
Setelah Yani di suntik obat penenang, ia perlahan kehilangan kesadaran dirinya. Melati dan Ferry kemudian keluar dari ruang rawat inap itu menuju tempat parkir.
Untuk kamar yang berantakan, Ferry sudah menyuruh orang untuk membereskannya.
Keduanya masuk ke dalam mobil, tujuan mereka kali ini adalah mansion keluarga Dirgantara. Karena Ferry tahu Vano ada di rumahnya, ia langsung membawa Melati ke kediaman Vano.
Saat mobil Ferry masuk ke halaman Mansion, itu tanpa gangguan untuk bisa masuk. Karena mereka sudah mengenal Ferry sebagai sahabat tuan muda mereka.
"Bukankah ini mansion keluarga Dirgantara?" tanya Melati.
"Ya Tan. Vano adalah pewaris Dirgantara Group" Jawab Ferry
Melati hanya mengangguk paham dan turun dari mobil mengikuti Ferry yang masuk ke dalam rumah.
Terlihat Wenda, Danu dan Olive sedang duduk di ruang keluarga. Sedangkan Vano ada di dalam kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.
"Tuan, nyonya, Nona, Ada tamu yang ingin ketemu tuan muda di depan" ucap ART di sana
"Siapa bi?" tanya Olive
"Tuan muda Ferry sama perempuan paruh baya, non" ucap ART.
Mendengar nama Ferry, Olive mengerut keningnya. Ia tahu jika Ferry adalah sepupu Yani dan ia tebak kedatangannya pasti ingin membahas soal Yani dengan kakaknya.
"Tolong panggilin kakak turun bi" ucap Olive.
"Baik non" ucap ART kemudian pergi.
Setelahnya Olive dan kedua orang tuanya, menyambut Ferry di ruang tamu. Olive bertanya-tanya siapa wanita paruh baya yang di bawa Ferry. Jika dari wajahnya, ia menebak jika wanita di depannya adalah ibu dari Yani.
"Ferry..." sapa kedua orang tua Vano dan Olive.
"Hallo Om, Tante, Olive. Apa kabar?" tanya Ferry
"Kami semua baik. Ada apa Fer? Ayo silahkan duduk" tanya Danu.
"Begini om, Ferry datang karena ada perlu sama Vano dan Ferry ingin Vano membantu unt...." ucap Ferry terhenti karena sebuah suara berat dan dingin yang menyela ucapannya.
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Vano yang baru aja Datang dengan ketus.
"Van, aku minta tolong pada kamu kali ini aja" ucap Ferry memohon
"Nggak! aku udah bilang nggak ya nggak, apa kamu nggak ngerti kata NGGAK MAU?" ucap Vano kesal.
BRUK!!!
Tiba-tiba Melati duduk berlutut, membuat semuanya terkejut dengan tindakan Melati.
"Tante mohon padamu Van! Tolong jenguk Yani sekali saja, ia tidak ingin makan jika tidak ada kamu" ucap Melati dengan wajah memohon.
"Maaf aku nggak bisa Tan" ucap Vano tetap pada pendiriannya.
Olive puas mendengar jawaban kakaknya yang menolak dengan tegas. Tentu saja orang seperti Yani, tidak pantas untuk di kasihani.
"Van, jangan egois. Kondisi Yani sekarang sedang tidak baik" ucap Ferry mencoba untuk membuat Vano luluh.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Wenda dengan bingung.
"Nyonya, saya mohon tolong putri saya. Yani masih dalam keadaan terpukul karena kehilangan kedua kakinya. Ia tidak mau makan jika tidak ada Vano. Saya mohon bujuk Vano agar mau datang sekali saja, agar Yani mau makan" ucap Melati dengan memelas.
"Vano" ucap Danu menatap putranya
"Nggak pah, Vano tetap nggak mau!" ucap Vano.
"Vano jangan keras kepala, ini keadaan darurat. Kamu sekali saja tengok Yani, mungkin dengan kamu di sana ia memiliki semangat hidup lagi" ucap Wenda menasehati.
Vano tetap kekeh tidak mau, mana mungkin ia bersedia menghibur orang, yang sudah mencelakai keluarganya?
Bukannya kasihan melihat kondisi Yani, ia justru merasa jijik pada Yani yang tidak tahu malu. Bahkan tanpa malu, menginginkan dia setelah apa yang terjadi padanya.
