
Kediaman Perdana Mentri Liu
"Bagaimana keadaanmu diistana? Apa kau pernah merasa bosan? Bagaimana hubunganmu dengan Yang Mulia? Apa disana banyak orang yang menyulitkanmu? Ibu dengar dari ayah kemarin kau dituduh oleh Selir Agung?"tanya Liu Yiren betubi tubi kepada putri semata wayangnya, ia khawatir sampai tak berhenti bertanya.
"Ibu.... pelan pelan! Akan kujawab satu satu!"kata Liu Wen ia memeluk ibunya dengan erat, gemas sekali melihat ibunya tak henti hentinya bertanya dengan raut wajah yang sangat penasaran.
"Ah! Maaf ibu sangat rindu denganmu.... ibu mau melepas rasa rindu itu sekarang"seru Liu Yiren, ia menutup mulutnya lalu tersenyum dan membalas pelukan putrinya dengan erat.
"Aku baik baik saja, aku tak pernah merasa bosan karena aku punya mainan (gigoloo), hubungan kami baik baik saja dia sudahku anggap teman, ya soal kemari... ibu tanyalah ayah! Aku bisa menyelesaikannya dengan baik"kata Liu Wen nafasnya tersengal karena tak henti hentinya berbicara menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Syukurlah.... ibu lega mendengarnya"kata Liu Yiren, ia menghela nafasnya dan mencium kening putrinya.
"Kau masih menyimpannya?"tanya Liu Yichen dengan datar.
"Tentu saja! Aku membelinya dengan harga mahal"kata Liu Wen memeletkan lidahnya, ia tahu maksud dari pertanyaan adiknya itu.
"Hm! Wen'er benar. Kau harus menjaga barangmu dengan baik! Apa lagi barang dengan harga yang mahal, semua yang kita beli dari uang dan uang sangat sulit dicari itu sebabnya kita harus menjaganya dengan benar"kata Liu Yiren membela putrinya, ia tak berpikir kalau barang yang dimaksud adalah gigoloo.
"Cih! Jika ibu tahu kalau yang dibeli kakak itu gigoloo aku bertaruh kakak akan dimarahi tujuh hari tujuh malam"gumam Liu Yichen memalingkan wajahnya.
"Ibu aku ingin makan bebek panggang buatan ibu"kata Liu Wen ia merengek layaknya anak kecil sambil mengayunkan tangan ibunya kesana kemari.
"Eh? baiklah..."kata Liu Yiren untuk pertama kalinya Liu Wen bertingkah manja kepadanya.
"Melihatmu begini jadi teringat saat ibu kalian sedang mengandung! Dia juga sangat manja"seru Liu Whojin sambil tertawa ringan, seketika ia tersadar sehingga mendapat tatapan tajam dari istri dan anak laki lakinya.
"Maaf ayah. Aku bertingkah begini hanya ingin saja. Aku tak mungkin bisa mengandung karena aku mandul"kata Liu Wen, ia menundukan kepalanya merasa bersalah kepada ayahnya yang sangat menantikan seorang cucu.
*Hehehe.... walaupun aku agak sedih karena tak bisa punya anak tapi aku lebih suka tak punya anak dengan laki laki buaya itu-batin Liu Wen saat akal pikirannya sudah kembali, ia menentang keras berhubungan layaknya suami istri dengan Kaisar Qin tetapi saat ia sedang mabuk cinta, ia akan melakukan apa saja yang diinginkan Kaisar Qin.
"Wen'er... ini salah ayah mengingatkanmu dengan hal menyedihkan itu"kata Liu Whojin, ia memeluk putrinya yang terlihat sangat sedih.
"Tidak apa nak.."kata Liu Yiren mengelus pucuk kepala Liu Wen.
"Iya tidak apa... kita masih punya cadangan"kata Liu Whojin melirik kearah Liu Yichen.
"Apa? Aku tidak mau menikah!"kata Liu Yichen menatap malas ayahnya, sudah beberapa kali ayahnya mengirim wanita untuk mendekati Liu Yichen. Mereka tersebar dimana mana kadang kamarnya, gazebo, taman, koridoor, sampai diatas pohon itu membuatnya jengkel setengah mati.
