Xena

Xena
94. Tanggal pertunangan



Xena dan keluarga tengah sibuk menyiapkan kedatangan Ray dan kakeknya. Meskipun hanya pertemuan untuk membahas pertunangan, tapi mereka sangat antusias sekali dan menyiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh.


Saat malam sudah tiba, suara mobil berhenti di depan kediaman Xena. Ray dan Kakek Reksa keluar dari mobil yang sama.


Indra, Utami dan Xena menyambut keduanya dengan sopan dan hangat. Kedua keluarga itu makan malam dengan tenang dan juga di lanjutkan dengan obrolan yang ringan sampai serius.


"Sepertinya Ray tidak sabar untuk segera menikahi putri kalian, ia terus mendesak ku untuk mengajukan pertunangan terlebih dulu. Ha-ha.... Anak muda semangatnya masih tinggi. Tapi meskipun begitu aku setuju dengan pilihannya, tidak ada wanita yang lebih baik dari Xena untuk cucu nakalku ini" ucap Kakek Reksa


"Anda benar tuan, semangat anak muda memang sangat tinggi dan terimakasih sudah menerima Xena dengan baik" ucap Indra menimpali


"Bagaimana kalau pertunangannya di adakan awal bulan depan? Kebetulan ada waktu libur Ray sebelum ia melakukan syuting film terakhirnya di entertainment" tanya Kakek Reksa.


"Syuting terakhir?" tanya Xena dan Utami bersamaan dan terkejut.


Karena keduanya tidak tahu rencana Ray yang ingin mengakhiri karirnya di dunia entertainment. Jadi tentu saja mereka terkejut saat mendengarnya.


"Apa Ray belum mengatakannya?" tanya Kakek Reksa, Xena hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu belum memberitahu Xena?" tanya Kakek Reksa menoleh pada Ray


"Tadinya aku mau beri kejutan, eh kakek udah kasih tahu duluan. Gagal deh" ucap Ray cemberut.


"Mana kakek tahu, kamu nggak bilang" ucap kakek Reksa.


"Kakek aja yang nggak tanya dulu sebelum bilang" balas Ray


Yang lain terkekeh melihat perdebatan antara kakek dan cucunya yang terlihat lucu itu. mereka tidak mengira jika Ray dan kakeknya memiliki hubungan yang sangat dekat di balik Dinginnya Ray.


"Jadi bagaimana, apa kalian setuju pertunangan di adakan awal bulan depan?" tanya kakek Reksa lagi pada Xena dan kedua orang tuanya


"Kami serahkan semuanya pada Xena, dia memutuskan sendiri untuk masa depannya. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung semua keputusan yang dia ambil" ucap Indra


"Bagaimana Xena?" tanya Kakek Reksa menoleh ke arah Xena.


"Hmm..." ucap Xena mengangguk dengan pipi merona.


Ray tersenyum puas mendengar jawaban Xena, begituoun dengan yang lainnya.


Mereka akhirnya sepakat untuk melakukan pertunangan bulan depan di Hotel Okta. Yakni hotel milik keluarga Octavio yang merupakan hotel terbesar di ibukota bahkan di negara ini.


Rencananya acara pertunangan itu juga hanya mengundang kerabat dekat saja, karena ini bukan acara pernikahan yang harus mengundang banyak orang. Jadi mereka hanya mengundang lebih sedikit orang, yang terpenting adalah acaranya berjalan drngan lancar.


....


Keesokan harinya di rumah sakit.


PRANG!!!!


Bunyi suara benda terjatuh, Yani memecahkan semua benda yang ada di sampingnya, termasuk makanan yang sedang di pegang melati yang sedang menyuapi dirinya untuk makan.


"Aku bilang nggak, ya nggak!!! Budeg ya??" Bentak Yani dengan kasar.


"ya Tuhan..." gumam melati memegangi dadanya karena di bentak anaknya.


"Yani! Kamu jangan keterlaluan, Tante melati hanya ingin menyuapi kamu makan. Nggak sepantasnya kamu membentak ibu kamu sendiri dan bersikap kasar" ucap Ferry memarahi sepupunya yang sudah keterlaluan itu.


