I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Nyamuk Gunung?,



"Ekhem!!! Istanaa... Layaknya... Bunga.... Seseorang... Sedang... Jatuh cinta....."Eunyeon bersenandung melihat dua orang dibelakangnya sedang bermesraan didepan pintu kamar. Awalnya Eunyeon berniat tak ingin menganggu tetapi karena lelah menunggu selama 4 jam dibalik pintu, membuatnya kesal menunggu lama.


"E...Eunyeon?? Se..sedang apa disini?"tanya Ri Won, mereka sedang berbincang didepan kamar, karena terlalu fokus ia tak memperhatikan keadaan sekitar dan tak terasa hari sudah sangat gelap.


"Eunyeon! Sedang apa disini?"cibir Eunyeon, ia mengikuti gaya bicara Ri Won dengan mengubah suaranya membuat Anna hampir terkekeh geli.


"Tentu saja menunggumu! Dan kau! Kau bilang katanya mau menjemputnya sebentar! Kenapa tidak langsung masuk kekamar!"seru Eunyeon, ia menunjuk Anna yang menoleh kearah lain.


"Aku mau menghabiskan waktu dengan suamiku dan ternyata tiba tiba sudah malam"kata Anna sambil mengedikan bahunya.


"Bukan tiba tiba!"teriak Eunyeon, ia mengatur nafasnya dan mulai bicara. Kedua orang yang ada didepannya ini sepertinya sangat suka melihatnya naik darah.


"Huffff... (Oraboni...) Terima kasih... Aku bisa menjadi kuat dan sadar itu berkat dirimu"kata Eunyeon dengan tiba tiba ia memberi hormat kepada Ri Won dengan tulus berterima kasih padanya.


"Jika seperti ini. Kau mirip dirimu yang dulu.... Tidak! Kau memang tidak pernah berubah"kata Ri Won, ia mengelus kepala Eunyeon dan tersenyum hangat.


"Hmphh! Kau harus memaklumi aku! Aku kan masih kecil"kata Eunyeon, ia menjulurkan lidahnya dan menarik satu kelopak bawah matanya.


"Eh? Bukankah kita seumuran?"tanya Ri Won saat masuk istana Mentri Jang memperkenalkannya pada Ri Won dengan umur yang sama dengannya.


"Tidak! Umurku 4 tahun lebih muda darimu... Aku menyuruh ayah berbohong karena takut Putra Mahkota Joseon tak menyukai anak kecil sepertiku"seru Eunyeon dia tersenyum manis dan bergaya imut didepan Ri Won.


"Pantas saja kau dulu sekecil itu kukira saat masih kecil gizimu tak cukup. Makanya kau pendek"kata Ri Won, ia jadi mengingat kembali sosok Eunyeon saat pertama kali masuk Istana.


"Sialan bedebahh ini!"gumam Eunyeon, ia tersentak karena terkejut mendengar perkataan Ri Won yang menyebutnya kurang gizi saat masih kecil dulu.


"Hei! Kau mengumpat! Siapa yang mengajarimu hal seperti itu!"Seru Ri Won dia menyentil dahi Eunyeon.


"Istrimu yang mengajariku"kata Eunyeon dengan cepat. Ia menunjuk Anna yang masih duduk dibawah lantai.


"Kalau begitu baguss!"Ri Won tersenyum dan bertepuk tangan.


"Heeee.... Dasar suami takut istri"gumam Eunyeon dia menatap malas dua orang itu.


"Yahh! Baik sampai disini saja pembicaraan kita... Aku akan keluar istana sekarang"kata Eunyeon, ia menatap langit gelap dengan bulan purnama yang bersinar sebagai cahaya penerang dimalam hari, angin malam bertiup ia memejamkan matanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya.


"Ini udara terakhir yang kuambil. Selama ini aku dibesarkan di Istana, tidak kusangka setelah 20 tahun aku akan kembali kerumah orang tuaku"gumam Eunyeon miris sekali nasibnya. Awalnya ia masuk ke Istana karena tertarik dengan Ri Won lalu, tiba tiba Raja Nam Wok memerintahkannya masuk istana sebagai Putri Mahkota karena Ri Won memintanya tentu saja itu membuatnya bahagia tetapi tepat dihari ia akan masuk istana, kebakaran besar melanda Joseon membuatnya kehilangan sosok Ri Won yang menjadi tawanan perang.


