
"Tanggung jawab seperti apa yang kau inginkan? Menikahimu?" tanya Anna membuat wajah Ri Won merah, ia bahkan tak pernah memikirkan hal itu.
Selama ini pikirannya dipenuhi latihan fisik dan mental serta mencari akal untuk memberi informasi salah mengenai kekuatan militer Kekaisaran Qin, tidak lepas sebulan sekali ia mengirim surat rahasia ke Joseon demi Ibunya, tetapi isi surat itu? Semua hanya karangan Ri Won. Ia masih dendam kepada ayahnya, tidak ada sedikit pun dia berpikir untuk membantu Dinasti Joseon meski pun itu adalah tanah kelahirannya.
"Tidak mungkin Putri mau dengan pria cacat seperti saya kan? Lagi pula jika anda mengincar status saya sebagai Pangeran Joseon pun sepertinya hal itu tidak bisa diandalkan karena Kerajaan kecil itu tak bisa dibandingkan dengan Dinasti Qin" Ri Won memiringkan kepalanya tersenyum lembut sambil menatap Anna.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki motif tersembunyi? Aku Putri sulung Kekaisaran Qin, Kekaisaran terbesar diseluruh dataran Tiong, akan sangat menguntungkan jika kau berhasil memikatku"kata Anna sambil menyeringai, hari ini ia banyak bicara karena Ri Won membahas topik yang menarik, walaupun berkali kali dia menghina Ri Won, pria itu hanya membalas dengan senyum saja diwajahnya.
"Mungkin saja begitu, saya akan beruntung jika mendapatkan anda, Uang? Kekayaan? Kekuasaan? Saya akan mendapatkan semua itu" kata Ri Won walaupun sebenarnya bukan itu yang diinginkan Ri Won. ia tak ingin mengelak atau menyanggah kata kata Anna, memang sangat mustahil bagi seorang pria yang ingin menikahi Anna tanpa melihat tiga hal itu.
"...." Anna tersenyum miring.
"Sebaiknya saya memakai topeng ini" kata Ri Won, ia mengambil topeng yang menutupi bagian kening hingga dagu kirinya itu dari meja dan hendak memasangnya.
"Kau tampan tanpa topeng sekalipun" seru Anna dengan bersungguh sungguh membuat jantung Ri Won berdegub kencang, selama ini dia hanya merasa penasaran akan sosok Anna. Mulai dari rumor jelek tentangnya saat pertama kali datang ke istana sampai sifatnya yang terlihat arogan. Semakin lama ia mengobral dengannya semakin ia merasa kalau Anna sebenarnya adalah orang yang baik tetapi tak mengerti bagaimana cara menunjukkannya.
"Prffff!!"
"Saya tidak akan merasa kecewa jika anda bilang saya jelek"
******
"Hormat saya kepada Kaisar terdahulu..." kata Ri Won, ia menunduk hormat, ketika menaikan kepalanya wajah menyeramkan menyambutnya.
*Hiyyy....! Apa aku menyinggungnya? - batin Ri Won, ia menundukan kepalanya lagi saat tahu wajah menyeramkan Qin Xuan.
"Bangunlah Pangeran. Ini tidak baik bagi seorang Putra Mahkota Joseon menunduk terlalu lama padaku" kata Qin Xuan, ia menepuk meja berkaki pendek didepannya.
"Duduklah Pangeran!" kata Qin Xuan, tepukan meja itu sangat keras membuat Ri Won terkejut, jantungnya hampir copot karena hal itu.
"Aku dengar kau baru saja bertemu dengan Putri Yiwei?" tanya Qin Xuan tanpa ekspresi, ia menuangkan teh dicangkir Ri Won, jelas sekali aura mematikan ini datang karena seorang pria berusaha mendekati putrinya.
"Iya Yang Mulia.... saya berbicara beberapa kata dengan Tuan Putri..." jawab Ri Won wajahnya berseri seri, ia jadi malu sendiri saat mengingat perkataan manis Anna.
"Berapa kata yang dia keluarkan dari mulut indahnya itu?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Apa dia memukulmu?"
"Apa dia tersenyum padamu?"
"Apa... Apa... Apa..." Ri Won hanya mendengar kata 'apa' kepalanya jadi pusing karena Qin Xuan melontarkan banyak pertanyaan.
"Jadi ini yang dirasakan orang lain saat aku banyak berbicara" gumamnya ia jadi ingat kata kata orang lain mengenai dirinya yang suka bicara.
Plakk
Qin Xuan memukul meja dengan keras karena Ri Won malah terdiam saat ia menanyainya.
Ughh
"Apa jawabanmu!"
"Kami hanya membicarakan tentang luka saya, saya memakai topeng karena luka bakar akibat kebakaran beberapa tahun lalu di Joseon"
"Saya tidak menyangka Tuan Putri tertarik"
"Huhh?! Begitu..." kata Qin Xuan jelas sekali di wajahnya tertulis tidak percaya, sungguh ayah yang sangat perhatian dengan putrinya.
"I ...iya... Yang Mulia..." jawab Ri Won diinterogasi begini membuatnya tegang.
