
"Kepala Pengawal!!! Anda mendapat surat balasan dari Joseon!"kata Yong, ia berlari masuk ke dalam ruangan Ri Won.
"Haahh... Haah! Saya kira anda tadi berada di kediaman Putri Yiwei! Jadi saya kesana dulu tetapi melihat pria lain yang bersama Tuan Putri! Saya yakin anda pasti di ruangan"kata Yong, ia duduk dan mengambil teko berisi air.
"Ya! Tuan Putri bersama Tuan Muda Feng, aku akan jadi nyamuk jika ada disana"kata Ri Won entah kenapa saat mengucapkan kata kata itu langsung dari mulutnya membuatnya kesal.
"Yang Mulia Ratu mengirim surat untuk anda! Kali ini Putri Mahkota Eunyeon juga mengirim surat untuk anda!"kata Yong membuat senyum terbit diwajahnya.
Putri Mahkota Eunyeon adalah pasangannya dan juga teman masa kecilnya, dulu mereka bermain bersama dan satu satunya wanita yang sangat disukai Ri Won sampai sekarang. Semenjak mereka berpisah Putri Mahkota Eunyeon hanya sesekali dalam satu tahun mengirimnya surat. Itu lah kenapa kedatangan surat Eunyeon membuatnya sangat bahagia.
"Aku ingin membaca surat Eunyeon!"kata Ri Won dia membuka asal surat itu dan membacanya dengan lambat.
'Salam Yang Mulia....
Apa kabar anda selama ini? Saya mengkhawatirkan anda, istana sangat sunyi tanpa kehadiran anda. Sudah 18 tahun anda meninggalkan saya seorang diri di istana. Akankah anda kembali ke sisi saya? Maaf kalau saya terlalu egois anda saja sangat berani pergi ke negri asing demi Joseon. Seharusnya saya bertahan dan menunggu anda tanpa mengeluh, maaf saya baru mengirim surat lagi, jaga diri anda baik baik.
Jang Eunyeon.
"Maafkan aku Eunyeon"gumam Ri Won, ia menitikan air matanya saat membaca surat dari istrinya itu, mereka telah dijodohkan dari lahir itu sebabnya Ri Won dan Eunyeon selalu bersama sampai berusia 8 tahun, setelah kejadian itu mereka harus berpisah entah bagaimana rupa Eunyeon sekarang. Apa hobinya? Kesukaannya? Sifatnya? Apa ada yang berubah darinya? Pertanyaan itu selalu membuatnya kacau.
"Yang Muli...."
"Jika anda merindukan Putri Mahkota, kenapa anda tidak meminta izin Kaisar terdahulu untuk kembali ke Joseon?"tanya Yong mengingat beberapa minggu yang lalu Kaisar terdahulu sangat ramah kepada Ri Won membuatnya memikirkan hal itu.
"Aku ini tawanan perang Yong, tidak mungkin mereka mengizinkan ku kembali. Lagi pula aku masih membenci tempat itu"jawab Ri Won, ia memang merindukan Eunyeon tetapi tempat itu bagaikan neraka bagi Ri Won, setelah apa yang ayahnya lakukan, tak ada lagi tempat baginya di Istana itu.
"Berikan surat Ibuku"kata Ri Won, ia membuka tangannya dengan cepat Yong menaruh surat itu ditangan Ri Won.
'Hormat saya kepada Putra Mahkota Ri Won, apa kabarmu sayang? Ibunda harap kau baik baik saja. Ibunda sudah mendapatkan balasan suratmu, kau menulis bahwa selama ini kau sangat dimanja Dinasti Qin? Ibunda kurang yakin tetapi jika benar Ibunda akan sangat senang. Kau harus mengabdikan dirimu kepada Dinasti Qin nak, Ibunda sudah mencari tahu kebenarannya. Kebakaran itu disebabkan oleh orang dalam Joseon dan Kaisar Ryuji! Kekaisaran Qin hanya membayar hutang budi mereka dengan Kaisar Ryuji, selebihnya mereka tak ikut campur! Ibunda juga tidak tahu kenapa kau dikirim ke Qin bukannya Kou. Ibunda mohon kau hati hati lah kepada pejabat istana kita saat sudah kembali kemari!'
"Ibunda tak pernah menulis surat sejelek ini, kertasnya juga sudah usang"gumam Ri Won, dia cukup teliti dalam melihat sesuatu, tak seperti surat Eunyeon, surat ibunya ini lebih terlihat seperti surat yang sudah lama di tulis.
"Hormat saya Kepala Pengawal"kata seorang prajurit, ia menunduk menghadap Ri Won.
