Xena

Xena
133.



Ray yang menerima pesan dari kakeknya yang memintanya untuk datang ke mansion tua. Ia segera bergegas keluar lagi setelah istirahat sebentar di apartemen.


Setelah setengah jam mengendarai mobil nya, ia sampai di mansion tua. Ray segera memasuki mansion kakeknya, ia melihat kakeknya itu tengah duduk di kursi goyang dengan menikmati secangkir teh hijau.


Matanya menatap ke arah Ray yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kau sudah datang?" ucap Kakek Reksa


"Hmm" ucap Ray mengangguk


"Ayo duduk di sana saja" ucap Kakek Reksa berdiri kemudian berjalan menuju sofa di ruang keluarga.


"Ini, untuk kakek, Pak Deni dan Citra" ucap Ray menyerahkan tiga paper bag, yang sudah ia berikan nama agar tidak tertukar.


"Wah ternyata setelah kamu bucin ke Xena, justru makin ingat denagn kakekmu juga" ucap Kakek Reksa terkekeh.


"Ngeledek terus deh, ada apa aku suruh datang?" ucap Ray langsung ke duduk persoalannya.


"Kapan kamu akan masuk ke perusahaan?" tanya Kakek Reksa


"Pertengahan bulan depan" ucap Ray dengan tenang.


"Kenapa nggak awal bulan aja? Bukannya akhir bulan ini kamu sudah habis kontrak?" ucap Kakek Reksa tidak puas.


Awal bulan itu sekitar 5 hari lagi, karena sekarang sudah seminggu di akhir bulan


"Aku harus mengurus promosi Film yang akan tayang kurang dari dua Minggu lagi. Setelahnya aku akan masuk ke perusahaan. Jangan khawatir aku akan bekerja dengan baik" ucap Ray


"Ya-ya, baiklah. Lalu kakek dengar Xena akan magang di perusahaan, apa itu benar?" ucap Kakek Reksa.


"Ya, aku akan menjadikannya sekretarisku di kantor!" ucap Ray.


"Lalu bagaimana dengan Galang dan juga sekretaris yang sudah ada?" tanya Kakek Reksa.


"Galang akan belajar menjadi asistenku di perusahaan, dia pria yang sangat aktif dan juga cepat belajar. Aku yakin dia bisa melakukan tugasnya" ucap Ray


"Kalau masalah sekretaris, apa ada masalah punya dua sekretaris sekaligus? Lagian Xena hanya magang 3 bulan saja. Aku tidak ingin dia jauh, kakek tahu kan kalau aku nggak akan mau jadi CEO kalau bukan Karena Xena?" ucap Ray


"Ya-ya-ya, kakek tahu, kakek sangat berterima kasih karena Xena sudah hadir dan membuat cucuku ini akhirnya berubah pikiran" ucap kakek Reksa.


Sebenarnya Ray akan tetap mengambil alih perusahaan meskipun ia tidak kenal dengan Xena, hanya saja mungkin waktunya. Awalnya ia mungkin akan mengambil alih tiga tahun lagi, karena ia ingin memperpanjang kontrak nya saat itu.


Namun hubungannya dengan Xena sudah membuatnya bucin parah, hal itu membuat Ray mau tidak mau berpikir lebih dewasa. Jika ia ingin segera menikahi Xena, maka ia harus memiliki pekerjaan yang layak karena ingin membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak.


Meskipun Ray terkenal sebagai aktor yang hebat, tapi publik tidak tahu kalau Ray adalah lulusan M.B.A terbaik di Luar negeri dengan gelar camlaude saat berusia 19 tahun.


Tapi setelah ia lulus ia memutuskan untuk terjun ke dunia entertainment dan menandatangani kontrak 3 dan memperpanjang 2 tahun.


Publik tidak ada yang mengetahui datanya karena memang sengaja di sembunyikan. Jadi kecuali para pengusaha di ibukota, tidak ada yang tahu kalau Ray sebenarnya pewaris Octavio Group.