"Kau sudah cukup umur! Lihat kakakmu saja sudah menikah"kata Liu Whojin menatap Liu Wen memberinya isyarat agar Liu Wen membantunya bicara.
"Ayah jangan paksa Yichen"kata Liu Wen sambil menatap Liu Yichen dengan lembut.
*Aku membantumu-batin Liu Wen wajahnya berubah menjadi mengerikan.
*Tumben kakak berpihak padaku?-batin Liu Yichen, ia menatap datar kakaknya.
"Wen'er seharusnya kau menasehati adikmu bukan malah mendukungnya"kata Liu Whojin menghela nafas panjang.
"Percuma ayah memaksanya..."kata Liu Wen dengan serius.
"DIA KAN BELOK"sambung Liu Wen, ia langsung tertawa kencang membuat kedua orang tuanya terkejut.
"KAKAK!!"muncul tiga guratan didahi Liu Yichen yang menandakan dia sedang marah.
"Hahahaha.... Ayah! Ibu! Jika dia tidak mau menikah lalu apa masalahnya kecuali itu?"kata Liu Wen membuat orang tuanya ikut tertawa dan mengiyakan perkataan Liu Wen.
"Aku tidak gay! Aku akan menikah!"teriak Liu Yichen, ia tak terima jika disebut sebagai pria cacat yang tak jantan.
*Akhirnya terpancing-batin Liu Wen, ia memainkan kontak mata dengan ayahnya.
*Bagus Wen'er umpannya termakan, kau memang hebat-batin Liu Whojin, ia memberi dua jempol untuk putrinya.
"Ahh... aku..."Liu Yichen menutup mulutnya, dia ditipu ini siasat ayah dan kakaknya agar ia mengatakan bahwa dirinya ingin menikah.
"Jangan mengingkari apa yang kau katakan! Seorang pria sejati selalu memegang janjinya!"goda Liu Wen sambil tersenyum simpul.
*bisa bisanya aku termakan tipuan murahan begini-batin Liu Yichen entah kenapa jika Liu Wen yang mengatakan hal itu sangat membuatnya marah.
"Baik baik aku akan menikah tetapi dengan orang pilihanku. Apa ayah dan ibu keberatan?"tanya Liu Yichen, ia akan mencari gadis yang membencinya dan ingin cepat cepat bercerai dengannya.
"Tentu ibu tak masalah, asal dia gadis yang baik"kata Liu Yiren, ia merasa lega anaknya satu ini akhirnya mau menikah.
"Ayah juga tak masalah asal dia seorang wanita"kata Liu Whojin melirik Liu Wen lalu tertawa bersama.
*****
"Permaisuri, apa anda merasa lebih baik hari ini?"tanya Meng yang berjalan mengikuti tandu yang membawa Liu Wen.
"Emm... begitulah aku bahagia bertemu keluargaku hari ini.."kata Liu Wen sambil tersenyum tipis, ia menyenderkan kepalanya di dinding tandu sebelah jendela kecil.
*Sudah berapa lama aku disini bagaimana keadaan disana? Apa ibu dan kakak baik baik saja?-batin Liu Wen, ia teringat akan masa lalunya di era modren.
*Walaupun aku bukan anak kandung Ibu dan adik kandung kak Zhiwan. Mereka selalu menyayangiku-lanjutnya kebenaran tentang hal itu diketahuinya saat berumur 14 tahun, kebenaran itu membuatnya sakit hati dan sempat kabur dari rumah.
"Meng... kau boleh menganggapku kakak sampai kapanpun"kata Liu Wen tanpa melihat Meng.
"Baik Yang Mulia"Meng menangis terharu, ia tak menyangka apa yang dikatakan Liu Wen barusan, menganggap Permaisuri sebagai kakak? Itu adalah hal yang paling mustahil bagi seorang pelayan.
****
Gerbang Istana
"Yang Mulia Permaisuri tibaa"teriak pengawal saat tenda Liu Wen memasuki gerbang istana.
"Aduh! Pake teriak segala"gumam Liu Wen, ia tak sengaja tertidur karena teriakan itu membuatnya tersentak dan membuka matanya secara mendadak.
"Meng! Aku mau makan"kata Liu Wen saat diperjalanan menuju kediamannya. Sejak ia menjadi Permaisuri banyak pelayan yang mengikutinya dari belakang tetapi para pelayan itu terlalu kaku dan selalu menjaga jarak dengannya.
