
Pagi-pagi sekali, Ray sudah menjemput kekasih hatinya. Setelah meminta izin untuk keluar pada orang tua Xena, keduanya pun pergi dengan mobil sedan hitam metalik itu dengan kecepatan normal.
Sepanjang perjalanan, Ray terus menggenggam tangan kekasihnya itu dengan senyum yang tidak luntur di wajah tampannya.
Xena merasa malu sendiri, jantungnya berdebar dengan kencang. Mobil yang di kendarai Ray melaju membelah macetnya ibukota.
Mereka menuju ke sebuah mansion besar di daerah selatan ibukota. Mansion itu di kelilingi bukit, danau dan Tamanan hijau di sekelilingnya, sungguh suasana yang sangat sejuk dan nyaman.
Xena hanya melebarkan mata dan terpesona. Ia takjub melihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sejak hidup di dua kehidupan, Baru kali ini ia melihat ada mansion dan tempat seindah ini yang berada di jantung ibukota.
"Woaaahh, ada tempat seindah ini di ibukota? Kok aku tidak pernah tahu?" ucap Xena masih menatap dengan takjub pemandangan di depannya.
"Tentu tidak ada yang tahu, tempat ini tidak di buka untuk umum" ucap Ray mengulas senyumnya.
"Oh ya, lalu kenapa kita bisa masuk?" tanya Xena heran, karena Ray dengan leluasa bisa masuk.
"Kamu akan tahu saat masuk nanti" ucap Ray yang turun dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membuka pintu mobil untuk kekasih tercintanya.
"Ayo turun sayang" ucap Ray menyodorkan tangannya ke arah Xena.
Xena menerima uluran tangan Ray, keduanya kini berjalan masuk ke mansion mewah itu. Keduanya di sambut oleh beberapa maid yang berjejer rapih.
Melihat tatapan Xena yang terkejut dan penuh tanya, Ray membawa Xena duduk di sofa tamu yang sangat mewah dan empuk itu.
"Aku akan menjelaskannya" ucap Ray yang mengerti arti tatapan mata kekasihnya.
Xena hanya diam menunggu Ray untuk berbicara dan menjelaskan nya.
"Ini adalah Mansion pribadiku, tanah ini merupakan tanah warisan dari kedua orang tuaku yang sudah meninggal. Sedangkan mansion ini aku sendiri yang membangunnya. Tapi setelah kita menikah, mansion ini akan menjadi milik keluarga kecil kita" ucap Ray tersenyum
Xena terkejut, sangat sangat terkejut. Bukan hanya baru mengetahui jika Ray memiliki aset yang begitu fantastis berupa Mansion mewah ini, yang bahkan tidak ada catatan di data yang Xena retas.
Tapi juga karena ucapan Ray yang menyinggung soal menikah dan keluarga kecil mereka.
Astaga, ini mereka masih membina hubungan berpacaran seumur jagung. Namun Ray sudah membicarakan tentang keluarga kecil?
"Ray, kita bahkan belum..." ucap Xena terpotong sebelum ia menyelesaikan nya.
"Hanya menunggu waktu sayang, aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku akan menunggu sampai kamu siap menjadi istriku kelak. Jadi jangan meragukan perasaan ku, oke" ucap Ray.
"Kenapa kau memilihku Ray?" tanya Xena
"Aku tidak tahu, kita tidak bisa memilih kemana hati kita berlabuh, bukan? Dan aku pikir itu karena orangnya adalah kamu! Aku yakin kamu adalah orang yang Tuhan kirim untukku sayang" ucap Ray tersenyum ke arah Xena. Ia menggenggam lembut jemari tangan kekasihnya.
Xena hanya terdiam dan tersenyum lembut, meskipun ia sangat terharu dan ingin menangis. Namun ia juga sangat bersyukur bertemu dengan Ray di kehidupan ini.
"Ayo ikut aku" ucap Ray mengajak Xena untuk ke atas, tepatnya di kamar utama.
Ray pun membawa Xena ke balkon kamar utama itu, terlihat pemandangan indah dari bukit dan juga danau buatan di sisi kanan kirinya.
