Xena

Xena
XENA @BAB 6



"Siapa mereka?. Kenapa kamu bisa mengenalnya?." Tanya kakek Abraham pada Audrey.


"Kakek dengar sendiri kan, kalau mereka itu pengembara yang saat ini sedang bermalam didesa kita." Jawab Audrey.


"Iya. Kakek dengar. Kenapa kalian bisa saling mengenal?." Tanya kakek Abraham lagi.


"Aku tidak mengenalnya. Maksudku, aku juga baru mengenalnya saat dia membeli bunga mawar yang ada di halaman rumah kita."Jawab Audrey.


"Lain kali kamu harus lebih hati-hati. Jangan sembarangan bicara dengan orang asing, apalagi pengembara yang kita tidak tahu dari mana asal usulnya." Nasehat sang kakek.


"Kek, aku ini bukan anak kecil lagi. Aku juga tahu dan bisa membedakan mana orang jahat dan orang baik. Kakek tenang saja." Sahut Audrey.


"Entahlah...tapi kakek sangat mencemasakanmu dan adikmu. Dan menurut kakek, sangat aneh kalau pengembara itu mau membeli bunga-bunga kita. Untuk apa?." Ujar kakek Abraham.


"Sudahlah kek. Kenapa harus memikirkan hal itu?. Yang penting mereka mau membeli bunga-bunga kita dengan harga tinggi." Balas Audrey. "Oh ya, ngomong-ngomong dimana Xena?. Kenapa aku tidak melihatnya dari tadi?." Tanya Audrey.


"Adikmu sedang menangkap ikan." Jawab Sang kakek.


"Hah...ada-ada saja dia. Kalau gitu aku pulang ya kek, nek, paman." Pamit Audrey, lalu meninggalkan ladang.


..


Jenderal Conrad semakin tidak mengerti dengan perintah yang dikatakan pangeran Alaric kepada anak buahnya, yang ingin mengawasi rumah Audrey saat malam hari. Apa dia benar-benar telah jatuh cinta pada gadis yang baru dia jumpai beberapa hari lalu, sampai-sampai dia melakukan hal itu?.


Jenderal Conrad juga tidak menampik, kalau gadis bernama Audrey itu memang sangat cantik, tapi apa secepat itu sang pangeran jatuh cinta?. Mengingat latar belakang sang gadis yang belum jelas, dan juga gadis itu berasal dari kasta yang sangat jauh berbeda dengan pangerannya.


"Maafkan hamba pangeran, tapi kenapa pangeran melakukan hal itu?. Bukankah kedatangan kita ke desa ini, ingin mencari ksatria yang telah menyelamatkan nyawa pangeran?." Tanya Conrad penasaran.


"Tentu saja paman. Justru aku merasa kita sudah menemukanya, dan aku sedang memastikanya." Jawab Pangeran Alaric.


"Maksud pangeran?." Tanya Conrad semakin tak mengerti.


"Aku merasa gadis itu adalah ksatria yang telah menyelamatkanku." Jawab Alaric.


"Apa?. Tapi mana mungkin?. Mana mungkin nona Audrey ...."


"iya paman, aku mengerti. Paman pasti meragukannya. Karena sebenarnya aku juga belum benar-benar yakin, jadi kita harus membuktikanya. Paman tahu, saat aku berhadapan dengan ksatria itu, aku sempat menatap matanya. Walau sekilas, aku sangat yakin ksatria itu adalah seorang perempuan. Dan wajah gadis itu mengingatkanku padanya, walau...."


"Walau apa pangeran?."


"Mata gadis itu berwarna hazel, sedangkan mata ksatria itu berwarna Amber, tapi entahlah aku merasa ksatria itu memang sengaja menutupi identitasnya. Apalagi paman tahu sendiri kan, gadis itu mengatakan kalau dirinya memang mengurus dua ekor kuda di belakang rumahnya.Aku semakin curiga, kalau dialah yang telah menyelamatkanku." Ujar Alaric


"Aku sudah katakan paman, sepertinya dia memang sengaja menyembunyikan keahlianya dari siapapun. Dia hanya menunjukan kekutanya, pada saat dia menyamar. Jadi mulai malam ini kita akan membuktikannya." Kata Alaric.


"Sesuai perintah anda pangeran." Jawab Conrad.


