Xena

Xena
XENA @BAB 16



Tidak ada pilihan lain bagi Xena, selain membawa Aiden ke dalam bungker. Karena kalau dia membawanya ke rumah, akan memakan banyak waktu. Dia khawatir akan keselamatan Aiden, apalagi dia tahu jenis ular yang menggigitnya adalah ular yang sangat berbisa.


Aiden dibaringkan di dipan itu lagi. Xena memberinya minum, lalu dia membuat ramuan tradisional untuk mengobati luka gigitan di tangan Aiden yang mulai membiru dan bengkak. Selain itu Xena juga membuat ramuan yang bisa mengeluarkan bisa ular itu dari tubuh Aiden.


Xena memberi tahu kakek Abraham melalui burung peliharaanya, dan kakeknya mengerti kalau saat ini Xena berada di bungker.


Xena meminumkan dan mengoleskan ramuan obat yang dia buat pada Aiden yang mulai merasakan pusing dan terlihat lemah, membuat Xena semakin khawatir. Walau dia berusaha tetap tenang dan yakin kalau Aiden akan baik-baik saja, rasa takut itu tetap dia rasakan. Dia takut Aiden tidak bisa tertolong, apalagi saat ini Aiden terlihat kesulitan bernafas, tapi detak jantungnya meningkat, dan penglihatannya terganggu.


Tubuhnya panas dan banyak mengeluarkan keringat, selain itu dia juga muntah-muntah, lalu dia tak sadarkan diri. Xena sedikit panik. "Jangan khawatir nak, itu adalah efek obat ramuan yang kamu berikan tadi. Saat ini obat itu sedang bekerja menetralkan racun yang ada ditubuhnya." Jelas kakek Abraham yang datang ke bungker melalui jalan rahasia. Dia datang membawakan obat dan makanan untuk Aiden dan cucunya, lalu dia kembali ke rumah.


Di istana.


Raja, ratu juga penghuni istana sangat panik, saat pangeran Alaric tiba-tiba muntah dan pingsan. Tangannya membengkak kebiruan, seperti seseorang yang baru saja di patuk ular berbisa, padahal saat itu dia sedang duduk bersama raja dan tamunya.


Raja memanggil tiga orang tabib istana untuk memeriksa keadaan sang pangeran. Ketiga tabib istana itu sama-sama keheranan karena kondisi pangeran yang tidak biasa. Dan yang lebih membuat mereka heran adalah, tidak ada denyut nadi dan detak jantungnya pun tidak terasa dan tidak ada darah yang mengalir ditubuh pangeran. Karena penasaran, salah satu tabib menyayat tangan sang pangeran dengan pisaunya. Matanya membulat, karena tidak ada darah yang menetes ataupun keluar dari bekas sayatan itu. Seperti menyayat tubuh boneka, seperti itulah yang tabib itu rasakan.


Ketiga tabib itu saling pandang, seolah mengatakan hal yang sama.


"Bagaimana keadaan putraku?." Tanya raja mengagetkan ketiga tabib itu. Mereka kembali saling pandang, karena bingung jawaban apa yang akan dia katakan pada sang raja.


"Aku bertanya bagaimana keadaan putraku, kenapa kalian diam saja?." Sergah raja, membuat ketiga tabib itu semakin takut.


"Sepertinya pangeran di gigit ular yang mulia?." Jawab salah satu tabib. Karena dari gejala yang dia lihat, pangeran memang seperti orang yang baru digigit ular


"Apa?. Ular?. Mana mungkin ada ular di dalam istana." Sergah raja.


"Ampuni hamba yang mulia, tapi dilihat dari gejala dan tanda-tanda yang ada ditubuh pangeran, hamba bertiga sangat yakin kalau pangeran digigit ular berbisa." Jawab tabib itu.


"Apa kalian yakin?." Tanya Raja.


"Kami yakin yang mulia." Jawab ketiga tabib itu. Ketiga tabib itu tidak menceritakan kejanggalan yang mereka temukan pada tubuh pangeran Alaric, karena mereka takut salah bicara.


Tabib itu mengoleskan ramuan yang mereka buat, walau mereka sendiri tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan. Mereka berdo'a dalam hati masing-masing semoga pangeran cepat sadar dan pulih, karena kalau tidak, nyawa ketiga tabib itu yang akan menjadi taruhannya. Dan untungnya, beberapa saat kemudian sang pangeran tersadar, membuat semua yang ada disana bisa bernafas lega, terutama ketiga tabib itu.


Mereka kembali memeriksa pangeran, dan hasilnya tetap sama, mereka tidak merasakan denyut nadi dan detak jantung dari tubuh pangeran. Selain itu, tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya, membuat ketiga tabib itu kebingungan. Walau begitu mereka tetap membuatkan obat dan meminta pelayan membawa makanan yang bisa membuat keadaan pangeran cepat pulih.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada pangeran kita?." Tanya salah satu tabib tadi, saat mereka tiba diruangan khusus untuk tabib istana.