"Ada apa?"tanya Ri Won, ia menaruh surat ibunya dimeja dan tersenyum melihat bawahannya itu.
"Ada surat dari Ratu Joseon untuk anda"kata Pengawal itu membuatnya tersentak.
"Apa? Berikan?!"kata Ri Won. Ia membuka surat itu dan membacanya.
*Kata kata yang sangat mirip dengan Ibunda bahkan kode rahasia bicara kami pun ada tapi ini kertas baru dengan tulis tangan rapi! Kenapa ada dua surat atas nama ibunda!-batin Ri Won, surat baru ini seperti yang biasa dikirim setiap bulannya tetapi kenapa tiba tiba surat usang ini datang dengan isi sebuah peringatan.
********
Joseon
"Apa suratnya sudah dikirim?"tanya seorang wanita dia menyisir rambutnya sambil memakai perona bibir walaupun sedang berada di altar seseorang.
"Ya, Yang Mulia Ratu. Pangeran Ri Won pasti sudah menerimanya"kata pelayannya itu, ia terus menyisir rambut wanita itu. Umurnya masih terbilang muda yaitu 35 tahun tetapi dirinya sudah menjadi ibu dari seorang putra yang berusia 19 tahun.
"Bagus! Dia tidak akan menyadari kalau ibunya sudah mati tujuh tahun yang lalu! Dengan begitu dia akan terus jadi mata mata deminya"kata Lim Hari, wajahnya tak terlalu cantik tetapi ia adalah selir kesayangan Raja tentu saja ia memakai ilmu hitam agar Raja Nam Wok mencintainya. Setelah Ratu Hyunseo mati, dirinya diangkat menjadi Ratu.
"Ratu Hyunseo..."
"Jangan salahkan saya kalau anda mati dengan mengenaskan seperti itu..."kata Lim Hari, ia menginjak lukisan wajah Ratu Hyunseo dengan kakinya.
"Hari ini hari kematiannya! Sepertinya aku harus berpura pura sedih lagi"Lim Hari mengambil perona bibir dan mengoleskannya dibawah mata, sekarang matanya terlihat bengkak seperti sehabis menangis.
"Jika kau tutup mulut tentu saja aku dan ayah tidak akan membunuhmu sekejam itu"dia mengingat hari paling membahagiakan itu, saat Ratu Hyunseo memohon keselamatan Raja dan putranya, bahkan rela bunuh diri agar Lim Hari mengampuni suami dan putranya.
7 tahun yang lalu
"Tae... menurutmu bagaimana kali ini aku harus menulis surat untuk Ri Won? Apa aku tanya bagaimana rupanya sekarang? Kan dia sudah dewasa!"kata Ratu Hyunseo hari sudah sangat larut tetapi dirinya masih sibuk memikirkan kalimat apa yang cocok untuk surat yang akan ia tulis.
"Yang Mulia Ratu..."
"Ini sudah sangat larut, sebaiknya anda beristirahat"kata Tae Bin, ia pelayan yang seumuran dengan putranya. Remaja perempuan itu lebih sering mengomeli Ibu negara itu karena sering begadang.
"Ah! Aku ingin jalan jalan!"kata Ratu Hyunseo, ia berlari keluar membawa kertas dan kuas ditangannya.
"Aku sangat rindu padamu anakku"gumam Ratu Hyunseo, ia menitikan air matanya saat melihat danau yang ada didepannya. Danau itu menyimpan banyak kenangan Ri Won, Raja dan dirinya.
"Silakan lewat sini"kata Penasehat Lim, ia membawa seorang pria berjubah masuk kedalam kediaman Ratu Hyunseo.
*Kenapa Panasehat Lim datang ke kediaman Ratu selarut ini!-batin Ratu Hyunseo dia bersembunyi dibalik pohon yang berada beberapa meter darinya.
"Yang Mulia Ratu pasti sudah tidur karena sudah malam"kata Penasehat Lim, ia membawa pria itu duduk di gazebo.
"Aku memang ingin melihat Hyunseo saat sedang tertidur tetapi malam ini sepertinya tidak dulu"kata pria itu, aksen bicaranya yang berbeda membuat Ratu Hyunseo tahu bahwa dia bukan dari Joseon.
"Terima kasih atas bantuannmu Penasehat Lim! Aku sangat berterima kasih, Hyunseo. wanita itu akan menjadi milikku"
"Sabarlah Yang Mulia Kaisar!"
"Anda harus mengikuti permainannya! Sebentar lagi Ratu pasti akan menjadi wanita malam anda"kata Lim Hari sambil tersenyum miring, ia berjalan mendekati pria itu lalu menuangkan anggur untuknya.