Tangan kekar Ray menyelusup memeluk pinggang Xena dari belakang. Kepalanya ia topang dengan bahu Xena. Jemari tangannya memainkan jemari kekasihnya itu, dengan tanpa sadar Ray sudah menyematkan cincin di jari manis Xena.
"Anggap ini sebagai tanda cintaku untukmu, aku sangat mencintaimu Xe. Sungguh aku cemburu mendengar kamu makan malam dengan laki-laki lain, meskipun kalian tidak berdua saja saat itu. Tapi hati aku gelisah, aku takut kehilangan kamu" ucap Ray serius
Xena tersenyum lembut, ia mengulurkan tangannya membelai pipi Ray.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, asalkan kau tidak mengkhianati ku kelak" ucap Xena tersenyum.
Entah siapa yang memulai duluan, bibir keduanya sudah menempel dan saling me**mat. Setidaknya ciuman itu berlangsung cukup lama, jantung keduanya pun berdetak dengan kencang.
Tidak ada di antara keduanya yang ingin mengakhiri ciuman panjang itu, mereka hanya akan berhenti mengambil nafas dan melanjutkannya kembali.
Tidak ada satupun orang yang ada di sana menganggu keduanya. Mereka masih sayang nyawa mereka dan tidak berani bersuara meskipun itu hanya bisikan saja.
....
Hari Sabtu, sesuai janjinya Xena menemani sang mama tercinta. Membeli baju, melakukan treatment dan lain-lain. Xena bahkan izin tidak masuk kuliah selama tiga hari ini dengan alasan urusan keluarga.
Acara nanti malam tidak ada yang tahu kecuali kedua keluarga saja. Bahkan Olive pun tidak di beri tahu.
Alasannya pertama yaitu karena ini adalah acara pertemuan keluarga saja, bukan untuk acara pertunangan secara resmi. Kedua, Xena tidak ingin mengambil resiko Olive membuat Vano tahu dan mengacaukan semuanya.
Setelah acara pertemuan ini, Xena juga memutuskan untuk memberitahu Ray nantinya tentang rencananya untuk menggagalkan rencana Yani di masa depan. Karena Xena pasti akan membutuhkan bantuan Ray nantinya.
Meskipun ia tidak akan menceritakan tentang kelahiran kembali dirinya. Tapi ia juga memutar otak agar akasannya bisa di terima oleh Ray
"Mah, sepertinya sudah cukup deh, kita pulang yuk!" ucap Xena setelah selesai pedi medi di salon.
"Eits tunggu dulu sayang. Kan rambut kamu belum di tata" ucap Utami.
"Nggak perlu mah, ini juga sudah cukup kok. Aku nggak ingin terlihat berlebihan. Berlebihan itu tidak baik mah, lagian ini hanya acara pertemuan saja" ucap Xena
Utami terdiam sejenak dan akhirnya mengalah. Ia mengikuti ucapan Xena dan sekarang berjalan menuju rumah mereka untuk bersiap-siap.
Untuk makanan, mereka tidak jadi beli bahan makanan dan menasak. Karena makanan itu akan di kirim dari restoran miliknya agar lebih menghemat waktu.
Kini di depan meja rias, Xena mencoba merias diri lagi. Sudah lama ia tidak menyentuh alat make up setelah kelahiran kembalinya. Ia mulai mengulas tipis make up itu ke wajahnya, ia juga memakai perona merah, dan lipstik yang tidak terlalu terang ataupun gelap.
"Ya Tuhan, aku gugup sekali..." ucap Xena.
Setelah menenangkan diri, ia turun ke ruang keluarga. Di sana mama dan papa nya juga sudah siap menyambut Ray dan kakeknya.
5 menit kemudian sebuah New Bentley Mulsanne berhenti dengan gagah di depan rumah keluarga Yaksha.
Kedua orang tua Xena menyambut kedatangan kakek Reksa, Ray dan juga Kepala pelayan Deni dengan ramah.
Kakek Reksa juga membalasnya dengan hangat, ia sangat mengapresiasi sambutan hangat dari keluarga cucu menantu masa depannya.
Ray justru menatap Xena tanpa berkedip, ia seperti melihat bidadari di depannya. Bahkan antensi nya tidak bisa di alihkan ke yang lain, sampai senggolan Kakek Reksa menyadarkan nya.
...••••...