
"I..ini... Itu... An..anu... "saat Anna melepaskan ciumannya, Ri Won menjadi seperti orang linglung baru pertama kalinya dalam hidup ia dicium oleh seorang wanita.
"Pfttt... Jangan bilang ini yang pertama kalinya untukmu"kata Anna, ia tertawa melihat tingkah Ri Won yang seperti robot.
"Mmmm..."Ri Won mengangguk menandakan apa yang dikatakan Anna memang benar adanya.
"Apa Putri sering mendapat ciuman seperti ini"gumam Ri Won, melihat Anna tak malu dan salah tingkah membuatnya berpikir kalau ini bukan ciuman pertamanya
"Hmm... Memang bukan yang pertama kalinya"kata Anna, ia mengangguk.
"A..apa? Siapa yang pertama?!"tanya Ri Won, ia sangat penasaran siapa yang pertama kali mencium Anna.
"Kai Tuo"seru Anna mereka berjalan mengelilingi Istana, sudah lama tak melihat istana ini bagi Ri Won semua sudut istana memiliki kenangan tersendiri.
"Pangeran Kai Tuo? Haaaa... Saya kira seorang pria"kata Ri Won, ia menghela nafas lega membayangkan pria lain bersama Anna membuatnya takut entah kenapa? Mungkin karena ia baru saja diselingkuhi oleh Eunyeon.
"Suatu saat pasti ada... Ayahanda mulai berhati hati mencari calon suami untukku"
"Iya itu benar... Kalau begitu apa calon suami Putri tidak salah paham dengan hubungan kita?"tanya Ri Won, ia tersenyum sekilas lalu murung kembali.
"Tidak akan karena aku sudah memutuskan kalau kau yang akan menjadi suamiku"kata Anna, ia menunjuk Ri Won wajahnya sangat serius membuat Ri Won tak bisa tertawa dan menganggapnya sebagai lelucon.
"Ta..."baru saja ingin menyangkal Anna memotongnya.
"Tenang saja ini hanya pernikahan kontrak...! Satu tahun. Dalam satu tahun kau akan menjadi suamiku agar Ayahanda tak mendapat tekanan dari pejabat lagi dan aku bisa menjadi istrimu dengan latar keluargaku, aku bisa mengamankan status Pangeran Joseon milikmu. Ini akan saling menguntungkan?"jelas Anna, kali ini Ri Won tertawa ternyata itu alasannya.
*Dia tidak mencintaimu Ri Won! Sadarlah-batin Ri Won karena baru saja diselingkuhi hatinya berdenyut sakit tetapi ada yang aneh jika benar karena itu kenapa saat Eunyeon dan Woo Rin bersama dia tak merasakan apa apa? Hanya kecewa saja, hatinya tak sakit sedikit pun? Kenapa? Apa perasaannya untuk Eunyeon itu bukan cinta? Ia bertanya tanya perasaan apa yang ia miliki untuk Anna dan Eunyeon itu.
"Ke...kenapa kau tertawa?"tanya Anna sepertinya tak ada yang salah dengan kata katanya.
"Baiklah Putri. Saya akan memanfaatkan anda sepenuhnya"kata Ri Won raut wajahnya sangat serius.
"Tentu aku akan melakukan hal yang sama... Langkah pertama yang harus kau ambil adalah... Jangan menggunakan kata formal. Panggil aku Yiwei"kata Anna dia tersenyum manis dengan suara yang mengoda membuat Ri Won mengangguk cepat.
"Lalu yang kedua?"tanya Ri Won, Anna memberi kode untuk mendekat dan membisikan sesuatu.
*******
Pranggg
Seluruh kamar nampak sangat berantakan Woo Rin menghancurkan apa saja yang dilihatnya.
"Kenapa Ri Won kembali lagi kesini! Bukankah kakek bilang Ri Won akan membusuk di Kekaisaran Qin!"kata Woo Rin awalnya dia sangat ingin bertemu Ri Won saat Ratu Hyunseo menceritakan tentangnya namun saat Ibunya sering menyebutnya sebagai penganti Ri Won muncul benih benci didalam hatinya.
"Kau lihat siapa yang bersamanya? Mungkin dia berhasil menaklukan hati Putri Yiwei"kata Penasehat Lim ada rasa kesal bercampur senang, senangnya karena Woo Rin membenci Ri Won sepenuhnya, kesalnya adalah saat Ri Won berhasil mendapatkan dukungan Kekaisaran terkuat di dataran Tiong itu.
