
Kini Vano dan kawan-kawannya berada di ruangan rawat inap Yani. Vano awalnya tidak ingin pergi, tapi Arlan dan Jhody memaksa menariknya untuk ke sana.
Di dalam ruang rawat inap sudah ada Bram dan juga Ferry yang menjaga Yani, ada juga kedua orang tua Ferry. Sedangkan kedua orang tua Yani sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri, setelah mendengar kabar putrinya.
Vano hanya diam saja sambil memainkan ponselnya, sedangkan yang lain saling mengobrol di sana membicarakan apa yang terjadi pada Yani.
"Bagaimana ini bisa terjadi Fer?" tanya Jhody.
"Aku nggak tahu, aku juga terkejut saat di kabari pihak rumah sakit, kalau Yani mengalami kecelakaan" ucap Ferry mengusap wajahnya.
"Sudah Lapor polisi?" tanya Bram
"Sudah, tapi polisi mengatakan jika Yani korban tabrak lari, tidak ada bukti di sana. Karena jalan itu sepi dan tidak ada CCTV" ucap Ferry
"Bagaimana orang tua Yani, apa dia datang?" tanya Bram lagi
"Mereka sedang dalam perjalanan ke sini dari luar negeri" jawab orang tua Ferry dengan cemas menatap keponakannya.
"Aku nggak tahu harus bagaimana menjelaskan pada orang tua Yani, aku tidak bisa menjaganya dengan baik" ucap Ferry
"Jangan menyalakan dirimu, itu bukan salah kamu. Kita semua tahu kalau Yani wanita yang sulit di atur. Mungkin dia lengah sampai ia jadi korban tabrak lari" ucap Arlan.
"Tapi bagaimana jika Yani tidak bisa menerima kondisinya saat ia sadar. Dia sudah kehilangan kedua kakinya, hidupnya pasti hancur" ucap Ferry merasa kasihan untuk sepupunya itu.
Semuanya terdiam, memang benar mereka kurang suka dengan sepupu dari Ferry itu, Namun mereka juga kasihan melihat kondisi Yani saat ini.
Di antara yang lain, Vano hanya diam menyimak. Ia tidak memiliki simpati sedikit pun pada Yani, justru dalam hati ia sangat puas dan berterima kasih pada orang yang membuat Yani menjadi cacat.
Itu balasan yang tepat untuk Yani yang sudah berani mencelakai adik kesayangannya.
Teman-temannya yang lain tidak aneh jika Vano diam saja, karena memang Vano memang tipikal orang yang tidak banyak bicara. Jadi mereka tidak masalah dengan itu.
....
Hari berlalu dengan cepat, Ray masih berada di luar kota untuk acara promosi. Xena juga di sibukan dengan pembukaan cabang baru Restaurant miliknya.
Cabang restoran barunya berada di daerah selatan ibukota, Xena sudah meninjau lokasi bersama Citra dan membeli tanah dan bangunan itu sebelumnya.
Setelah bangunan di perbaiki dan di dekorasi secantik mungkin sesuai dengan tema yang di inginkan Xena.
Citra sudah membuka lowongan pekerjaan dan mendapatkan 1 manager profesional, 1 administrasi pembukuan, 6 koki berpengalaman, 12 pelayan, 4 cleaning servis, 6 security setelah menyaring dari ratusan pelamar.
Dan hari ini Adalah acara peresmiannya, sayangnya Ray masih belum kembali. Jadi itu hanya si hadiri oleh orang-orang tertentu saja.
Orang tua Xena datang ke peresmian Restoran putrinya. Olive, Wenda dan Vano juga datang dengan karangan bunga ucapan selamat mewakili Dirgantara Group.
Bram, Arlan dan Jhody juga datang, hanya Ferry yang tidak datang karena masih menunggu di rumah sakit. Arsy juga datang sendirian ke sana, ia ingin memberikan selamat pada sahabatnya.
Kakek Reksa juga datang mewakili Octavio Group, yang membuat semua orang terkejut dengan koneksi Xena dengan orang terkaya di negaranya itu. Bahkan orang terkaya itu membawa bingkisan hadiah untuk Xena.
"Selamat atas cabang Restoran kamu Xe, Restorannya sangat besar dan nyaman" ucap kakek Reksa dengan bangga pada calon cucu menantunya.
"Terimakasih Kek, ayo masuk dulu" ucap Xena tersenyum hangat.
