
"Ini melelahkan...."kata Qin Jianwe, ia menyekah keringatnya yang bercucuran deras, sudah dua jam ia berjalan keluar dari hutan itu walaupun bertemu banyak orang tak ada satupun yang mau menolongnya karena penampilannya yang terlihat sedikit lusuh.
"Perlu bantuan?"tanya Liu Beiyi yang tak sengaja melihat Qin Jianwe, wajah pucatnya itu sangat menganggunya.
"Ahh! Tidak apa, aku bisa jalan sendiri"jawab Qin Jianwe dengan lembut, ia mengibas tangannya tanda menolak ajakan Liu Beiyi.
"Terserah"kata Liu Beiyi, ia melanjutkan perjalanannya saat mendengar suara jatuh dari belakang ia langsung turun dari kudanya.
"Naiklah Pangeran, anda sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk berjalan"kata Liu Beiyi, ia menyodorkan tangannya kedepan Qin Jianwe.
"Kau tahu siapa aku?"tanya Qin Jianwe, ia menunjuk dirinya sendiri.
"Hmm, anda selalu berlatih pedang sebelum matahari terbit di istana"jawab Liu Beiyi saat ikut ayahnya ke istana, ia beberapa kali melihat Qin Jianwe berlatih pedang sendiri.
"Aku sungguh payah"gumam Qin Jianwe, ia menyambut tangan Liu Beiyi dan menaiki kuda bersama.
"Mari saya antar ke istana, anda sudah berusaha keras hari ini, patut diberi pujian"kata Liu Beiyi kata kata manisnya itu tak mencerminkan wajahnya membuat Qin Jianwe terkekeh.
*******
Kadang Kuda Istana
"Salam Selir Agung! Pangeran Pertama telah meninggal kami melihatnya sendiri harimau menerkamnya"kata salah seorang prajurit dengan bangganya.
"Mana mayatnya!"tanya Selir Chu dengan ketus, harus ada bukti agar semua orang mempercayainya.
"Maaf Yang Mulia Selir! Harimau memakannya habis tak tersisa!"kata prajurit itu dengan tegas membuat Selir Chu mempercayainya.
*Ck! Kalau begini akan sulit tapi tak masalah asalkan dia mati! -batin Selir Chu.
"Hahh! Bagus! Ini tambahan uang untuk kalian"kata Selir Chu, hatinya sangat berbunga bunga sekarang saingan putrinya sudah hilang sekarang.
"Akhirnya bajingann kecil itu mati!! Hahaha... Jianwe putra jalangg Tang itu mati!? Hahaha... Tang Sui! Apa kau lihat dari sana! Aku sudah menghabisi putramu itu..."teriak Selir Chu sambil menatap langit.
"Sangat tersiksa aku saat tak menyiksaanya selama enam tahun ini! Untung saja putramu itu bodoh menganggapku benar benar menyayanginya"kata Selir Chu, ia pergi dari sana sambil tertawa seakan akan penantiannya selama ini sudah tercapai.
"Pangeran, apa yang akan anda lakukan?"tanya Liu Beiyi mereka tadinya hendak menaruh kuda dikandang tetapi diurungkan saat mendengar Selir Chu berbincang dengan prajurit yang mengawalnya.
"Aku tidak tahu"kata Qin Jianwe, ia meringkuk dan menangis.
"Apa salahku, hiks... hiks... hiks..."isak tangis Qin Jianwe, dia tak tahu ada dendam apa diantara ibunya dan Selir Chu sehingga ia sangat membencinya.
"Ibunda Selir masih membenciku"
"Kukira pemikiranku tadi salah, ternyata harapan itu hanya harapan kosong! Selama ini dia masih membenciku! Apa yang harus aku lakukan"katanya ia menutup wajahnya yang sekarang sedang menangis.
"Apa anda akan seperti ini terus. Meringkuk didepan kandang kuda?"tanya Liu Beiyi, ia ingin sekali pergi tetapi merasa kasihan kepada Qin Jianwe yang sendirian disini.