Selama bertahun tahun ia sendiri dikamarnya tak boleh keluar atau bermain, kesepian. Itu yang ia rasakan, lalu Woo Rin lahir. Ratu Hyunseo mengajaknya merawat Woo Rin bersama saat Woo Rin sudah bisa berjalan dan berbicara ia selalu merasa menemaninya dan tanpa sadar timbul perasaan yang amat sangat dalam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Woo Rin tumbuh dewasa sampai sekarang.


Woo Rin yang sudah dewasa membuatnya kadang salah tingkah, ia pikir ia tahu segalanya tentang Woo Rin, namun nyatanya tak begitu, Woo Rin mencintai wanita lain.


"Apa maksudmu?"tanya Ri Won, ia mengerutkan alisnya melihat Eunyeon yang sangat bersedih membuatnya merasa ada yang tak beres.


"Apa!! Tidak mungkin! Woo Rin tak mungkin se...kejam itu kepada... ba.. "baru saja ingin membela adiknya itu ia jadi teringat dengan apa yang ia alami. Woo Rin bukan orang yang selama ini ada didalam pikirannya. Ia tak polos dan lugu. Sekarang dimatanya Woo Rin adalah orang kejam yang bisa membunuh siapa saja yang dianggapnya sebagai penganggu.


"Kau bahkan sudah berpikir dua kali untuk mempercayainya kan?"tanya Anna melihat reaksi Ri Won yang sepertinya sudah tahu wajah sebenarnya sang adik.


"Iya aku tahu... tapi bukan bearti aku tak percaya padanya"kata Ri Won membuat Anna menatapnya dengan serius.


"Dia tetap adikku kan? Aku marah atas apa yang dilakukan Woo Rin kepada Eunyeon... tetapi... bagiku Woo Rin hanya salah arah sebenarnya dia bukan orang yang seperti itu"lanjutnya, ia menepuk pundak Eunyeon.


"Jangan patah semangat aku yakin suatu hari nanti Woo Rin akan menyadarinya dan menyesal karena melakukan hal ini padamu"


"Itu benar...! Aku cantik begini! Dia pasti akan berlutut meminta maaf padaku"seru Eunyeon sebelum pergi dari kamar kediaman Anna.


"Padahal aku akan jadi paman jika bayi mereka masih ada"seru Ri Won ia murung dan sangat terpukul karena batal jadi paman.


"Kau sangat menginginkan keponakan?"tanya Anna, ia berdiri karena hari semakin dingin ia masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Ri Won.


"Yahhh... Sebenarnya aku suka dengan anak kecil... Ingin bermain dengannya mendengar tangisannya"


"Bukannya itu merepotkan ya"


"Memang merepotkan tapi... Kebahagian itu hanya akan didapat setelah kita melakukan hal yang merepotkan itu"kata Ri Won, ia menatap Anna dengan lembut.


*Aku ingin memiliki bayi secantik dirimu Yiwei-batin Ri Won dia jadi berpikir hal itu karena membicarakan tentang bayi.


*Aku pasti akan memberimu bayi... walaupun akan merepotkan-batin Anna, ia membalas tatapan Ri Won dan tersenyum manis.


"Ngomong ngomong? Apa kau tahu kenapa seluruh tubuhku ada bercak merah begini?"tanya Ri Won, ia membuka bajunya. Terlihat dadanya yang bidang serta otot otot perutnya yang berbentuk lalu... Banyak bercak merah dan bekas gigitan diseluruh tubuhnya.


"I..itu... mungkin digigit nyamuk! Kau kan ada digunung kemarin"kata Anna, ia sudah biasa melihat Ri Won setengah telanjang jadi ia tak akan terkejut lagi yang membuatnya salah tingkah adalah bekas gigitannya yang sangat banyak. Ia bahkan lupa berapa kali ia mengigit Ri Won untuk melampiaskan hasratnya.


"Nyamuk? Masa sih sebesar ini"gumam Ri Won bercak itu masih menjadi misteri baginya.


"Yah... Mu..mungkin ribuan nyamuk mengigitmu dan jadilah bercak merah ini"kata Anna dia tak tahu lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan Ri Won yang seperti mendesaknya itu.


"Ta..."baru saja Ri Won ingin menyangkal. Anna langsung menciumnya. Ini adalah cara ampuh yang dilakukan ibunya saat ayahnya tak mau berhenti bicara.


"Sudah.... Mandi sana!"kata Anna, ia langsung berbalik begitu mencium bibir Ri Won.


"Hmmm.... Aku baru mau mandi kalau Yiwei ku yang memandikanku"goda Ri Won, ia memeluk Anna dari belakang dan membisikan hal itu ditelinga Anna.