
Apa aku katakan saja pada ratu, siapa Xena sebenarnya?. Gumam Kalla dalam hati.
"Aku sedang bertanya padamu Kalla. Kenapa kau diam saja?. Apa yang sedang kau pikirkan?." Tanya Ratu.
"Tidak ada ratu. Maafkan hamba! Hamba hanya sedikit terkejut mendengar permintaan pangeran." Bohong Kalla.
"Kenapa kau harus terkejut?. Apa menurut kamu Xena pantas dan bisa dipercaya menjadi pelayan pribadi pangeran?." Tanya Ratu.
"Xena memang pelayan baru di istana ini, tapi dia sangat terampil dan gesit. Selain memasak, dia bisa mengerjakan semua pekerjaan dengan baik. Selain itu dia penurut dan sangat sopan. Jadi hamba rasa, dia sangat pantas menjadi pelayan pribadi pangeran, karena menurut hamba pribadi, Xena adalah pelayan yang sangat berkualitas." Ujar Kalla.
"Lalu bagaimana dengan asal-usulnya?. Apa kau yakin dia bukan mata-mata?." Tanya ratu.
"Yang mulia jangan khawatir, karena Xena berasal dari keluarga baik-baik. Jenderal Conrad yang membawanya ke istana ini." Jelas Kalla.
"Oh ya!!
"Iya yang mulia."
"Baiklah...kalau begitu mulai besok, aku mau Xena menjadi pelayan pribadi pangeran. Besok pagi kau bawa dia ke istanaku." titah sang ratu.
"Baik yang mulia." Sahut Kalla. Senyumnya terukir saat itu. Entah kenapa dia sangat senang saat ratu menginginkan Xena menjadi pelayan pribadi pangeran Alaric.
πππ
Besoknya, pagi-pagi sekali Kalla membawa Xena ke istana ratu, bersama Ellie dan Hannah. Selain Kalla, ketiga perempuan berbeda usia itu belum mengetahui alasan kenapa ratu memanggil mereka, sampai akhirnya ratu mengatakan maksudnya memanggil mereka semua ke istananya.
Diantara mereka, Xena adalah orang yang paling terkejut mendengar perintah ratu yang menginginkan dirinya menjadi pelayan pribadi pangeran.
"Apa ada yang ingin kau katakan, Xena?"Tanya Ratu.
"Kenapa harus hamba yang menjadi pelayan pribadi pangeran, yang mulia ibu ratu?. Bukankah masih banyak pelayan lain yang menginginkan posisi ini." Ujar Xena.
"Karena pangeran menginginkanmu. Dan kamu harus tahu, semua gadis yang datang bekerja dan bersedia menjadi pelayan muda di istana ini, mereka semua adalah milik raja dan pangeran. Jadi baik pangeran maupun raja berhak memilih siapapun untuk menjadi pelayan pribadi mereka. Menjadi pelayan pribadi pangeran adalah hal yang paling diimpikan oleh banyak pelayan muda. Pangeran telah memilihmu, sepantasnya kau merasa bangga, Xena." Ujar ratu.
Xena memilih tidak membalas perkataan ratu karena semua itu adalah hal percuma. Dia diam dan menerima keputusan ratu, walau dia tidak mau. Yang dikatakan ratu memang benar. Menjadi pelayan pribadi seorang pangeran adalah pekerjaan yang paling diimpikan oleh para pelayan muda di istana, termasuk Audrey yang juga menginginkan posisi tersebut. Tapi tidak bagi Xena, yang sama sekali tidak tertarik untuk menjadi pelayan pribadi pangeran, apalagi menjadi pangeran Alaric yang dia benci, dan berusaha dia hindari agar dia bisa melupakan niat jahatnya untuk membalas dendam.
Kenapa harus aku yang menjadi pelayan laki-laki itu?. Kalau aku terus melihatnya, itu sama saja dia mengingatkanku pada kematian ayah. Apa memang Tuhan benar-benar ingin aku melakukannya?. Apa ini kesempatan untukku. Dengan menjadikanku pelayan pribadinya, aku pasti punya banyak kesempatan untuk membalaskan dendamku.
*Yang dikatakan Aiden ternyata terjadi. Ah aku jadi inget dia kan. Aiden kenapa kau tidak pernah mengirim surat padak*u?. Apa kau tidak merindukanku?. Batin Xena.
π π π π π π
Xena melangkahkan kakinya menuju istana pangeran Alaric sedikit tergesa, karena sebentar lagi sang pangeran akan sarapan pagi, dan ratu meminta Xena yang menyiapkan sarapan untuk anaknya itu.
Petugas memeriksa makanan yang dibawa Xena dan pelayan tadi. Setelah dirasa aman, mereka dipersilahkan masuk ke ruangan pribadi pangeran atau kamar tidurnya yang sangat luas, lebih luas dari ruang tamu rumah kakek Abraham. Ada dua buah kursi di dekat jendela yang sudah terbuka, juga meja kecil yang disimpan diantara kursi tadi. Di kursi inilah pangeran Alaric biasa menikmati sarapan pribadinya.