"Baik Permaisuri"kata Meng, ia pergi kedapur sedangkan Liu Wen melanjutkan perjalanannya menuju Kediaman Phoenix.
"Mohon maaf Yang Mulia Permaisuri, Selir Chu memohon untuk bertemu dengan anda"kata kasim yang menjaga kediaman Phoenix.
"Suruh dia masuk"kata Liu Wen, ia berjalan masuk kekamarnya dan menunggu Selir Chu didalam.
*Aku penasaran apa yang mau dilakukannya-batin Liu Wen.
"Salam hormat Yang Mulia Permaisuri"kata Selir Chu memberi hormat kepada Liu Wen sambil berlutut.
"Hmm, ada apa?"tanya Liu Wen dengan acuh ia duduk dikursinya sambil menaikan satu kaki.
"Saya..."Selir Chu berdiri baru saja ingin berbicara Liu Wen memotongnya.
"Siapa yang menyuruhmu berdiri?"kata Liu Wen dengan tajam orang yang berani menganggunya dan harus mendapat balasan.
"Ahh... maafkan saya Yang Mulia"kata Selir Chu raut wajahnya sekilas berubah tak suka tetapi langsung kembali dengan wajah tersenyum lebar dan berlulut kembali.
"Karena kau lancang kepadaku, berlutut didepan kediaman Phoenix semalaman"kata Liu Wen dengan tegas itu memang benar sesuai aturan Kekaisaran dijam segini Permaisuri tak boleh diganggu karena bekerja menyelesaikan permasalahan di harem Kaisar.
"Terima kasih atas belas kasihnya"kata Selir Chu, ia bersujud dan mulai mengikuti tata krama seorang Selir.
*Jalangg ini! Tidak akan kumaafkan!!-batin Selir Chu, ia menahan amarahnya.
*Aku tahu orang orang di istana ini tidak ada yang tulus padaku dan aku paling benci orang yang bersandiwara-batin Liu Wen.
"Bagus kau tahu kedudukanmu, katakan apa yang menbawamu kemari"kata Liu Wen dengan senyum diwajahnya.
"Saya baru saja kembali dari Desa Rixi disana terkenal dengan kacang kacangan yang enak. Hari ini saya membawa ikan asap bumbu kacang untuk Yang Mulia"kata Selir Chu ia menyuruh pelayannya membawakan piring yang cukup besar tempat ikan asap itu berada.
"Hmm? Kau membawakanku makanan?"tanya Liu Wen yang tak percaya.
"Iya Yang Mulia, pelayan saya sudah membawakannya! Silakan dicoba"kata Selir Chu menyuruh pelayannya membawa hidangan itu kehadapan Liu Wen.
"Tunggu dulu! Sebelum aku memakannya. Aku mau kau dulu mencobanya"kata Liu Wen, ia sangat berhati hati siapa tau ada racun pikirnya.
"Itu... itu sangat tidak pantas Yang Mulia, anda bearti akan makan bekasan saya"kata Selir Chu, ia berdalih karena tak mau memakannya.
"Aku yang menyuruhmu jadi makanlah"kata Liu Wen dengan santai jika dia tak mau bearti benar ada racun.
"Baik"kata Selir Chu, ia langsung memakan ikan itu tanpa ragu membuat Liu Wen kaget.
"Baik kau boleh pergi, jangan lupa laksanakan hukumanmu"kata Liu Wen menyuruh Selir Chu pergi dari kamarnya.
"Huh, ada apa dengannya? Tumben mau kasih sesuatu tanpa ada racun atau tak minta imbalan"kata Liu Wen sambil melahap ikan itu.
"Selir! Anda akan merasa lelah kalau begini terus. Kenapa anda mau membagi ikan mahal dan kacang itu?"tanya pelayan Selir Chu mereka sudah berada diluar kediaman Phoenix tepatnya didepan gerbang utama.
"Heh?! Ikan itu biasannya dimakan untuk balita saat masa pertumbuhan karena banyak mengandung lemak, sedangkan kacang itu membuat nafsu makan bertambah! Aku ingin membuatnya gemuk! Dengan begitu Yang Mulia tak akan menyukainya lagi"kata Selir Chu rencananya memang sangat sederhana tetapi jika berhasil Liu Wen akan kehilangan kecantikannya dan Kaisar pun tak akan mau lagi dengannya.