"Terserah, aku nggak mau makan kalau bukan Vano yang menyuapiku makan!" ucap Yani tidak tahu malu.


"Jangan terlalu bodoh! Kau tahu kalau Vano tidak akan mau melakukannya! Sadar Yan, Vano itu tidak memiliki perasaan padamu!" ucap Ferry mencoba menyadarkan Yani tentang kenyataan itu.


"Aku tidak peduli! Aku tidak akan makan kalau bukan Vano yang menyuapiku makan!" ucap Yani lagi.


"Kamu...." ucap Ferry kesal dengan tingkah kekanakan dan keegoisan Yani.


"Tapi Tan, Vano nggak bakalan mau" ucap Ferry


"Tante mohon Fer" ucap Melati memohon sambil menangis


"Hah.." Ferry mengusap wajahnya frustasi.


"Fer, Tante mohon sekali ini saja, tolong minta Vano buat datang. Tante nggak mau Yani makin parah karena tidak mau makan, setidaknya Yani mau makan meskipun sedikit" ucapbl Melati menangis.


"Sudah Tan, jangan nangis. Baiklah, Ferry akan telepon Vano" ucap Ferry menyerah dan mengikuti saran Melati.


"Makasih Fer" ucap Melati tersenyum penuh harap.


Ferry lalu mengambil ponselnya, ia mencari kontak Vano lalu meneleponnya. Sudah dua kali ia menelepon namun teleponnya tidak di angkat, setelah kali ketiga akhirnya di angkat.


"Halo Fer" ucap Vano di ujung telepon.


"Hallo Van, elo di mana?" tanya Ferry


"Di rumah, kenapa?" tanya Vano


"Van, bisa minta tolong datang ke rumah sakit? Tolong bujuk Melati supaya mau makan, dia tidak mau makan kecuali kamu yang menyuapinya" ucap Ferry


"Dasar Gila!! Nggak mau!" tolak Vano langsung.


"Plis Van, tolongin gue kali ini aja. Kesehatan Yani tidak akan pulih malah akan lebih buruk jika ia tidak mau makan" ucap Ferry.


"Gue tetep nggak mau, titik! Lagian manja banget sih, yang cacat itu kakinya, bukan tangannya. Emang nggak ada orang lain selain gue?" ucap Vano kesal dengan nada sarkas.


"Van..." ucap Ferry


"Gue bilang nggak ya nggak! Gue nggak peduli sama sepupu elo, itu bukan urusan gue... tuuttt tuuttt" ucap Vano kesal dan mematikan saluran teleponnya.


"Bagaimana Fer?" tanya Melati penuh harap


"Vano nggak mau Tan" ucap Ferry menggelengkan kepalanya.


"Siaaalll!!! aarrgghh Vanooooo!!! Kenapa kamu lakuin ini? Lebih baik aku mati... aahhh" teriak Yani mengamuk saat mendengar itu. ia kembali menghancurkan semua barang yang ada di sekitarnya.


"Hentikan tindakan bodohmu!!" Teriak Ferry memegangi Yani yang memberontak.


"Lepaskan aku!!" teriak Yani


"Jangan bertindak impulsif Yani, kau pikir dengan begini Vano akan peduli padamu?" ucap Ferry lagi.


"Lepaskan aku si*lan!!!! Aku nggak peduli!" teriak Yani lagi.


"Sayang, Tolong tenanglah!" ucap Melati menangis melihat anaknya mengamuk.


"Hentikan tangisanmu itu, aku muak!!!" bentak Yani pada mamanya


"Fer, kasih tahu Tante di mana Vano tinggal, biar Tante yang membujuknya sendiri agar mau datang. Tante nggak mau Yani terus menerus mengamuk dan tidak mau makan, Tante takut ia akan melukai dirinya sendiri" ucap Melati.


"Tapi Tan..." ucap Ferry


"Tante mohon Fer" ucap Melati memohon.


"Baiklah, Tolong panggilkan dokter dulu Tan. Setelah Yani tenang aku akan mengantar Tante ke sana" ucap Ferry.


Melati mengangguk dan segera memanggil Dokter. Saat Dokter datang ia terkejut melihat di sekitar ranjang pasien sangat berantakan. Akhirnya Dokter memberikan suntikan penenang.


...•••••...