Sejak malam itu, anak buah pangeran Alaric selalu mengawasi rumah Audrey, tapi sampai saat ini, tidak ada hal yang mencurigakan yang mereka temui. Mereka tidak menemukan petunjuk apapun, tentang ksatria itu. Bahkan sikap dan perilaku Audrey tidak ada satupun yang menunjukan kalau dia bisa bertarung atau menggunakan pedang.


"Benar yang dikatakan paman Conrad, sepertinya gadis ini bukan ksatria yang aku maksud." Gumam Alaric


Untuk lebih meyakinkanya, Alaric mengajak Audrey pergi ke pasar yang letaknya jauh dari desanya. Audrey setuju, karena Alaric berjanji akan membelikan apapun yang dia mau. Mereka pergi setelah kakek Abraham dan yang lainya pergi ke ladang.


Dijalan, tiba-tiba mereka dicegat sekawanan perampok, yang tak lain adalah anak buah Alaric sendiri. Alaric pura-pura pingsan dan tidak bisa melawan penjahat itu. Audrey panik dan ketakutan, apalagi saat ini perampok itu mendekatinya.


Namun tiba-tiba, ksatria itu muncul dan menghajar ke empat pengawal Alaric hingga kewalahan dan akhirnya mereka memilih kabur. "Cepat pergi dari sini, dan jangan pernah sekali-sekali lagi pergi dengan orang yang baru kamu kenal." Ucap ksatria itu.


"Tidak...aku tidak mungkin pergi meninggalkannya. Dia tidak sadarkan diri, aku harus menolongnya." Sahut Audrey.


"Dia baik-baik saja. Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, atau aku akan memaksamu pergi." Ucap ksatria itu sedikit mengancam.


"Ba-ba-baiklah." Audrey tergagap lalu pergi secepatnya dari sana, meninggalkan ksatria itu dan pangeran Alaric yang pura-pura pingsan.


Sang ksatria mendekati pangeran Alaric, mengarahkan ujung pedangnya tepat ke leher Alaric, dan berkata." Bangun!! Pangeran Alaric bergeming. "Bangun pengecut. Aku tahu kamu hanya pura-pura pingsan. Dasar pengecut." Maki ksatria itu.


Pangeran Alaric yang terlanjur berpura-pura pingsan, ingin bangun saat itu, tapi dia merasa malu. Selain malu, dia juga merasa semakin mengagumi sosok ksatria itu, yang ternyata begitu pintar. Kalau dia bangun dan menunjukan wajahnya, Alaric merasa takut, mungkin saja ksatria itu akan mengenalinya.


"Bangunlah, sebelum pedang ini benar-benar membuatmu tidak bisa bangun." Ancam ksatria itu, seraya mengangkat pedangnya. Pangeran Alaric memutar otak, bagaimana caranya saat dia bangun, ksatria itu tidak melihat wajahnya. Dan ide itupun muncul. Dia bangun lalu berlutut didepan sang ksatria, bersimpuh dan memeluk kakinya seraya memohon ampun padanya penuh rasa takut.


"Ampun tuan!! Jangan bunuh saya. Saya tidak mau mati. Kalau mau ambil harta saya, silahkan. Asal jangan bunuh saya." Ucapnya


Sang ksatria yang merasa risih dan tidak suka dengan apa yang dilakukan lelaki dihadapanya ini, berusaha melepaskan kakinya, tapi pangeran Alaric semakin mengeratkan tanganya di betis sang ksatria, sambil terus memohon ampun dengan ketakutan, tapi bibirnya juga mengembangkan senyum.


"Lepaskan aku!! Berani sekali kamu menyentuh kakiku. Dasar Laki-laki brengs*k." Hardiknya marah seraya mendorong tubuh pangeran Alaric lalu secepatnya dia pergi dari sana.


Pangeran Alaric tersenyum, karena berhasil menggoda ksatria itu. Dia semakin yakin sekarang, ksatria itu memang benar-benar seorang perempuan. Kaki yang barusan dipegangnya memang kaki perempuan, dan yang pasti itu bukanlah milik Audrey. Seperti yang dikatakan Conrad. Audrey bukanlah ksatria itu. Lalu siapa dia?. Tanyanya dalam hati.


.


.


.Bersambung💚💚