"Ikut saya saja ke Kediaman Perdana Mentri Liu disana lebih tenang, mereka juga tak tahu siapa anda kecuali kakek saya"lanjut Liu Beiyi untuk pertama kalinya selain ketiga sahabatnya ia mengajak seseorang pulang kerumah.
"Ayo ikut saja"karena tak ada jawaban dari Qin Jianwe, Liu Beiyi menarik tangannya untuk naik keatas kuda dan pergi kekediaman Perdana Mentri Liu.
*******
Kediaman Perdana Mentri Liu
"A Ge kenapa diluar sangat ribut? Aku tak bisa santai menikmati teh"tanya Liu Whojin ini waktunya istirahat awalnya ia ingin bermain dengan cucunya tetapi saat mendengar kabar bahwa cucunya itu ikut kontes berburu membuatnya kecewa.
"Biar saya periksa"kata A Ge, ia segera menuju gerbang utama.
"Suamiku, ada apa didepan kediaman? Kenapa sangat ramai?"tanya Liu Yiren, ia mendengar suara gaduh dari depan gerbang kediamannya.
"Iya ayah, aku dan ibu jadi sedikit terganggu"seru Meng setelah Liu Wen menghilang ia menjadi Nona Yu yang mengurus segala bisnis Liu Wen lalu tak lama Liu Yichen memberanikan diri melamar Meng.
"Entahlah, aku baru saja menyuruh A Ge memeriksanya"kata Liu Whojin baru saja ingin menyeruput tehnya A Ge memanggilnya sambil berteriak keras.
"Tuan!! Nyonya!!"teriak A Ge, ia berlari dengan cepat wajahnya terlihat sangat panik.
"Ada apa A Ge? Apa sesuatu yang berbahaya?"tanya Liu Whojin, ia langsung berdiri tegak.
"Ya ayah, aku sangat berbahaya untuk kesehatanmu"kata Liu Wen, ia masuk begitu saja saat A Ge begitu terkejut melihat dirinya.
"We..wenn??!"kata Liu Whojin, ia sangat kaget melihat putrinya itu kembali.
"Wen'er"kata Liu Yiren, ia berlari dan memeluk erat Liu Wen.
"Ibu sangat merindukanmu"kata Liu Yiren, ia mencium setiap sudut wajah Liu Wen.
"Ayah juga"kata Liu Whojin, ia memeluk Liu Wen dan istrinya sekaligus.
"Owhh... apa kami akan menjadi pajangan disini"kata Keyzee, ia mengetuk ngetuk kakinya.
"Eh? Siapa kau?"tanya Liu Whojin, ia melihat lima remaja mengikuti Liu Wen dari belakang.
"Cu..cucuku? Apa benar?"tanya Liu Whojin dengan penuh harapan.
"Hmm..."kata Liu Wen sambil mengangguk membuat wajah Liu Whojin berseri seri.
"Mereka juga"tunjuk Liu Wen kepada tiga anak laki lakinya.
"Mirip Kaisar"kata Liu Whojin, ia mencubit pipi Aiden dengan keras karena sangat bahagia.
"Aiyaa!"ringis Aiden, kenapa pipinya dicubit sekeras ini seakan akan kakeknya ini ingin merobek pipinya.
"Ayah kau menyakiti putraku!"kata Liu Wen ia mencubit lengan ayahnya.
"Tapi bagaimana ini maksudnya? Siapa anakmu yang sebenarnya Wen'er?"tanya Liu Yiren ia sedikit binggung jika kembar pasti Anna dan Keyzee saja kan.
"Mereka semua anakku, aku melahirkan anak kembar lima"kata Liu Wen membuat mereka tercengang.
"Kembar lima!"kata mereka dengan serempak.
"Maaf ayah cuma lima yang bisa dibuat Kaisar itu"bisik Liu Wen membuat Liu Whojin berdehem.
"Ya, dia itu lemah tak cocok untukmu"bisik Liu Whojin membuat Liu Wen terkekeh.
"Putri..."lirih Meng, ia sangat bahagia melihat Liu Wen.