"Aku juga tidak tahu. Kasus seperti ini, aku baru menemukannya."Sahut tabib lainnya.


"Apa mungkin pangeran kita terkena ilmu sihir?." Tanya tabib ketiga.


"Mungkin saja."


_🌺🌺🌺🌺🌺_


Di bungker.


Sesaat kemudian keadaan Aiden terlihat membaik. Nafasnya kembali normal dan bengkak ditangannya pun berkurang. Xena merasa lega.


"Jangan bangun dulu. Kau harus banyak istirahat." Ujar Xena saat melihat Aiden hendak bangun.


"Minumlah!! Kau pasti kehausan." Ujar Xena seraya memberikan cangkir berisi air padanya.


Aiden menatap cangkir yang dipegang Xena.


"Aku memintamu minum, bukan menatap cangkir ini." Ujar Xena, membuat Aiden sedikit tersentak. Dia lalu mengambil cangkir itu, dan meminum airnya. Dalam hatinya dia ingin sekali bertanya darimana Xena bisa mendapatkan cangkir ini. Karena tidak sembarang orang bisa mendapatkan cangkir tersebut.


Cangkir itu terbuat dari emas dan menurut Aiden cangkir itu sama persis dengan cangkir yang ada dikerajaannya. Dan memang benar, cangkir itu memang sama dengan cangkir yang ada dikerajaan Zephyra, karena ada lambang kerajaan dibawah cangkirnya.


Darimana Xena mendapatkan cangkir ini?. Apa dia mencurinya?. Rasanya itu tidak mungkin. Siapa sebenarnya kamu Xena?. Aku semakin penasaran dengan asal-usulmu. Aku yakin kau dan keluargamu bukan orang biasa. Gumam Alaric dalam hati.


Aiden benar, tidak sembarang orang bisa memiliki cangkir tersebut, karena cangkir itu hanya diberikan pada orang-orang khusus, yang dipilih raja sebagai tanda jasa pada orang-orang tersebut. Dan cangkir itu adalah cangkir yang diberikan raja pada Hector, ayah Xena. Tidak hanya cangkir, masih banyak barang lainnya yang raja berikan pada Hector, dan Xena sengaja menyimpan semuanya di bungker itu, agar tidak seorang pun yang mengetahuinya.


Xena lalu menawari Aiden menawari roti tepung dan makanan lain yang dibawa kakek Abraham tadi. " Nanti saja. Aku belum lapar." Tolaknya, halus.


"Kau harus banyak makan, biar cepat sembuh dan kita bisa secepatnya pergi dari sini." Ujar Xena. "Sekarang buka mulutmu." Titah Xena seraya menyodorkan tangan berisi makanan. Aiden terkejut sekaligus senang, karena Xena mau menyuapinya. Dia langsung membuka mulutnya dan menghabiskan makanan itu.


Aiden sangat senang karena sikap Xena berubah baik seperti ini. Dia berharap semoga sikapnya akan terus seperti ini, bukan hanya saat ini saja.


"Terimakasih." Ujar Aiden.


"Kenapa kau berterima kasih?. Apa kau sedang menyindirku?." Tanya Xena.


"Menyindir?. Aku tidak menyindirmu, aku sungguh-sungguh berterima kasih karena kamu mau menolong dan merawatku disini." Ujar Alaric.


"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kau telah menyelamatkanku dari ular itu. Ternyata aku tidak sepintar seperti yang kau katakan. Ternyata aku juga bodoh, sama sepertimu." Ujar Xena sambil tersenyum.


Alaric terkesima melihat senyum manis Xena yang pertama kali dia lihat. Pasalnya selama ini Xena tidak pernah tersenyum semanis dan setulus itu padanya. Dia selalu ketus dan terkesan tidak suka padanya. Rasa sakit karena digigit ular ternyata mendatangkan keberuntungan untuk Aiden.


Setelah itu, Xena kembali memberikan obat yang dibawa kakek Abraham tadi. Awalnya Aiden menolak, tapi karena Xena memaksa, Aiden akhirnya menurut.


"Kita ada dimana?. Tempat apa ini?." Tanya Aiden pura-pura.


"Aku juga nggak tahu.Tadi aku tak sengaja menemukan tempat ini." Jawab Xena berbohong.


"Lalu darimana kau mendapatkan makanan tadi." Tanya Alaric lagi.


"Oh itu....tadi aku menemukannya disana. ( Xena menunjukan tangannya ke sisi bungker). Mungkin ada pemburu yang pernah datang kesini, dan meninggalkan bekalnya disini." Jawab Xena berbohong lagi.


"Ohh...mungkin saja." Balas Alaric.


Dia terus menguap, karena merasakan kantuk, tapi saat ini dia tidak ingin tidur karena ingin berbincang bersama Xena. Tapi karena rasa kantuk yang luar biasa akhirnya Aiden tertidur dengan lelap.


.


.


Bersambung🌸🌸🌸