
Alaric tertegun melihat Xena sedang duduk di dipan dimana dirinya saat itu berbaring. Dia lalu duduk disebelahnya, menatap penuh kekaguman pada wanita didekatnya itu. Selain cantik, dia juga sangat pintar dan mengusai ilmu beladiri yang patut diperhitungkan.
Seperti merasakan kehadiran seseorang, Xena langsung menoleh ke sebelahnya, dimana saat ini Alaric duduk. Dari tadi dia merasa seperti ada orang yang mengikuti dan mengawasinya. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Tak ada satupun orang yang tahu jalan rahasia dari rumahnya kecuali kakek Abraham, nenek Gloria dan paman Jacob. Hanya Audrey saja yang tidak tahu tentang jalan rahasia itu, karena kakek Abraham melarang mereka memberi tahunya.
Apa mungkin itu ayah?. Tanya Xena dalam hati. Dia berharap mungkin saja arwah ayahnya datang dan menemaninya. Xena memang selalu datang ke bungker jika dia merindukan ayahnya. Bagi Xena bungker ini adalah kenangan terakhirnya bersama sang ayah, sebelum dia meninggal.
Kenapa aku merasa pernah kesini sebelumnya?. Gumam Alaric tiba-tiba dalam hati. Alaric merasa tidak asing dan dia juga pernah datang ke bungker ini sebelum Xena membawanya waktu itu. Dia mencoba mengingat-ngingat tapi ingatannya memang sangat lemah. Alaric adalah seorang pangeran yang kuat dan pemberani, namun sayang ingatannya tidak sekuat tenaganya.
Tangan Alaric bergerak, hendak membelai wajah cantik Xena yang tampak sendu. Sepertinya dia sedang bersedih. Alaric tidak tahu apa yang menyebabkan Xena bersedih seperti sekarang. Baru saja tangan Alaric akan menyentuh pipi Xena, tiba-tiba dia berubah kembali menjadi asap dan terbang kembali ke tempatnya semula.
Alaric tersentak karena dalam sekejap dia sudah berada ditempatnya menginap. Dia kembali memanggil Gwendolyn untuk meminta bantuan.
"Ada apa lagi?. Kenapa kau terus memanggilku anak muda?." Tanya Gwendolyn.
"Aku masih butuh bantuanmu. Dan kenapa tiba-tiba aku ada disini. Aku masih ingin bersama gadis itu." Ujar Alaric.
"Kekuatan mantra yang aku bacakan memang tidak akan berlangsung lama. Dan apa tadi kamu melakukan sesuatu pada gadis itu?." Tanya Gwendolyn.
"Tidak. Aku tidak melakukan apapun. Tadi aku hanya ingin menyentuhnya." Jawab Alaric.
"Aku sudah bilang jangan pernah kau menyentuhnya, karena itu akan merugikanmu. Kau lihat kan apa yang terjadi kalau kau melakukannya. Kekuatan mantraku memang tidak akan berlangsung lama, tapi juga tidak secepat ini. Seharusnya saat ini kau masih bisa berada di dekat gadis itu. Tapi apa yang kau lakukan membuatmu kembali lebih cepat." Jelas Gwendolyn.
Alaric mengerti apa yang Gwendolyn ucapkan. Saat ini Alaric memberi penawaran kepada si penyihir. Dia meminta Gwendolyn agar menjadi salah satu anak buahnya. Awalnya Gwendolyn menolak, tapi saat Alaric mengatakan siapa dia sebenarnya, si penyihir pun berubah pikiran. Dia mau menjadi anak buah Alaric dan dibayar dengan harga yang sangat tinggi, asal dia mau melakukan apapun yang dimintanya. Seperti saat ini, Alaric meminta Gwendolyn merubah seseorang menjadi dirinya.
"Apa kau bisa melakukannya?." Tanya Alaric.
"Tentu saja aku bisa. Itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan." Jawab Gwendolyn.
Seperti biasanya Gwendolyn membacakan sebuah mantra sambil menutup matanya. Tak lama kemudian cahaya biru memancar dari mata naga yang ada ditongkat sihirnya. Dia memutar-mutar tongkat itu beberapa kali, dan tak lama kemudian muncul asap berwarna biru ke abuan, bersamaan dengan hadirnya sesosok tubuh laki-laki berdiri dihadapan mereka.