"Aiyaa! Aku kakak iparmu sekarang, aku dengar kau sudah menikah dengan Yichen si bedebahh itu! Kenapa panggil aku seperti itu"kata Liu Wen, ia mendengar dari para pelayan yang didepan gerbang tadi karena sangat merindukan Meng ia langsung memeluknya dengan erat.
"Maaf aku membuatmu susah"bisik Liu Wen selama hampir 12 tahun, ia menghilang mungkin Meng yang paling dirugikan karena harus mengurus usahanya.
"Tidak apa itu sudah kewajiban saya"balas Meng lagi pula berkat hal itu ia tak dipandang rendah sebagai pelayan dan cocok bersanding dengan Liu Yichen.
"Ahhh!! Aku punya cucu perempuan"kata Liu Whojin, ia mengitari Keyzee beberapa kali.
"Ayo ikut kakek"kata Liu Whojin, ia mengibaskan tangannya agar Keyzee mendekat.
"Kakek beri aku makanan yang enak! Oke! Aku lapar"kata Keyzee sambil tersenyum lebar sedangkan Anna memilih duduk dibangku karena kakinya sakit.
"Tunggu siapa nama kalian?"tanya Liu Whojin, ia sampai lupa menanyakan hal itu.
"Saya Qin Yizhan"kata Aiden dengan sopan ia sedikit membungkuk karena termasuk bagian dari tata krama.
"Aku Ja, maksudku Qin Yibo"kata Jake hampir keceplosan, ia menyebut nama aslinya.
"Qin Yiwei"kata Anna tanpa melihat kearah kakeknya.
"Hallo, namaku Qin Yiwu kakek..."kata Ellson dengan ramah.
"Remaja cantik ini tentu saja memiliki nama yang cantik juga... Qin Yifei"kata Keyzee sambil berpose imut.
"Nama yang sangat indah tapi kenapa marga Qin itu masih melekat kepada kalian"kata Liu Whojin ia mengerutkan dahinya.
"Eh? Tapi... bukannya kamu mandul Wen'er?"tanya Liu Whojin, ia teringat akan rumor putrinya itu.
"Haaaa... itu semua hanya kesalahpahaman. Aku punya bukti kalau mereka benar anak anakku"seru Liu Wen, ia menghela nafasnya.
"Huh? Bagaimana mungkin mami mandul? Setiap tahun ada pemeriksaan kesehatan di keluarga kita dan mami sangat sehat"bisik Jake kepada Ellson.
"Itu memang mustahil, video kelahiran kita selalu ditonton bersama mami saat kita berulang tahun..."kata Ellson mereka selalu menonton bersama setiap malam proses kelahiran mereka.
"Lagipula wajah sudah mendukung"timpal Jake dengan percaya dirinya.
"Ibu! Aku membawa seorang tamu, kenapa disini sangat ramai?"seru Liu Beiyi, ia baru saja masuk ke halaman dan melihat keluarganya berkumpul didepan kamar neneknya.
"Beiyi? Sapalah bibimu"seru Meng saat melihat putranya kembali, ia tersenyum dan menyuruhnya menyapa Liu Wen.
"Bibi? Apa Bibi Permaisuri sudah kembali?"tanya Liu Beiyi membuat Qin Jianwe tersentak.
*Jadi wanita itu Ibunda Permaisuri-batin Qin Jianwe, wajah wanita yang sudah menyelamatkannya tadi tentu saja ia masih mengingatnya.
Liu Wen saat berbalik ia melihat sosok anak yang ia tolong dihutan tadi. "Ehh? Kau...?"
"Jadi kamu Beiyi?! Imutnya"seru Liu Wen, ia mengelus pucuk kepala Qin Jianwe.
"Sebenarnya aku yang....."
"Beiyi bibi"kata Liu Beiyi dengan dingin.
"Hah? Ohh salah ya, hahaha.... hallo Beiyi"kata Liu Wen, ia memegang pipi Liu Beiyi.
*Jiplakkan bapaknya banget-batin Liu Wen, ia jadi teringat adiknya yang sudah lama tak ditemuinya.