"Apa kau tidak merasa sedikit sakit hati? Dibawa kemari sebagai tawanan perang?" tanya Qin Xuan, ia sedikit serius kali ini, wajah Ri Won yang tadinya tersenyum lama lama hilang, lagi lagi kilasan masa lalunya muncul membuatnya mengepalkan tangan, matanya pun membesar karena menahan rasa marah.
"Wajahmu berkata tidak. Aku juga yakin kau juga dendam kepada Kekaisaran Qin" lagi lagi kata kata Qin Xuan membangkitkan kenangan masa lalu. Ia ingat bagaimana dulu dirinya diperlakukan, layaknya hewan. Saat itu masa kepemimpinan Qin Xuan, peraturan kerajaan dibuat oleh Ibu Suri dan masalah internal mengguncang Kekaisaran Qin, jadi ia tak terlalu memperhatikan Pangeran Joseon ini.
"Dendammu itu tidak ada salahnya..."
"Jika aku jadi dirimu mungkin aku akan merasakan dendam itu bahkan akan membalas dendam sekarang"
"Jadi jika suatu saat kau melakukan apapun kepada Kekaisaran Qin aku tak akan menghukummu..."
"Karena semua ini adalah salahku yang tak memperhatikannya dengan serius" Qin Xuan menundukan kepalanya, ia meminta maaf secara resmi kepada Ri Won sedangkan Ri Won, dia hanya diam saja tak bisa berkata kata. Ia memang sudah membuat rencana balas dendam kepada Kekaisaran Qin dan Joseon tetapi masih banyak dilema dihatinya.
"Tapi jangan menyentuh putriku! Yiwei tidak bersalah dalam hal ini"baru saja dia ingin menyentuh tangan Qin Xuan namun berhenti saat Qin Xuan menyebut nama Anna sekarang dia mengerti kenapa Qin Xuan mengajaknya bicara. Kaisar terdahulu itu takut kalau dirinya akan melukai Anna demi balas dendam.
"Anda tidak perlu khawatir..."
"Saya tak akan melakukan hal itu, kalau soal balas dendam..."
"Entahlah? Amarah di dalam diri saya lama lama memudar karena putri anda" seru Ri Won wajahnya kembali berseri seri sedangkan Qin Xuan, wajahnya berubah lagi menjadi galak.
"Kekaisaran Qin adalah rumah bagi saja, sejak ke pemimpinan putra anda, Kaisar Qin Yizhan, para tawanan dan rakyat jelata mendapatkan pendidikan yang layak. Disini saya tak memiliki identitas apapun tetapi melihat anak anak pelayan dan budak mendapat pendidikan yang merata membuat hati saya hangat"
"Aku juga bangga padanya! Kelak jika kau menjadi Kaisar di Joseon! Contohlah putraku"kata Qin Xuan ia sangat bangga sampai Ri Won bisa melihat sinar dibelakang Qin Xuan.
*Sepertinya dia tipe ayah yang sangat sayang dengan anaknya-batin Ri Won, melihat Qin Xuan yang sangat bangga akan anak anaknya membuatnya menikmati pembicaraan ini dia juga merasa kalau Qin Xuan adalah ayahnya sendiri.
"Iya ayahanda"kata Ri Won tanpa sengaja.
"Siapa ayahandamu"kata Qin Xuan mengerutkan alisnya.
"Hahahaaha"tawa Ri Won melihat Ri Won tertawa membuat sang Kaisar terdahulu itu ikut tertawa.
"Asik sekali mereka"bisik Liu Wen, ia memegang banyak kue ditanganya.
"Eh pria itu kan yang kemarin"kata Keyzee, ia juga ikut makan kue yang berada ditangan ibunya.
"Siapa? Dia?" tanya Liu Wen, pria bertopeng? Ia tak pernah melihatnya.
"Kepala pengawal Ri Won"kata Anna dari belakang membuat kedua ibu dan anak itu terkejut.
"Ashsyhhhh!! Anna...." bisik Liu Wen, jantungnya hampir saja copot karena hal itu. Ia pergi menemui ayahnya dan Ri Won.
"Eh mau kemana anak itu" gumam Liu Wen, ia dan Keyzee tak mengikutinya karena hanya ingin menjadi penonton setia balik batu.
"Hormat saya ayahanda...." seru Anna, ia bersujud didepan Qin Xuan.
"Bangunlah sayang... ada apa" tanya Qin Xuan dia menatap hangat putrinya itu.
"Izinkan saya berkenalan dengan beberapa pemuda bangsawan..." pinta Anna membuat Qin Xuan yang asik meminum teh menyemburkannya lagi.
"Uhuk uhuk....!"
"Un...untuk apa Yiwei! Apa papimu ini tidak cukup?!" regek Qin Xuan, ia sudah tua tetapi perilakunya seperti bocah berusia 5 tahun.
"Papi kalian memalukan" hujat Liu Wen.
"Pria memalukan itu suamimu mami" gumam Keyzee, ia mendelik.
"Umur saya sudah cukup tua, rumor buruk mengenai saya sudah banyak, sepertinya saya harus cepat menikah"
"Hei!! Apa yang kau lakukan kepada putriku"
"Apa kau membuatnya hilang akal sampai mau menikah sekarang!" bisik Qin Xuan, ia merangkul leher Ri Won dengan kuat. Wajah Ri Won pucat bukan karena Qin Xuan tetapi karena kata kata Anna yang mendadak ingin menikah.