"Ya! Aku sudah membantu kalian mendapatkan kekuasan dan menyingkirkan anak itu! Sebaiknya tepati janji kalian"kata pria itu yang tak lain adalah Kaisar Ryuji.
*Jadi pria itu adalah Kaisar Ryuji! Pria yang aku tolak saat masih belajar di akademi! Dia menyuruhku menunggunya untuk menjadikanku istrinya tapi karena aku dijodohkan dengan Raja Nam Wok... aku tak pernah melihatnya lagi! Dasar pria gila aku kan sudah menolaknya! Dan aku juga sudah menikah kenapa dia masih mengejarku-batin Ratu Hyunseo, ia memegang kepalanya yang terasa pusing, kilasan ingatan itu membuatnya muak. Pria negri Kou itu tidak menyerah meskipun waktu itu dia menolaknya secara halus dan sudah menikah!! Ya walaupun tak ada cinta diantara Ratu dan Raja. Ri Won lahir hanya karena tugasnya sebagai Ratu. Selain itu, Ratu dan Raja menjalani hidup mereka masing masing.
"Aku tidak pernah jatuh cinta kepada siapa pun"gumam Ratu Hyunseo, ia jadi mengingat seluruh kejadian yang terjadi padanya, mulai dari kecil, kehidupan bahagia karena berasal dari keluarga kaya raya, dikaruniai paras yang rupawan membuatnya banyak dikejar oleh banyak pria, menjadi Ratu secara paksa, tidak mencintai atau dicintai oleh Raja.
"Cinta pertamaku mungkin Ri Won, selain ayah. Dia pria yang paling aku cintai" kata Ratu Hyunseo ia tertawa karena terbawa suasana, kalau bersangkutan dengan tugas sebagai seorang Ratu, dia tak pernah mengeluh selalu melaksanakan tugasnya dengan benar diranjang mau pun di singgasana.
"Apa anda sudah puas menguping"tanya Lim Hari, ia sekarang tepat berada didepan Ratu Hyunseo.
"Ka..kamu? Mereka?!"kata Ratu Hyunseo, ia menegok ke belakang tetapi tak ada siapa pun disana.
"Jadi anda sudah tahu apa yang terjadi ya"gumam Lim Hari, ia mengeluarkan belati dan hendak menikam Ratu Hyunseo.
"Sial! Kau ingin membunuhku?!"teriak Ratu Hyunseo, ia menghindar dan memukul Lim Hari.
"Pengawal!! Habisi Ratu Hyunseo sekarang!!"kata Lim Hari untung saja ayahnya sudah menyiapkan pembunuh bayaran ini jika tidak bagaimana dia bisa membunuh Ratu yang bisa bela diri seperti Ratu Hyunseo.
"Kau kira tikus ini bisa membunuhku!! Sejak aku berumur 5 tahun! Ratusan, orang ingin membunuhku karena status dan parasku ini jangan kau kira, aku selemah itu"kata Ratu Hyunseo sambil menyeringai, itu memang benar ayahnya adalah Jendral Tua Joseon. Dia selalu berkelahi setiap harinya dengan pembunuh jadi para pembunuh bayaran didepannya itu tidak ada apa apanya baginya.
"Cukup Yang Mulia"kata Penasehat Lim dia melihat Ratu Hyunseo menghabisi seluruh bawahannya dari jauh.
"Ohh... kau si tua! Bagaimana kau bisa memberiku penjelasan dari apa yang aku dengar"kata Ratu Hyunseo, ia berdecih saat melihat Penasehat Lim yang seperti penjilat baginya.
"Anda tidak ingin Yang Mulia dan Putra Mahkota mati secara mengenaskan? Iya kan?!"kata Penasehat Lim membuat Ratu Hyunseo tersentak, ia hendak memukul wajah penasehat Lim tetapi dokumen yang ada ditangan Penasehat Lim membuatnya berhenti melakukan hal itu.
"Saya bisa membunuh Yang Mulia kapan saja. Lagi pula Pangeran Woo Rin bisa saya ajari untuk membunuh dan membenci ayahnya dengan mudah! Dan mengambil alih tahta! Pangeran Ri Won?! Mungkin saya bisa membuat teman lama saja menyiksanya di Kekaisaran Qin"kata Penasehat Lim membuatnya lemah, Ri Won adalah putranya sedangkan Raja Nam Wok? Dia adalah suaminya walaupun tak ada cinta tetapi dia memiliki tanggung jawab untuk menjaga Raja itu.
"Woo Rin itu cucumu!"bentak Ratu Hyunseo bisa bisanya Penasehar Lim mengatakan hal itu.