"Aku mau dia! Aku mencintai Putri Yiwei!! Kakek bantu aku mendapatkan Putri Yiwei!"kata Woo Rin sosok yang sangat berbeda dari gadis mana pun dia ingin mendapatkan Anna bagaimana pun caranya.
"Bagaimana dengan istrimu"kata pensehat Lim, kemarin Woo Rin sangat mengilaii Eunyeon dan sekarang Anna, jelas sekali Woo Rin hanya menginginkan sesuatu milik kakaknya.
"Istri?! Hmph...! Dia hanya pionku sedangkan Putri Yiwei! Dia adalah wanita yang kuinginkan!"kata Woo Rin, melihat Eunyeon saja sudah membuatnya muak apa lagi bersamanya itu tidak mungkin.
"Baiklah kakek akan membantumu. Apa pun yang cucuku mau akan kuberikan"kata Penasehat Lim, ia berjalan mendekati Woo Rin dan menepuk lembut pipinya.
"Yang Mulia Pangeran... Raja menyuruh anda dan Putri Jang menghadiri pesta perayaan di aula nanti sore"kata seorang dayang.
"Baiklah terima kasih sudah memberitahuku"dengan cepat Woo Rin mengubah raut wajahnya dan tersenyum kearah pelayan itu.
*Dia bermuka dua sama seperti ibunya. Dulu saat ratu Hyunseo masih hidup dia bahkan tak bisa berbohong-batin Penasehat Lim mungkin saat melihat Woo Rin yang sekarang dia merasa kalau Woo Rin benar benar cucunya. Penuh dengan tipu muslihat.
"Bersikaplah biasa dan sapa kakakmu. Kau harus membangun citra yang sangat baik sampai orang lain tak bisa mengeluh dengan kemampuan dan kebijakanmu..."kata Penasehat Lim, ia menyakinkan cucunya itu. Dengan membangun citra yang sempurna orang orang tak akan meragukan atau mengkritiknya.
"Sampai pemilihan Putra Mahkota kau harus melakukannya... dan jika semua itu sudah tercapai kita akan menyingkirkan sang Raja"kata Penasehat Lim kata katanya membuat Woo Rin mundur karena terkejut.
"Me..membunuh? Ka..kakek ingin membunuh Ayahanda?"tanya Woo Rin wajahnya pucat, tak terbesit sedikit pun untuk membunuh orang dia juga tak bisa mengunakan pedang. Melihat Ri Won dari badan pun sudah terlihat kalau Ri Won adalah orang yang sangat kuat.
"Ada apa? Apa kau takut? Ibumu sebagai seorang wanita saja bisa membunuh siapa saja yang dia mau. Kenapa kau tidak bisa?"kata penasehat Lim, itu memang benar! audah banyak wanita yang dibunuh Lim Hari karena berani mendekati Raja Nam Wok hanya karena takut posisinya terancam.
"Woo Rin.... Jika kau ingin mendapatkan apa yang kau mau. Kau harus menjadi seorang Raja..."bisik Penasehat Lim, ia mempengaruhi Woo Rin agar mau setuju dengan rencananya.
"Raja Nam Wok tidak mungkin memilihmu... Dia hanya mencintai Pangeran Ri Won sebagai anaknya"sambung Penasehat Lim.
"Jika kau masih takut nanti malam ikut kakek. Kau harus belajar membunuh manusia... Kasim di istana akan terhormat jika bisa mati ditanganmu"kata Pensehat Lim dengan penuh penekanan ia pergi dari sana dan membiarkan Woo Rin berpikir sendiri.
*Membunuh....?! Me..membunuh dan itu ayahku sendiri? Ibunda Hyunseon bilang membunuh itu dosa-batin Woo Rin, ia jadi ingat apa yang dikatakan Ratu Hyunseo.
*Kau hanya penganti anaknya! Itulah kenapa namamu sama seperti anaknya!-lagi lagi teriakan ibunya membuatnya semakin nekad untuk melawan Ri Won kakaknya sendiri.
"Maafkan aku ayahanda! Jika anda menyayangiku walau hanya sedikit saja! Aku tidak mungkin membunuhmu"kata Woo Rin, ia mencengkam pecahan cangkir teh itu untuk mengurangi rasa kesal dihatinya.