"Vano nggak bisa mah" ucap Vano menggelengkan kepalanya
"Van, tolong kamu jangan egois kali ini saja. Demi aku, demi persahabatan kita. Tolong kali ini saja kamu mau datang ke rumah sakit menemui Yani" ucap Ferry.
"Van tolong datang sekali ke sana, kasihan Yani" ucap Wenda
"Kamu jangan terlalu keras kepala dan egois, mengalah sesekali tidak apa-apa. Ini menyangkut nyawa seseorang, Vano" lanjut Danu.
"Cih, aku sudah mengatakan jika aku tidak mau. Itu masalah dia, mau makan atau tidak. Dia sudah dewasa, dia sudah tahu jika tindakannya itu salah" ucap Vano marah
"Vano!!!!" teriak Danu.
"Aku tidak peduli kalian mau marah atau tidak, dan kamu Fer, aku tidak masalah kamu tidak menganggapku sahabat lagi karena aku menolaknya. Asal mama dan papa tahu, kenapa aku benci Yani, itu karena dia yang sudah mencelakai Olive. Yani yang sudah menabrak Olive, dia berusaha membunuh Olive. Apa kalian masih mau memaksaku untuk menghibur orang yang sudah mencelakai adikku? Jangan pernah harap!!!" teriak Vano meninggalkan semuanya yang terkejut dan kembali masuk ke kamarnya dengan membanting pintu dengan keras hingga membuat orang di sana sadar.
Wendy dan Danu terkesiap mendengar kabar itu, mereka baru mengetahui jika yang mencelakai putrinya adalah Yani.
Keduanya menoleh ke arah Olive, Olive hanya menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka jika kakaknya membongkar masalah ini saat ini. Ia tidak bisa menghindar lagi.
"Yang di katakan kakak benar, La- Maksudku Yani yang sudah menabrak ku" ucap Olive
"Tidak mungkin! Tidak mungkin Yani melakukan itu!" ucap Melati menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Liv, apa kamu salah paham dengan yang terjadi padamu? Aku tahu kalian tidak pernah cocok satu sama lain, tapi tidak mungkin Yani melakukan pembunuhan" ucap Ferry tidak percaya dengan berita yang ia dengar dari Vano dan Olive.
"Sayang, apa maksudmu jika yang di katakan kakakmu itu benar?" tanya Wenda.
"Aku dan kakak baru beberapa hari ini mendapatkan bukti, jika pelakunya ternyata memang benar Yani. Yani berniat membunuhku mah" ucap Olive.
"Sepertinya setelah ini aku harus memberitahu Xena" gumam Olive dalam hati.
"Tidak mungkin!!!" teriak Melati lagi tidak percaya.
"Tapi itu kenyataannya tante" ucap Olive masih sopan
Mendengar itu, tentu saja Wenda dan Danu sangat marah. Ia merasa bersalah karena membela orang yang sudah melukai putrinya. Dan justru memaksa putranya menghibur orang itu.
"Atau jangan-jangan kamu yang melakukan ini pada putriku! Kamu yang membuat putriku cacat" tuduh Melati.
"Meskipun aku membencinya sampai mati, Bahkan saat tahu Yani yang berniat membunuhku. Aku tidak mungkin membalas dengan melakukan hal yang sama. Aku bukan putrimu yang memiliki pikiran picik, aku saja baru tahu jika Yani yang mencoba membunuhku, beberapa hari yang lalu" ucap Olive dengan marah.
"Jangan asal menuduh tanpa punya bukti nyonya. Kecelakaan putrimu tidak ada hubungannya denganku atau kakak. Itu mungkin karena karmanya sendiri karena terlalu banyak menyinggung dan melukai banyak orang" lanjut Olive, kemudian berbalik pergi dengan tongkatnya.
"Bawa tantemu keluar, Ferry! Tunggu gugatan dari kami. Tentunya keluargaku tidak akan tinggal diam saat anggota keluargaku di sakiti. Sampai ketemu di pengadilan!" ucap Danu dengan datar dan dingin.
Dia mengusir keduanya tanpa menoleh, hatinya sakit saat mengetahui putrinya hampir mati di tangan orang yang sempat ia bela.
...•••••...