"Yang Mulia sangat pintar!"puji pelayannya, sepanjang malam, ia berlutut dan melihat Liu Wen yang selalu minta dibawakan camilan dan makanan itu membuatnya senang. Sampai pagi tiba masa hukumannya habis dan kembali kekediamannya.
"Pagi Yang Mulia. Anda harus mandi saya sudah siapkan makanan"kata Meng menaruh handuk dan nampan berisi air bersih.
"Me..meng Perutku...sakit"lirih Liu Wen memegang perutnya.
"Apa anda baik baik saja?!"tanya Meng yang khawatir tak ada jawaban dari Liu Wen terlihat matanya sudah menutup, tanpa pikir panjang Meng langsung pergi menuju ke kediaman Pangeran Keempat.
"Pangeran!!! Tolong buka pintunya!! Saya pelayan Permaisuri"teriak Meng dari luar gerbang. Ia sangat cemas dan tak henti hentinya berteriak.
"Lapor Yang Mulia! Pelayan Permaisuri datang, dia berteriak minta bertemu dengan anda"kata pengawal yang menjaga pintu, ia segera melaporkan hal itu kepada Pangeran Keempat.
"Suruh masuk!"kata Pangeran keempat dengan singkat jika pelayan Permaisuri pasti berhubungan dengan kakak iparnya.
"Pangeran!!! Hoshh.... Permaisuri! Dia pingsan!!"kata Meng dengan khawatir, Pangeran Keempat langsung berlari menuju kediaman Phoenix.
*Ada apa dengannya, semoga keponakanku baik baik saja-batin Qin Junxi.
Kediaman Phoenix
"Jangan masuk! Aku perlu konsentrasi"kata Pangeran Keempat, ia menghentikan Meng yang hendak masuk kekamar.
"Ba..baiklah"kata Meng dengan gugup, ia sangat khawatir dengan keselamatan Liu Wen.
"Tenanglah.... dia akan baik baik saja"kata Qin Junxi sambil mengelus pucuk kepala Meng.
"Ba.. ba..baikk!"kata Meng dengan gugup wajahnya merah. Ia tersipu, Pangeran keempat langsung masuk dan memeriksa keadaan Liu Wen.
"Hmm... syukurlah dia selamat"kata Pangeran Keempat yang memeriksa nadi Liu Wen.
"Eghh... kau? Sedang apa disini"tanya Liu Wen saat sadar, ia mendapati Pangeran keempat dihadapannya.
"Pelayanmu memanggilku! Kau makan apa semalam?!"tanya pangeran Keempat dengan dingin.
"Cuma ikan asap saus kacang"kata Liu Wen dengan kikuk.
"Kacang?"Pangeran Keempat menelusuri ruangan ini, seluruh kamar dipenuhi bau kacang dan ini kacang yang bisa menambah nafsu makan tetapi sangat tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena dapat mengugurkan kandungan.
"Jadi begitu"kata Pangeran Keempat, ia berpikir sejenak tadi dan mengangguk angukkan kepalanya.
"Jadi apa?"tanya Liu Wen yang sedikit binggung.
"Untuk 5 bulan kedepan kau tidak boleh makan kacang ini, nanas, minum bir, makan berlebihan! Untung saja kali ini dia masih bisa diselamatkan"kata Pengeran sambil menulis resep obat baru dan pantangan untuk Liu Wen.
"Dia? Siapa!"tanya Liu Wen dengan heran apa yang dimaksud Pangeran Keempat, ia masih belum mengerti.
"Kakak ipar.... Kau ini bodoh ya? Dia itu bayimu! Jaga dia dengan baik jangan sembarangan makan lagi! Ini obat penguat kandungan minum ini dengan teratur"kata Pangeran Keempat, ia memukul pelan kepala Liu Wen.
"Hah? A.. a..ak...aku hamil?"Liu Wen membualatkan matanya.
"BENERAN HAMIL!!!"teriak Liu Wen dengan histeris tidak mungkinkan, kapan! Dimana! Kenapa dia sampai tak menyadarinya.