"Baiklah kamu atur sendiri" ucap Kakek Reksa pasrah.


"Apa sekretaris yang dari perusahaan itu perempuan?" tanya Ray


"Ya" jawab Kakek Reksa mengangguk.


"Tapi sekretaris Andini sangat berbakat. Ia adalah salah satu dari sekretaris terbaik di perusahaan" ucap Kakek Reksa.


"Tidak! Pindahkan dia ke bagian yang lain, aku mau sekretaris laki-laki" ucap Ray


"Ray pikirkan lagi. Kalau dia di ganti, mungkin akan sulit menemukan sekretaris laki-laki yang kompeten di bidangnya seperti Andini. Lagi pula Xena akan masuk dan jadi sekretaris kedua. Apa kamu mau dia bergaul dengan laki-laki lain saat ia sedang bekerja?" ucap Kakek Reksa.


Ray kicep, ia memikirkan ucapan kakeknya itu ada benarnya. Kalau ia mengganti sekretarisnya dengan laki-laki, itu berarti Xena akan berinteraksi dengan laki-laki lain sebagai sesama sekretaris. Hal itu jelas dia tidak akan mau.


"Baiklah, tidak perlu ganti sekretaris" ucap Ray


Kakek Reksa tersenyum, ia tahu kalau nama Xena memang sangat mujarab untuk kasus keras kepala cucunya itu.


"Kalau begitu kapan kamu ajak Xena dan keluarga nya ke mansion? Kita bisa adakan makan malam bersama untuk mempererat dua keluarga" usul kakek Reksa.


"Ah aku tidak kepikiran itu, bagaimana setelah akhir pekan? Sekalian merayakan kontrakku yang sudah berakhir dan akan masuk ke perusahaan" ucap Ray lagi.


"Itu ide yang bagus!" ucap Kakek Reksa


"Nanti aku akan mengatakannya ke pak Deni untuk mengurus semuanya. Tapi Kakek harus ingat, jangan membicarakan tentang Xena yang magang di sana. Aku tidak bilang padanya jika aku tahu kalau dia akan magang menjadi sekretarisku, aku akan memberikannya kejutan" ucap Ray


"Baiklah-baiklah" sahut Kakek Reksa.


.....


Pagi harinya, Xena sudah bersiap untuk pergi kuliah. Ray sudah ada di bawah untuk mengantarnya pergi ke kampus. Ray tidak sibuk hari ini jadi ia bisa mengantar jemput kekasihnya itu.


Beberapa hari kedepan ia akan sering ke kantor agensi, untuk mengurus kontraknya yang akan segera berakhir.


Sembari menunggu Xena yang bersiap, Ray mengobrol dengan kedua orang tua Xena. Ia mengatakan jika kakek mengundang mereka sekeluarga untuk makan malam di akhir pekan.


Tentu hal itu di sambut baik oleh kedua orang tua Xena. Mereka berjanji akan datang ke sana nantinya.


"Sudah lama?" tanya Xena yang baru turun dari lantai dua.


"Nggak kok" ucap Ray tersenyum manis ke arah tuanangannya itu


"Nggak sebaiknya kalian sarapan dulu sebelum pergi?" tanya Utami


"Nggak mah, aku dan Ray akan sarapan di luar" ucap Xena.


"Baiklah, hati-hati di jalan" ucap Utami.


Keduanya kemudian pamitan, mereka langsung menuju ke restoran milik Xena dan sarapan di sana. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum kelas pertama mulai, jadi masih ada waktu untuk menikmati waktu berdua.


Setelah sarapan mereka mengobrol sebentar lalu Ray mengantar tuanangannya itu pergi ke kampus.


Sesampainya di kampus, Xena mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria yang ia kenali berdiri di depan kampus.


"*Si*l, ngapain sih pria itu datang? Dia tidak berniat menungguku kan? Apa dia sudah tahu identitasku? Kenapa dia ada di sini. Bisa gawat kalau si bucin lihat, bisa-bisa berantem di depan kampus" Xena bertanya-tanya dalam hatinya*.


...••••••...