"Kalian berdua boleh keluar." Titah Alaric yang muncul tiba-tiba.
"Baik yang mulia." Sahut kedua pelayan itu, lalu mereka keluar.
Pangeran Alaric menatap Xena yang semakin terlihat cantik dan mempesona dimatanya. Walau dia terus menunduk, pangeran Alaric masih bisa melihat wajah cantiknya itu.
"Silahkan anda nikmati sarapan pagi anda pangeran!! Suara Xena terdengar merdu di telinga Alaric, padahal Xena mengatakannya dengan nada kesal, karena dia tahu pangeran Alaric terus menatapnya.
"Baiklah, Xena." Sahut Alaric dengan senyumnya, lalu mendekat ke arah Xena, dan menuntun tangan Xena dengan lembut. Xena langsung menepisnya dengan kasar. "Beraninya kau!! Jangan sekali-kali ......." Xena menggantung kalimatnya. Dia baru sadar kalau dirinya tetap harus menjaga sikap dan mengendalikan dirinya didepan laki-laki yang dia benci ini. Bagaimanapun dia adalah seorang pangeran yang harus dihormati, paling tidak sampai dirinya bisa membujuk Audrey untuk meninggalkan istana itu.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Maafkan aku. Aku yang salah, karena memegang tanganmu tanpa ijin. Tapi kamu tidak perlu takut Xena. Aku tidak akan bersikap kurang ajar kepadamu. Aku menginginkanmu jadi pelayan pribadiku, karena aku sangat menyukaimu." Jelas Alaric membuat kedua bola mata Xena membulat, dan bergerak lincah ke kanan dan kiri, karena tidak suka mendengar apa yang dikatakan Alaric barusan.
"Sekarang duduklah. Kita sarapan bersama-sama." Titah Alaric.
"Maaf yang mulia!! Tapi hamba....."
"Aku tidak mau mendengar penolakanmu." Kata Alaric membuat Xena langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
Pangeran Alaric tersenyum seraya mendekatkan dirinya pada Xena. "Turuti aku, kalau kau tidak mau aku memaksamu duduk sarapan bersamaku." Bisik pangeran Alaric, sedikit mengancam Xena.
"Apa anda mengancam hamba pangeran?." Tanya Xena.
"Tidak. Aku tidak mengancammu." Jawab Alaric dengan senyumnya.
"Maafkan hamba pangeran!! Tapi hamba tidak mau sarapan bersama anda." Tegas Xena.
"Kau berani menolak keinginanku?. Apa kau tidak takut?." Tanya Alaric, yang semakin mendekatkan dirinya pada Xena
"Hamba......hamba..."Ucap Xena seraya memundurkan badannya berusaha menjauh dari pangeran Alaric, namun usahanya itu sia-sia, karena tubuhnya sudah membentur tembok, dan pangeran Alaric mengurung tubuh Xena dengan kedua tangan yang dia simpan disisi kiri dan kanannya. "Jawab aku. Apa kau tidak takut, Xena?." Tanya Alaric sambil tersenyum menatap mata indah Xena.
Xena berusaha memalingkan muka, tapi pangeran Alaric terus mengukuti kemana arah tatapannya, dan itu membuat Xena kesal.
"Aku akan menciummu, jika kau tidak mau menurutiku." Ucap Alaric menggoda Xena.
Mata indah Xena langsung menatap tajam pada pangeran Alaric yang masih saja mengobral senyumnya di hadapan Xena. "Pilihan ada ditanganmu Xena, sarapan bersamaku, atau kau ingin aku menciummu." Ujarnya.
Kurang ajar sekali dia. Tadi dia sendiri yang mengatakan tidak akan berbuat kurang ajar padaku, tapi sekarang dia bilang akan menciumku. Dasar penjilat. Apa semua pangeran dan raja memang seperti ini?. Kalau iya, brengsek sekali mereka. Memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Awas kau pangeran. Tunggu saja pembalasanku. Kata Xena dalam hati.
"Kenapa kau diam saja Xena?. Apa kau memang ingin aku menciummu?." Tanya pangeran Alaric menggoda Xena.
"Jangan bermimpi."Jawaban Xena itu spontan keluar dari mulutnya.
"Aku tidak bermimpi." Sahut Alaric.
"Baiklah....terserah anda saja pangeran." Jawab Xena kesal.
"Apa maksudnya, kau benar-benar ingin aku menciummu?." Tanya Alaric memastikan.
"Tentu saja bukan itu maksudku....maksud hamba." Jawab Xena meralat ucapannya.
"Lalu?." Tanya Alaric.
"Hamba akan menemani anda sarapan." Jawab Xena.
"Aku tidak mau kau hanya menemaniku.Tapi kau juga harus sarapan bersamaku."
"Iya, baik yang mulia. Hamba akan sarapan bersama yang mulia." Ucap Xena penuh penekanan. Dia terpaksa menuruti perintah Alaric walau hatinya sangat kesal.
.
.
BersambungπΉπΉπΉ