Alaric tersentak tapi juga takjub saat melihat sosok lelaki itu benar-benar mirip dengannya. "Apa dia benar-benar manusia?." Tanya Alaric.
"Tentu saja dia bukan manusia. Dia hanya sebuah ilusi yang diciptakan dari ilmu sihir yang aku miliki. Orang-orang yang melihatnya akan berpikir kalau dia adalah manusia seperti kita. Padahal sebenarnya dia tidak nyata dan hanya terbentuk dari sihir yang membuat siapapun yang melihatnya seolah mereka melihat pangeran yang asli. Bahkan sifat, kepribadian atau apapun yang dia lakukan akan sama persis dengan pangeran yang asli " Jelas si penyihir itu.
"Maaf pangeran, tapi aku tidak bisa melakukannya." Jawab Gwendolyn.
"Kenapa tidak bisa?. Bukankah kau bilang bisa melakukan apapun?."
"Itu benar pangeran, kecuali apa yang pangeran minta tadi, karena itu adalah salah satu pantangan yang tidak boleh aku lakukan. Kalau aku melanggarnya, semua kekuatanku akan lenyap seketika." Jelas Gwendolyn.
"Baiklah. Aku mengerti." Sahut Alaric.
ππππππππππ
Hari ini pangeran Alaric, Conrad dan pengawal mereka akan kembali ke istana. Baik Conrad ataupun pengawal tentunya tidak tahu, kalau pangeran yang bersama mereka bukanlah pangeran yang sebenarnya, karena pangeran Alaric yang asli tidak mau meninggalkan desa itu. Apalagi setelah dia tahu kebenaran tentang Xena, rasanya pangeran Alaric tidak mau jauh-jauh dari Xena.
Sementara disana, Xena nampak sangat senang saat dia mengetahui kalau para pengembara itu sudah meninggalkan desanya. Itu artinya dia tidak harus bertemu dengan laki-laki bernama Aiden yang menyebalkan. Dan yang paling penting dia tidak lagi harus menjadi kekasihnya. Walaupun mungkin seandainya suatu hari nanti Aiden kembali lagi ke desanya, dia tidak akan pernah menjadi kekasihnya lagi, karena Xena pernah mengatakan kalau hubungan mereka akan berakhir begitu Alaric meninggalkan desa itu
Tapi kenapa dia tidak mengatakan kalau dia akan pergi darisini?. Kenapa dia tidak pamit kepadaku?. Hah masa bodoh, kenapa juga dia harus pamit?. Bukankah itu lebih baik?. Yang penting dia sudah pergi dari sini. Kata Xena dalam hati.
Xena baru saja kembali dari ladang dan saat ini dia sedang menyiram bunga-bunga juga tanaman kesayangannya. Senyumnya mengembang saat dia melihat semua bunga dan tanamannya tampak sangat segar ketika dia selesai menyiramkan air itu ke semua tanamannya. Xena tiba-tiba tertegun menatap bunga mawar kesukaannya itu, karena dia baru menyadari sesuatu tentang bunga-bunga itu.
Dia ingat pada Aiden, karena dialah orang yang telah membuat bunga-bunga itu tumbuh kembali dengan sangat indah. Dan ya benar, kenapa dia baru sadar kalau bunga-bunga itu tidak pernah layu atau mati. Bunga mawar itu tetap tumbuh seperti saat pertama dia melihatnya, seperti bunga plastik yang tidak pernah berubah.
"Ini sangat mustahil. Apa mungkin, sebenarnya bunga-bunga ini adalah bunga palsu?." Xena bergumam keheranan, lalu memegang kelopak bunga itu, untuk memastikan apa bunga tersebut bunga palsu atau bunga asli. Dan bunga itu memanglah bunga asli. "Lalu kenapa bunga ini tidak pernah layu?." gumam Xena, seraya kembali menatap semua bunga itu.
"Apa kau sedang merindukanku?." Suara seseorang mengagetkan Xena. Dia langsung berbalik karena merasa tidak asing mendengar suara itu.
"Kau!!! Serunya kaget saat dia tahu pemilik suara itu memang orang yang dia pikirkan. Dia memang lelaki menyebalkan itu, Aiden.
.
.
Bersambungπππ