Kakek Reksa kemudian berbicara dengan orang tua Xena, ia mengatakan jika malam nanti ia akan datang untuk membahas pertunangan Xena. Dia juga mengatakan jika Ray masih ada jadwal promosi, jadi tidak bisa hadir di acara pembukaan restoran.
Setelah Kakek Reksa pergi, Olive yang berjalan menggunakan tongkat menghampiri Xena dan Arsy. Ketiganya kini duduk di salah satu bangku di dalam restoran.m yang di sediakan untuk tamu.
"Dia kakeknya Ray" ucap Xena tidak menutupi apapun dari Olive.
"Apa????" ucap Olive terkejut dan menutup mulutnya.
"Ja-jadi, Ray itu pewaris Octavio Group yang misterius?" tanya Olive dan Xena hanya mengangguk.
"Astaga Xe, aku senang sekali mendengarnya. Bukankah itu artinya kamu akan menjadi nyonya muda Octavio" ucap Olive heboh.
Ia merasa senang mendengar kabar itu, lalu tatapannya beralih ke pada Arsy yang tengah menatap kakaknya dari kejauhan.
"Hei, kau sudah menatap kakakku sejak tadi, lihat matamu sampai kau keluar. Apa kakaku tampan? Apa kamu menyukainya?" tanya Olive to the point.
"Eh, eng-enggak kok. Ak-aku lihat yang lain juga. Kan aku punya mata jadi lihat sekeliling" ucap Arsy gugup.
"Aduduh sahabatku satu ini wajahnya memerah. Sudah ngaku aja Napa" goda Olive.
"Ih apaan, nggak Liv ini karena aku makan makanan pedas tadi makanya merah" ucap Arsy.
"Ngeles aja lu kaya bajaj" ucap Olive tertawa puas.
Xena yang melihat kedua sahabatnya hanya ikut terkekeh, ia juga tahu jika sejak datang perhatian Arsy berpusat pada Vano.
Ia tidak masalah jika sahabatnya mendekati Vano, lagian kuman di sekitar Vano akan segera tersingkir. Kumannya juga sudah tidak bisa berjalan bahkan masih koma di rumah sakit. Jadi tidak ada yang membahayakan jika Arsy memutuskan mengejar Vano.
Ya, kuman yang di maksud Xena adalah Yani!
"Aku ingin membantumu jika kamu benar-benar menyukai kakakku, tapi sepertinya akan sulit buat kakak jatuh cinta padamu" ucap Olive.
"Kenapa? Apa kakakmu sudah memiliki kekasih?" tanya Arsy penasaran
"Jiaaahhh, akhirnya ngaku kan kalau kamu kesengsem sama kakak" ucap Olive tertawa lepas.
"Isshhh, kau mengerjaiku Olive!" ucap Arsy kesal dan cemberut.
"He-he, maaf deh calon kakak ipar. Tapi aku serius bilang begitu. Akan susah membuatnya jatuh cinta padamu" ucap Olive lagi
Di sebut calon kakak ipar membuat wajah Arsy merah seketika. Tapi ia juga penasaran alasan mengapa kakak dari sahabatnya itu sulit jatuh cinta padanya.
"Kenapa?" tanya Arsy lagi.
"Tuh, karena hatinya sudah kec sama tuh anak" ucap Olive menunjuk Xena dengan dagunya.
"Xena? Bukannya Xena sudah sama Ray?" ucap Arsy terkejut.
"Cinta kakak bertepuk sebelah tangan, dia juga sih yang salah. Karena dulu menyia-nyiakan perasaan Xena. Aku tidak bisa membohongimu karena kamu sahabatku, Ar. Jadi aku mengatakannya lebih awal, aku tidak ingin terjadi salah paham nantinya jika tidak di luruskan sejak awal" ucap Olive
"Menyia-nyiakan perasaan Xena dulu?" tanya Arsy.
"Aku memang menyukai kak Vano sejak aku kecil Ar, tapi aku sudah lama menyerah. Dan aku bertemu dengan sepupumu, lalu luluh aku karena cintanya yang tulus padaku. Jadi kamu tenang saja, aku sudah tidak memiliki perasaan pada kak Vano, karena hatiku sekarang milik Ray" ucap Xena menimpali.
"Sepupu? Tunggu dulu! Ray dan Arsy sepupuan??" ucap Olive terkejut saat tahu berita mengejutkan lainnya.
"Ya" jawab Xena dan Arsy kompak mengangguk.
...••••••...