juga maaf aku terlambat"kata Rong Tian memasuki aula Istana.
"Salam Putra Mahkota Rong, silakan anda duduk ditempat yang sudah disediakan"kata Pangeran Keempat, ia menunduk memberi hormat kepada Rong Tian.
"Tak perlu terlalu formal Kak Junxi, kau seniorku dalam hal pengobatan"bisik Rong Tian kepada Pangeran Keempat tempat duduk mereka berdekatan.
"Aku tak pernah memiliki junior sepayah dirimu"kata balas Pangeran Keempat dengan dingin.
"uhuk...uhukk... akanku anggap sebagai pujian"kata Rong Tian, ia tersedak mendengar hal itu, ya memang Rong Tian tak pernah serius mempelajari ilmu pengobatan ia hanya mencari alasan untuk keluar istana saja.
"Kau Putra Mahkota Kekaisaran Rong?"tanya Liao Yelu-Putra Mahkota Kekaisaran Liao.
"Hmm..."jawab Rong Tian dengan singkat.
"Tujuh belas"kata Rong Tian, dia malas meladeni pembicaraan membosankan begini. Mereka pasti ingin merendahkannya karena umurnya yang masih sangat muda.
"Wahh! Diusia muda anda sudah menjadi Putra Mahkota sungguh hebat"kata Selir Tang, ia bersikap seolah olah Permaisuri yang sedang menyambut para tamu padahal aturan Istana mengatakan bahwa Selir tak boleh angkat suara saat perjamuan berlangsung walaupun acara tersebut diperuntunkan untuknya hanya Permaisuri yang boleh menyambut para tamu.
"Tentu saja, aku anak dari Permaisuri, cepat atau lambat aku yang akan jadi Kaisar kecuali aku tak memenuhi syarat barulah kakak kakakku yang mengambil alih"kata Rong Tian menyindir Selir Tang dengan keras.
"Ya sepertinya begitu tetapi seorang Selir lebih baik daripada Permaisuri yang kabur dan mandul"kata Mentri Fu ia tak tahan melihat Selir Tang dipojokkan.
"Fu Yuanqu!! Ingat batasanmu sebagai seorang utusan Kekaisaran Tang jangan sampai Kekaisaran Tang memulai api perang dengan Kekaisaran Qin"kata seseorang dari luar.
"Woww.... bukankah itu Pangeran Ketujuh? Jendral Utama Kekaisaran Qin"kata para pelayan mereka merasa beruntung bisa melihat Pangeran Ketujuh yang terkenal tampan dan sangat susah ditemui itu.
"Yi'er"gumam Pangeran Keempat.
"Ahh... saya tak bermaksud memulai api tetapi yang saya katakan adalah fakta. Apa istana akan merahasiakan hal yang sudah diketahui seluruh Kekaisaran Qin bahkan Kekaisaraan tetangga"kata Mentri Fu penuh kemenangan, ia sengaja mengungkit permasalahan Liu Wen untuk menjatuhkan nama baik Liu Wen.
"Benar atau tidak! Itu hak Kekaisaran Qin! Ini Kekaisaran Qin menghina keluarga kerajaan akan dihukum mati, jadi jaga mulutmu itu"kata Qin Guan Yi-Pangeran Ketujuh, ia baru saja pulang dari medan perang karena daerah perbatasan saat ini dalam kondisi yang aman.
"Mohon maafkan saya"kata Mentri Fu, ia berlulut sambil menunduk bukan menyesal ia malah tertawa puas.
"Pangeran Ketujuh sangat gagah"
"Dia sangat tegas! Cocok jadi Kaisar"
"Aku tak tahu bagaimana dengan Kaisar Qin?! Apakah dia lebih tegas dari ini atau sangat lembek"
Kata kata mengejek Kaisar Qin membuat Mentri Fu senang.
"Pertunjukan akan segera dimulai, 3... 2... 1..."gumam Mentri Fu ia menghitung mundur dan menebak kejadian selanjutnya akan menarik.
"Qin Guan Yi!! Kau tidak menghormatiku lagi! Sekarang sedang ada perayaan Pangeran Pertama, kau ingin mengacaukannya"teriak Ibu suri, ia memukul meja karena tak tahan melihat Pangeran Ketujuh menunjukan wibawanya.
"Aku tak bermaksud merusak acara ini"kata Pangeran ketujuh, ia hanya selalu mengingat peraturan istana dan selalu menerapkannya dimanapun dan kepada siapapun.
"Lalu apa yang kau lakukan barusan! Dia utusan dari Kekaisaran Tang, seseorang dari kampung halaman Selir Tang yang sedang mengandung! Jika Selir Tang kaget dan bayinya cacat bagaimana!"kata Ibu suri, ia tak suka dengan semua Pangeran. Anak Selir suaminya yang dianggapnya sebagai serangga itu.
"Peraturan adalah peraturan. Anda juga tahu itu... jika Kaisar ada disini dia juga akan memikirkan hal yang sama"kata Pangeran Ketujuh menghela nafasnya.
"Dia benar, Permaisuri tak boleh sembarang dihinaa"kata Pangeran Kedua Kekaisaran Shang.
"Jika mereka bisa menginjak Permaisuri secara terang terangan begini. Sebuah penghinaan bagi seluruh Kekaisaran dataran Tiong karena tak menghargai aturan umum Kekaisaran"kata Pangeran kedua Kekaisaran Ming.
"Ibu suri tidak berpegang teguh pada aturan lagi kah?!"
"Sepertinya tak ada batasan di Kekaisaran Qin"
*Wanita itu sudah tidak ada lagi disini, kenapa! Kenapa!! Dia masih jadi pusat perhatian!-batin Selir Tang, ia tak suka para tamu membicarakan Liu Wen, seharusnya ia yang jadi pusat perhatian bukan Liu Wen.
"Selir ya selir jangan pernah mimpi jadi Permaisuri"kata Rong Tian acuh.
"Ckk! "Selir Tang mengigit bibirnya kesal, ia berpura pura pingsan untuk menarik perhatian para Pangeran.
"Heii Selir Tang, pingsan"teriak pelayan Selir Tang, membuat Pangeran Keempat bergegas datang memeriksa keadaan Selir Tang.
"Biar saya saja"kata tabib Wu yang langsung menepis tangan Pangeran Keempat tangannya gemetar takut bisa bisanya ia tanpa sadar berani memukul tangan Pangeran.
"Kenapa aku tak boleh memeriksanya aku juga mengerti ilmu pengobatan"tanya Pangeran Keempat, ia menaikan satu alisnya ada yang salah dengan tingkah tabib Wu ini.
"Itu.... Ibu suri yang menyuruh saya yang menangani kesehatan Selir"kata Tabib Wu, ia melirik sedikit kearah Mentri Fu untuk memastikan apa benar jawabannya itu.
"Baiklah jika begitu"kata Pangeran Keempat ia pergi menjauh menghampirii Pangeran Ketujuh.
*Jadi begitu... mmm... ini sungguh dugaan yang paling berbahaya yang pernah kupikirkan-batin Pangeran Keempat sepertinya dia mulai mengerti walau agak samar samar.