"Cucu? Bagi saya dia hanya alat untuk menguasai tahta!"
"Ck! Apa yang kau mau"kata Ratu Hyunseo, ia menatap mata Penasehat Lim dengan tegas.
"Turunkan pandanganmu! Memohonlah padaku untuk keselamatan putra dan suamimu"kata Lim Hari, ia tersenyum puas saat baru masuk kemari dia harus berpura pura tersenyum dan bergaul dengan Ratu Hyunseo tetapi Ratu itu malah mengabaikannya dan menatap rendah dirinya.
"Aku memohon keselamatan putra dan suamiku..."
"Aku mohon lakukan apa saja padaku tetapi jangan sentuh mereka"kata Ratu Hyunseo, ia berlutut dan benar benar memohon kepada Lim Hari dan Penasehat Lim.
"Bunuh diri! Kau bunuh dirilah dikamar! Sayat urat nadimu satu per satu aku mau seluruh tubuhmu penuh dengan luka sayatan! Lakukan itu dikamar dan saat kau hampir mati, kau harus menusuk jantungmu di tengah halaman istana"kata Lim Hari, ia sangat kejam memikirkan hal itu.
"Heh?! Jelas sekali jalangg kecil ini ingin menjadi Ratu!"kata Ratu Hyunseo, ia menyingitkan alisnya.
"Tahan dirimu... dia juga akan mati"kata Penasehat Lim baru saja Lim Hari ingin beradu mulut dengan Ratu Hyunseo ayahnya itu menghentikannya.
"Oh! Tentu saja kalian harus tetap diam karena budak dan pelayan memang harus mematuhi majikannya"kata Ratu Hyunseo.
"Kau! Dasar jalangg gila! Cepatlah kau mati aku muak melihat wajahmu!"teriak Lim Hati suaranya yang lantang membuat para penjaga mulai bergerak kearah mereka.
"Dasar bodoh! Ini lah tujuan Ratu!"kata Penasehat Lim, ia menarik putrinya meninggalkan Ratu sendiri.
*Huh?! Kau juga akan mati! Menyayat diri sendiri hahaha... pasti akan lebih menderita lagi-batin Lim Hari, tanpa pikir panjang Ratu Hyunseo menyetujuinya. Dia kembali ke kamarnya menulis surat terakhir untuk putranya yang tak pernah diketahui Lim Hari dan ayahnya lalu mulai menyayat dirinya sendiri seluruh kamarnya penuh dengan darah tetapi ia tak kehilangan nyawanya saat fajar tiba ia dengan penuh darah berjalan ke halaman dengan beberapa pelayan disana menyaksikannya bunuh diri dengan menusuk jantung.
Tentu saja hal itu sangat mengemparkan seluruh istana mereka sangat terpukul kehilangan Ratu mereka tak banyak dari pejabat yang menyalahkan Ratu Hyunseo yang bunuh diri secara terang terangan di halaman istana.
*******
"Ibunda!"panggil Woo Rin, ia membungkuk memberi salam kepada ibunya.
"Hari ini Ibunda Ratu Hyunseo meninggal, saya mau memberi penghormatan"kata Woo Rin, ia adalah anak yang baik dan pintar, saat Ratu Hyunseo dulu sangat kehilangan Ri Won dialah yang selalu menghiburnya, nama Woo Rin pun diberikan oleh Ratu Hyunseo, mirip seperti nama putranya Ri Won- Wo Rin.
"Kenapa kau tidak bisa melupakan wanita yang sudah mati Woo Rin!"kata Lim Hari, ia mencengkam bahu Worin dengan kuat.
"Karena dia adalah Ibu pertama bagiku"jawab Woo Rin dengan dingin, ia selalu menganggap Ratu Hyunseo sebagai ibunya bukan tanpa alasan, orang yang membesarkannya selama ini adalah Ratu Hyunseo sedangkan ibu kandungnya, Lim Hari? Hanya sibuk dengan perjamuan istana membuatnya lupa kalau dirinya memiliki seorang putra yang berusia tiga bulan.
"Dari bayi sampai umurku sepuluh tahun Ibunda Hyunseo yang mengurusku"timpal Woo Rin, ia pergi ke altar yang berada dibelakang ibunya dan membakar dupa.
"Jangan lupa kau hanya penganti baginya! Penganti Ri Won! Putranya yang sekarang jadi tawanan perang!"mendengar hal itu membuatnya tersentak dadanya berdenyut, siapa sebenarnya Ri Won ini? Orang orang istana pun sering membandingkannya dengan Pangeran Ri Won yang katanya adalah kakak tertuanya itu.